Sampul Novel Kisah Yuna

Kisah Yuna

8.8 / 10.0
Yuna adalah mahasiswi biasa yang tengah berjuang keras meraih impian masa depannya. Dunianya seketika berubah penuh warna saat idola kampus menyatakan perasaan kepadanya. Namun, perjalanan asmara ini tidaklah mudah. Yuna terjebak dalam dilema besar ketika situasi memaksanya memilih antara pacar pertamanya saat ini atau sosok cinta pertama dari masa lalu. Siapakah yang akan memenangkan hati Yuna pada akhirnya di tengah persimpangan emosi ini?

Kisah Yuna Bab 1

Dengan cepat aku merapikan alat tulisku, agar Ulfa tidak terus merengek.

"Yuna, ih ... lelet amat, sih! Buruaan ... gue laper!" teriak Ulfa di depan pintu kelas. Aku berdiri, lalu setengah berlari menghampiri temanku yang mungil ini.

"Sabar, Fa! Gue 'kan tadi harus ngumpulin tugas temen-temen dulu. Elo lupa, gue itu kordinator di kelas Pak Ibra?"

"Makanya, elo itu nggak usah pinter-pinter, jadi aja dikerjain dosen. Kapan elo punya cowok coba kalo sibuk ngurusin kuliah melulu," cerocos Ulfa. Kepalanya miring setelah ditoyor Rika.

"Yee ... emangnya elo, yang hobinya ngumpulin tugas paling akhir! Udah bagus punya temen rajin dan pinter kayak Yuna. Elo bisa ikutan nyontek tugas," omel Rika. Ulfa cengengesan mendengar omelan Rika. Aku cuma geleng-geleng melihat kelakuan mereka berdua.

Ulfa dan Rika adalah sahabatku. Kami berteman dari awal perkuliahan. Awalnya aku ragu berteman dengan mereka, melihat penampilan mereka yang modis. Berbanding terbalik dengan penampilanku yang sederhana khas anak perantauan. Namun, keraguanku langsung hilang ketika mereka merangkulku alih-alih menjauh.

Sebenarnya ada satu lagi selain kami bertiga, yaitu Widi. Sama-sama anak perantauan sepertiku, bedanya Widi anak juragan bebek di kampungnya. Kuliah di luar kota pun dia dibelikan rumah dan mobil oleh orangtuanya. Sedangkan aku cuma ngekost di tempat sederhana. Pulang pergi ke kampus pun cukup naik angkot atau jalan kaki. Tempat kostku dekat dengan kampus, saking dekatnya sampai dijadikan tempat singgah para sahabatku. Widi sekarang sudah pindah keluar kota ikut suaminya yang seorang dokter. Jadi sekarang tinggal kami bertiga, aku, Ulfa dan Rika.

Karakter kami berbeda, malah dalam beberapa hal kami bertolak belakang. Anehnya justru itu yang membuat kami semakin solid, saling melengkapi dan membutuhkan. Aku perkenalkan satu persatu, ya, seperti apa sih, aku dan kedua sahabatku ini.

Ulfa adalah anak Bandung asli. Tubuhnya mungil, hidung dan mulutnya kecil, tapi matanya bulat dengan bulu mata yang lentik. Dengan wajah imut itu dia menjadi primadona di kampus. Ditambah dengan karakternya yang easy going, lucu dan ramah. Tidak terhitung lagi berapa banyak lelaki yang naksir dia. Dari kating yang pintar, tampan, tajir sampai teman-teman seangkatan yang cupu, hampir semua naksir dia. Sayangnya, dia tipe gadis setia. Dia tidak tergoda, dia tetap setia dengan pacarnya. Namanya Dani, pacar Ulfa dari SMA. Tidak ada yang tahu kalau Ulfa sudah punya pacar, kecuali kami sahabatnya. Karena Dani memang tak pernah nongol di kampus. Kalau jemput pun pasti di kost'anku.

Rika sama seperti Ulfa, anak Bandung asli. Bodinya tinggi langsing seperti model. Awalnya aku pikir dia model, ternyata bukan. Dia tidak tertarik dengan dunia modelling, padahal punya modal untuk jadi model. Selain tinggi dan langsing, kulitnya juga putih. Ada sedikit campuran darah Belanda dari neneknya. Rika bilang, sih, dia cuma dapat sisanya aja, cuma kebagian warna kulit. Padahal, hidung mancungnya mirip-mirip bule Belanda. Kalau Ulfa ramah, sedangkan Rika judes. Raut wajahnya terkesan dia perempuan galak, padahal memang iya, sih ... Galak tapi baik. Penggemarnya juga banyak, walau tidak sebanyak Ulfa. Namun, koleksi alumni hatinya lebih banyak dari pada Ulfa. Hampir setiap semester ganti pacar.

Sedangkan aku, cuma gadis biasa. Tinggi badanku tidak setinggi Rika, tetapi juga tidak semungil Ulfa. Standarlah untuk ukuran perempuan Indonesia. Tidak hanya tinggi badan, warna kulit dan kecantikanku juga standar-standar saja.

Pesonaku kalah jika dibandingkan dengan kedua sahabatku itu.

Aku tipe orang yang kaku di awal perkenalan. Nanti setelah kenal dekat dan nyaman, baru terlihat kalau aku ini cerewet. Bukan cerewet, lebih tepatnya perfeksionis. Sampai-sampai aku dipanggil ibu oleh kedua sahabatku ini. Itu karena diri inilah yang paling bawel mengingatkan mereka. Terutama Ulfa yang kelewat santai hidupnya. Sekedar informasi agar kalian tahu, aku ini jomlo dari lahir. No, bukan jomlo, tapi single.

Jika kalian bertanya, kenapa aku menyebut diriku sendiri dengan 'aku' sedangkan berinteraksi dengan teman-teman pakai sapaan 'gue-lo' ? Jawabannya adalah aku sebenarnya lebih nyaman dengan sapaan 'aku-kamu'. Pakai sapaan 'gue-lo' cuma untuk pergaulan saja.

"Jadi 'kan kita ke HokBen? Gue pengen makan beef teriyaki." Ulfa terus merengek sambil memeluk tanganku. Rika yang jalan lebih dulu menengok ke belakang.

"Jangan HokBen atuhlah ...."

"Napa elo? Keingetan mantan? Gara-gara elo pernah dilamar di HokBen terus ujungnya elo dikhianatin?" cibir Ulfa. Kebiasaan anak dua ini, berantem melulu. Kucubit tangan Ulfa agar tidak terus meledek Rika.

"Ya, mendingan gue lah, seenggaknya pernah dilamar. Daripada eloo ... pacaran udah lama kayak kredit rumah, kok nggak dilamar-lamar?!" balas Rika. Apa kubilang, mereka berdua itu tidak pernah akur. Heran, ada saja penyebab yang bikin mereka ribut. Aku dorong badan Rika agar terus jalan, dan tidak tersulut omongan Ulfa.

"Yee ... biar yang penting punya pacar. Nggak kayak Yuna, pacaran sama buku akuntansi!" balas Ulfa.

"Lah, kok, jadi gue yang kena?" tanyaku sambil menunjuk diri sendiri. Rika dan Ulfa tertawa, kompak meledekku.

Rika merangkul pundakku, dan Ulfa tetep menggandeng tanganku.

"Yun, elo itu aslinya cantik, pinter lagi. Banyak, loh, yang suka curi-curi pandang, tapi elonya lempeeeeng bangeet," ujar Rika. Ulfa mengangguk menyetujui omongan Rika. Aku meringis, entah kenapa aku tidak percaya dengan ucapan Rika. Setahuku tidak ada lelaki yang melakukan pendekatan. Apa memang diri ini terlalu cuek dan kurang peka?

"Emang siapa?" tanyaku. Ulfa tertawa nyaring, Rika tetep bertahan dengan raut wajah serius. Walau aku tahu, dia juga pasti sedang mengerjaiku.

"Kepo nih, ye?" Lagi-lagi Ulfa meledekku. Aku berdecak, melepas rangkulan Rika dan gandengan Ulfa. Berjalan mendahului mereka.

"Udahlah, nggak usah bahas begituan. Gue mau fokus kuliah, sambil cari-cari beasiswa S2," ujarku. Rika dan Ulfa mendesah bersamaan melihat reaksiku. Entahlah, mungkin terdengar kekanak-kanakan, tetapi aku memang tidak suka kalau mereka meledek status jomloku. Memangnya kenapa kalau aku jomlo? Heran, deh!

"Sorry, jangan marah dong, Yun. Gitu aja ngambek, gue traktir, deh," rayu Rika.

"Iya Yun. Maaf, ya." Ulfa menggelayut lagi di tanganku. Aku mendesah, selalu tidak bisa marah berlama-lama pada mereka.

"Ya udah, sekarang kita makan dimana?" tanyaku.

"HokBen!"

"Solaria!"

Teriak Ulfa dan Rika bersamaan. Kemudian mereka saling melotot. Aku mendesah pelan melihat kelakuan kedua sahabatku ini.

"Karena kalian udah bikin gue kesel, jadi gue yang nentuin, ya. Dan elo, tetep harus tetep traktir gue!" Rika cemberut mendengar titahku.

"Kita makan di Heritage aja, gue mau makan sop iga bakar." Keduanya mengangguk setuju.

Sekarang kami berada di Heritage, cafe nuansa kolonial tidak jauh dari kampus. Walau terlihat 'wah' tetapi harga menu di sini terbilang ramah di kantong. Makanannya juga enak, dari cemilan sampai makanan berat, semua ada. Sekali lagi, rasanya enak dan harganya murah!

Aku memesan nasi sop iga bakar dan ice cappucino. Rika memesan steak dan orange juice. Ulfa memesan beef teriyaki, katanya dia ngidam beef teriyaki dari semalam. Karenanya tadi merengek minta ke HokBen. Ada-ada saja ulah anak itu, mudah-mudahan dia tidak benar-benar ngidam.

Sembari mendengar ocehan Rika dan Ulfa, mataku menjelajah isi cafe. Karena ini waktu makan siang tentu saja cafe terlihat ramai. Eh, orang itu sepertinya aku kenal, deh. Kok, dia gandeng perempuan hamil, ya? Siapa perempuan itu? Istrinya kah?

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Kisah Yuna

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel CHRONOPHILE
8.2
Menikahi pria yang pernah ditolak di masa lalu membawa dilema besar dalam sebuah perjodohan. Apakah dia bertahan karena cinta yang tersisa, atau justru merencanakan balas dendam atas luka lama? Sebagai pasutri, mereka dipaksa menjalani komitmen di tengah bayang-bayang masa lalu yang kembali mengusik ketenangan. Di dunia Chronophile, di mana waktu sangat dihargai, rahasia dan konflik mulai menguji kesetiaan mereka dalam mempertahankan rumah tangga ini.
Sampul Novel Cinta Dalam Hati
8.4
Tania adalah pengacara berani yang rela bertaruh nyawa demi keadilan. Ia kerap berselisih dengan Yudi, pria dingin yang telah menjadi rivalnya sejak kecil. Meski selalu menolak dijodohkan, takdir memaksa keduanya bersatu dalam ikatan pertunangan rahasia dari orang tua mereka. Di tengah gejolak benci dan cinta, Tania harus menghadapi bahaya besar saat melawan Wijaya, konglomerat kejam di balik kasus perdagangan manusia. Akankah benih cinta tumbuh di antara mereka?
Sampul Novel Dari Saingan Menjadi Ipar
9.8
Josie Watson kembali menuntut cerai untuk ke-99 kalinya. Namun, Laurence Andrews justru mengusirnya dari mobil demi mengangkat telepon mantan kekasihnya, Rosalie Harris. Laurence terus merendahkan Josie dan yakin istrinya takkan sanggup pergi. Dia tidak menyadari bahwa pengabaian berulang ini telah mencapai batasnya. Di balik layar, saudara laki-laki Rosalie diam-diam terus mendesak Josie untuk segera berpisah dan meninggalkan negara ini selamanya.
Sampul Novel Jebakan Cinta SANG MANTAN
9.0
Nada menyadari bahwa menjerat Ivander ke dalam pernikahan paksa adalah langkah yang keliru. Namun, baginya ini satu-satunya jalan untuk tetap berada di sisi pria yang hidupnya pernah ia hancurkan. Didorong rasa bersalah yang mendalam, Nada bertekad menebus dosa masa lalunya melalui pengabdian ini. Akankah segala pengorbanan Nada mampu mencairkan kebencian di hati Ivander, ataukah usahanya untuk mendapatkan maaf justru akan berakhir sia-sia?
Sampul Novel Kekayaan Besar: Aku Adalah Seorang Miliarder
9.2
Niat hati memberi kejutan ulang tahun, aku justru menyaksikan pengkhianatan kekasihku dengan pria kaya. Dihina karena miskin, hidupku berubah saat pelayan keluarga terkaya mengungkap identitas asliku sebagai pewaris Grup Nelson. Kini dengan kekayaan tak terbatas, aku kembali untuk membalas dendam. Mantan kekasihku bersujud memohon ampun, namun aku hanya berlalu menuju kemewahan. Bagiku, uang hanyalah angka dan aku sangat menikmati cara menghabiskannya.
Sampul Novel MY LOVELY LITTLE WIFE
8.9
Yuki tak mampu menyembunyikan kekesalannya setelah ditolak mentah-mentah oleh pria yang dijodohkan dengannya. Alasan pria itu sangat klise, ia merasa tidak mengenal Yuki sama sekali. Sambil mengumpat dalam hati, Yuki menjuluki calon suaminya itu sebagai pria tua yang menyebalkan. Namun, rasa dongkol itu segera berubah menjadi sebuah rencana licik. Sebuah seringai muncul di wajahnya saat sebuah ide brilian terlintas untuk memberi pelajaran bagi pria itu.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan