Sampul Novel  Kerudung Pembalasan

Kerudung Pembalasan

8.1 / 10.0
Dunia Ana runtuh saat memergoki Javier berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Pengkhianatan pahit ini menghancurkan mimpi masa depan mereka dalam sekejap. Meski hancur, Ana memilih bangkit dari kebohongan dan memulai perjalanan emosional untuk menemukan jati dirinya kembali. Di saat Javier memohon kesempatan kedua, Ana justru belajar bahwa kekuatan sejati ada pada mencintai diri sendiri. Bisakah ia melepaskan masa lalu demi cinta yang lebih tulus dan menghargainya?

Kerudung Pembalasan Bab 1

Ana memulai harinya seperti biasa. Secangkir kopi hitam pekat, dengan rasa yang persis sama yang membangunkannya setiap pagi. Dia memeriksa emailnya, tidak menemukan sesuatu yang mendesak untuk membuatnya keluar dari zona nyamannya, lalu merapikan kamarnya hampir secara otomatis. Rutinitasnya dapat diprediksi, aman, dan di dunianya, semuanya selaras dengan ketenangan yang dia dambakan. Itu adalah hari seperti hari-hari lainnya, dan seperti biasa, dia merasa mengendalikan hidupnya. Tetapi malam tiba, dan bersamanya, sebuah keretakan yang akan mengubah segalanya. Tidak ada, bahkan tanda sekecil apa pun, yang dapat mempersiapkannya untuk apa yang akan dia temukan.

Malam itu, setelah seharian bekerja, Ana menuju apartemennya. Kelelahan terlihat jelas dalam langkahnya, dan pikirannya sudah mulai mengembara ke hal-hal kecil sehari-hari yang menunggunya di rumah: makan malam, mandi yang menenangkan, mungkin membaca sedikit sebelum tidur. Ketika dia sampai di pintu apartemennya, sesuatu yang aneh menghentikannya. Pintu itu sedikit terbuka. Pintu itu selalu dikunci oleh Javier, pasangannya. Selama bertahun-tahun, rutinitas itu tak terpecahkan, kebiasaan yang mereka berdua lakukan untuk merasa lebih aman. Tetapi hari ini, kebiasaan itu telah terputus tanpa peringatan, dan sesuatu di dalam dirinya mengatakan bahwa itu bukan sekadar kebetulan.

Dengan campuran ketidakpastian dan sedikit kecemasan, dia mendorong pintu hingga terbuka. Awalnya, apartemen itu tampak sunyi. Pencahayaan yang lembut, bayangan panjang sore hari, dan suara angin yang teredam melewati celah-celah jendela. Namun, saat dia berjalan menyusuri lorong, sebuah suara menarik perhatiannya. Tawa lembut, gumaman teredam. Itu tidak normal, dan pikirannya mulai berpacu saat langkahnya melambat. Perasaan buruk tumbuh di dalam dirinya seperti kabut tebal, menyerbu setiap sudut kesadarannya.

Dia mendekati ruangan dengan hati-hati, tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi takut akan hal terburuk. Ketika dia membuka pintu, seolah-olah dunia lenyap di sekitarnya, meninggalkannya melayang di udara, tidak dapat menggerakkan ototnya. Di sana mereka, Javier dan Clara, sahabatnya, telanjang, berpelukan di tempat tidur. Adegan itu tampak seperti mimpi buruk, mimpi yang tak pernah terbayangkan akan dialami Ana. Ia tak mampu memprosesnya, tak mengerti bagaimana ia bisa sampai pada titik ini, bagaimana sesuatu yang begitu menghancurkan bisa terjadi di rumahnya sendiri, di tempat perlindungannya sendiri.

Keheningan langsung menyelimuti, mencekam, tak tertahankan. Tawa mereda, bisikan-bisikan berhenti. Javier menatapnya, matanya melebar karena terkejut dan, entah mengapa, merasa bersalah. Clara, menyadari kehadirannya, langsung pucat, matanya melebar, dan campuran kepanikan dan rasa malu melintas di wajahnya. Ana berdiri di sana, lumpuh, menyaksikan adegan itu terjadi, saat rasa sakit menerjangnya seperti gelombang yang tak terbendung. Tak ada ruang untuk penjelasan, tak ada ruang untuk "Aku minta maaf" yang sudah mulai keluar dari mulut Javier. Rasa sakit fisik dan emosional, semua yang tak pernah ia bayangkan akan dirasakannya, menghantamnya dengan kekuatan yang hampir menghancurkannya.

Javier melompat dari tempat tidur, seolah-olah fakta bahwa dirinya telanjang di depannya adalah dosa yang lebih besar. Ia berusaha menutupi dirinya, tetapi ia tak mampu menyembunyikan rasa bersalah yang terpancar di wajahnya. Suaranya bergetar, tanpa alasan yang jelas, namun demikian, ia tetap berusaha membuatnya mengerti.

"Sayang!" serunya, putus asa, mengulurkan tangan kepadanya untuk mencoba mendekat. Tetapi Ana mundur, seolah kehadiran dirinya saja sudah cukup untuk mencemarinya.

"Kumohon, aku bisa menjelaskan, sayangku," lanjutnya, suaranya bergetar saat ia mencoba menemukan kata-kata yang dapat memperbaiki kerusakan yang tak dapat diperbaiki. Namun, saat itu, Ana tidak mendengarkan. Ia terjebak dalam gelembung ketidakpercayaan dan rasa sakit, di mana suara dirinya sendiri hanyalah kebisingan, tanpa makna.

Air mata mulai mengalir di wajahnya, meskipun ia tak tahu apakah itu karena marah, sakit, atau kebingungan. Pikirannya tak mampu memproses besarnya apa yang dilihatnya, dan tubuhnya terasa seperti melayang di luar dirinya sendiri. Ia memejamkan mata sejenak, mencari secercah ketenangan, sebuah napas agar ia bisa berpikir jernih, tetapi tidak ada yang bisa meredakan penderitaan yang mencekam dadanya. Setiap detak jantungnya mengingatkannya bahwa semua yang ia ketahui, semua yang ia percayai, tidak lagi ada. Dunia yang telah ia bangun bersama Javier telah hancur di depan matanya, dan tidak ada jalan kembali.

"Apa yang ingin kau jelaskan?" ucapnya terbata-bata. Suaranya terdengar seperti bisikan yang patah dan gemetar. Kemarahan mulai menggantikan rasa sakit, dan meskipun air mata terus mengalir, itu tidak lagi penting. Matanya bersinar dengan amarah yang terkendali, tetapi juga dengan kelelahan yang memilukan. Bagaimana kau bisa menjelaskan bahwa kau mengatakan kepadaku bahwa kau ada rapat bisnis sementara kau berada di tempat tidur bersama sahabatku? Apakah itu yang harus kau jelaskan kepadaku?

Kata-kata itu bagaikan pisau, dan dia merasakan setiap kata menusuk jiwanya. Namun terlepas dari segalanya, sesuatu di dalam dirinya membuatnya tetap terpaku pada saat itu. Dia perlu mendengarkan, dia perlu mengerti. Mungkin, jauh di lubuk hatinya, dia masih berharap penjelasan itu akan menjadi sesuatu yang bisa dia pahami. Namun, sesuatu mengatakan kepadanya bahwa tidak ada lagi yang bisa dijelaskan. Semua yang dia ketahui tentang hubungan mereka, tentang janji-janji yang telah mereka buat, semuanya lenyap dalam sekejap itu, seperti kebohongan yang tidak pernah ada.

Clara, yang tidak mampu menatap mata Ana, bangkit dari tempat tidur, gerakannya canggung dan dipenuhi rasa malu yang belum pernah Ana saksikan pada temannya. Ana merasakan pengkhianatan itu di kulitnya, di tulangnya. Seolah-olah udara dipenuhi racun, racun yang membakarnya dari dalam. Dia tidak bisa berpaling, tetapi dia juga tidak ingin terus menonton. Dia tidak tahu apakah dia ingin berteriak, melarikan diri, atau sekadar menghilang.

Javier, melihat reaksi Ana, mencoba melangkah ke arahnya, tetapi sesuatu dalam sikap Ana menghentikannya. Ia mengangkat tangan, bukan karena takut, tetapi dengan ketegasan yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri. Ia tak akan mendengarkan kebohongan lagi, ia tak akan menerima alasan lagi. Kebenaran tak lagi penting baginya; yang tersisa hanyalah keputusan bagaimana melangkah maju.

Suara napasnya menjadi satu-satunya suara di ruangan itu. Ia berbalik perlahan, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dan meninggalkan ruangan. Ia tak butuh jawaban, tak butuh penjelasan. Rasa sakit pengkhianatan masih terlalu segar, dan pikirannya hanya bisa memikirkan cara melarikan diri dari mimpi buruk ini. Dunia telah berubah selamanya.

Dan saat ia berjalan menyusuri lorong, air mata jatuh tanpa suara. Namun, tidak seperti sebelumnya, air mata itu bukan lagi air mata kebingungan. Itu adalah air mata kehilangan.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Kerudung Pembalasan

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel IPARKU, CANDU SUAMIKU
9.8
Dua tahun menikah, Nadia Antika bertahan menghadapi hinaan ibu mertuanya karena cinta tulus Askara Brahma. Namun, kebahagiaan itu sirna saat suaminya berubah menjadi tertutup dan dingin. Nadia mulai mencium rahasia besar yang disembunyikan sang suami di balik perubahan sikapnya. Mampukah ia mengungkap kebenaran yang menyakitkan? Bagaimana reaksi Nadia saat mengetahui Askara ternyata menjalin hubungan terlarang dengan adik iparnya sendiri di rumah mereka?
Sampul Novel ISTRI RASA SIMPANAN
9.5
Demi menyelamatkan kekasih Anthony Smith, Alicia Huang bersedia mendonorkan sumsum tulang belakangnya. Sebagai imbalan, ia memaksa Anthony menikahinya. Anthony setuju, namun dengan syarat identitas Alicia sebagai istrinya harus dirahasiakan dari publik. Menjalani peran sebagai istri yang disembunyikan layaknya simpanan, akankah ikatan kontrak ini bersemi menjadi cinta sejati atau justru berakhir dengan luka mendalam bagi keduanya?
Sampul Novel Istri Untuk Suamiku
8.6
Fatma menghadapi cobaan berat saat divonis menderita kanker rahim stadium lanjut yang memupus harapannya memiliki anak. Demi kebahagiaan Satria, ia rela meminta suaminya menikah lagi. Namun, kenyataan pahit terungkap bahwa Satria selama ini tidak pernah mencintainya. Meski Satria sempat menolak karena enggan menyakiti hatinya, Fatma tetap memohon dengan penuh air mata agar permintaan terakhirnya dipenuhi sebagai bentuk pengorbanan cinta yang tulus.
Sampul Novel Kekayaan Besar: Aku Adalah Seorang Miliarder
9.2
Niat hati memberi kejutan ulang tahun, aku justru menyaksikan pengkhianatan kekasihku dengan pria kaya. Dihina karena miskin, hidupku berubah saat pelayan keluarga terkaya mengungkap identitas asliku sebagai pewaris Grup Nelson. Kini dengan kekayaan tak terbatas, aku kembali untuk membalas dendam. Mantan kekasihku bersujud memohon ampun, namun aku hanya berlalu menuju kemewahan. Bagiku, uang hanyalah angka dan aku sangat menikmati cara menghabiskannya.
Sampul Novel Rahasia di Koper Suamiku
8.5
Keharmonisan rumah tangga Dewi mendadak hancur saat ia menemukan barang milik wanita lain tersimpan di dalam koper suaminya. Penemuan mengejutkan ini membawa Dewi pada serangkaian rahasia gelap dan tabiat buruk sang suami yang selama ini tersembunyi rapat. Di tengah rasa sakit hati yang mendalam, Dewi kini berada di persimpangan jalan yang sulit. Haruskah ia tetap bertahan dalam penderitaan, atau justru bangkit untuk membalas pengkhianatan tersebut?
Sampul Novel Satu-PD155
9.7
Sam menikahi Sinta demi mengambil ginjalnya untuk Ayu, teman masa kecilnya. Sinta yang hancur setelah tahu dirinya hanya cadangan medis pun memalsukan kematiannya. Usai Ayu sembuh, Sam baru menyadari sifat asli Ayu yang egois dan rasa cintanya pada Sinta. Lima tahun berlalu, Sinta kembali sebagai wanita sukses. Meski Sam memohon ampun, segalanya sirna saat Ayu dipenjara karena jahat. Sam hidup menderita, sementara Sinta meraih bahagia tanpa bayang masa lalu.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan