
Kamu Milikku (Hasrat Gila bersamamu)
Bab 3
Tubuh Thania terasa terombang ambing, tatkala peti kemas yang mengangkutnya dibawa dua orang laki-laki berjalan melewati dermaga. Tak lama kemudian, tubuhnya sedikit terguncang saat peti tersebut diletakkan paksa di dalam sebuah ruangan.
"Di mana aku?" gumam Thania di dalam hati. Dirinya berusaha menarik tali yang mengikat kedua tangan yang terikat kuat ke belakang. Namun, sayang sekali harus gagal karena kuatnya tali pengikat.
Thania berbaring miring ke kiri dengan tubuh setengah terlipat guna menyesuaikan tempat.
Hidungnya mengendus-endus bau asin yang samar juga suara benda terbentur air bercampur suara mesin, yang ia perkiraan sebagai kapal. "Sepertinya aku berada di atas kapal," gumamnya kembali.
"Ke mana mereka akan membawaku pergi?" batinnya dengan raut sedih, sembari merenung. Tidak mengerti kenapa dirinya tiba-tiba berada di posisi seperti ini. Padahal ia baru saja menginjak usia dewasa. Namun kebahagiaan yang seharusnya ia terima harus berubah menjadi kengerian, bahkan yang terparah adalah ia harus menerima nasib sebagai anak yatim piatu.
Tak lama kemudian, Thania tertidur dengan posisinya seperti semula.
***
Sementara itu, di atas dek kapal tepat di bawah ruang nahkoda. Seseorang tampak berjalan menaiki tangga menuju ruangan tersebut. "Bagaimana dengan budak baru itu?" tanyanya sembari berjalan mendekati seorang laki-laki yang berdiri di pojok ruangan sedang sibuk menatap laut dari balik teropong yang ia gunakan.
"Aman, Tuan!" jawab lelaki tersebut sembari membalikkan badannya ke belakang, tak lupa mengangguk hormat.
"Di mana kamu letakkan, Yamamoto?" tanya sosok yang dipanggil Tuan itu kembali, seraya menghentikan langkah.
"Di dalam kamar pribadi, Tuan. Masih di dalam peti kemas," ungkap Yamamoto dengan kepala tertunduk.
"Bodoh!" maki sosok yang dipanggil Tuan sembari melayangkan tendangan ke arah perut Yamamoto hingga membuat lelaki itu jatuh terjungkal ke belakang, menabrak teropong yang baru ia gunakan hingga keduanya jatuh ke atas lantai. Yamamoto bahkan seketika muntah darah.
"Maafkan saya, Tuan Muda Honda! Saya bersalah! Saya mohon, ampuni saya!" pinta Yamamoto sembari bersujud.
Honda segera berdiri jongkok di hadapan Yamamoto, bibirnya berdesis sinis. "Apa kamu akan bertanggung jawab jika wanita itu kehilangan nyawanya?" Suaranya terdengar geram.
Yamamoto seketika memucat, dirinya melupakan fakta tersebut. Lelaki itu lantas bersujud berulang kali di hadapan Honda seraya berkata, "Ampuni saya, Tuan Honda! Saya akan segera mengeluarkan wanita itu dari dalam peti. Mohon berikan saya kesempatan terakhir!" pintanya dengan suara lantang yang terdengar bergetar. Lelaki itu takut jika sang majikan murka padanya.
Honda hanya balas mendengkus keras sembari sedikit terkekeh sinis. Sudut kiri bibirnya tertarik, menciptakan senyum penuh penghinaan bagi lawan.
"Baik! Karena kamu telah bekerja padaku sejak lama, maka akan aku beri kesempatan terakhir. Namun ...." Honda sengaja memotong ucapannya sendiri, tatkala dirinya bangkit berdiri dengan tatapan penuh kemurkaan pada sang asisten pribadi.
Sementara Yamamoto kini nampak tegang juga takut. Keringat sebesar biji jagung tampak mengucur deras dari pori-pori kulit, karena yang ia tahu sang majikan bukanlah lelaki berhati mulia. Tubuhnya bahkan kini bergetar hebat, yang tentu saja tertangkap indera penglihatan Honda.
Lelaki itu kembali terkekeh sinis.
"Potong satu jarimu sekarang juga! Aku tidak perduli mau yang sebelah kanan ataukah yang di sebelah kiri! Kalau sudah selesai, gegas keluarkan wanita itu dari dalam peti. Jika dia tidak selamat? Maka nyawamu sebagai gantinya!" titah Honda dengan jelas.
"Ba-baik, Tuan!" sahut Yamamoto dengan suara kembali bergetar, tatkala vonis sudah dijatuhkan untuknya. Lelaki itu lantas bangkit duduk, kemudian segera menarik pisau miliknya yang tersampir di pinggang kanan.
Baru setelahnya mengulurkan tangan kiri, lalu meletakkannya di atas meja. Jemarinya bergetar hebat saat jari kelingking ia pilih sebagai korban. Tak lama berselang, teriakan keras lolos dari mulut bersamaan dengan cipratan cairan merah yang mengenai wajah, juga sebuah jari jatuh menggelinding ke bawah meja.
Honda yang melihatnya, hanya tersenyum sinis. Lelaki itu lantas bertitah, "Obati dia! Jangan lupa keluarkan budak itu dari dalam peti, sekarang juga!" Lelaki itu lantas membalikkan badan ke arah pintu keluar, tanpa mendengar sahutan dari para assasin miliknya.
Sementara itu, para assasin itu hanya menganggukkan kepalanya perlahan. Lalu segera melaksanakan perintah Tuannya, di mana sebagian mengobati Yamamoto dan sebagian lagi merayap menuju lokasi Thania berada.
Sementara itu, Thania yang semula tertidur, tersentak tatkala mendengar suara peti yang menutupi tubuh dibuka paksa dari luar, hingga membuat samar-samar cahaya masuk lewat celah kain yang menutupi wajah.
Thania menyipitkan mata agar bisa menyesuaikan cahaya yang masuk agar dirinya sedikit banyak bisa melihat keadaan di luar sana dari pori-pori kain.
Thania menggumam tertahan dari balik lakban yang menutupi mulut, sehingga tidak terdengar jelas oleh para assasin itu, tatkala tubuhnya dikeluarkan paksa dari dalam peti kemas.
Thania berusaha berontak sekuat tenaga yang ia bisa. Namun gagal karena kuatnya cekalan yang mampir di pundak, memaksa wanita itu berjalan maju ke depan.
Tubuhnya lantas didudukkan paksa di atas sebuah alas beludru yang terasa lembut saat tangannya tanpa sengaja membelai benda tersebut, hingga sedikit membusung ke depan, yang mana segera ia kembalikan ke posisi semula dengan kedua tangan masih berada di belakang punggungnya.
Sementara sosok laki-laki yang sebelumnya dipanggil dengan nama Honda, tampak balas menatap dengan raut datar ke arah Thania.
Thania mengedarkan pandangannya ke segala arah dengan tubuh tersentak kaget, tatkala sesuatu menarik paksa lakban hitam yang menutupi mulutnya hingga terlepas dari sana. "Siapa di sana?!" tanyanya dengan tegas. Berusaha terlihat berani.
"Tikus kecil hendak berusaha menjadi macan rupanya!" ejek Honda dengan sudut kiri bibirnya tertarik ke atas menciptakan seringaian tipis penuh ejekan di sana.
"Si-siapa kamu?!" tanya Thania kembali. Namun, kini suaranya terdengar bergetar seiring rasa takut yang kini mulai menguasai.
"Untuk apa kamu ingin tahu, siapa diriku yang sebenarnya?" tanya Honda balik sembari berjalan mengelilingi Thania yang kini terlihat mengikuti arah langkah kakinya, berusaha mengetahui siapa sosok di depannya itu.
"Tentu saja aku harus tahu! Karena aku tidak mengenalmu dan juga tidak memiliki urusan denganmu, yang bisa membuatku harus mendapatkan nasib buruk seperti ini!" pekik Thania murka.
"Oh ya?" balas Honda sembari terkekeh sinis, menertawakan ucapan wanita di hadapannya itu. Kemudian dirinya segera menghentikan langkah kaki, tepat di balik punggung Thania, hingga membuat Thania semakin ketakutan. Tubuhnya bahkan terlihat kaku saat ia berusaha menoleh ke belakang.
Hembusan napas panas bahkan terasa menerpa kuat.
"Aku adalah Dewa Kematian untukmu," ungkap Honda tepat di telinga kiri Thania sembari melebarkan seringaiannya.
Anda Mungkin Juga Suka





