
Kehangatan selimut cinta
Bab 2
Keesokan harinya,
"hiks hiks hiks" Tangisan si bungsu berusia 11 bulan terdengar heboh meramaikan suasana pagi.
Sophie nampak berjibaku dengan si bungsu, sedangkan tuan dan nyonya sedang sarapan bersama para jagoannya.
"jep jep jep, uhh sayang jangan nangis ya.. uuhh jep jep!''
Sophie menggendong lalu mengayun-ayunkan si bungsu.
Mulut mungil meronta-ronta mencari sesuatu kadang mengigit apapun didekatnya, tak ayal sesekali baju ketat Shopie menjadi korban saat tak sengaja dikunyah mulut tanpa gigi.
"Aduduh jangan sayang! jep jep, nih minum susu yang ini aja ya sayang. jep jep!" Memyumpal mulut mungil dengan benda kenyal mengeluarkan cairan putih dari botol susu.
Si bungsu rasanya tak mau menerima pemberian susu formula, insting bayi merasa tak cocok dengan makanan yang diberikan. Ia menginginkan sesuatu yang lebih baik dari susu formula.
"Aduh gimana ini? Nyonya pasti marah besar kalau anaknya terus menangis. Gimana nih?" Kebingungan dan takut karena si bungsu tidak kunjung diam dipelukkannya.
Di depan meja makan.
"Pah kayaknya pengasuh bayi kita gak becus. Denger deh masa anak kita nangis terus?"
"Ya wong namanya juga anak piyik, bisanya cuman nangis. Emang kamu maunya gimana?"
"Ya ditenangkan gitu loh pak, percuma sewa baby sitter mahal-mahal kerjanya gak becus!"
"Ahh sampean Iki wis lali opo? Kan pengasuh bayi kita yang kemarin cuman kuat satu hari saja. lah ini kita beruntung masih bertahan satu Minggu."
"Udahlah kita pecat aja! masa anak kita dipegang sama dia malah nangis terus."
"Yo wis kalo gitu sampean yang ngurusin anak kita toh"
"Halah! mbohh aku!"
Bu Tinah menyempatkan diri menemui sang pengasuh bayi.
"Heh! Kamu ini bisa kerja gak sih? kalau gak bisa ngurus anak kecil jangan sok soan jadi baby sitter!" Hardik Bu Tinah mendengar anak bungsunya masih rewel.
Sophie yang tahu betul apa permasalahannya mencoba menjelaskan situasi yang terjadi.
"Nyonya putra bungsu anda tidak suka dengan susu formula, dia ingin asi eksklusif." Terang Sophie.
"Halah alasan aja Kamu! Kalau gak sanggup ngurus anak saya cepat kasih tau saya! segera angkat kaki dari rumah ini" Ancam Bu Tinah lalu kembali ke meja makan.
Sophie semakin kebingungan mencari solusi terbaik untuk memecahkan masalah. Yang diinginkan oleh anak berumur 11 bulan ini adalah asi eksklusif.
Terlebih ancaman si nyonya barusan seperti bukan main-main.
"Baiklah apa boleh buat, dari pada aku dipecat. Anakku dikampung pasti kelaparan jika aku tidak bekerja."
Sophie memerhatikan keadaan sekitar, sedang si bungsu pak Bambang masih saja rewel. sepertinya tidak akan berhenti sebelum mendapatkan asupan nutrisi terbaik.
Si janda muda beranak satu membuka setengah kancing baju, mengeluarkan nipple layaknya dot bayi.
Lalu memasrahkan untuk dikunyah oleh bayi didepannya.
Mata jernih si janda muda terpejam sesaat. Merasakan tarikan dan gigitan tanpa Gigi. awalnya terasa linu saat ditarik, namun berganti kenyamanan saat dihisap.
Untunglah benda itu masih berfungsi sebagai mana mestinya.
..
Orang-orang didalam merasa heran, kenapa tangisan si bungsu tak lagi terdengar setelah si pengasuh didatangi ibu mereka.
"Kok Acel gak rewel lagi ya Bu?'' Tanya Rizki.
"Baguslah, mungkin pengasuhnya udah tau cara menenangkan adikmu."
"Jadi penasaran gimana caranya ya? apa mungkin baby Acel di perlakukan kasar?"
Azka langsung tersentak mendengar sangkaan Rizki yang belum tentu kebenarannya.
"Aku akan memeriksanya!" seru Azka langsung menuju ke depan menemui si bungsu.
Azka berdiri di depan pintu, melihat Sophie menggendong adiknya dari belakang.
Lalu secara tak sengaja Sophie membalikkan badannya mengarah ke pria yang berdiri di sana.
"Aaahh!" Langsung kembali membalikkan badan. Tubuhnya agak gemetaran sembari hendak melepaskan mulut si bayi yang menempel di salah satu titik dua.
Si bungsu kembali rewel saat titik itu terlepas dari mulut mungilnya.
Azka terdiam seperti terkesima dengan apa yang baru saja ia lihat.
"Ma- Maaf mas Azka. saya su- sudah kehabisan cara untuk menenangkan adik anda" Sophie nampak ketakutan saat ketahuan memberikan asupan gizi ekslusif. pas waktu itu titiknya sedang asik digigit mulut mungil.
"Tenang mbak, aku justru berterima kasih mau berbaik hati membaginya pada adik saya."
"Mas Azka gak akan bilang kan sama nyonya?"
Otak kotornya seketika mencuat ke permukaan.
"Emm gimana ya? Mama marah gak kira-kira?" Azka balik bertanya.
"Mas aku mohon jangan kasih tau nyonya, aku bisa dipecat. aku butuh pekerjaan ini" si bayi menagih lagi asupan gizi yang disembunyikan si pemiliknya. Sophie merogoh kedalam baju, mengeluarkan benda kenyal dengan titiknya yang coklat.
Mulut mungil segera mendapatkan makanannya kembali.
Seketika bayi itu kembali tenang sembari menikmati hidangan bergizi.
"Baiklah aku akan tutup mulut sama mama, asalkan."
"Asalkan apa mas? jangan minta yang aneh-aneh."
"Enggak kok, aku akan biarkan mbak memberi adikku makanannya. asalkan aku dapat melihat dia sedang makan."
"Hah? Apa!" Wajah si perempuan memerah. Antara malu dan tak nyaman jika harus diperhatikan saat memberi makan si bayi bungsu.
"Ya sudah kalau begitu aku, ma!"
Azka hendak memanggil Bu Tinah, namun langsung di sela Sophie.
"Mas!"
Sophie membalikkan badan tepat menghadap Azka yang menunggu saat-saat indah seperti ini.
Nampak dengan lahapnya dipangkuan si pengasuh, baby Acel nampak damai menikmati hidangannya.
Sophie sempat memejamkan mata saat memperlihatkan sibungsu memakan makanannya, terlanjur malu dan takut.
"Sudah cukup ya mas!" kembali membalikkan badan membelakangi Azka.
Si pria seperti mendapatkan durian jatuh, sungguh beruntung nasibnya pagi ini. Mendapatkan pemandangan yang indah luar biasa. sampai terngiang-ngiang terbawa ke sekolah.
...
Sesampainya di sekolah Azka masih kepikiran kejadian yang tak di sengaja. Pikiran menerawang jauh hinggap pada sosok cantik.
Khayalan tingkat tinggi terlalu jauh menerawang.
Ia sedang menghalu dirinya menjadi kekasih si pengasuh bayi dirumahnya.
Hari- hari nya akan selalu indah dan bahagia jika berdekatan dengan si janda anak satu.
Berusaha memberikan kebahagiaan dan kehangatan cinta yang telah lama pergi meninggalkan si wanita.
Berharap Azka menjadi pengganti sang suami Sophie yang telah berpulang.
Memeluk erat tubuh hangat si perempuan, memberikan kenyamanan dan perlindungan dalam dekapannya.
Setiap pulang kerja langsung disambut hangat, disuguhi kopi manis semanis senyuman yang merekah di bibirnya yang menarik.
"Hahh, Seandainya itu terjadi. Aku pasti adalah orang yang paling beruntung di muka bumi" Gumamnya saat berkhayal hal yang indah bersama Sophie.
Plekk
Seseorang terasa memeluk tubuh tegap Azka dari belakang.
"Azka, kemana aja sih? kok baru keliatan?" Tanya Elsa si sisiwi berdada rata tapi memiliki paras yang imut.
"Hah! Apaan sih kamu sa? ganggu aja!" Merasa tidak nyaman saat dipeluk perempuan yang tertarik padanya.
Azka melepaskan pelukan dipunggung.
"Azka? kenapa sih? aku kangen tau.''
"Kangen-kangen? Aku gak mau liat kamu lagi!" Ucap Azka sangat dingin terhadap perempuan yang pernah menduakannya.
Anda Mungkin Juga Suka





