Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel  Kerudung Pembalasan

Kerudung Pembalasan

Dunia Ana runtuh saat memergoki Javier berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Pengkhianatan pahit ini menghancurkan mimpi masa depan mereka dalam sekejap. Meski hancur, Ana memilih bangkit dari kebohongan dan memulai perjalanan emosional untuk menemukan jati dirinya kembali. Di saat Javier memohon kesempatan kedua, Ana justru belajar bahwa kekuatan sejati ada pada mencintai diri sendiri. Bisakah ia melepaskan masa lalu demi cinta yang lebih tulus dan menghargainya?
Bab
Bagikan

Bab 1

Ana memulai harinya seperti biasa. Secangkir kopi hitam pekat, dengan rasa yang persis sama yang membangunkannya setiap pagi. Dia memeriksa emailnya, tidak menemukan sesuatu yang mendesak untuk membuatnya keluar dari zona nyamannya, lalu merapikan kamarnya hampir secara otomatis. Rutinitasnya dapat diprediksi, aman, dan di dunianya, semuanya selaras dengan ketenangan yang dia dambakan. Itu adalah hari seperti hari-hari lainnya, dan seperti biasa, dia merasa mengendalikan hidupnya. Tetapi malam tiba, dan bersamanya, sebuah keretakan yang akan mengubah segalanya. Tidak ada, bahkan tanda sekecil apa pun, yang dapat mempersiapkannya untuk apa yang akan dia temukan.

Malam itu, setelah seharian bekerja, Ana menuju apartemennya. Kelelahan terlihat jelas dalam langkahnya, dan pikirannya sudah mulai mengembara ke hal-hal kecil sehari-hari yang menunggunya di rumah: makan malam, mandi yang menenangkan, mungkin membaca sedikit sebelum tidur. Ketika dia sampai di pintu apartemennya, sesuatu yang aneh menghentikannya. Pintu itu sedikit terbuka. Pintu itu selalu dikunci oleh Javier, pasangannya. Selama bertahun-tahun, rutinitas itu tak terpecahkan, kebiasaan yang mereka berdua lakukan untuk merasa lebih aman. Tetapi hari ini, kebiasaan itu telah terputus tanpa peringatan, dan sesuatu di dalam dirinya mengatakan bahwa itu bukan sekadar kebetulan.

Dengan campuran ketidakpastian dan sedikit kecemasan, dia mendorong pintu hingga terbuka. Awalnya, apartemen itu tampak sunyi. Pencahayaan yang lembut, bayangan panjang sore hari, dan suara angin yang teredam melewati celah-celah jendela. Namun, saat dia berjalan menyusuri lorong, sebuah suara menarik perhatiannya. Tawa lembut, gumaman teredam. Itu tidak normal, dan pikirannya mulai berpacu saat langkahnya melambat. Perasaan buruk tumbuh di dalam dirinya seperti kabut tebal, menyerbu setiap sudut kesadarannya.

Dia mendekati ruangan dengan hati-hati, tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi takut akan hal terburuk. Ketika dia membuka pintu, seolah-olah dunia lenyap di sekitarnya, meninggalkannya melayang di udara, tidak dapat menggerakkan ototnya. Di sana mereka, Javier dan Clara, sahabatnya, telanjang, berpelukan di tempat tidur. Adegan itu tampak seperti mimpi buruk, mimpi yang tak pernah terbayangkan akan dialami Ana. Ia tak mampu memprosesnya, tak mengerti bagaimana ia bisa sampai pada titik ini, bagaimana sesuatu yang begitu menghancurkan bisa terjadi di rumahnya sendiri, di tempat perlindungannya sendiri.

Keheningan langsung menyelimuti, mencekam, tak tertahankan. Tawa mereda, bisikan-bisikan berhenti. Javier menatapnya, matanya melebar karena terkejut dan, entah mengapa, merasa bersalah. Clara, menyadari kehadirannya, langsung pucat, matanya melebar, dan campuran kepanikan dan rasa malu melintas di wajahnya. Ana berdiri di sana, lumpuh, menyaksikan adegan itu terjadi, saat rasa sakit menerjangnya seperti gelombang yang tak terbendung. Tak ada ruang untuk penjelasan, tak ada ruang untuk "Aku minta maaf" yang sudah mulai keluar dari mulut Javier. Rasa sakit fisik dan emosional, semua yang tak pernah ia bayangkan akan dirasakannya, menghantamnya dengan kekuatan yang hampir menghancurkannya.

Javier melompat dari tempat tidur, seolah-olah fakta bahwa dirinya telanjang di depannya adalah dosa yang lebih besar. Ia berusaha menutupi dirinya, tetapi ia tak mampu menyembunyikan rasa bersalah yang terpancar di wajahnya. Suaranya bergetar, tanpa alasan yang jelas, namun demikian, ia tetap berusaha membuatnya mengerti.

"Sayang!" serunya, putus asa, mengulurkan tangan kepadanya untuk mencoba mendekat. Tetapi Ana mundur, seolah kehadiran dirinya saja sudah cukup untuk mencemarinya.

"Kumohon, aku bisa menjelaskan, sayangku," lanjutnya, suaranya bergetar saat ia mencoba menemukan kata-kata yang dapat memperbaiki kerusakan yang tak dapat diperbaiki. Namun, saat itu, Ana tidak mendengarkan. Ia terjebak dalam gelembung ketidakpercayaan dan rasa sakit, di mana suara dirinya sendiri hanyalah kebisingan, tanpa makna.

Air mata mulai mengalir di wajahnya, meskipun ia tak tahu apakah itu karena marah, sakit, atau kebingungan. Pikirannya tak mampu memproses besarnya apa yang dilihatnya, dan tubuhnya terasa seperti melayang di luar dirinya sendiri. Ia memejamkan mata sejenak, mencari secercah ketenangan, sebuah napas agar ia bisa berpikir jernih, tetapi tidak ada yang bisa meredakan penderitaan yang mencekam dadanya. Setiap detak jantungnya mengingatkannya bahwa semua yang ia ketahui, semua yang ia percayai, tidak lagi ada. Dunia yang telah ia bangun bersama Javier telah hancur di depan matanya, dan tidak ada jalan kembali.

"Apa yang ingin kau jelaskan?" ucapnya terbata-bata. Suaranya terdengar seperti bisikan yang patah dan gemetar. Kemarahan mulai menggantikan rasa sakit, dan meskipun air mata terus mengalir, itu tidak lagi penting. Matanya bersinar dengan amarah yang terkendali, tetapi juga dengan kelelahan yang memilukan. Bagaimana kau bisa menjelaskan bahwa kau mengatakan kepadaku bahwa kau ada rapat bisnis sementara kau berada di tempat tidur bersama sahabatku? Apakah itu yang harus kau jelaskan kepadaku?

Kata-kata itu bagaikan pisau, dan dia merasakan setiap kata menusuk jiwanya. Namun terlepas dari segalanya, sesuatu di dalam dirinya membuatnya tetap terpaku pada saat itu. Dia perlu mendengarkan, dia perlu mengerti. Mungkin, jauh di lubuk hatinya, dia masih berharap penjelasan itu akan menjadi sesuatu yang bisa dia pahami. Namun, sesuatu mengatakan kepadanya bahwa tidak ada lagi yang bisa dijelaskan. Semua yang dia ketahui tentang hubungan mereka, tentang janji-janji yang telah mereka buat, semuanya lenyap dalam sekejap itu, seperti kebohongan yang tidak pernah ada.

Clara, yang tidak mampu menatap mata Ana, bangkit dari tempat tidur, gerakannya canggung dan dipenuhi rasa malu yang belum pernah Ana saksikan pada temannya. Ana merasakan pengkhianatan itu di kulitnya, di tulangnya. Seolah-olah udara dipenuhi racun, racun yang membakarnya dari dalam. Dia tidak bisa berpaling, tetapi dia juga tidak ingin terus menonton. Dia tidak tahu apakah dia ingin berteriak, melarikan diri, atau sekadar menghilang.

Javier, melihat reaksi Ana, mencoba melangkah ke arahnya, tetapi sesuatu dalam sikap Ana menghentikannya. Ia mengangkat tangan, bukan karena takut, tetapi dengan ketegasan yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri. Ia tak akan mendengarkan kebohongan lagi, ia tak akan menerima alasan lagi. Kebenaran tak lagi penting baginya; yang tersisa hanyalah keputusan bagaimana melangkah maju.

Suara napasnya menjadi satu-satunya suara di ruangan itu. Ia berbalik perlahan, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dan meninggalkan ruangan. Ia tak butuh jawaban, tak butuh penjelasan. Rasa sakit pengkhianatan masih terlalu segar, dan pikirannya hanya bisa memikirkan cara melarikan diri dari mimpi buruk ini. Dunia telah berubah selamanya.

Dan saat ia berjalan menyusuri lorong, air mata jatuh tanpa suara. Namun, tidak seperti sebelumnya, air mata itu bukan lagi air mata kebingungan. Itu adalah air mata kehilangan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Abang Duda Kesayangan
9.5
Dilara Aysila Airene mengalami pertemuan tak terduga dengan seorang duda menawan usai menolong seorang nenek di jalanan. Terpikat oleh ketampanan pria tersebut, Dilara pun jatuh hati dan bertekad memenangkan hatinya. Berbagai upaya rayuan hingga aksi-aksi konyol mulai ia lancarkan demi menarik perhatian sang pria idaman. Akankah misi cinta Dilara ini membuahkan hasil manis, atau justru menemui hambatan? Simak perjuangan uniknya dalam mengejar sang duda.
Sampul Novel Bukan Kisah Peterpan Tinkerbell
8.6
Haera merenungkan filosofi Peter Pan yang mampu memberi kebahagiaan bagi Wendy namun tak bisa memilikinya, layaknya idola kepada penggemar. Saat diskusi beralih pada sosok Tinker Bell, sang sahabat setia, sebuah pemikiran baru muncul di tengah proses penulisan ceritanya. Haera menyadari bahwa meski Peter Pan tak bisa meraih Wendy, Tinker Bell akan selalu ada di sisinya. Sebuah kisah tentang kesetiaan dan perasaan yang tersembunyi di balik bayang-bayang persahabatan.
Sampul Novel GADIS MALANG
8.2
Rinda, gadis muda yang merantau demi pendidikan, harus menghadapi pahitnya realita di tanah orang. Meski ia memegang teguh komitmen dalam cinta, luka mendalam justru menghampirinya hingga memicu depresi berat. Di tengah isak tangis, ia meluapkan rasa sakitnya kepada sosok yang telah menghancurkan hatinya. Kini, Rinda terjebak dalam dilema antara bertahan atau menyerah pada keadaan. Akankah ia mampu melewati badai ini, atau justru hancur ditelan waktu?
Sampul Novel Hasrat Liar
8.8
Meski statusnya hanya anak angkat, Rey mendapatkan dukungan penuh dari orang tua serta saudara-saudaranya untuk bertransformasi menjadi sosok pria perkasa. Mereka mendorongnya untuk mengasah daya pikat yang tak tertandingi demi menaklukkan hati setiap wanita yang ia temui. Ikuti perjalanan hidup Rey dalam mengeksplorasi sisi maskulin dan pesonanya yang liar. Akankah ia berhasil memenuhi harapan keluarga dan menjadi sang penakluk ulung di dunia asmara?
Sampul Novel Kehamilanku Adalah Harapanku
7.9
Lae adalah yatim piatu yang berjuang hidup dengan bekerja di butik Miralis setelah orang tuanya tewas kecelakaan. Di sana, ia menjalin cinta dengan Reza, putra pemilik butik. Namun, restu keluarga Reza tidak kunjung datang hingga hubungan mereka kandas. Di tengah kepedihan, Lae menyadari dirinya hamil. Bukannya membela, Reza justru menyuruhnya menggugurkan kandungan itu. Kini, Lae harus memilih antara menuruti Reza atau mempertahankan darah dagingnya sendiri.
Sampul Novel Kembalinya Mantan Istriku yang Luar Biasa
8.8
Tiga tahun Elsa menikah tanpa pernah bertatap muka dengan suaminya yang misterius. Saat diceraikan demi wanita lain, Elsa memilih bangkit dan meninggalkan identitas lamanya. Dunia pun terkejut saat mengetahui ia adalah peretas jenius, agen rahasia, hingga ilmuwan hebat. Melihat bakat luar biasa sang mantan istri, pria itu kini bersujud memohon ampun. Ia rela menyerahkan harta dan nyawanya demi mendapatkan kembali cinta Elsa yang dulu ia sia-siakan.