Sampul Novel Jovanca Sang Penggoda

Jovanca Sang Penggoda

7.9 / 10.0
Dalam Jovanca Sang Penggoda, seorang yatim piatu berjuang demi ekonomi hingga memanfaatkan pesonanya untuk memikat pria. Romance novel ini mengisahkan konsekuensi saat ia terjebak permainan sendiri, dikejar pria beristri di tengah misinya mengejar cinta sejati. Baca modern novel ini sekarang.
Ringkasan Jovanca Sang Penggoda
Jovanca adalah wanita cantik yang hidup keras sebagai yatim piatu. Demi bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi, ia bekerja serabutan hingga merasa jenuh. Keadaan ini mendorongnya memanfaatkan pesonanya untuk menggoda pria demi kesenangan. Namun, permainan itu justru menjadi bumerang saat ia dikejar banyak pria beristri. Di tengah kekacauan tersebut, hati Jovanca justru tertambat pada lelaki lain. Terjebak dalam intrik cinta, mampukah ia menemukan kebahagiaan?
Baca Selengkapnya

Jovanca Sang Penggoda Bab 1

Bab 1 Prolog.

Seorang wanita dengan perut yang membuncit, dengan rambut yang dikucir kuda, membawa tongkat bisbol. Berjalan dengan kencang, tidak peduli dengan kondisi perutnya. Dia menggedor pintu rumah seorang wanita.

"Keluar kamu! Hei! Dasar jalang sialan! Aku akan mendobrak pintumu dan menghancurkan rumahmu jika kamu tidak segera membuka pintunya!" Wanita itu berteriak hingga otot lehernya terlihat.

Dari dalam gadis anggun itu berjalan degan malas dan membuka pintu.

"Ap..." Belum sempat dia selesai menyelesaikan ucapannya tongkat bisbol itu sudah melayang dikepalanya.

"Akh!" Gadis itu kesakitan dan terhuyung. Wanita bunting itu tetap ingin menyerangnya. Hingga pria yang diduga suaminya itu merebut tongkat bisbol tersebut dan membuangnya.

Sementara itu, gadis yang menjadi korban memegangi kepalanya yang terasa pening.

"Sialan! Bawa pergi wanitamu! Dasar, gila!" umpatnya.

Meski mulutnya tetap menteriaki gadis yang terluka itu, tetapi pria disampingnya berhasil membawa istrinya pergi dari rumah bercat putih itu.

Apa yang sebenarnya terjadi?

***

Sepasang heels dan tas beserta isinya berserakan di atas lantai. Suara gebrakan pintu tertutup dengan kasar memenuhi ruangan berukuran enam kali enam meter itu.

Seorang gadis berpostur tinggi dan memiliki kulit putih meremas rambut lurusnya yang kini berantakan akibat ulah perempuan baru saja keluar dari kamarnya tadi. Sebab, menganggap dia, Jovanca. Telah merebut kekasihnya yang sebentar lagi akan dinikahinya.

Dia menghempaskan tubuhnya pada kursi bulat diatas lantai. Penampilannya yang tidak karuan membuatnya terlihat mengerikan.

"Sial! Kenapa harus aku? Tidak bisakah, meminta mahasiswa lain? Gila!" umpatnya.

Wanita itu menatap sekeliling kamar sempit, sangat berantakan, dan tidak layak disebut dengan kamar. Dia bangkit, dan menghampiri koper yang ia letakkan di sudut ruangan.

Bersiap untuk mengikuti tour tahunan yang selalu diadakan di kampusnya. Dengan dalih mengadakan bazar amal. Namun, yang sebenarnya terjadi, adalah semua mahasiswa harus membayar uang berjumlah fantastis. Entah, ke mana perginya uang itu nantinya.

Bukan dia tidak mampu membayar, tetapi dia hanya malas harus berkumpul dengan banyak orang. Jovanca adalah tipe wanita yang suka menyendiri, dan bertindak seenaknya sendiri.

Dia tidak mau diatur, dan tidak akan bisa diatur. Hidup sendiri, di kota besar, bergaul dengan siapapun yang dia sukai. Meninggalkan mereka sesuka hatinya pula.

Beberapa barang telah siap dia kemas. Masih dengan baju yang sebelumnya, dia kenakan. Dia berkelit, untuk mengumpulkan, donasi, uang pembayaran, bus, dan juga jatah makan siang. Mengetuk kamar demi kamar asrama.

Namun, bukannya mengetuk, Jovanca, lebih pantas disebut, dengan menggedor, bak seorang rentenir yang menagih hutang.

Brak! Brak!

"Woy Buka!" teriakanya.

Wanita berkacamata, dengan rambut panjang, membuka pintu, salah satu mahasiswa, yang paling cupu dengan dandanan seperti anak TK. Rambutnya tidak pernah lepas dari kepangan.

"Bayar!" Jovanca, mengulurkan tangannya, meminta bayaran untuk tour dadakan itu. Ah– apa pantas disebut rekreasi, jika hanya sehari, semalam?

"Ehm– say– saya...." Gadis itu, tergagap, dia terlalu takut untuk menjawab pertanyaan, Jovanca.

"Apa?! Ikut tidak?! Tunggu– tidak ada yang boleh tinggal! Semua harus ikut, dan bayar padaku, cepat!"

Pinky, dia berlarian masuk ke kamarnya, dan mencari dompetnya dia mengambil beberapa lembar uang kertas, dan memberikan lima puluh dolar pada Jovanca. Tangannya masih sangat bergetar.

"Nice, cepat berkemas, dan turunlah!" Jovanca menyeringai, dan pergi. Menggedor pintu disebelah kamar Pinky.

Satu persatu dari mereka membayar. Benar benar tidak ada yang tertinggal karena Jovanca memaksa. Dia tidak mau mengeluarkan uang sendirian. Sementara salah dari mereka tidak dipungut biaya apapun.

Sebagai wanita yang mandiri ini sangat tidak adil untuk Jovanca. Jika, dia tidak diperintahkan untuk hal itu tadi. Gadis itu akan memilih untuk pergi ke kafe, dan bekerja.

Tepat, di kamar paling ujung, dan ditempati, oleh pria bertubuh gemuk. Jovanca bersiap mengangkat tangan, dan mengayun untuk mengetuk tetapi sesuatu terdengar dari balik pintu itu.

Jovanca mengurungkan niatnya untuk mengetuk ia memilih untuk memiringkan kepalanya, dan menempelkan telinga. Berniat menguping aktivitas di dalam kamar tersebut.

Bunyi keciplukan terdengar dengan jelas, bahkan napas yang memburu, sangat jelas didengar oleh gadis berambut merah itu. Jovanca, memicingkan matanya menajamkan pendengarannya guna mengetahui aktivitas apa yang dilakukan pria gendut.

Hah– Sialan! Terdengar lelaki itu menghembuskan napas lega disusul dengan umpatan. Jovanca semakin penasaran dia tanpa mengetuk pintu nekat langsung membukanya.

Begitu memasuki kamar itu betapa terkejutnya gadis badung itu. Mark berdiri di balik pintu kamar mandi, dan memegang sebuah cairan berwarna, putih. Celananya telah basah, dan pria itu pun berkeringat dengan hebat.

"Woy!" teriak, Jovanca.

Apa yang dilakukan oleh Mark si pria gendut?

Jovanca menerobos masuk kamar milik Mark, gadis itu berhasil mengejutkan pemilik kamar mereka saling tatap beberapa saat. Tatapan Jovanca tertuju pada benda yang dipegang oleh Mark.

"Sedang apa kamu?! Oh– aku tahu kamu– astaga! Fix. Aku akan sebar, bahwa kamu sering bermain main dengan sabun!" Jovanca membelalakkan matanya guna untuk menakut-nakuti Mark.

"Jo?! Sedang apa kamu di sini?" Mark terkejut dengan keberadaan wanita brutal itu.

Jovanca masih tertawa pikiran liarnya mulai menguasai diri. Matanya sampai berair karena tawanya tidak bisa dia hentikan.

"Wait! What do you think?! Jo? Ini tidak seperti yang kamu kira. Ak– aku...." Jovanca memotong ucapan pria gentong itu.

"Stop, semua sudah terbukti. Aku kira kamu sangat polos." Jovanca sama sekali tidak mau mendengar penjelasan lelaki itu.

Mulutnya masih terus mengejek tanpa mau mendengar apa yang lawan bicaranya ucapkan. "Jo, listen! Aku membersihkan kamar mandiku yang sudah sebulan tidak aku bersihkan. Keraknya membandel, dan– ini? Ini sabun yang aku gunakan untuk membersihkan lantainya. Aku terpeleset! Shit! Ini menyebalkan bukan? Buang pikiran burukmu itu!" sungut Mark.

Pria itu melemparkan sikat lantai juga sabunnya begitu saja. Acara membersihkan kamar mandi telah usai dia merasa begitu lelah. Tidak peduli dengan celana atau baju yang basah. Ia menghempaskan tubuhnya pada ranjang sempit miliknya.

Namun, Jovanca masih asyik tertawa dengan pikirannya apakah wanita seperti itu? Selalu tidak jauh pikirannya dari seks? Memalukan!

"Terserah! Apa yang kamu lakukan dikamarku?" Pertanyaan itu menyadarkan tujuan Jovanca akan tujuannya.

"Ups! Right! Bayar. Aku bertugas menarik semua uang tour buta' yang diadakan kampus ini," ucapnya sembari mengulurkan tangan.

Mark menatap telapak tangan gadis itu, dan mendengus dia baru saja membayar kelas private bahasanya. Kini laki laki itu harus kembali mengeluarkan uang lagi.

"Bolehkah aku tidak ikut? Please?" pinta Mark memelas. Meski dia tahu jawabannya adalah tidak. Jovanca tidak akan membiarkan temannya kaya sendirian.

"No!" Ia menjawab dengan singkat, dan menggeleng.

"Ck, come on Jo. Please, aku tahu kamu baik Please," bujuknya. Tanpa menyerah.

"No!" Jovanca kembali menolak. "Bayar sekarang atau aku akan mencari sendiri di tasmu?" Jovanca menoleh di mana tas Mark berada.

"Oh– menyebalkan." Pria itu bangkit, dan mendekati tasnya. Dia terpaksa membayar untuk hal yang tidak dia ketahui fungsinya.

"Memang, apakah kamu baru menyadari bahwa kuliah di sini sangat menyebalkan." Jovanca menyahut selembar uang kertas seratus dolar itu dan berlalu.

"Jo! Kembalian!" teriak Mark. Jovanca menoleh, dan hanya menyunggingkan senyum misterius yang entah apa artinya.

"Nanti!" balasnya kemudian. Semua itu membuat lelaki obesitas semakin merengut kesal.

***

Semua mahasiswa telah siap. Mereka membutuhkan dua bus untuk pergi ke tempat tujuan. Sebuah kota di ujung provinsi. Kota Mayoral. Tujuannya hanya sebuah motel kecil, dan keesokan harinya mereka akan membuka bazar di sebuah taman.

Hal yang bagi sebagian orang itu sangat tidak berguna termasuk Jovanca. Bazar amal, mereka tidak harus melakukan itu untuk membantu sesama. Bisa dengan langsung menunjukan bantuan pada yang bersangkutan bukan? Setidaknya itulah yang dipikirkan oleh, Jovanca.

Namun, dia juga harus ikut serta. Sambil menyelam minum susu. Dia berharap ada sesuatu yang bisa mengalihkan kebosanan dari acara itu nantinya.

Butuh sekitar tiga jam untuk mereka tiba di motel terpencil Mayoral. Benar, terpencil karena itu sebuah sudut kota bahkan bisa disebut dengan perkampungan desa terpencil. Jarang dimasuki wisatawan atau orang dari luar kota.

Apa yang akan didapatkan oleh Jovanca di sana?

Bersambung...

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Jovanca Sang Penggoda

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Dulu Aku Bodoh, Sekarang Tidak Lagi
8.1
Saat hamil tiga bulan, Solene divonis mengalami kehamilan ektopik oleh suaminya yang seorang dokter. Sang suami mendesak aborsi demi keselamatannya dan menyarankan adopsi. Solene yang merasa bersalah kemudian tidak sengaja mendengar percakapan rahasia suaminya dengan wanita lain. Terungkap bahwa diagnosis itu palsu, dirancang agar Solene mau menandatangani surat adopsi untuk Leo, anak kandung suaminya dari hubungan gelap tersebut, demi mewariskan seluruh kekayaannya.
Sampul Novel Gairah Nikmat Perselingkuhan
9.1
Dalam suasana yang sunyi, aku memberanikan diri untuk merengkuh tubuh Wiwik dengan penuh kelembutan. Meski sempat menanyakan keberadaanku, ia akhirnya luluh dan mulai menikmati kehangatan dekapan yang kuberikan. Suasana semakin intens saat Wiwik membalas pelukanku dengan erat. Tak berhenti di situ, kecupan di pipi hingga bibir pun disambutnya dengan penuh gairah. Desahan pelan darinya menjadi tanda bahwa ia telah hanyut dalam kemesraan ini.
Sampul Novel Keponakanku yang Belum Lahir dan Telah Meninggal
9.5
Kakak iparku bersikeras melahirkan secara tradisional di desa meski kehamilannya sangat berisiko. Saat aku memaksanya ke rumah sakit demi keselamatan, dia justru menuduhku sebagai penyebab bayinya lahir prematur dan lemah. Kebenciannya memuncak hingga dia meracuniku. Namun, keajaiban membawaku kembali ke masa lalu tepat saat dia meminta saran. Kali ini, aku memilih diam dan tidak akan ikut campur. Aku ingin melihat nasibnya tanpa campur tanganku.
Sampul Novel Salsa Meguno
9.1
Salsa Meguno bukanlah lagi sosok gadis lemah yang mudah ditindas. Setelah melewati masa lalu yang penuh kegelapan, ia kini bertransformasi menjadi wanita tangguh dengan mental baja. Namun, tragedi memilukan yang merenggut nyawa seluruh anggota keluarganya meninggalkan luka yang sangat mendalam. Di tengah ketidakpastian ini, muncul sebuah pertanyaan besar: apakah Salsa akan memilih jalan balas dendam untuk menuntut keadilan atas kematian mereka?
Sampul Novel Terjebak Pesona Nathan
9.7
Davina telah lama memendam perasaan pada Nathan Evano, namun ia memilih diam karena merasa bukan tipenya. Sepuluh tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali dalam situasi penuh tanda tanya. Nathan kini tampak berbeda, terutama dengan keterlibatannya di dunia intelijen yang penuh rahasia. Davina pun mulai ragu, apakah pria misterius ini benar-benar teman masa kecilnya atau sosok lain yang serupa? Ikuti kisah romansa yang dibalut ketegangan ini.
Sampul Novel Ustadz Imamku
8.0
Kayra Naadhifa Syifa, putri konglomerat yang pemberontak dan kerap membuat onar, akhirnya dikirim orang tuanya ke sebuah pesantren milik sahabat ayahnya demi memperbaiki perilaku. Di sana, ia bertemu Muhammad Adnan Muammar, ustadz tampan yang sangat taat namun bersikap dingin dan cuek kepada setiap wanita. Meski tampak datar, Adnan menyimpan kepribadian asli di balik paras rupawannya. Akankah lingkungan religi ini mampu mengubah hidup Kayra yang terbiasa bebas?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan