Sampul Novel Do Not Love Me

Do Not Love Me

9.4 / 10.0
Dalam novel Do Not Love Me, hari pertama Kayla di sekolah baru dikacaukan oleh Mexsi. Di tengah konflik, Mexsi mengungkap rahasia masa lalu kakaknya dan Kayla. Kisah romance modern ini menguji kesetiaan saat penyakit mengancam. Baca web novel ini untuk mengikuti perjuangan cinta mereka.
Ringkasan Do Not Love Me
Hari pertama Kayla Prawijaya di sekolah baru menjadi kacau sejak bertemu Mexsi Megantara, murid pindahan asal Singapura. Hubungan mereka diawali kebencian karena Kayla tak mengerti alasan Mexsi begitu memusuhinya. Namun, fakta mengejutkan terungkap bahwa mendiang kakak Mexsi adalah cinta pertama Kayla. Rasa benci itu berubah jadi cinta saat Mexsi mengetahui Kayla mengidap kanker darah. Mampukah Mexsi tetap bertahan mendampingi Kayla di tengah ujian pilu ini?
Baca Selengkapnya

Do Not Love Me Bab 1

Terbangun dari tidur panjang semalam dalam keadaan rambut panjang hitam acak-acakan mirip rambut Tarjan, kelopak mata sulit terbuka, dan menguap beberapa kali. Matanya menyipit saat diliriknya jam di dinding, menunjukkan hampir jam tujuh lewat lima menit. Mengerjap-ngerjapkan mata berharap apa yang barusan ia lihat hanyalah sebuah kesalahan, membulatkan mata, mulut terbuka lebar tak percaya, namun jam di dinding tidak berubah sama sekali.

"MATI DEH GUE!" teriak gadis itu, bangkit dari tempat tidur secepatnya lari ke dalam kamar mandi.

Hari pertama Kayla masuk ke sekolah SMAN 81 JAKARTA, kelas XI ia murid pindahan dari Cikarang. Nama lengkapnya Kayla Prawijaya. Ibunya sedang merintis sebuah usaha di Jakarta Selatan. Meski ia sendiri tidak menginginkan pindah secara terpaksa, hanya memiliki satu anggota keluarga yang saat ini bersamanya. Ibu yang sangat ia sayangi.

Keluar dari balik pintu kamar. Tampak rapi mengenakan seragam putih abu-abu. Menuju meja makan, menyambar roti lapis berisi selai kacang yang sudah disediakan untuknya, mengunyah dan menelan secepat mungkin, melihat segelas susu putih, meneguk sampai habis tak tersisa. Ibunya berangkat kerja sebelum ia bangun dari tidurnya, inilah rutinitas sehari-hari menyiapkan segalanya sendirian.

Tulang punggung keluarga hanyalah ibunya, ia harus memahami situasi dan kondisi saat ini.

***

Lari menuju samping jalan raya, kebetulan angkot sedang berhenti mengangkut penumpang. Ia secepatnya masuk ke dalam angkot, beberapa menit kemudian sampai di depan gerbang sekolah turun dari angkot tak lupa juga membayar. Kaki Kayla bergemetaran, melihat tidak ada siapa pun yang di dekat gerbang. Satpan mulai menarik ujung pagar gerbang itu. Lari... lari, kedua tangannya menahan pagar. Tersenyum datar tampak terlihat raut wajah yang memelas. Terpaksa kali ini Satpan memperbolehkannya masuk, menuju ruang kelas XI IPA.

Mengintip dari jendela kelas, memutar bola matanya menengok ke kiri dan ke kanan ruang kelas.

'Selamet! Guru belum masuk kelas.' batinnya di dalam hati.

Baru saja menghembuskan napas lega seseorang menepuk pundaknya dari belakang, ia mematung detak jantung berdebar was-was. Menarik napas perlahan-lahan dan menghembuskan dengan keras, memberanikan diri menengok ke belakang.

Tiga detik.

"Eh, ada bapak," kata Kayla memaksakan seculas senyuman ramah.

Mengulurkan telapak tangan kanan, wajahnya kembali tersenyum datar, guru yang berdiri di depan pintu menyambut tangan gadis itu. Mencium punggung tangan gurunya.

"Anak baru?" tanyanya datar.

"I-iya Pak," jawabnya manggut-manggut.

Tanpa basa-basi pak Selamet masuk ke dalam kelas, diikuti langkah kakinya dari belakang.

Semua siswa yang di dalam kelas menatap ke satu arah, bukan gurunya yang mereka tatap. Tetapi seorang gadis berkulit kuning langsat, mata hitam, hidung apa adanya, berambut hitam panjang lebat yang menggendong tas ransel biru cerah. Pak Selamet berkumis putih tebal, rambut pada bagian kepalanya sebagian besar telah menghilang alias botak, menjatuhkan bokongnya di bangku. Menatap tajam ke arah depan.

Satu kelas langsung menunduk patuh, sudah paham jika pak Selamet menatap mereka seperti itu. Ia guru Mtk yang paling ditakuti semua siswa di sekolah, termasuk ke dalam guru killer karena peraturannya yang begitu menyiksa, mencekam dan hukuman yang sangat berat bila melanggar.

"Perkenalkan dirimu." suruh pak Selamet menatap siswa baru yang berada pada sampingnya.

"Perkenalkan nama saya... " terdiam cukup lama sambil menunduk nervous.

Tiba-tiba seseorang lari ke dalam kelas terhenti berdiri tepat di sampingnya.

"Mexsi Megantara."

Menghentikan rasa nervous gadis yang sedang kebingungan menatap lelaki itu. Ia memakai kacamata hitam, memakai masker hitam, sembari menggandeng tas ransel berwarna biru gelap sebelah kiri bahu.

Kayla melanjutkan ucapannya yang terhenti tadi, "Kayla Prawijaya."

Kayla menatap lelaki yang berdiri di sampingnya dengan tatapan serius.

Pak Selamet berdiri, mereka mengarahkan pandangannya pada sang guru.

"Lepas kacamata dan masker sekarang juga!" bentaknya menatap tajam ke arah lelaki itu.

Saat Mexsi melepas masker lalu kacamata tersenyum tipis. Semua wanita di dalam kelas itu terpaku menatapnya, bahkan salah satu gadis yang sedang mengantuk berat, kepalanya hampir tumbang jatuh kepentok meja. Tiba-tiba matanya melek hampir keluar dari tempatnya. Bagaimana tidak? badannya yang kekar, berbadan tinggi, berkulit putih, matanya hitam kecoklatan saat tersenyum membuat para kaum hawa meleleh.

Namun ada sesuatu yang mengganggu...

Kayla mengerutkan kening. Kenapa? Siapa? Mengapa wajahnya tak terlihat asing. Tidak, Kayla tidak yakin betul ia tak pernah bertemu lelaki itu sebelumnya. Tetapi, ada sesuatu yang enggan baginya. Bertanya-tanya di dalam hati.

Lelaki itu tidak memandang siapa gadis yang saat ini berdiri di sampingnya, hanya menatap ke depan lurus-lurus.

"Subhanallah, ganteng banget!" jerit salah satu siswa dari sudut kiri tengah.

Sampai seseorang yang akan pindah kelas, demi menghindar dari pak Selamet.

"Astagfirullah Aladzim, gue gak jadi pindah kelas."

Kembali terdengar jeritan dari berbagai arah. Seketika kelas yang tadinya hening, kini menjadi sangat berisik. Tidak menghiraukan bahwa ak Selamet sedang mendengarkan ucapan mereka.

"Cari tempat duduk yang kosong sana!" perkataan pak Selamet membuat seisi kelas terdiam. Pada hal terdengar biasa saja, mungkin terbiasa dengan hawa mencengkram. Mereka segera sadar, sedari tadi membuat keributan sendiri.

"Jangan memakai kacamata, ditambah masker hitam lagi! Mau sekolah apa maling?"

Semua siswa cekikikan kecil. Tanpa menjawab perkataannya, Mexsi melangkahkan kaki panjangnya mencari tempat duduk yang kosong, melewati para kaum hawa santai. Membuat mereka saling memberi tatapan sebuah isyarat. Salah satu di antara mereka ingin Mexsi duduk di sebelahnya, mendorong teman sebangku sampai dia berdiri hampir jatuh, mengkedipkan mata genit. Teman yang di sampingnya pun tidak mau kalah, mendorong teman yang sedang sibuk cari perhatian, saling tak terima mereka langsung dorong-mendorong akhirnya terjatuh bersama.

Seisi kelas tertawa sangat geli, lagi-lagi suasana kembali menjadi berisik. Pak Selamet kembali menggeram, menggebrak papan tulis menggunakan penggaris panjang dua meter berbahan kayu kecoklatan. Mereka kembali terdiam setelah mendapat kode keras dari gurunya yang super sadis itu.

Mexsi melengos tatapannya terlihat tajam duduk di bangku paling belakang dibaris kedua dari samping. Kayla menengok ke berbagai arah bahkan sudut ruangan tidak ada satu bangku pun yang kosong di sana, kecuali... meja lelaki tadi yang datang secara mendadak. Terpaksa memberanikan diri duduk bersebelahan dengannya.

Daripada ambil risiko tidak mendapatkan tempat duduk? Kayla menaruh tasnya pada bagian bawah samping kanan kaki.

Mexsi Megantara ia salah satu murid pindahan dari Negara Singapura, alasan pindah dari sana karena seorang gadis tak henti-hentinya terus mengganggunya. 'Si Toa Berjalan,' itulah nama panggilan terbaik pada musuh bebuyutannya, bertengkar dari usia sebelas tahun.

Aneh... ia dengan gadis yang amat sangat dibenci, selalu satu sekolah. Terlebih satu kelas lagi dan lagi, hingga sekarang. Mendengar jika gadis itu sengaja mengikuti Mexsi, daripada ambil pusing lebih baik menghindar sampai rela pindah sekolah ke Indonesia.

Sebelum Mexsi tahu nama gadis itu, mereka sudah saling benci. Setiap ada guru yang mengabsen kehadiran siswa sebelum menyebutkan nama orang yang membuat hari-hari terasa di neraka, mengeluarkan headset, untuk menyumpal telinganya tampak jelas tidak ingin tahu siapa namanya. Toa adalah satu-satunya nama panggilan yang terbaik baginya untuk diucapkan.

Tak lupa juga membawa kapas, sebagai cadangan jika lupa membawa perihal yang pertama, atau lebih parahnya lagi ngumpet dipojokan sambil menutup rapat kedua telinga tampak orang yang mendengar nama 'Malaikat Maut' yang akan mencabut nyawanya. Sebelum masuk ke dalam kelas ia menerobos masuk, sebelum Satpan menutup rapat pagar tadi sesudah Kayla.

Alih-alih mencuri-curi pandang, Kayla menatap wajah lelaki yang terlihat sibuk.

Mengeluarkan headset, kapas. Pikir Mexsi sudah terbebas dari Toa, tak memerlukannya lagi. Mengambil plastik keresek di kolong meja berinisiatif membuang sampah beserta masa lalunya, mengambil buku lalu tak sengaja pulpennya jatuh ke bawah kolong sebelah.

Mexsi akan membungkuk mengambil pulpennya, Kayla membunguk terlebih dahulu. Membuat lelaki itu menatap wajah gadis yang tertutup rambut panjangnya yang hitam lebat, mengambil pulpen dengan tangan kanan. Mengangkat punggung, menyandarkan tubuh, duduk kembali. Menengok, menatap Mexsi yang berada di sebelahnya, memberikan pulpen yang ia ambil.

Bukannya Mexsi mengambil pulpen, kedua alisnya terangkat, wajahnya memerah, menatap gadis itu.

"Lo!" teriak Mexsi langsung terkejut, syok dan panik menahan amarah, membuat seisi kelas melihat ke arahnya.

"Ko ada di sini?!"

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Do Not Love Me

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Bertahun-tahun Terpisah, Hati Terbangun
9.2
Identitas Nyonya Marshall terbongkar dan memicu skandal besar. Dituduh mencelakai kekasih gelap suaminya, ia dipenjara hingga dikabarkan tewas bersama seorang bayi. Namun, enam tahun kemudian, Callie muncul kembali sebagai sosok baru yang mempesona. Saat bertemu Pak Marshall, ia tak lagi tunduk. Dengan senyum anggun, Callie menegaskan bahwa dirinya telah menikah bahagia dan meminta mantan suaminya itu untuk menjaga jarak demi menghormati kehidupan barunya yang sekarang.
Sampul Novel Dendamku kepada Pacar Anakku
9.4
Niat menyelamatkan putra bungsunya yang digigit ular berbuntut petaka bagi seorang ibu saat mendatangi rumah sakit tempat anak sulungnya bekerja. Pacar sang anak sulung salah mengira dirinya sebagai selingkuhan dan nekat menghalangi pengobatan medis. Tak hanya memaki, wanita itu juga tega menyiksa fisik sang ibu hingga babak belur dan cacat. Saat dilarikan ke ruang darurat dalam kondisi kritis, dokter bedah yang bertugas ternyata adalah putra sulungnya sendiri yang histeris melihat keadaan ibunya.
Sampul Novel Ketika Aku Menjadi Ibu Susuan Profesional
8.4
Mengalami kondisi ASI yang berlebih membawa berkah sekaligus tantangan tak terduga bagi protagonis dalam novel modern Ketika Aku Menjadi Ibu Susuan Profesional. Keputusannya untuk bekerja sebagai ibu susuan berawal dari pemikiran sederhana bahwa tugasnya hanyalah menyusui seorang bayi yang membutuhkan. Namun, realitas yang dihadapinya jauh dari perkiraan semula. Pekerjaan ini menyeretnya ke dalam pusaran hubungan rumit dan rahasia tak terduga yang mengubah jalan hidupnya secara perlahan.
Sampul Novel Neraka Di Rumah Mertua
8.2
Nia, gadis dari keluarga kurang mampu, mendambakan kasih sayang mertua setelah menikah dengan Riko. Namun, kenyataan pahit justru menghampirinya saat ia diperlakukan layaknya pembantu. Riko yang terlilit hutang besar akibat gaya hidupnya, tega menjual Nia kepada pria hidung belang demi melunasi tagihan penagih hutang. Kini, Nia terjebak dalam lembah maksiat yang dipaksakan suaminya sendiri. Sanggupkah ia meloloskan diri dari dunia kelam yang menghancurkan hidupnya?
Sampul Novel Suamiku Tak Tahu Aku Banyak Harta
8.1
Setahun menikah dengan Dimas, Nela hanya merasakan kepedihan. Nafkah yang minim memaksanya bekerja secara rahasia demi mencukupi kebutuhan hidup tanpa diketahui suami dan keluarga besarnya. Keadaan kian pelik karena ia terjebak di lingkungan toksik, bertetangga dengan mertua serta ipar yang gemar mencampuri urusan rumah tangganya. Di tengah tekanan batin dan intervensi keluarga Dimas, sanggupkah Nela bertahan dalam pernikahan yang penuh penderitaan ini?
Sampul Novel Terjerat Cinta Satu Malam (Gadis Kecilku)
8.2
Mahendra Atmaja, duda berusia 48 tahun, telah setia menanti mantan istrinya selama dua dekade. Namun, prinsipnya goyah saat dijebak di hotel bersama Mauren, gadis berumur 21 tahun. Demi membiayai pengobatan adiknya, Mauren menerima tugas dari sahabat Mahendra untuk menggoda sang duda. Kini, ia harus berjuang memikat hati pria yang jauh lebih tua darinya tersebut. Akankah pesona Mauren sanggup meruntuhkan tembok kesetiaan yang telah dibangun Mahendra selama ini?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan