Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kau Sakiti Orang Yang Salah

Kau Sakiti Orang Yang Salah

Dendam atas kematian kakek dan neneknya membuat Reza Adyatama nekat menghancurkan hidup Luna Daniel. Luna yang tak bersalah menjadi sasaran kemarahan Reza hingga mereka berpisah. Empat tahun kemudian, Reza terkejut menemukan bocah tiga tahun yang sangat mirip dengannya. Menyadari itu anak kandungnya, penyesalan mendalam menghantui Reza. Kini ia bertekad mengejar Luna kembali. Akankah Luna memaafkan masa lalu kelam demi masa depan sang buah hati?
Bab
Bagikan

Bab 2

Permainan telah dimulai, dan Reza Adyatama adalah dalang di baliknya. Ia telah berhasil memasuki kehidupan Luna Daniela, bukan sebagai musuh yang mengancam, melainkan sebagai ksatria berkuda putih yang datang menyelamatkan. Segalanya berjalan sesuai rencana. Pesonanya, kemewahan yang ia tawarkan, dan perhatiannya yang seolah tak terbatas, perlahan namun pasti, melilit hati Luna dalam jeratan yang tak terlihat.

Reza adalah aktor ulung. Setiap pagi, ia akan mengirimkan bunga mawar favorit Luna-mawar putih, simbol kemurnian yang ironisnya sangat kontras dengan niat busuknya. Pesan-pesan singkatnya selalu penuh perhatian, menanyakan bagaimana tidur Luna, atau mengingatkan untuk tidak lupa sarapan. Ia tahu Luna adalah tipe gadis yang mudah tersentuh oleh hal-hal kecil, dan ia memanfaatkan kepekaan itu dengan sempurna.

"Sudah makan siang, Sayang?" pesan dari Reza sering muncul di ponsel Luna tepat saat jam makan siang. Atau, "Jangan lupa istirahat, ya. Lukisanmu memang indah, tapi kesehatanmu lebih penting." Kata-kata sederhana itu, yang diucapkan dengan nada tulus melalui telepon, membuat Luna merasa dicintai dan diperhatikan sepenuhnya. Ia belum pernah merasakan perhatian sebesar ini sebelumnya. Orang tuanya sibuk dengan pekerjaan mereka, dan meskipun mereka mencintainya, perhatian mereka seringkali terasa terbagi. Reza mengisi kekosongan itu dengan kecepatan yang menakutkan.

Reza mulai membawa Luna ke acara-acara sosial kelas atas, memperkenalkan gadis itu ke lingkaran pergaulannya yang eksklusif. Pesta amal mewah, pembukaan galeri seni prestisius, hingga makan malam pribadi dengan para konglomerat-Luna selalu berada di sisi Reza. Ia tak pernah meninggalkan Luna sendirian, selalu memegang tangannya, sesekali merangkul pinggangnya, atau membisikkan pujian di telinganya. "Kamu terlihat sangat cantik malam ini, Luna. Semua mata tertuju padamu," bisiknya suatu kali di sebuah acara. Pujian-pujian itu bagai siraman madu bagi Luna, membuatnya semakin percaya diri dan merasa dicintai.

Luna, yang tumbuh di lingkungan yang cukup konservatif meskipun kaya, sedikit canggung pada awalnya. Namun, Reza dengan sabar membimbingnya, mengajarkan etika pergaulan kelas atas, dan membuatnya merasa nyaman di tengah keramaian. Ia selalu memastikan Luna merasa dihormati dan dihargai. Reza bahkan sering kali mengalihkan perhatian dari dirinya sendiri untuk menyoroti karya seni Luna, membicarakan bakat gadis itu kepada siapa pun yang bertanya. Ini membuat Luna merasa bahwa Reza tidak hanya mencintainya, tetapi juga menghargai dan mendukung ambisinya.

Setiap senyuman yang Reza berikan, setiap pelukan hangat yang ia rengkuh, dan setiap kata manis yang meluncur dari bibirnya, hanyalah bagian dari skenario besar yang telah ia susun dengan cermat. Ia adalah pemeran utama dalam drama yang ia ciptakan sendiri, dengan Luna sebagai korban tanpa menyadarinya. Ia menikmati setiap detik saat Luna mulai percaya padanya, menaruh harapannya, dan bergantung padanya. Bagi Reza, melihat Luna membuka hatinya sepenuhnya adalah momen kemenangan kecil yang begitu memuaskan.

"Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpamu, Reza," Luna pernah berbisik suatu malam, kepalanya bersandar di dada Reza saat mereka menyaksikan bintang-bintang dari balkon penthouse Reza. "Kamu sudah mengubah duniaku."

Reza memeluk Luna lebih erat, mengusap lembut rambut gadis itu. "Aku juga, Luna. Kamu adalah duniaku sekarang." Jawaban itu terdengar begitu tulus, begitu meyakinkan, sehingga Luna tidak pernah meragukannya sedikit pun. Padahal, di dalam benak Reza, setiap kata itu adalah pisau yang ia asah, siap untuk menusuk di waktu yang tepat.

Ia mengamati setiap gerak-gerik Luna, setiap perubahan ekspresi wajahnya, setiap detail kecil dalam hidup gadis itu. Ia mempelajari Luna luar dalam, bukan karena cinta, melainkan karena kebutuhan untuk menguasai. Ia tahu Luna sangat mencintai lukisan, jadi ia sengaja membangun studio seni pribadi di penthouse-nya yang mewah, lengkap dengan peralatan terbaik, khusus untuk Luna. Ketika Luna pertama kali melihatnya, matanya berbinar-binar penuh haru. "Reza... ini luar biasa! Kamu tidak perlu repot-repot melakukan ini," katanya, suaranya sedikit bergetar.

"Apapun untukmu, Sayang," jawab Reza, mencium kening Luna. "Aku hanya ingin melihatmu bahagia dan bisa berkarya dengan bebas."

Reza bahkan menjalin hubungan baik dengan orang tua Luna, yang pada awalnya cukup skeptis terhadap Reza karena reputasinya sebagai pengusaha muda yang ambisius dan dikenal sering bergonta-ganti pasangan. Namun, Reza berhasil menaklukkan mereka dengan keramahannya, kecerdasannya, dan tentu saja, kekayaannya. Ia menunjukkan rasa hormat yang luar biasa kepada Ayah Luna, Pak Daniel, dan sering kali meminta nasihat bisnis kepadanya, membuat Pak Daniel merasa dihargai. Ia juga memuji Nyonya Daniela, Ibu Luna, atas selera dan keanggunannya, membuat sang Ibu merasa tersanjung.

Orang tua Luna mulai melihat Reza bukan hanya sebagai kekasih putri mereka, tetapi juga sebagai menantu idaman. Mereka bahkan sering membicarakan kemungkinan pernikahan, sebuah topik yang membuat Reza tersenyum licik di balik punggung mereka. Pernikahan adalah puncak dari rencananya. Semakin tinggi Luna terbang, semakin menyakitkan saat ia jatuh.

Namun, di balik semua kepuasan dan perencanaan kejam itu, Reza mulai diganggu oleh perasaan yang tidak ia harapkan. Perasaan itu muncul secara perlahan, seperti embun pagi yang tak kasat mata, namun perlahan membasahi hatinya yang beku. Awalnya, ia mengabaikannya, menganggapnya sebagai efek samping dari permainannya. Namun, seiring waktu, perasaan itu tumbuh menjadi sesuatu yang sulit ia sangkal.

Tatapan Luna yang tulus. Reza sering kali tertangkap basah menatap mata Luna saat gadis itu berbicara dengan antusias tentang lukisan barunya, atau saat ia tertawa lepas karena lelucon Reza. Dalam tatapan itu, tidak ada kepura-puraan, tidak ada perhitungan. Hanya ada kejujuran, kepolosan, dan cinta yang murni. Tatapan itu seringkali menusuk langsung ke dalam hati Reza, mengikis sedikit demi sedikit lapisan es yang telah ia bangun di sekelilingnya selama bertahun-tahun.

Senyumnya yang lembut. Ketika Luna tersenyum, seluruh wajahnya berbinar. Itu bukan senyum yang dibuat-buat untuk formalitas, melainkan senyum yang datang dari kedalaman jiwanya. Senyum itu mampu meluluhkan kekakuan Reza, membuatnya sesaat melupakan dendamnya dan hanya ingin terus melihat senyum itu. Ada kalanya, di tengah malam saat Luna terlelap di sampingnya, Reza akan menatap wajah gadis itu, dan senyum kecil akan muncul di bibirnya-senyum yang bukan bagian dari skenario, senyum yang tulus.

Dan yang paling mengganggu Reza adalah cara Luna mencintai tanpa syarat. Luna memberikan segalanya. Kepercayaan dirinya, kebahagiaannya, impiannya-semua ia serahkan pada Reza tanpa sedikitpun keraguan. Ia tidak pernah meminta imbalan, tidak pernah menuntut. Ia hanya mencintai. Cinta Luna adalah sebuah anomali dalam hidup Reza yang penuh perhitungan. Ia terbiasa dengan cinta yang syarat, cinta yang datang dengan harga, tapi cinta Luna begitu polos dan murni sehingga membuat Reza merasa... kotor.

Ada sebuah insiden kecil yang sangat membekas di benak Reza. Suatu hari, Reza tiba-tiba jatuh sakit. Bukan sakit yang serius, hanya flu biasa, namun ia sengaja melebih-lebihkan gejalanya agar Luna mengkhawatirkannya. Dan Luna memang sangat khawatir. Ia segera datang ke penthouse Reza, membawa sup buatan tangannya sendiri, dan merawat Reza dengan penuh kasih sayang. Ia menyeka keringat di dahi Reza, mengukur suhu tubuhnya berulang kali, dan membaca buku cerita untuk Reza hingga ia tertidur.

Saat itu, Reza membuka matanya sedikit dan melihat Luna tertidur di sampingnya, tangan gadis itu masih menggenggam erat tangannya. Dalam cahaya remang-remang lampu tidur, Luna terlihat begitu rapuh dan tulus. Seketika, hati Reza merasakan sentakan aneh. Sebuah kehangatan yang asing, namun begitu menyenangkan. Ia merasakan keinginan untuk melindungi Luna, bukan untuk menghancurkannya. Perasaan itu datang begitu tiba-tiba, begitu kuat, hingga membuat Reza sesaat terkejut pada dirinya sendiri.

"Apa-apaan ini?" bisik Reza dalam hati, segera menepis perasaan itu jauh-jauh. "Ini hanya kelemahan. Ini hanya ilusi. Aku tidak boleh jatuh dalam jebakanku sendiri."

Ia mengingatkan dirinya sendiri tentang malam kecelakaan itu, tentang wajah kakek dan neneknya yang terbaring tak bernyawa. Ia membayangkan rasa sakit dan kehilangan yang ia alami. Itu adalah mantra yang selalu ia gunakan untuk mengusir setiap keraguan, setiap bibit perasaan yang mulai tumbuh di hatinya.

Namun, keraguan itu terus datang. Semakin lama ia bersama Luna, semakin sulit baginya untuk mempertahankan perannya. Ada momen-momen, saat Luna menatapnya dengan penuh cinta, atau saat gadis itu tertawa lepas karena leluconnya, Reza merasakan sengatan kecil di dadanya. Sengatan itu adalah pertanyaan: Apakah ini benar? Apakah aku benar-benar bisa menghancurkan seseorang yang begitu mencintaiku?

Ego dan dendamnya masih jauh lebih besar daripada keraguan kecil itu. Ia telah menginvestasikan terlalu banyak waktu, tenaga, dan emosi dalam rencana ini. Ia telah membangun citra dirinya sebagai pahlawan bagi Luna, dan kini ia harus menyelesaikannya. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa tidak ada yang bisa menghentikannya. Bahkan dirinya sendiri.

"Ini hanya permainan," Reza sering mengulangi kalimat itu dalam benaknya, seperti sebuah mantra. "Aku hanya sedang bermain peran. Perasaan ini palsu. Dia hanyalah alat untuk membalas dendam."

Namun, semakin ia mengulanginya, semakin kosong rasanya kata-kata itu.

Suatu hari, Luna membawa Reza ke rumah masa kecilnya, sebuah rumah sederhana di pinggir kota. Rumah itu adalah tempat kakek dan nenek Luna tinggal sebelum mereka meninggal. Luna ingin Reza melihat lukisan-lukisan masa kecilnya yang masih tergantung di dinding, dan menceritakan kisah-kisah lucu tentang masa kecilnya bersama kakek dan neneknya.

Ketika mereka tiba, Reza merasakan getaran aneh. Rumah itu begitu mirip dengan rumah kakek dan neneknya sendiri, tempat di mana ia memiliki kenangan indah sebelum semua itu direnggut. Aroma masakan nenek Luna, suara tawa yang masih terasa di udara, dan foto-foto keluarga yang terpajang rapi-semuanya memicu memori yang mendalam bagi Reza. Ia melihat foto kakek dan nenek Luna, senyum mereka begitu tulus, begitu hangat, mengingatkannya pada kakek dan neneknya sendiri.

"Kakek dan nenekku adalah orang-orang paling baik di dunia, Reza," kata Luna, matanya berkaca-kaca saat menatap foto. "Mereka selalu mengajarkanku tentang kebaikan dan kasih sayang. Aku sangat merindukan mereka."

Reza terdiam. Ia melihat kesamaan dalam cerita Luna dengan ceritanya sendiri. Dua jiwa yang sama-sama kehilangan figur kakek dan nenek. Dua jiwa yang sama-sama merasakan duka mendalam. Dan tiba-tiba, perbedaan antara mereka berdua, antara Reza yang penuh dendam dan Luna yang polos, terasa begitu tipis. Ia bahkan melihat bayangan kakek dan neneknya sendiri dalam senyum kakek dan nenek Luna di foto.

Sesaat, Reza merasakan dorongan kuat untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Luna, untuk mengakui bahwa ia juga telah kehilangan kakek dan neneknya dalam kecelakaan yang sama. Namun, kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Dendamnya kembali mencengkeram. Ini adalah jebakan. Ini adalah tipuan emosi. Ia tidak boleh goyah.

"Mereka pasti bangga padamu, Luna," kata Reza akhirnya, suaranya sedikit serak. Ia memaksakan senyum, meskipun hatinya terasa nyeri. Nyeri yang berasal dari konflik batin, bukan dari kesedihan yang tulus.

Luna memeluk Reza erat. "Terima kasih, Reza. Aku senang kamu bisa mengerti."

Malam itu, Reza kembali ke penthouse-nya dengan pikiran yang kalut. Ia tidak bisa tidur. Bayangan rumah Luna, senyum kakek dan nenek Luna, dan cerita Luna tentang kebaikan mereka, terus berputar di benaknya. Ia merasa seperti seorang penipu kelas kakap, seseorang yang sedang bermain api dengan jiwa yang paling murni.

Ia membuka laptopnya, meninjau kembali berkas-berkas lama tentang kecelakaan itu. Laporan polisi, sketsa lokasi kejadian, bahkan foto-foto mobil yang ringsek. Ia mencari-cari detail, mencari celah untuk membenarkan tindakannya. Ia mencari bukti bahwa keluarga Daniela memang layak dihancurkan, bahwa ayahnya Luna benar-benar bersalah atas kelalaian yang fatal.

Namun, semakin ia membaca, semakin ia merasa hampa. Laporan itu tetap sama: kelalaian pengemudi. Tidak ada bukti konspirasi, tidak ada bukti kesengajaan. Ayah Luna tidak ada di tempat kejadian saat itu. Ia hanya pemilik mobil. Kebencian Reza yang dulu begitu jelas, kini terasa sedikit kabur. Apakah ia hanya menghukum orang yang salah? Apakah dendamnya telah membutakannya?

"Tidak!" Reza membanting laptopnya hingga tertutup. "Mereka harus bertanggung jawab! Kakek dan nenekku meninggal karena kelalaian mereka! Luna adalah bagian dari keluarga itu. Dia harus membayar."

Namun, kata-kata itu tidak lagi memiliki kekuatan yang sama. Ada bisikan di dalam dirinya, suara kecil yang mengingatkannya akan tatapan tulus Luna, senyum lembutnya, dan cinta tanpa syarat yang gadis itu berikan.

Reza mulai menyadari bahwa ia tidak hanya menghancurkan Luna, tetapi juga sedikit demi sedikit menghancurkan dirinya sendiri. Setiap kebohongan yang ia ucapkan, setiap sentuhan palsu yang ia berikan, terasa seperti luka yang ia torehkan pada jiwanya sendiri. Ia merasa kosong, hampa, bahkan saat ia berada di puncak rencananya.

Ia mulai minum lebih banyak, mencoba menenggelamkan suara-suara di kepalanya. Ia bekerja lebih keras, berharap kesibukan bisa mengalihkan pikirannya. Namun, tidak ada yang berhasil. Luna telah masuk ke dalam hatinya, menembus benteng yang ia bangun selama bertahun-tahun.

"Aku mencintaimu, Reza." Suara Luna bergema di benaknya. Cinta yang murni, yang tidak pernah ia minta, yang tidak pernah ia duga. Cinta yang kini menjadi beban berat di pundaknya.

Meskipun begitu, ego dan dendamnya masih jauh lebih besar daripada keraguan kecil itu. Ia tidak bisa mundur. Ia sudah terlalu jauh. Harga diri dan ambisinya untuk membalas dendam telah menjadi bagian dari identitasnya. Jika ia mundur sekarang, ia akan merasa seperti pecundang, seperti seseorang yang tidak bisa memenuhi janjinya kepada kakek dan neneknya.

Ia memutuskan untuk mempercepat rencananya. Semakin cepat ia menyelesaikannya, semakin cepat ia bisa melepaskan diri dari perasaan-perasaan yang mengganggu ini. Ia akan mengakhiri permainan ini, menghancurkan Luna, dan kemudian melanjutkan hidupnya. Ia akan melupakan Luna, melupakan perasaan-perasaan aneh ini, dan kembali menjadi Reza yang dingin dan kejam.

"Ini demi kakek dan nenek," bisiknya pada diri sendiri di depan cermin, matanya menatap pantulannya yang terlihat lelah dan bingung. "Mereka pantas mendapatkan keadilan."

Reza mulai merencanakan langkah terakhirnya. Sebuah pengungkapan yang akan menghancurkan Luna sepenuhnya, sebuah momen yang akan membuat gadis itu menyadari bahwa semua yang mereka miliki hanyalah kebohongan besar. Ia akan memilih waktu dan tempat yang tepat, sebuah momen yang akan terasa seperti mimpi yang berubah menjadi mimpi buruk bagi Luna.

Ia sudah membayangkan reaksi Luna: tangisan, kemarahan, kehancuran. Dan anehnya, bayangan itu kini tidak lagi memberinya kepuasan yang sama seperti dulu. Ada sedikit rasa sakit yang menyertai, sebuah pertanda bahwa hatinya tidak lagi sepenuhnya beku.

Namun, ia menepisnya lagi. Ini adalah permainan. Ia harus bermain sampai akhir.

Luna tidak tahu apa-apa. Ia terus hidup dalam kebahagiaan semu yang diciptakan Reza. Ia sudah mulai membicarakan tentang pernikahan, tentang masa depan mereka, tentang impian untuk memiliki keluarga kecil yang bahagia. Ia bahkan sudah mulai memilih gaun pengantin impiannya.

Setiap kali Luna berbicara tentang masa depan mereka, Reza hanya tersenyum dan mengangguk, hatinya terasa seperti dihantam palu godam. Ia tahu bahwa setiap kata-kata harapan dari Luna adalah luka baru yang ia torehkan pada gadis itu, dan pada dirinya sendiri.

Reza Adyatama, pria yang selalu merasa kebal terhadap emosi, kini sedang berjuang dalam perang batin. Dendam melawannya sendiri, kebenaran melawan ilusi, dan kebencian melawan... mungkin, cinta.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alia
8.7
Alia terpaksa memulai kehidupan rumah tangga di usia belia setelah sang kekasih melamarnya secara resmi. Di tengah kesibukan kuliah, ia berjuang memenuhi kewajiban sebagai istri meski terus ditekan oleh mertua yang membencinya. Demi masa depan suami, Alia bahkan nyaris mengorbankan kehormatannya. Namun, kehadiran sosok penolong tak terduga memicu getaran terlarang di hatinya. Kini, Alia terjebak antara kesetiaan pada pernikahan atau terjerumus dalam pengkhianatan.
Sampul Novel BUKAN SUAMI RAHASIA
8.1
Ava dan Jay terjebak dalam pernikahan paksa selama dua tahun. Sementara Jay terus berselingkuh, Ava membalasnya dengan memadu kasih bersama pria kaya dari keluarga terpandang. Meski keduanya mendambakan perpisahan, perceraian bukanlah sebuah pilihan. Jay pun akhirnya setuju membiarkan Ava menjalani hubungan tersembunyi dengan lelaki lain. Namun, mampukah rahasia besar ini bertahan selamanya tanpa terungkap ke permukaan? Akankah sandiwara mereka terus berjalan?
Sampul Novel Cinta Gila Putra Konglomerat (Zero)
8.9
Pamela nekat menyatakan cinta pada Zero, sahabat posesifnya, namun malah dihina dan ditinggalkan. Saat trauma itu sembuh berkat kasih sayang Tirta, Zero mendadak muncul kembali untuk mengacaukan rencana pernikahan mereka. Meski ada gangguan dari mantan kekasih Tirta, Zero tetap menjadi ancaman utama. Dengan segala kegilaan dan kekuasaannya, putra konglomerat itu berusaha menjerat kebebasan Pamela serta menghancurkan kebahagiaan yang baru ia bangun.
Sampul Novel Dear Ex and Mistakes
9.1
Enam tahun berlalu sejak aku memilih pergi demi menyembuhkan luka akibat pengkhianatan suami yang sangat kucintai. Meski hidup dalam kehampaan, aku berusaha tegar menghadapi perihnya kenangan saat ia mendua. Namun, ketenanganku terusik ketika takdir mempertemukan kami kembali. Ia kini muncul sebagai tetangga baru yang berusaha mendekat, mencoba menawarkan kembali janji masa depan yang dulu pernah ia hancurkan demi wanita lain. Sanggupkah hatiku memaafkan?
Sampul Novel GAIRAH CINTA CEO DINGIN
8.8
Karin Arvantie merasa canggung saat wawancara kerja di Atmaja Corp karena tatapan intens sang CEO, Ryan Atmaja. Meski Ryan merasa pernah bertemu dengannya, Karin justru memberikan jawaban diplomatis. Namun, pesona pria bermata hitam itu memicu gejolak emosi yang sulit diredam. Kini, Karin terjebak dalam dilema antara menjaga profesionalisme atau terhanyut dalam ketertarikan yang membara. Mampukah hubungan mereka tetap sebatas atasan dan bawahan saja?
Sampul Novel Jaring Kebohongan Suami Miliarderku
9.6
Sebagai istri miliarder teknologi bernama Kian, aku adalah penenang jiwanya. Namun, ia justru memberikan dana medis adikku kepada selingkuhannya demi suaka kucing. Saat kecelakaan tragis merenggut nyawa adikku, Kian membiarkanku terluka demi wanita itu. Puncak pengkhianatan terungkap saat aku ingin bercerai; pernikahan kami ternyata palsu dan penuh tipu daya. Kini, aku menghubungi pria dari masa laluku untuk membalas dendam dan menghancurkan kerajaan Kian.