
Kau Sakiti Orang Yang Salah
Bab 3
Malam itu, bulan menggantung penuh di langit Jakarta, memancarkan cahaya perak yang dingin. Reza telah menyiapkan segalanya. Sebuah suite mewah di salah satu hotel bintang lima paling eksklusif di kota, dengan pemandangan kota yang berkilauan di bawahnya. Ini adalah malam yang ia pilih untuk mengakhiri permainannya, malam di mana ia akan melancarkan pukulan terakhirnya. Pukulan yang ia yakini akan menghancurkan Luna Daniela sepenuhnya.
"Luna, Sayang," Reza memegang tangan Luna erat saat mereka melangkah keluar dari mobil mewahnya. Ia tersenyum menawan, senyum yang sama persis seperti saat pertama kali mereka bertemu. Senyum yang kini terasa seperti topeng. "Aku punya kejutan untukmu malam ini."
Luna tersenyum gugup. "Kejutan apa, Reza? Ini terlihat sangat mewah."
Mereka melangkah melewati lobi hotel yang megah, menaiki lift pribadi menuju lantai teratas. Luna merasakan debaran di dadanya, campuran antara kegembiraan dan sedikit kecemasan yang tidak bisa ia jelaskan. Ia memercayai Reza sepenuhnya, namun aura malam itu terasa berbeda, lebih intens.
Ketika pintu suite terbuka, Luna terkesiap. Sebuah ruangan luas dengan jendela panorama yang menampilkan gemerlap lampu kota. Lilin-lilin bertebaran di seluruh ruangan, menciptakan suasana romantis yang hangat. Meja makan kecil di sudut ruangan sudah tertata rapi dengan hidangan-hidangan lezat dan sebotol sampanye dingin.
"Reza... ini luar biasa," bisik Luna, matanya berbinar. Ia berbalik dan memeluk Reza erat. "Terima kasih."
Reza membalas pelukannya, mengusap lembut punggung Luna. "Semua untukmu, Sayangku." Desahan kepuasan yang nyaris tak terdengar lolos dari bibirnya. Ini adalah bagian dari skenario. Semakin Luna merasa dicintai, semakin menyakitkan kejatuhannya.
Mereka makan malam dengan tenang. Reza terus menghujani Luna dengan pujian dan kata-kata manis, mengulang janji-janji masa depan yang palsu. Ia menuangkan sampanye, dan mereka bersulang untuk cinta mereka. Luna tertawa lepas, matanya memancarkan kebahagiaan murni. Setiap tawa Luna, setiap senyumnya, bagaikan bilah pisau yang menusuk hati Reza-bukan karena penyesalan, melainkan karena ia tahu betapa kejamnya ia.
Setelah makan malam, Reza menarik tangan Luna menuju jendela besar. "Lihat, Luna. Kota ini begitu indah, seperti dirimu. Dan aku ingin memilikimu, seutuhnya."
Luna merasakan pipinya merona. "Reza..." suaranya berbisik. Ia tahu apa arti kata-kata itu. Meskipun ia mencintai Reza, ada sedikit ketakutan yang merayap di hatinya. Ia belum pernah... sejauh ini.
Reza berbalik, menangkup wajah Luna dengan kedua tangannya, dan menatapnya dalam-dalam. Matanya memancarkan gairah yang kuat, namun di baliknya ada kekosongan yang tak terdefinisi. "Aku mencintaimu, Luna. Aku ingin kamu menjadi milikku sepenuhnya. Malam ini."
"Reza..." Luna sedikit mundur, merasakan jantungnya berdebar kencang. Ketakutan itu semakin kuat. Ia mencintai Reza, ya, tapi ada naluri yang berteriak padanya untuk berhati-hati.
Namun, Reza terlalu cepat. Ia menarik Luna lebih dekat, bibirnya menemukan bibir Luna dalam ciuman yang mendominasi. Ciuman itu intens, panas, dan menuntut. Luna, yang masih terbawa perasaan dan hasrat, membalas ciuman itu dengan ragu.
Reza terus menciumnya, tangan-tangannya bergerak cepat. Satu tangannya menarik gaun Luna, sementara tangan yang lain mencari resleting di belakang. Gerakannya sangat mendesak, hampir brutal. Luna terhuyung mundur, namun kaki-kakinya tersangkut pada karpet tebal, dan ia jatuh ke ranjang besar di tengah ruangan.
"Aku mencintaimu, Luna," bisik Reza lagi, suaranya parau oleh hasrat palsu. Ia menindih Luna, tatapannya menyala-nyala. "Aku ingin kamu, sekarang."
Luna melihat gairah di mata Reza, dan dalam kepolosannya, ia salah mengartikannya sebagai cinta yang membara. Meskipun ada rasa takut, ia juga merasakan cinta yang dalam untuk pria di atasnya. Luna mencintai Reza. Ia mengangguk pelan, air mata mulai menggenang di matanya-air mata kebahagiaan dan sedikit ketakutan.
Namun, yang terjadi selanjutnya jauh dari apa yang Luna bayangkan. Reza bertindak cepat, tanpa kelembutan, tanpa jeda. Reza merobek pakaian Luna dengan kekuatan kasar, kain gaun yang indah itu robek dengan suara memilukan. Luna terkesiap, terkejut oleh kekuatan dan kecepatan tindakannya. Ia mencoba memprotes, namun suaranya tercekat.
"Reza, sakit!" desah Luna, air mata mengalir di pipinya. Namun, Reza tidak mendengarkan. Ia menindih Luna, menjepit kedua pergelangan tangan gadis itu di atas kepala.
"Sssshhh... Ini akan terasa nikmat, Sayang," bisik Reza, namun suaranya dingin, tanpa kehangatan yang Luna kenal. Matanya menatap Luna dengan tatapan yang nyaris asing, tatapan seorang predator yang telah menangkap mangsanya.
Reza memperkosa Luna.
Setiap dorongan terasa brutal, tanpa peduli pada rasa sakit Luna. Gadis itu menjerit tertahan, air matanya membanjiri bantal di bawah kepalanya. Ia memberontak, namun kekuatan Reza jauh lebih besar.
"Ahh... Reza... sakit..." Luna memohon, suaranya parau.
"Terima ini, Luna. Terima. Rasakan," desah Reza, suaranya dalam dan penuh kemenangan yang mengerikan. Ia mendorong lebih dalam, lebih cepat, tanpa belas kasihan.
Luna merasakan seluruh tubuhnya bergetar. Rasa sakit yang tajam menusuknya, menyebar ke seluruh tubuhnya. Ia merasakan sesuatu robek di dalam dirinya. Rahim Luna mengeluarkan darah. Darah keperawanannya, simbol kemurniannya, kini mengotori seprai putih di bawahnya. Selaput daranya hancur.
"Aahhh... Re... sakiiit..." Luna kembali menjerit, tubuhnya melengkung menahan perih. Ia merasa hancur, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara jiwa. Pria yang ia cintai, pria yang ia percayai, kini sedang menghancurkannya.
Reza tidak berhenti. Ia terus bergerak, dengan kecepatan yang membabi buta. Luna kehilangan jejak waktu, yang ia tahu hanyalah rasa sakit yang tak berujung. Reza melakukan 10 ronde, tidak pernah berhenti melakukannya. Setiap dorongan adalah siksaan bagi Luna, sebuah pengkhianatan yang kejam. Tubuh Luna terasa mati rasa, hanya menyisakan rasa sakit yang luar biasa di area pribadinya.
"Ah, ya... lebih dalam, Luna..." desah Reza, suaranya penuh kepuasan yang mengerikan.
"Cukup, Reza... kumohon..." Luna terisak, suaranya nyaris tak terdengar.
Namun, Reza tidak peduli. Ia terus bergerak, melampiaskan segala dendam dan amarah yang selama ini ia pendam. Setiap dorongan adalah balasan atas rasa sakit yang ia alami bertahun-tahun lalu. Ia merasakan kepuasan yang dingin, sebuah perasaan yang seharusnya ia rasakan, namun entah mengapa terasa kosong.
Setelah beberapa ronde yang menyiksa, Reza merasakan klimaksnya. Ia menarik diri sejenak, lalu memasukkan cairan sperma ke rahim Luna, membiarkan benih dendamnya tertanam dalam diri gadis itu. Luna merasakan sensasi panas dan aneh di dalam dirinya, dan itu menambah rasa mual yang melandanya.
Ketika Reza selesai, ia tidak berhenti. Ia menatap Luna yang terbaring lemah, matanya kosong karena rasa sakit dan keterkejutan. Wajah Luna basah oleh air mata, rambutnya acak-acakan. Matanya yang indah kini terlihat sayu dan kehilangan cahaya.
Reza bergerak. Ia mencengkeram rahang Luna dengan satu tangan, memaksa gadis itu menatapnya. Rahimnya terluka merah, dan Luna merasakan perih yang luar biasa setiap kali ia bergerak.
"Sekarang, rasakan ini juga," bisik Reza, suaranya rendah dan mengancam. Tanpa peringatan, Reza memasukkan penisnya ke dalam mulut Luna.
Luna terkesiap, matanya membelalak kaget. Ia mencoba memberontak, namun tangan Reza yang lain segera menekan kepalanya. Ia merasakan benda asing itu masuk semakin dalam, menyentuh tenggorokannya. Rasa mual yang kuat menyerbu dirinya.
"Makan itu, Luna. Makan seperti permen," desah Reza, suaranya dingin dan kejam. Tangan Reza menekan kepala Luna agar lebih dalam, memaksa gadis itu menelan.
Luna terisak, air mata mengalir dari matanya. Ia mencoba menahan napas, namun Reza terus menekan. Ia merasakan cairan kental masuk ke dalam mulutnya. Luna merasa ingin muntah saat cairan itu masuk ke mulutnya. Ia berjuang, tubuhnya gemetar, mencoba mendorong Reza menjauh. Namun, Reza terlalu kuat.
Reza terus menekan sampai Luna menelan cairannya. Rasa pahit dan jijik membanjiri indra Luna. Ia merasa jijik pada dirinya sendiri, pada Reza, pada semua yang terjadi.
Reza melakukannya berulang kali. Ia menarik keluar, lalu memasukkan lagi, memaksa Luna menelan setiap kali. Ini adalah bentuk penyiksaan baru, sebuah perendahan yang total.
"Mmhhh... Re... cukup..." desah Luna, suaranya tersumbat.
"Nikmati ini, Luna. Rasakan kekuatanmu diambil," Reza berbisik, matanya menatap Luna dengan kemenangan yang mengerikan.
Luna berjuang mati-matian, namun kekuatan dan ketahanan fisiknya telah mencapai batas. Tubuhnya terasa lemas, otaknya tidak bisa lagi memproses rasa sakit dan kengerian yang ia alami. Pandangannya mulai kabur, suara Reza terdengar jauh.
Akhirnya, setelah rentetan kekerasan yang tak terbayangkan, Luna pingsan. Tubuhnya terkulai lemas di atas ranjang yang kini bernoda merah.
Reza menatap tubuh Luna yang tak berdaya. Nafasnya terengah-engah, namun bukan karena lelah, melainkan karena kepuasan yang dingin dan kosong. Ia telah melakukannya. Ia telah menghancurkan Luna, secara fisik dan mental. Dendamnya telah terbalaskan.
Ketika fajar mulai menyingsing, Reza bangkit dari ranjang. Ia membersihkan dirinya, mengenakan pakaiannya, dan menatap Luna yang masih tergeletak tak sadarkan diri. Tidak ada penyesalan di matanya. Hanya kekosongan.
Setelah Luna benar-benar jatuh cinta, Reza memilih untuk meninggalkannya tanpa alasan yang jelas. Ia tidak meninggalkan catatan, tidak ada pesan perpisahan. Ia hanya menghilang. Reza tahu ini adalah cara paling kejam untuk mengakhiri segalanya. Meninggalkan Luna tergantung dalam ketidakpastian, membiarkan gadis itu mencari jawaban yang tidak akan pernah ia temukan.
Ia memutus semua komunikasi. Nomor ponselnya diganti, akun media sosialnya dinonaktifkan, dan ia bahkan mengubah jadwal kerja dan rutenya. Ia seolah tidak pernah ada dalam hidup Luna, seperti bayangan yang menghilang ditelan cahaya.
Beberapa jam kemudian, Luna terbangun. Kepala dan seluruh tubuhnya terasa sakit. Ia membuka mata dan menemukan dirinya sendirian di kamar hotel yang berantakan. Seprai putih bernoda merah, pakaiannya robek berserakan di lantai. Kenangan pahit malam itu menyeruak, membanjiri dirinya seperti gelombang pasang.
Reza tidak ada.
Luna mencoba bangkit, namun tubuhnya terasa remuk. Air mata kembali mengalir, kali ini bukan karena rasa sakit fisik, melainkan karena rasa sakit hati yang jauh lebih dalam. Ia mencoba menghubungi Reza, berulang kali, namun tidak ada jawaban. Pesan-pesannya tidak dibalas.
Gadis itu terpuruk dalam kesedihan yang dalam. Hari-hari berubah menjadi minggu, minggu menjadi bulan, namun Reza tidak pernah muncul. Luna merasakan dirinya digunakan, dimanipulasi, dan dihancurkan oleh orang yang paling ia percayai, orang yang ia cintai dengan sepenuh hati. Hidupnya terasa hampa, warnanya memudar, dan jiwanya tercabik-cabik.
Luna mencoba mencari jawaban. Ia mempertanyakan setiap hal. Setiap senyuman, setiap sentuhan, setiap kata manis yang pernah Reza ucapkan. Apakah semuanya bohong? Apakah cinta mereka hanya sebuah ilusi? Ia mencoba memahami di mana letak kesalahannya, apa yang ia lakukan sehingga Reza meninggalkannya begitu saja. Ia merasa bodoh telah mempercayai seseorang yang tidak pernah benar-benar mencintainya.
Setiap malam, Luna menangis hingga tertidur, memeluk bantal yang masih menyimpan samar aroma Reza. Ia merindukan pelukan hangatnya, senyumnya yang menawan, dan suara tawanya. Namun, setiap kenangan indah kini terasa seperti racun, menusuk hatinya dengan kepahitan.
Orang tua Luna sangat khawatir. Luna berubah dranya, menjadi pendiam, sering melamun, dan kehilangan semangat untuk melukis. Mereka mencoba menanyakan apa yang terjadi, namun Luna hanya menangis dan menolak berbicara. Ia terlalu malu, terlalu hancur untuk menceritakan kebenaran yang mengerikan.
Sementara itu, Reza menahan diri untuk tidak kembali. Ia berada di puncak kejayaannya secara bisnis, namun hatinya terasa kosong. Ia telah membalaskan dendamnya, ya. Ia telah membuat Luna merasakan sakit yang mendalam. Namun, kepuasan yang ia harapkan tidak pernah datang.
Di dalam diam, ia mulai dihantui rasa bersalah-yang ia tekan dalam-dalam. Setiap kali ia melihat senyum seorang wanita di jalan, ia teringat senyum Luna. Setiap kali ia mendengar lagu romantis, ia teringat saat-saat ia berpura-pura mencintai Luna. Ia mencoba mengalihkan pikirannya dengan pekerjaan, dengan pesta, dengan wanita-wanita lain. Namun, bayangan Luna yang terbaring tak berdaya di ranjang hotel, mata yang penuh air mata, dan darah keperawanan gadis itu yang mengotori seprai, selalu menghantuinya di saat-saat sepi.
Ia seringkali terbangun di tengah malam, napasnya terengah-engah, dihantui mimpi buruk di mana ia melihat wajah Luna yang hancur. Ia tahu ia telah melakukan sesuatu yang tidak bisa dimaafkan. Namun, harga dirinya, ego, dan dendam yang masih mengakar dalam dirinya, mencegahnya untuk mengakui kesalahan itu. Ia adalah Reza Adyatama. Ia tidak boleh menunjukkan kelemahan.
"Ini yang pantas mereka dapatkan," bisik Reza pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan hatinya yang kini mulai terasa seperti batu. "Kakek dan nenekku... mereka harus dibalaskan."
Namun, bisikan itu tidak lagi mampu menenangkan jiwanya yang kini terasa gelisah. Luka yang ia torehkan pada Luna, kini terasa seperti luka yang ia torehkan pada dirinya sendiri. Permainan cinta beracun itu telah berakhir, namun konsekuensinya, baik bagi Luna maupun Reza, baru saja dimulai.
Anda Mungkin Juga Suka





