Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel  Kerudung Pembalasan

Kerudung Pembalasan

Dunia Ana runtuh saat memergoki Javier berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Pengkhianatan pahit ini menghancurkan mimpi masa depan mereka dalam sekejap. Meski hancur, Ana memilih bangkit dari kebohongan dan memulai perjalanan emosional untuk menemukan jati dirinya kembali. Di saat Javier memohon kesempatan kedua, Ana justru belajar bahwa kekuatan sejati ada pada mencintai diri sendiri. Bisakah ia melepaskan masa lalu demi cinta yang lebih tulus dan menghargainya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Udara di ruangan terasa pengap, berat, seolah-olah dinding-dinding itu sendiri menahan ketegangan yang meluap. Ana berdiri membeku, memperhatikan mereka berdua di tempat tidur, yang, kini sepenuhnya menyadari kehadirannya, mencoba berpakaian dengan kecanggungan yang lebih mencerminkan rasa malu atas tindakan mereka daripada logika situasi. Javier, kemejanya kusut di tangannya dan wajahnya pucat, bergerak terburu-buru, seolah mencoba menghindari tatapan matanya, seolah-olah semua yang telah dia lakukan hingga saat itu akan hancur di bawah tatapan tajam Ana. Clara, di sisi lain, tidak bisa mengangkat kepalanya, tidak mampu menghadapi amarah dan rasa sakit yang telah dia sebabkan.

Ana tidak tahu apa yang harus dilakukan, bagaimana harus bereaksi. Tubuhnya gemetar, pikirannya kacau. Dia tidak mengerti bagaimana dia bisa sampai di sini, bagaimana kepingan-kepingan hidupnya, yang telah disusun dengan sangat hati-hati selama bertahun-tahun, bisa hancur dalam waktu sesingkat itu. Kenangan akan momen-momen bahagia bersama, janji-janji, cinta, tawa, dan kebersamaan-semuanya tampak begitu jauh sekarang. Bayangan mereka berdua di ranjang, telanjang dan berpelukan, terus terputar tanpa henti di benaknya, seperti film yang diputar berulang-ulang tanpa bisa dihentikannya. Ia tidak tahu apakah ia ingin berteriak, melarikan diri, atau sekadar menghilang, lenyap seolah-olah semua ini tidak pernah terjadi.

Keheningan yang memenuhi ruangan itu tak tertahankan, hampir tak tertahankan. Setiap detik yang berlalu tanpa salah satu dari mereka berbicara terasa seperti beban di pundaknya, pengingat betapa tak terbaliknya apa yang sedang terjadi. Javier, melihat reaksi Ana, mencoba melangkah mendekatinya, tetapi gerakan itu hanya membuat Ana secara naluriah mengangkat tangan untuk menghentikannya. Seolah-olah ia tidak lagi mengenalnya, seolah-olah ia berdiri di hadapan orang asing, bukan pria yang telah berbagi begitu banyak hal dengannya, pria yang telah menjanjikan cinta abadi kepadanya. Rasa sakit melandanya, tetapi bukan jenis rasa sakit yang dirasakan di hati; itu lebih merupakan rasa pengkhianatan yang mendalam, begitu dalam hingga seolah meresap ke dalam tulang-tulangnya. Javier ada di sana, tetapi Ana tidak lagi bisa melihatnya dengan cara yang sama.

"Ana, kumohon..." gumam Javier, suaranya bergetar, dipenuhi keputusasaan. Dia mendekat padanya, seolah berharap kata-katanya entah bagaimana bisa memperbaiki semuanya. Tetapi Ana tidak bisa mendengarkan. Dia tidak ingin mendengar janji atau penjelasan kosong lagi. Apa pun yang dia katakan, tidak ada yang bisa mengembalikan kepercayaan yang sekarang dia rasakan hancur, patah. Apa pun yang dia coba, dia sudah melewati batas yang tidak bisa diperbaiki.

"Tidak, aku tidak mau mendengarmu," kata Ana tegas, suaranya begitu dingin hingga mengejutkan dirinya sendiri. Napasnya tersengal-sengal, dan meskipun dia merasa seolah hatinya terkoyak-koyak, sesuatu di dalam dirinya mengatakan kepadanya untuk tidak menyerah pada rasa iba, untuk tidak menuruti ratapan Javier. Tidak ada ruang untuk pengertian saat itu. Tidak setelah apa yang telah dia lihat.

Javier membuka matanya, dengan putus asa mencari jalan keluar, cara agar kata-kata dapat memperbaiki apa yang sudah dianggap Ana tidak dapat diperbaiki.

"Ana, aku mencintaimu, tapi..." ia mencoba, suaranya bergetar karena ketegangan dan rasa bersalah, tetapi kalimat itu menggantung di udara, seperti gema yang tak pernah mencapai sasarannya.

Ana menatapnya, matanya gelap dan penuh kesedihan, tetapi juga api yang menyala di dalam dirinya. Ia berjuang melawan rasa sakit, melawan penderitaan, melawan kekosongan yang melahapnya, tetapi pada saat itu, kebencian atas pengkhianatan itu mengalahkan segalanya.

"Apakah kau mencintaiku?" Suaranya bergetar, tetapi tekadnya tak terbantahkan. "Apakah kau benar-benar mencintaiku? Atau kau hanya berbohong padaku selama ini?"

Kata-kata itu menghantam Javier seperti peluru. Wajahnya semakin pucat, dan ia tetap diam, tak mampu membela diri, tak mampu menemukan jawaban yang dapat menyembuhkan luka yang baru saja terbuka di antara mereka. Pada saat itu, Javier bukan lagi pria yang dicintai Ana. Sekarang, ia mewakili segala sesuatu yang telah menjadi kebohongan. Cintanya, janjinya, saat-saat yang mereka habiskan bersama-semuanya hancur di depan matanya, dan kebenaran, betapapun menyakitkannya, adalah bahwa tidak ada yang tersisa dari apa yang dia anggap benar.

Namun kebingungan Ana tidak hanya berasal dari Javier. Di sampingnya, Clara, sahabatnya, tetap diam, menundukkan kepala, menatap lantai, seolah kata-kata tak bisa keluar dari bibirnya. Ana menatapnya, dan rasa sakitnya berlipat ganda saat ia melihat rasa bersalah tercermin di mata Clara, yang akhirnya mengangkat pandangannya, seolah mencari cara untuk membenarkan dirinya sendiri. Ana hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Ana... kumohon, mengerti..." Clara memulai, suaranya bergetar, seolah ia mencoba menemukan cara untuk melunakkan apa yang tak bisa dilunakkan. "Itu bukan salahku. Javier memanipulasiku... dia mengatakan itu padaku..."

Kata-kata Clara terhenti di udara sebelum ia selesai mengucapkannya. Ana tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Manipulasi? Apakah itu yang dilakukan Javier? Apakah itu yang dikatakan Clara? Tidak, tidak mungkin. Tidak mungkin orang yang paling ia percayai, temannya, telah tertipu oleh kebohongan yang sama. Kemarahan mulai melahapnya, panas membuncah di dadanya dan menyebar ke seluruh pembuluh darahnya, memadamkan setiap jejak belas kasihan.

"Dimanipulasi?" Ana menyela Clara, nadanya sarkastik, menusuk, seperti sengatan kenyataan yang menusuk ruangan. "Dan bagaimana denganmu? Apakah kau juga korban? Apakah kau mengkhianatiku karena kasihan?" Clara tidak menjawab. Bahunya semakin terkulai, dan rasa malu jelas tercermin di wajahnya. Tidak ada kata-kata yang dapat membenarkan apa yang telah dilakukannya. Tidak ada alasan yang dapat mengurangi besarnya pengkhianatannya. Ana merasakan sakit di hatinya, tetapi itu bukan hanya rasa sakit. Itu sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang tidak dapat ia gambarkan. Ia diawasi dari luar, seolah-olah semua yang terjadi tidak nyata, seolah-olah hidupnya hanyalah representasi yang terdistorsi dari apa yang selama ini diyakininya sebagai kebenaran. Bagaimana ia bisa sampai di sini? Bagaimana ia bisa mencapai titik ini dengan dua orang yang paling dicintainya di dunia?

Ana menutup matanya, menahan air mata yang hampir tumpah. Ia tak tahan lagi berada di tempat itu, dikelilingi kebohongan dan pengkhianatan. Ia perlu menjauh dari semuanya, ia perlu melarikan diri, meskipun hanya sesaat, agar bisa bernapas. Tapi ia tak bisa bergerak; tubuhnya terasa seperti terpaku di tanah, seolah setiap langkah yang diambilnya adalah upaya untuk membangun kembali sesuatu yang sudah tidak ada lagi.

Akhirnya, tak tahan lagi, ia berkata pelan, hampir berbisik, jiwanya hancur berkeping-keping.

"Tinggalkan aku sendiri. Kalian berdua." Suaranya terdengar tegas, tetapi di dalam hatinya ia merasakan pusaran emosi yang tak terkendali. Ia tak tahu apakah ia membenci mereka, mencintai mereka, merasa kasihan pada mereka atau pada dirinya sendiri. Ia hanya tahu bahwa ia tak tahan lagi berada di ruangan itu, terjebak di antara kebingungan dan amarah. Ia perlu sendirian, menjauh dari mereka, dari kebohongan, dari pengkhianatan. Ia perlu menemukan cara untuk membangun kembali dirinya, meskipun ia tidak tahu caranya.

Dan sementara mereka berdua berdiri di sana dalam keheningan, Ana berbalik dan meninggalkan ruangan, menutup pintu perlahan di belakangnya. Namun di dalam hatinya, gema kata-kata itu bergema seperti kalimat yang tak akan pernah bisa dibatalkan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Abang Duda Kesayangan
9.5
Dilara Aysila Airene mengalami pertemuan tak terduga dengan seorang duda menawan usai menolong seorang nenek di jalanan. Terpikat oleh ketampanan pria tersebut, Dilara pun jatuh hati dan bertekad memenangkan hatinya. Berbagai upaya rayuan hingga aksi-aksi konyol mulai ia lancarkan demi menarik perhatian sang pria idaman. Akankah misi cinta Dilara ini membuahkan hasil manis, atau justru menemui hambatan? Simak perjuangan uniknya dalam mengejar sang duda.
Sampul Novel Bukan Kisah Peterpan Tinkerbell
8.6
Haera merenungkan filosofi Peter Pan yang mampu memberi kebahagiaan bagi Wendy namun tak bisa memilikinya, layaknya idola kepada penggemar. Saat diskusi beralih pada sosok Tinker Bell, sang sahabat setia, sebuah pemikiran baru muncul di tengah proses penulisan ceritanya. Haera menyadari bahwa meski Peter Pan tak bisa meraih Wendy, Tinker Bell akan selalu ada di sisinya. Sebuah kisah tentang kesetiaan dan perasaan yang tersembunyi di balik bayang-bayang persahabatan.
Sampul Novel GADIS MALANG
8.2
Rinda, gadis muda yang merantau demi pendidikan, harus menghadapi pahitnya realita di tanah orang. Meski ia memegang teguh komitmen dalam cinta, luka mendalam justru menghampirinya hingga memicu depresi berat. Di tengah isak tangis, ia meluapkan rasa sakitnya kepada sosok yang telah menghancurkan hatinya. Kini, Rinda terjebak dalam dilema antara bertahan atau menyerah pada keadaan. Akankah ia mampu melewati badai ini, atau justru hancur ditelan waktu?
Sampul Novel Hasrat Liar
8.8
Meski statusnya hanya anak angkat, Rey mendapatkan dukungan penuh dari orang tua serta saudara-saudaranya untuk bertransformasi menjadi sosok pria perkasa. Mereka mendorongnya untuk mengasah daya pikat yang tak tertandingi demi menaklukkan hati setiap wanita yang ia temui. Ikuti perjalanan hidup Rey dalam mengeksplorasi sisi maskulin dan pesonanya yang liar. Akankah ia berhasil memenuhi harapan keluarga dan menjadi sang penakluk ulung di dunia asmara?
Sampul Novel Kehamilanku Adalah Harapanku
7.9
Lae adalah yatim piatu yang berjuang hidup dengan bekerja di butik Miralis setelah orang tuanya tewas kecelakaan. Di sana, ia menjalin cinta dengan Reza, putra pemilik butik. Namun, restu keluarga Reza tidak kunjung datang hingga hubungan mereka kandas. Di tengah kepedihan, Lae menyadari dirinya hamil. Bukannya membela, Reza justru menyuruhnya menggugurkan kandungan itu. Kini, Lae harus memilih antara menuruti Reza atau mempertahankan darah dagingnya sendiri.
Sampul Novel Kembalinya Mantan Istriku yang Luar Biasa
8.8
Tiga tahun Elsa menikah tanpa pernah bertatap muka dengan suaminya yang misterius. Saat diceraikan demi wanita lain, Elsa memilih bangkit dan meninggalkan identitas lamanya. Dunia pun terkejut saat mengetahui ia adalah peretas jenius, agen rahasia, hingga ilmuwan hebat. Melihat bakat luar biasa sang mantan istri, pria itu kini bersujud memohon ampun. Ia rela menyerahkan harta dan nyawanya demi mendapatkan kembali cinta Elsa yang dulu ia sia-siakan.