
Kamu Milikku (Hasrat Gila bersamamu)
Bab 2
Suara dentuman keras yang berasal dari depan gerbang utama membuat semuanya terkesima. "Apa yang terjadi?!" tanya Samuel dengan ekspresi kesal, melihat acara sang putri terganggu.
Thalia merasa keheranan yang sama, apa yang bisa membuat situasi tiba-tiba berubah begitu dramatis? Semua terasa begitu damai dan bahagia beberapa menit yang lalu, namun sekarang terasa menakutkan. Belum sempat menjawab pertanyaan Samuel, suara pekikan keras yang saling bersahutan kembali memecah keheningan.
Jantung mereka berdegup kencang bersama mata terbelalak, saat melihat anggota tubuh tamu dan penjaga di halaman depan berjatuhan satu persatu dengan kondisi leher terpotong. Ketakutan mulai menguasai hati saat melihat darah mengotori area penuh kebahagiaan itu.
Tanpa pikir panjang, semua orang pun berlarian kocar-kacir menyelamatkan diri, termasuk Samuel dan keluarganya.
Beberapa pertanyaan mulai menghantui pikiran lelaki itu, siapa yang tega melakukannya?
Samuel bahkan tidak senang. Ia lantas berjalan cepat ke arah pintu depan. Namun, langkahnya harus terhenti, tatkala pintu tersebut meledak hingga membuatnya dan orang-orang yang berada di sekitar tempat itu terpental.
Pekik kencang terdengar bersahutan. Bahkan Thania dan Thalia segera berlari menyongsong Samuel yang terkapar dengan tubuh sedikit terluka.
"Daddy baik-baik saja?" Thania terlihat khawatir.
"Sayang baik-baik saja?"
Belum sempat Samuel menjawab pertanyaan yang ia terima dari dua wanita yang paling dicintainya itu, suasana yang sudah tidak kondusif malah semakin memburuk.
Tiba-tiba saja, sekelompok orang berpakaian hitam dengan penutup wajah serta katana yang tersampir di pundak masing-masing, muncul dari pintu ruangan yang terbuka lebar.
"Siapa mereka?" bisik Samuel dalam hati, mencoba bangkit duduk dengan kedua tangan berpegangan pada istri dan anaknya, meskipun harus tertatih-tatih sambil menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
"S-siapa mereka, Daddy?" tanya Thania gemetar dengan raut pucat pasi. Ia bahkan merapatkan tubuh pada kedua orang tuanya yang segera melakukan formasi perlindungan, sambil mengabaikan rasa sakit yang mendera.
"Sstttt! Tenang, Sweety. Mommy dan Daddy pasti akan melindungimu," tugas Thalia menghibur, berusaha keras menutupi rasa takutnya.
Begitupula dengan semua tamu yang tersisa dalam ruangan tersebut, merasa terkejut dan menahan napas seolah takut mengucapkan sepatah kata pun. Semua merasa gemetar dan khawatir akan bahaya yang mengintai mereka. Terlebih saat para tamu tak diundang itu mulai mengacungkan katana masing-masing sambil mengawasi gerak gerik semua orang.
"Bantu Daddy berdiri," pinta Samuel yang segera dikerjakan keduanya setelah mengangguk paham.
"Siapa kalian?!" teriak Samuel dengan keras. Namun, tidak dijawab orang-orang tersebut. Tepat saat dirinya hendak bangkit berdiri dengan bantuan keduanya, para tamu tidak diundang itu segera maju ke depan membentuk formasi searah jarum jam dua sisi, menyisakan seseorang yang terlihat seperti pemimpin mereka berada di tengah-tengah.
Samuel terkesiap. Namun, dirinya tetap berdiri tegak dengan bantuan istri dan anaknya.
Samuel bahkan segera melangkah ke depan, berusaha melindungi keduanya, tatkala sekelompok orang tersebut berjalan ke arah mereka dengan posisi mengelilingi. "Siapa kalian?" tanyanya kembali sembari mengedarkan pandangannya ke semua orang bertopeng itu dengan raut waspada.
Akan tetapi, bukannya jawaban yang ia dapatkan, melainkan sesuatu yang tampak seperti bola tengah dilemparkan ke arah mereka. Samuel tanpa sadar menyambutnya dan segera melihat benda apakah gerangan.
Teriakan kencang dan formasi yang kacau balau pun terjadi di antara mereka kala mengetahui benda tersebut ternyata adalah sebuah kepala milik Gerald yang berlumuran cairan merah segar juga mata melotot tajam, tampak tidak rela kehilangan nyawa.
Bertepatan dengan itu, orang yang Samuel duga sebagai pemimpin mereka, berjalan mendekat dengan cepat.
Belum sempat Samuel menyadari keadaan genting, lengan Thania telah lebih dulu ditarik dengan kuat. Gadis itu bahkan dipanggul layaknya karung beras di pundak kanan, hingga membuatnya berteriak kencang, "Daddy, selamatkan aku!"
"Thania!" Thalia memekik keras.
"Lepaskan putriku, Orang jahat!" tegur Samuel dengan penuh keberanian.
Lelaki bertubuh tinggi besar itu bukannya menurut, ia justru bertitah dalam bahasa yang tidak mereka mengerti. "Singkirkan semuanya!" Sambil berbalik badan.
Kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan para anak buahnya yang segera melaksanakan perintah.
"Mau apa kalian?!" hardik Samuel yang kini berpelukan dengan Thalia, sambil berjalan mundur dengan kedua tangan terentang, berusaha melindungi sang istri. Meskipun sesekali matanya melihat ke arah Thania yang memberontak minta diturunkan.
Sayangnya, bukan jawaban yang ia dapatkan, ia justru harus meregang nyawa bersama sang istri. Tatkala sabetan katana mengenai leher hingga terpisah dari badan. Tubuh mereka bahkan ambruk bersamaan dengan kepala yang menggelinding, lalu menggelepar gelepar layaknya ikan yang baru diangkat dari kolam, dan tak menunggu lama gerakan itupun terhenti.
Thania memekik kuat sembari menangis ketakutan menyaksikan semua kekejaman itu. Ia bahkan semakin kuat memberontak. Namun, sebuah pukulan mengenai tengkuknya.
Sebelum kegelapan merenggut kesadaran, Thania sempat bergumam, "Daddy, Mommy! Maafkan putrimu ini karena tidak bisa melawan kedzaliman ini! Tapi, aku bersumpah akan menuntut balas pada semua orang yang telah membuat kita menderita hingga mereka lebih memilih kematian sebagai jalan terbaik."
"Bakar semuanya, Yamamoto!" titah sang ketua sambil membenahi posisi Thania dalam gendongannya.
"Baik, Ketua!" Yamamoto mengangguk patuh, lalu menoleh pada para bawahannya yang segera mengerjakan tugas dengan seksama.
Tepat ketika sebuah ledakan terdengar dari dalam, Thania hanya tahu jika detik ini juga hidupnya akan berubah menjadi lebih buruk dari sekedar melihat semua orang tiada tepat di depan matanya.
Anda Mungkin Juga Suka





