Sampul Novel GAIRAH CINTA CEO DINGIN

GAIRAH CINTA CEO DINGIN

8.8 / 10.0
Dalam GAIRAH CINTA CEO DINGIN, Karin Arvantie menghadapi Ryan Atmaja, pemimpin Atmaja Corp yang misterius. Di balik wawancara kerja, ia harus memilih antara profesionalitas atau daya tarik sang miliarder. Baca romance novel ini untuk mengikuti kisah billionaire romance novels yang intens.
Ringkasan GAIRAH CINTA CEO DINGIN
Karin Arvantie merasa canggung saat wawancara kerja di Atmaja Corp karena tatapan intens sang CEO, Ryan Atmaja. Meski Ryan merasa pernah bertemu dengannya, Karin justru memberikan jawaban diplomatis. Namun, pesona pria bermata hitam itu memicu gejolak emosi yang sulit diredam. Kini, Karin terjebak dalam dilema antara menjaga profesionalisme atau terhanyut dalam ketertarikan yang membara. Mampukah hubungan mereka tetap sebatas atasan dan bawahan saja?
Baca Selengkapnya

GAIRAH CINTA CEO DINGIN Bab 1

'Astaga! Sudah jam berapa ini? Aku bisa terlambat menghadiri wawancara kerja hari ini. Bagaimana aku akan diterima bekerja, kalau untuk menghadiri wawancara kerja saja aku sampai datang terlambat,' batin Karin.

Ia pun bergegas menuju kamar mandi, lalu mandi di bawah air pancuran. Selesai mandi Karin pun mengambil kemeja berwarna putih dan rok dengan panjang di atas lutut. Ia lalu mematut dirinya di depan cermin besar, yang ada di dalam kamarnya. Ia hanya mengenakan make up tipis dan lip tint, agar wajahnya tidak terlihat pucat.

Selesai sarapan, dengan menyandang tas kecil di pundaknya. Karin pun berjalan ke luar dari apartemennya menuju ke halte bis.

Tak lama berselang, bis yang ditunggunya datang. Karin pun duduk di dalam bis dengan perasaan yang tegang dan gugup. Hari ini ia akan menjalani wawancara, untuk lowongan sebagai sekretaris yang dilamarnya. Sesekali ia melihat jam tangannya, untuk memastikan ia tidak datang terlambat.

Begitu bis yang ditumpanginya berhenti di halte, yang letaknya tidak jauh dari perusahaan yang akan ditujunya. Rasa lega, menghinggapi hati Karin, karena ia tidak terlambat. Masih ada waktu baginya, untuk bersiap nantinya sebelum menjalani wawancara.

Ia terlalu bersemangat, dengan wawancara yang akan dijalaninya pada hari ini. Ada harapan besar, yang ia inginkan dari wawancaranya nanti. ‘Aku harus mendapatkan pekerjaan itu, karena ini bisa jadi merupakan jawaban dari masalahku selama ini,’ gumam Karin dalam hati.

Dengan terburu-buru, Karin keluar dari dalam bis dan berjalan cepat menuju gedung tempatnya akan menjalani wawancara. Sesampainya di dalam gedung tersebut Karin pun bertanya, di mana ruangan pimpinan tersebut berada.

‘Sial! Aku tidak memiliki waktu untuk merapikan penampilanku terlebih dahulu. Dan ini semua, karena aku yang bangun kesiangan,’ batin Karin.

Menurut informasi yang didapatnya ia akan menjalani wawancara langsung, dengan sang pimpinan perusahaan tersebut. Duduk di depan ruangan dengan dinding yang di car warna putih, rasa gugup itu semakin terasa.

Baru saja Karin sampai di depan pintu, yang dijanjikan menjadi tempat dirinya melakukan wawancara, sebagai sekretaris bagi pimpinan di perusahaan tersebut.

Sebuah suara terdengar menyebut namanya dan mempersilakan kepadanya untuk masuk ke dalam ruangan, yang pintunya tertutup rapat.

"Nona Karin Arvantie?" panggil seorang wanita yang mengenakan setelan profesional. Ekspresi jutek terpasang di wajahnya, membuat jantung Karin berdegup kencang ketika dipanggil. "Giliranmu," ucapnya saat menangkap keberadaan orang yang dipanggil.

Karin pun berdiri dari kursinya dan melangkah masuk ke dalam ruangan. Bulir-bulir keringat menghiasi dahi Karin, menunjukkan jelas kegugupannya menghadapi wawancara kerja yang segera menantinya. Ini merupakan pengalaman pertama Karin menjalani wawancara pekerjaan.

Diabaikannya sorot tatapan tidak suka dari wanita itu, ia akan menghindari wanita dengan raut wajah jutek, yang dengan jelas memperlihatkan aura tidak suka kepadanya. Diketuknya pintu yang tertutup rapat di depannya dan setelah dipersilakan masuk ia pun membuka pintu tersebut.

Karin merasakan pungggungnya, seperti terbakar. Dan ia merasa itu pasti, karena wanita yang tadi memanggilnya. Entah alasan apa yang membuat wanita itu menjadi tidak menyukainya.

Saat masuk ke dalam ruangan, pandangan Karin terarah pada seorang pria yang terduduk di depan sebuah meja dengan kertas menutupi wajahnya. Rambut hitam pria itu ditarik ke belakang, terlihat sangat rapi. Tubuhnya yang dibalut kemeja putih tetap kentara kekar di mata Karin, terlebih karena lengan kemeja itu digulung mencapai siku. Dengan dua kancing kemeja bagian atas yang dibuka dan memperlihatkan sedikit rambut di dadanya.

Karin sedikit ragu untuk menyapa pria yang sedang duduk di kursi kerjanya. Dan terlihat ia begitu serius dengan apa yang sedang dikerjakannya.

"Permisi, Pak," panggil Karin sembari berdiri di sebelah kursi yang disediakan untuknya, tidak berani duduk sebelum dipersilakan.

Mendengar suara wanita tersebut, pria di hadapan pun menurunkan kertas yang sedang dia pegang. Raut wajah pria itu terlihat dingin, dengan bibir tipisnya yang terkatup rapat.

Detik itu, juga Karin membeku. Jantungnya langsung berdetak kencang, berhadapan dengan wajah tampan, walaupun terkesan dingin.

Tatapan tajam yang diberikan netra hitam itu begitu menghanyutkan. Ditambah guratan alis tebal dan rahang tegas, wajah pria tersebut patut Karin akui sebagai pria tertampan yang pernah dia lihat secara langsung. Bahkan, bila Karin menonton televisi pun, sepertinya agak sulit menemukan pria setampan itu!

"Duduk." Suara dalam pria tersebut menggetarkan hati Karin, membuat wanita itu tanpa berpikir langsung bertindak sesuai arah. "Perkenalkan dirimu," titahnya tegas, membuat Karin entah kenapa merasa sedikit jengkel.

'Dia ... belum memperkenalkan diri, 'kan?' batin Karin.

Memang, tanpa diberi tahu, Karin sebenarnya sudah bisa menebak siapa pria di hadapannya. Pria itu tidak lain adalah Ryan Atmaja, CEO Atmaja Corp. yang sedang mencari seorang sekretaris, pekerjaan yang sedang Karin incar. Rumor mengatakan bahwa pria itu memang sangat tampan, tapi juga dingin dan kejam. Itulah alasan kenapa tidak ada sekretaris pribadi yang bertahan bekerja untuknya lebih dari tiga bulan.

Ah, Karin lupa. Tidak hanya itu, pria tersebut juga sering dikabarkan sebagai seorang playboy yang senang mempermainkan wanita.

‘Bagaimana kami para wanita tidak tertarik dengannya? Wajah tampan, dengan aura dingin dan misterius yang membuatnya, seperti sebuah tantangan,’ batin Karin.

Namun, bahkan dengan rumor dan berita-berita tentang Ryan, masih banyak wanita yang bersedia mencoba menjadi sekretaris pribadi pria tersebut. Lagi pula, bayaran dan benefit yang ditawarkan sangatlah menggiurkan!

Sebelum melamun terlalu lama, Karin pun langsung memperkenalkan dirinya, "Nama saya Karin Arvantie, saya merupakan lulusan universitas ternama di kota ini dengan predikat cumlaude."

Selagi Karin memperkenalkan dirinya, wanita itu merasa netra hitam tersebut tidak berpindah dari wajahnya. Ada sesuatu dari pandangan Ryan yang membuat darah Karin berdesir. Namun, wanita itu berusaha untuk tetap tenang dan profesional, menunjukkan sisi terbaiknya agar bisa mendapatkan posisi yang dia inginkan itu.

‘Kenapa ia terus menatapku dan membuatku menjadi resah? Apakah ada yang salah dengan penampilanku? Seharusnya tadi aku mematut diriku dahulu di dalam toilet, sebelum masuk ke dalam ruangan ini,’ gumam Karin dalam hatinya.

Selesai memperkenalkan diri, Karin terkejut dengan pertanyaan yang terlontar dari bibir Ryan. “Apakah kita pernah bertemu?" Dengan manik terpaku pada sosok Karin, Ryan menambahkan, "Wajahmu terlihat tidak asing di mataku?”

'Apa ini ... cara baru untuk merayu wanita?' batin Karin dalam hati, teringat rumor bahwa pria di depan adalah seorang playboy. Karena ditatap dengan tajam dan begitu intens oleh Ryan, dia mengepalkan tangannya untuk menahan kegugupannya. Hanya dengan sebuah senyuman tipis, wanita itu pun membalas, "Kalau kita pernah bertemu, saya rasa saya tidak akan melupakan pria seperti Anda, Pak.”

Tatapan Ryan berpindah ke bibir Karin, yang terlihat seksi dan menggoda. Bibir itu seolah mengundang untuk dicium bibirnya.

Ryan berdiri dari kursinya, mengitari meja sebelum akhirnya bersandar di sana. Dua tangan terlipat di depan dada, sebuah senyuman terlukis di bibirnya. "Pintar menyanjung," balasnya, entah itu sindiran atau pujian. "Apa yang membuatmu melamar ke perusahaanku?"

Pertanyaan Ryan membuat Karin menggigit bibir, sedikit kesulitan dengan pertanyaan yang diajukan. Namun, dengan cepat wanita itu menjawab, "Pengalaman, gaji, dan juga jenjang karir. Saya yakin Atmaja Corp. adalah tempat yang tepat untuk mendapatkan yang terbaik untuk tiga hal tersebut."

Jantung Karin berdebar semakin kencang. tangannya terasa berkeringat dingin. Ia belum pernah merasakan aura panas, berada dekat dengan Ryan, seperti ini.

Netra Ryan terarah pada bibir Karin yang memerah karena sempat digigit. "Begitukah?" Pria itu berjalan menghampiri wanita di kursi itu, menyebabkan senyuman profesional Karin sedikit bergetar dan tubuhnya menempel pada sandaran kursi. Dengan dua tangannya mendarat di tangan kursi Karin dan wajah hanya berjarak beberapa inci dari wajah wanita tersebut, sudut bibir Ryan pun terangkat. "Apa kamu yakin kamu kemari bukan karena diriku?"

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi GAIRAH CINTA CEO DINGIN

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Gadis Desa yang Kecanduan Seksual
8.7
Menjadi seorang petani dengan kecanduan seksual yang parah membuat hidupku tidak mudah. Kondisi ini kerap kambuh di waktu krusial, hingga mengacaukan seluruh proses panen di ladang. Di ambang keputusasaan, aku akhirnya menuruti ajakan suamiku untuk berobat kepada seorang dokter yang baru saja bertugas di desa kami. Namun, setibanya di sana, metode penyembuhan yang diterapkan oleh dokter tersebut justru sangat tidak biasa dan membuatku terkejut setengah mati.
Sampul Novel GADIS PENARI TUAN MUDA
8.2
Benni Handoko, pria dari keluarga terpandang, rela menyamar jadi pelayan toko demi mencari cinta sejati. Hidupnya berubah saat ia menemukan seorang gadis penari di ranjangnya usai jamuan keluarga. Tak disangka, gadis bernama Mulan itu adalah cucu sahabat neneknya yang hilang. Meski ditakdirkan menjadi istri Benni, perjalanan asmara mereka penuh rintangan berat. Mampukah Mulan dan Benni mempertahankan perasaan mereka di tengah segala konflik yang menghadang?
Sampul Novel Pembalasan Dendamku terhadap Suami Pengkhianat
9.0
Setelah dikhianati hingga tewas oleh suaminya dan selingkuhannya yang berprofesi sebagai dokter, seorang ibu mendapatkan kesempatan kedua untuk kembali ke masa lalu. Ia terbangun tepat pada hari penandatanganan dokumen donor organ putrinya. Menyadari bahwa vonis mati otak sang putri hanyalah manipulasi kejam demi memberikan jantung anaknya kepada putri selingkuhan suaminya, ia bersumpah tidak akan tertipu lagi. Di kehidupan baru ini, ia siap melancarkan aksi pembalasan dendam yang dingin demi menyelamatkan putri tercintanya dan menghancurkan para pengkhianat.
Sampul Novel Perawatan Khusus untuk Ibu Hamil
9.6
Sentuhan dingin tangan seorang pria di balik pakaiannya membuat wanita ini terpaku tanpa berani bergerak dalam dekapan hangat tersebut. Bisikan menggoda yang menanyakan keinginannya terdengar begitu dekat di telinga. Sementara itu, suara keintiman majikan dan kekasihnya dari kamar sebelah justru kian memicu gejolak gairah yang terpendam di dalam dirinya. Terjebak dalam situasi yang membingungkan, ia mulai mempertanyakan kewarasannya saat hasrat serupa yang begitu kuat mulai menguasai akal sehatnya.
Sampul Novel Sebuah Penyesalan
8.4
Steven Alessio terjerat pesona wanita asing yang menyeretnya ke dalam tragedi pembunuhan sang istri. Niat awal untuk membalas dendam justru membuat Steven terjebak dalam lingkaran keluarga wanita tersebut. Di sana, ia terpaksa menyaksikan terbongkarnya berbagai rahasia gelap dan kebobrokan keluarganya sendiri. Perjalanan penuh aksi dan misteri ini membawa Steven pada titik balik yang menyakitkan, di mana ia harus menghadapi arti dari sebuah penyesalan terdalam.
Sampul Novel Skandal anak Sekolah
8.6
Dunia remaja Rani yang penuh warna seketika runtuh akibat kesalahan fatal. Terbuai gairah masa pubertas yang membara, ia melampaui batas bersama Alan, laki-laki yang menjadi cinta pertamanya di SMA. Kejutan pahit menghantam jiwanya saat melihat hasil tes kehamilan menunjukkan dua garis biru. Kini, di tengah statusnya sebagai siswi sekolah, Rani harus menghadapi konsekuensi besar atas perbuatannya. Mampukah ia menjalani hidup setelah skandal ini terungkap?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan