
Istri Tanpa Suami
Istri Tanpa Suami Bab 1
1. Istrinya Kembali Meninggal
Suara tangisan itu menggema di rumah keluarga Devano. Sang istri, Sekar Wangi, baru saja menghembuskan nafas terakhirnya padahal baru dua hari menjalani perannya sebagai istri dari Devano. Wanita itu terpeleset dari lantai dua rumah suaminya, terguling hingga ke lantai dasar, dan langsung meninggal saat itu juga.
Devano meremas tangannya kuat, setelah iring-iringan sanak-saudara, menggotong keranda sang istri untuk masuk ke dalam ambulans dan dibawa ke pemakaman keluarga Devano yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Matanya menatap nanar semua orang yang kini menangis di sekelilingnya, ada ibu dan ayah mertuanya, para sepupu, om, tante yang masih menangisi kepergian Sekar yang terlalu cepat, bahkan wanita cantik itu baru saja berumur dua puluh tahun.
"Ayo, kita antar Sekar ke peristirahatan terakhirnya," ucap seorang kakek tua yang duduk di kursi roda. Kulitnya sudah mengeriput hampir di seluruh tubuh, namun raut tegas dan garangnya masih terlihat jelas bagi orang-orang yang berpapasan dengannya.
"Baik, Opa," jawab Vano lemah. Kakinya melangkah lemah menuju mobil, menyusul iring-iringan almarhum istrinya yang sudah lebih dahulu berangkat.
Lelaki itu terus saja menunduk, menatap gundukan tanah merah yang masih basah. Di pusara ini, wanita ketiga yang ia nikahi secara resmi, meninggal dengan cara mengenaskan. Air mata sudah tak bisa ia keluarkan, seakan ada tembok yang membentengi air mata itu agar tidak tumpah. Hanya raut wajahnya yang merah menahan amarah dan sedih.
"Lelaki pembawa sial! Kalau saja anak gadisku tidak menikah dengan duda sial sepertimu, tentu Sekar masih hidup sampai saat ini. Dasar duda pembawa sial!" teriak seorang wanita paruh baya yang merupakan ibu dari Sekar. Wanita itu terus saja meracau menyalahkan Devano atas kematian puterinya.
"Maaf, Ma." Hanya itu yang dapat ia ucapkan, saat sang mertua memakinya di pemakaman.
"Sudah, sudah. Ayo kita pulang!" sang suami menyeret istrinya untuk segera pergi dari sana. Sebelum mereka benar-benar menjauh, sang wanita paruh baya berteriak lantang, "semoga semua wanita yang kamu nikahi, mati mengenaskan seperti anakku, dan seperti almarhum istri-istrimu terdahulu!" teriak sang wanita paruh baya berapi-api.
Devano hampir saja luruh di tanah, jika saja sang papa tidak langsung menahan tubuh sang putera. Kesialan demi kesialan menimpa hidup sang putera sejak empat tahun yang lalu, sudah tiga wanita yang ia nikahi, meninggal mengenaskan di dalam rumahnya, tepat di hari kedua mereka menikah.
Apa sebenarnya yang terjadi pada nasib anaknya? Gumam Pak Broto, ayah dari Devano.
Rumah kembali sepi, tidak ada pengajian di rumahnya, semua ia limpahkan ke rumah yatim piatu saja untuk mendoakan istrinya. Percuma ia adakan pengajian di rumahnya, karena ini adalah kematian ketiga yang terjadi di dalam rumahnya, para tetangga tentu saja takut untuk hadir di sini.
"Ke sini kamu, Vano!" panggil seorang kakek.
"Ada apa,Opa?"
"Nasib buruk kamu, sepertinya akan terus saja datang kepada siapapun yang kamu nikahi. Laras meninggal jatuh terpeleset di kamar mandi. Suci, dan kali ini Sekar, meninggal jatuh terguling di tangga rumahmu. Opa yakin, ada kutukan buruk terhadap kamu dan rumah ini. Kamu yakin ini tidak ada kaitannya dengan pembantu yang pernah kamu nikahi?"
"Maksud, Opa?"
"Temukan dia, lalu nikahi kembali. Opa rasa itu hanya satu-satunya cara agar kesialan kamu berakhir."
"Siapa namanya?" tanya kakek tua itu pada cucu semata wayangnya.
Devano menggeleng, ia lupa nama pembantu yang empat tahun lalu ia nikahi dua hari, lalu ia ceraikan, dan usir di hari kedua itu juga.
"Aminarsih," jawab Pak Broto, papa dari Devano.
****
Selamat datang di cerita terbaru saya. Semoga suka dan menghibur pembaca semua. Jangan lupa tekan ulasan bintang limanya ya. Selamat membaca.
2. Diculik
Aminarsih, atau biasa dipanggil Narsih, adalah wanita yang biasa bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Namun, sudah hampir empat tahun ini ia diterima bekerja sebagai karyawan warung Masakan Padang. Ia yang hanya mengenyam bangku sekolah sampai tingkat SLTP, tentu saja susah mendapat pekerjaan yang layak. Apalagi waktu itu, dia sempat jadi gelandangan dengan pakaian pernikahan yang masih ia kenakan. Untung saja, saat ia mencari makan di tempat sampah sebuah warung Masakan Padang, sang pemilik warung melihatnya dengan iba, dan kemudian mempekerjakannya sebagai karyawan, dengan tugas mencuci piring, dan juga mencuci alat masak, serta melayani pembeli.
"Kak, nasi padang satu, pakai ayam bakar yang paha ya!" pinta seorang pembeli pada Narsih.
"Mau paha yang mulus apa yang kisut, Dek?" tanya Narsih menggoda anak remaja SLTP yang memesan tadi.
"Yang mulus dong, Kak, ha ha ha ...," sahut si remaja sambil tertawa.
Cekatan Narsih mengambil nasi di dalam ricecooker besar bewarna silver, dua centong penuh ia taruh di atas daun yang sudah di alas kertas nasi bewarna coklat. Setelah nasi, lalu ia menuangkan kuah gulai bewarna kuning, kemudian kuah gulai yang bewarna orange, juga bumbu rendang, sambal hijau, tak lupa ayam bakar paha sesuai pesanan pembeli. Ia membungkusnya dengan rapi, lalu memberikannya kepada remaja itu.
"Berapa, Kak?"
"Lima belas ribu."
"Makasih, Kak."
Narsih membalasnya dengan senyuman. Lalu melanjutkan aksi melamunnya. Belum ada pembeli lagi, karena masih pukul sepuluh pagi, bos pemilik warung Masakan Padang, yang bernama Bu Rini sedang kurang sehat, dan sedang beristirahat di dalam.
Kios warung berada persis di pekarangan rumah Bu Rini, lahan parkirnya juga cukup luas untuk parkir dua mobil besar dan tiga motor. Warung Masakan Padang yang bernama 'Rindu Kampuang' ini, cukup dikenal dan laris di lingkungan sekitar.
"Kak Narsih, beli nasi padang pake ayam," ucap seorang anak perempuan kecil pada Narsih.
"Ayamnya mau yang masih hidup atau yang sudah mati, De?" goda Narsih.
"Ha ha ha ... kukuruyuk dong nanti aku, Kak," sahut si anak kecil sambil terbahak.
"Nih, dua belas ribu," kata Narsih sambil memberikan bungkusan nasi padang pada anak perempuan kecil itu.
Sebuah mobil terparkir, di seberang jalan warung padang tempat Narsih bekerja. Dua orang lelaki dengan kaca mata hitam, serta menggunakan jas hitam, menyebrang jalan menuju arah Narsih. Dalam hati, Narsih bersorak, jarang-jarang ada tamu dengan mobil bagus, mampir di warungnya. Sambil berpura-pura mengibas-ngibaskan tangannya di atas aneka lauk. Ia melirik dua orang tersebut yang masuk tanpa senyum.
"Mau pe..."
"Mmm...mmm..."
Tanpa ada yang menyadari, Narsih sudah dibius dengan sapu tangan, hingga ia pingsan. Kemudian, dibawa oleh dua orang berpakaian hitam itu, masuk ke dalam mobil Jeep besar.
****
Devano sudah berada di rumahnya, begitu dapat kabar dari orang suruhannya, bahwa wanita yang bernama Narsih sudah ditemukan, ia memilih langsung pulang, dan menyambut wanita yang membawa kesialan pada dirinya. Pak Broto pun sudah menunggu, duduk di depan Devano yang terlihat tak sabar. Berkali-kali Devano mengepalkan tangannya, sambil menyingkap gorden jendela, berharap mobil yang ditunggu segera sampai.
"Sudah satu jam, lama sekali orang suruhanmu," keluh Pak Broto pada puteranya.
"Telepon saja! Keburu wanita itu sadar, bisa repot!" titah Pak Broto pada Devano. Langsung saja Devano mengeluarkan ponsel dari saku celananya, memencet nomor orang suruhannya dengan tak sabar.
[Hallo, di mana lu?]
[Di jalan, Tuan.]
[Iya gue tahu, di jalan. Masa lu di kuburan. Maksud gue, udah sampe mana?]
[Sampai perumahan udah, dikit lagi sampai, Tuan.]
[Lama sekali.]
[Iya, Tuan. Saya juga buru-buru, udah kebelet pipis.]
[Jangan banyak bicara, udah cepat!]
Dua menit berlalu, pintu pagar besar rumah Devano terbuka lebar, tak lama mobil Jeep besar memasuki pekarangan rumahnya, dan berhenti tepat di samping mobil Audi terbaru milik Vano.
Dua orang lelaki berpakaian hitam tadi, turun dari mobil. Seorang lelaki tinggi, tambun, kini menggendong Narsih bak karung beras. Mereka berjalan masuk ke dalam rumah majikan mereka.
Dengan kasar, Narsih diturunkan di atas sofa besar milik Vano, kedua matanya masih tertutup, tidak sadarkan diri.
"Bagus, sudah sana pergi! Sisa uang kalian akan saya transfer," ujar Vano pada kedua orang suruhannya.
"Eh, tunggu! Tolong angkat wanita dekil ini naik ke atas, masukkan ke dalam gudang yang ada di ujung lorong!" titah Vano pada orang suruhannya. Dengan cepat, keduanya kembali menggotong tubuh Narsih, membawanya ke gudang yang sudah ditunjukkan oleh Vano.
****
Narsih meraba kepalanya yang sangat sakit, tubuhnya terasa begitu lemah dan tidak bertenaga. Susah payah ia membuka mata, memastikan ada di mana ia saat ini. Keduanya matanya memicing, saat berada di dalam ruangan temaram yang kotor dan berbaring di atas kasur tipis. Narsih tersadar, ia membuka mulutnya lebar, saat menyadari ia ditempat asing, pasti dua orang lelaki tadi yang membawanya ke sini. Ia kumpulkan tenaga untuk bangun dari tiduranya, lalu setengah berlari ke arah pintu.
Buugh!
Buugh!
"Bukaaa!"
"Tolong, buka!"
"Bukaa, hei!"
"Tolooong!"
Narsih terus saja menggedor pintu kamar yang lebih mirip gudang itu, dengan keras. Air matanya turun membasahi pipi, ada ujian apa lagi yang harus ia jalani kini.
Narsih terduduk masih dengan tergugu sendu, air mata tak juga berhenti mengalir, perutnya juga lapar, tenggorokannya haus, seketika kilatan kisah saat ia berhari-hari jadi gelandangan, memungut sampah untuk mengisi perutnya yang lapar, membuat Narsih bergidik ngeri. Berkali-kali ia menggelengkan kepalanya dengan kasar.
"Ibu, Bapak, tolong Asih," gumam Narsih sangat pelan, berharap kedua orang tuanya yang sudah meninggal dapat membantunya.
Suara langkah kaki dengan sepatu terdengar semakin mendekat, Narsih mencoba berdiri dengan bertumpu pada dinding pintu, sambil meringis menahan lapar perutnya.
Kleeek
Kleeek
Suara kunci diputar, pintu dibuka pelan dan lebar.
"Kamu ..." Mata Narsih terbelalak saat lelaki yang tidak mau ia temui seumur hidupnya, kini berdiri tegak di depan matanya. Wajahnya semakin tampan, dan terlihat dewasa, hanya saja bagi Narsih, lelaki di depannya ini, tidak lebih berharga dari tikus got.
"Hallo, kita bertemu lagi. Siapa nama kamu? Aku lupa," ucap Vano tanpa tahu malu.
"Kalau nama gue aja lu ga tahu, urusan apa gua bisa ada di sini? Bang***t!"
"Woow, wanita yang kasar ternyata," ledek Vano dengan langkah lebar masuk ke dalam gudang. Narsih mundur beberapa langkah saat Vano semakin mendekat.
"M-mau apa lu?"
"Aku mau, kamu menikah lagi denganku."
"Apa? Oh, tidak! Lo sudah gila, Lo sakit!
****
3. Terpaksa Melayani Devano
Narsih tidak punya pilihan lain, setelah Devano menampar dan mencekik lehernya hingga ia hampir mati tadi pagi di dalam gudang. Meskipun ia memelas memohon pengampunan, Devano tidak melepasnya. Lelaki itu tetap memaksa agar ia mau menikah lagi dengannya. Di sinilah ia sekarang, duduk di kursi pengantin yang sudah dihias alakadarnya, dinikahkan secara siri dengan Devano oleh seorang ustadz.
Ada beberapa keluarga Devano yang datang sore ini, memberikan selamat pada Narsih. Tentu saja dengan tatapan penuh remeh, pada tubuhnya yang kurus, kering, dan hitam ini. Tak ada ekspresi apapun yang keluar dari wajah Narsih, yang ada hanyalah penyesalan demi penyesalan. Andai saja empat tahun lalu, ia menolak menjadi pengganti Yasmin di pelaminan, tentulah saat ini hidupnya tenang menjadi asisten rumah tangga.
Nasi sudah jadi bubur, mempermainkan pernikahan yaitu janji suci yang diucapkan atas nama Tuhan, telah membuatnya tertimpa begitu banyak ujian hidup.
"Masuk sana!" Devano mendorong tubuh Narsih untuk berjalan cepat ke gudang. Acara pernikahan sudah selesai, dan kini Narsih dikembalikan ke tempat yang pantas untuknya.
"Kalau aku tidak mau?" tantang Narsih dengan kilatan netra berapi-api.
"Tidur di kandang Molly!" tunjuk Devano keluar, di mana Molly, seekor anjing Rottweiler miliknya berada.
"Ck, kalian semua yang ada di sini, manusia laknat!" Narsih pergi dari hadapan Vano, ia melangkah lebar masuk ke dalam gudang kembali. Belum makan dan belum minum apapun, lelaki itu begitu kejam memperlakukannya.
Narsih kembali meneteskan air mata, sambil memegang perutnya yang lapar. Matanya menatap saklar lampu yang tertempel di dinding.
Klik
Ia menyalakannya. Gudang yang sangat kotor dan berdebu. Ada banyak barang tidak terpakai teronggok tak beraturan di sana. Tunggu! Matanya menangkap sebuah pintu di dalam gudang, ia berjalan ke arahnya, lalu membuka pintu yang ternyata tidak terkunci.
Kamar mandi? Narsih menghembuskan napas lega, ia mencoba menyalakan air, dan berhasil. Air itu mengalir cukup deras. Narsih membuka pakaian pengantin sederhananya, lalu menggantinya dengan pakaian yang ia pakai saat diculik.
Ia menyikat kamar mandi terlebih dahulu, untung saja ada cairan pembersih lantai yang hampir habis, tetapi masih bisa ia gunakan. Ada juga sabun batangan yang sudah mengecil dan kering, tampak ini dahulunya bukan gudang, melainkan sebuah kamar tidur.
Narsih melanjutkan membersihkan ruangan tempat ia tidur. Aneka koper, kardus-kardus besar, lemari yang sangat berdebu, ia bersihkan hingga tuntas. Ia susun rapi agar tidak terlalu berantakan, kasur busa yang teronggok di lantai, ia juga bersihkan.
Sayang sekali tidak ada kain pel, sehingga ia menggunakan pakaian pernikahan brukat putih sebagai kain untuk membersihkan ruangan itu. Begitu semangat Narsih mengerjakannya, hingga tidak terasa, sudah pukul delapan malam. Perutnya sudah sangat keroncongan dan juga haus.
Bug!
Bug!
"Hei, buka! Aku lapar!"
Bug!
Bug!
"Hei ... suami gila! Bukaaaa!"
Sudah setengah jam Narsih menggedor pintu kamarnya, tapi tidak juga ada yang membukakan. Perutnya sudah sangat lapar. Dengan payah, ia berjalan masuk ke dalam kamar mandi yang sudah bersih kembali, menyalakan air dengan deras, ia membuka mulutnya lebar. Dengan linangan air mata, ia meminum air mentah dari kran air. Berharap lapar, dahaga, dan kepedihan hidupnya segera sirna.
Setelah dirasa perutnya cukup kenyang, bukan kenyang, tepatnya kembung air mentah. Ia pun kembali menggelar kasur busa di lantai yang sudah bersih, ia mencari-cari kain yang kiranya bersih, agar dapat ia gunakan sebagai alas tidurnya.
Satu per satu kasdus ia buka, berharap ada pakaian, atau kain di dalamnya. Benar saja, setelah membuka lima kardus, akhirnya ia menemukan selimut bulu tipis yang memudar warnanya. Ia ambil satu, lalu ia bentangkan di atas kasur busa yang akan ia pakai tidur malam ini.
Ia sudah berwudhu dan mau salat, tetapi tidak ada mukena, dalaman saja masih ia pakai, walaupun sudah tak nyaman. Akhirnya, Narsih memutuskan memakai selimut bulu tadi, untuk menutup seluruh tubuhnya, ia salat dalam keadaan seadanya, tentu dengan linangan air mata.
Kreek
Narsih menoleh saat pintu dibuka, matanya menatap nanar seorang Devano yang kini tengah sempoyongan memegang pintu kamar Narsih.
"Wow, sudah bersih,huh?"
"Tentu saja. Aku lupa aku menikahi siapa? Seorang pembantu dekil yang pasti bisa beres-beres rumah. Ha ha ha ha... dunia memang gila," oceh Vano tak jelas. Lelaki yang telah mabuk itu memutuskan untuk mendekat pada Narsih yang masih duduk di atas kasur busa.
Kilatan marah di netranya, tak gentar menatap sorot mata Vano yang kini merah menyeramkan.
"Mau apa kamu?"
"Keluar! Aku mau tidur!" usir Narsih pada lelaki yang menjadi suami jadi-jadiannya.
"Eh, eh, eh... sudah berani sekali kau Cacing Kremi!" umpat Vano kini berjalan sempoyongan ke arah Narsih yang terjebak di tembok kamar. Nafas Vano semakin dekat dengan indera penciumannya, mati-matian Narsih menahan mual saat bau alkohol itu begitu menyengat.
"Mau apa kau? Sampah!" hardik Narsih sambil mendorong tubuh Vano dengan sekuat tenaga. Apalah daya, bukannya menjauh, Devano malah semakin mendekat, tenaga Narsih bukanlah tandingannya, apalagi wanita itu masih kelelahan sehabis membereskan gudang dan kamar mandi. Ditambah rasa lapar yang kini kembali mendera, sungguh ia benar tidak bertenaga melawan Vano.
Dengan kasar, lelaki itu menganggkat tubuh Narsih, bagaikan karung beras.
"Hei! Maau apa kau?"
Buugh
Narsih dihempaskan di atas kasur busa, Devano sudah menindihnya.
"Jangan, Tuan. Saya mohon, jangan apa-apakan saya!" Narsih menggeleng keras, saat Devano sudah mencium curuk lehernya.
Ia tidak bisa melawan, tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini. Tenaganya sudah habis, benar-benar lemah, matanya mengerjap beberapa kali saat lelaki itu memasuki dengan kasar dan tanpa ampun. Jangan tanyakan sederas apa air matanya, tangisan itu tertahan, dadanya bagai tertusuk belati tajam tanpa ampun.
Ada sepasang mata mengintip Vano menggagahi istrinya secara kasar, mata itu menatap iba pada wanita yang kini juga melihat padanya, netra penuh air mata itu seakan meminta pertolongannya. Namun, ia bisa apa, ia hanya supir dari Devano. Lelaki paruh baya itu tak sanggup melihat lagi, ia memilih pergi, meninggalkan Devano dengan istrinya.
Narsih sudah tidak kuat untuk membuka mata. "Ya Allah, aku ikhlas jika Engkau mencabut nyawaku saat ini juga. Biarkan aku berkumpul dengan ibu, ayah, dan adikku," bisik Narsih dalam hati, hingga matanya tak lama tertutup rapat.
****
4. Jatah Makan
Narsih merasakan sakit di sekujur tubuhnya saat ia membuka mata. Adzan shubuh yang mengalun merdu membangunkan dirinya dari peraduan penuh luka dan nestapa. Betapa tidak, lelaki yang berstatus suaminya, kini telah berhasil merenggut keperawanannya dengan cara kejam. Bahkan untuk bernafas pun ia harus mengeluarkan air mata.
Setelah pingsan, kemudian sadar, maka Devano kembali menggagahinya, hingga pingsan kembali, dan dengan santainya lelaki laknat ini, masih berada di alam mimpi sambil memeluk pinggangnnya.
Puk!
Narsih menghempaskan kasar tangan Devano, bukannya bangun, lelaki itu malah semakin erat memeluk Narsih, hingga wanita itu mencebik kasar, lalu menghempaskan lagi lengan kasar suaminya. Tertatih ia bangun dari peraduan, kedua kaki sebenarnya tak kuat melangkah, tetapi ia harus segera membersihkan seluruh tubuhnya dari bekas sentuhan menjijikan sang suami.
Bagaikan robot, Narsih berjalan dengan merapatkan kedua pahanya, jika bergesek terlalu kasar, maka dapat dipastikan organ intimnya kembali terluka.
Sabun kering yang masih bisa digunakan itu, ia pakai untuk membersihkan seluruh tubuhnya. Tidak hanya untuk badan, Narsih juga membersihkan rambutnya dengan sabun batangan yang berwarna merah itu. Suara kran air yang terlalu deras diputar oleh Narsih, ternyata membangunkan singa yang tengah tertidur sangat lelap.
Dengan mengucek kedua matanya, lelaki itu mengedarkan pandangan, di mana ia kini berada. Kenapa tubuhnya sakit semua saat ini? Matanya turun menjelajah di mana tubuhnya rebah saat ini. Hanya selembar kasur busa yang tidak terlalu tebal, dengan bercak merah tanda ia telah berhasil memerawani istrinya.
"Ha ha ha ... gila gue. Lima kali nikah, baru ini berhasil memerawani istri, pembantu pula," umpat Devano sambil menertawakan dirinya sendiri. Suara guyuran air, membuat Devano kini tersadar, dengan langkah gontai ia berjalan mendekati pintu yang tertutup rapat di sana.
Bugh!
Bugh!
"Buka!" teriaknya di balik pintu. Narsih kaget, gayung yang ia pakai sampai terhempas di lantai kamar mandi. Saat ini, ia sudah selesai mandi dan sedang memakai baju kausnya.
"Buka, denger gue ga!" teriak Devano lagi. Membuat Narsih ketakutan, dia gemetar ia membuka pintu kamar mandi sambil menunduk, Narsih mencoba melewati Vano, namun sayang, lelaki itu menghalangi jalannya.
"Wangi banget," goda Devano membaui curuk leher Narsih, membuat wanita itu bergidik ngeri. Langkahnya mundur, masuk kembali ke dalam kamar mandi, maksud hati hendak menutup pintu kembali, namun, lagi-lagi Devano berhasil menahan pintu dengan kakinya.
"Temani aku mandi," bisik Devano dengan suara serak.
****
Pak Broto sudah menunggu di ruang makan, menanti anaknya yang tak kunjung turun padahal sudah pukul setengah delapan pagi. Aneka sarapan sudah tersedia, Pak Broto melirik ke lantai dua, tempat kamar anaknya berada. Pria tua itu menautkan alisnyaz tumben sekali sudah sesiang ini belum bangun. Pikirnya.
"Bos kamu ke mana ini, sudah siang belum bangun? Mabuk lagi ya semalam?" tanya Pak Broto pada Samsul, supir dari Devano.
"Masih betah di atas, Tuan. Kelonan," ledek Samsul sambil menyeringai.
"Hah? Beneran?" Pak Broto menatap Samsul tak percaya.
"Iya. Coba saja nanti lihat, pasti turun dengan wajah bersinar dan rambut basah."
"Ha ha ha ha ..." tawa keduanya menggema.
"Kasian anak saya, Sul. Pertama kali menikah, pengantinnya kabur, diganti sama pembantu. Trus pembantu yang baru dua hari jadi istri, udah ditalak. Nikah lagi dengan Suci, Laras, dan dua minggu lalu Sekar, semua meninggal dalam usia pernikahan dua hari, dan tak ada satu pun dari keempat wanita itu yang berhasil digagahi Vano," cerita Pak Broto panjang lebar.
"Lha, kok bisa, Tuan?"
"Karena semua sedang datang bulan saat hari pernikahan. Nah, wanita yang ini itu, istri pertama Vano, pembantu yang ia cerai baru dua hari nikah. Ck, sekarang saja, sudah tahu enaknya malah tidak turun-turun dari kamar," cerita Pak Broto sambil tersenyum remeh. Pak Samsul manggut-manggut paham sekarang.
Lelaki yang baru saja mereka bicarakan, tidak lama turun dari lantai dua. Rambutnya basah, wajahnya bersinar, dan ada garis bibir tipis tertarik di sana. Langkahnya begitu ringan menuruni anak tangga satu per satu, menuju meja makan.
"Pak Samsul, bawakan sedikit makanan untuk dia!" titah Devano pada Samsul menunjuk lantai dua dengan dagunya.
"B-buat istri bapak maksudnya?"
"Iya," sahut Vano malas.
Sang pesuruh, begitu cepat memasukkan aneka makanan ke dalam piring. Ada nasi goreng, sosis bakar, roti bakar, mie goreng, dan potongan buah melon. Tak lupa satu gelas air teh hangat ia ambilkan juga.
"Segitu banyak, untuk jatah makan tiga hari. Bilang padanya, Pak," ujar Devano dengan ketus, membuat Samsul dan ayahnya tergugu.
"Maksud kamu, mau menyiksa wanita itu hingga mati pelan-pelan?" sindir sang Papa pada anaknya.
"Begitulah," sahut Devano singkat sambil mengangkat bahunya.
"Ck, kapan tobatnya kamu?" Pak Broto berdecih, ia melanjutkan sarapannya kembali, sedangkan Devano tengah melirik Samsul yang kini tengah menaiki anak tangga, sambil membawa nampan.
Tuk!
Tuk!
"Non, buka pintunya," panggil Samsul dari balik pintu. Narsih yang terkulai lemas di atas kasur busa, kini sudah mencoba bangun. Ia tahu, bukan suara Vano yang ada di sana. Dengan cepat ia berjalan walau perih, membuka pintu dan melihat siapa yang mengetuk pintunya.
Mata Narsih membulat sempurna, saat melihat nampan berisi aneka makanan, dan juga satu gelas besar teh manis hangat. Samsul dengan senyum tipis, memberikan nampan tersebut pada Narsih.
"Habiskan, Non. Nanti saya bawakan lagi, tapi mungkin malam. Jika saya ketuk pelan dua kali, tandanya itu saya ya," bisik Samsul pada Narsih. Kepala wanita itu hanya mengangguk kaku, lalu menerima nampan berisi makanan.
"Pak, bisa bawa saya keluar dari sini?" pinta Narsih sambil berbisik dengan wajah memelas.
"Maaf, Non. Percuma, pasti nanti Non ditemukan kembali," jawab Samsul kembali berbisik.
"Samsul!" teriak Devano dari lantai bawah.
"Udah ya, Non. Makan yang banyak. Iya...Tuan!" dengan tergopoh, Samsul berlari turun ke lantai bawah, nampan makan ia biarkan di kamar istri majikannya.
"Bicara apa kalian? Kenapa kamu lama sekali di atas?" tanya Devano penuh selidik, saat Samsul sudah kembali berdiri di hadapannya.
"Wow, apakah ini pertanyaan dari seorang suami yang cemburu? ha ha ha ..." sindir Pak Broto sambil terbahak.
"Pa, jangan mulai! Potong tangan Vano kalau sampai Vano menaruh perasaan pada wanita menjijikan itu," tantang Vano pada sang papa.
****
5. Nasib Narsih
Narsih sudah menghabiskan sepiring nasi goreng dan juga tiga lembar roti tawar lapis selai. Secangkir teh manis hangat juga sudah tandas melewati tenggorokannya. Betapa leganya rasa, kini perutnya terasa begitu kenyang. Sambil mengusap sudut bibirnya yang terasa berminyak, Narsih memilih membuka jendela kecil di dalam gudang itu.
Pandangannya menyapu ke area pekarangan rumah Devano, ada kolam renang besar yang di pinggiran kolamnya ditanami oleh pohon palem. Ada pohon buah rambutan juga di sana, sedang berbuah merah. Sayang sekali, jendela kecil itu memakai teralis besi, jika tidak, tentu saat ini dengan berani ia akan melompat ke bawah.
Narsih bingung mau melakukan apa, ia memilih duduk kembali di atas kasur busanya, sambil melamun Narsih memikirkan bagaimana nasibnya ke depan. Ya Tuhan, benar-benar ujian yang tidak berkesudahan.
****
Devano tengah mengendarai mobilnya menuju kantor. Sang papa hari ini tidak berangkat karena ingin istirahat di rumah katanya. Jalanan Jakarta pukul sembilan pagi masih cukup padat, sehingga membutuhkan waktu satu setengah jam untuk Vano sampai di kantornya.
Langkahnya mantap naik ke lantai dua belas, tempat ruangannya berada. Senyum yang biasanya tak ada, entah kenapa pagi ini ia berikan pada sekretarisnya, Dina.
"Pagi, Pak," sapa Dina.
"Pagi, Dina. Bawakan saya kopi!" pintanya pada sang sekretaris.
"Baik, Pak." Dina bergegas ke pantry membuatkan kopi untuk bosnya. Sebenarnya ada OB yang bisa disuruh membuat kopi, tetapi Dina memilih ia sendiri yang membuatkan kopi untuk Devano.
Ia mengeluarkan kantung kecil dari dalam sakunya, membuka plastik yang terikat rapat, lalu menaburkannya di atas kopi Devano. Ia aduk, lalu ia bawakan ke ruangan Devano yang kini tengah fokus pada laptopnya.
"Ada agenda apa saja kita hari ini?"
"Meeting di Shangrilla jam dua siang, Pak."
"Oke, kamu temani saya."
Dina mengulum senyum, lalu mengangguk. Langkahnya ringan kembali menuju meja kerja. Tak sabar menanti menemani Devano meeting dan juga efek dari obat yang ia berikan.
Sementara itu, di rumah Devano, Pak Broto sedang muntah-muntah di depan ruang TV, seperti lelaki tua itu benar-benar kurang sehat. Narsih terperanjat, saat mendengar suara laki-laki muntah dari kejauhan. Pelan ia berjalan mendekati pintu, kemudian membukanya pelan, berharap suami jadi-jadiannya lupa mengunci dari luar. Benar saja, pintu itu terbuka. Narsih berjalan untuk melihat siapa di bawah sana yang sedang muntah, ternyata orang tua dari Devano.
Dengan berlari, Narsih turun dari lantai dua menghampiri lelaki berusia senja itu.
"Maaf, Tuan. Biar saya bantu," ujar Narsih takut-takut. Dengan hati-hati Narsih memijat tengkuk Pak Broto, kemampuan memijatnya memang cukup baik, ia belajar memijat ibu asrama saat ia masih tinggal di panti asuhan.
"Di mana minyak kayu putihnya, Tuan?" tanya Narsih.
"Di sana," tunjuk Pak Broto ke arah dapur.
Narsih kembali berlari menuju dapur, mencari minyak kayu putih di dalam kotak obat. Rumah Devano yang lebih besar dari rumah Yasmin, membuat Narsih menggelengkan kepala. Tidak perlu lari pagi keluar komplek, cukup berlarian di dalam rumah besar ini, dijamin kalorinya terbakar habis tak bersisa.
Narsih mengoleskan minyak kayu putih di tengkuk, kemudian kepala dan tenggorokan Pak Broto. Lelaki tua itu pasrah saja, saat Narsih membantunya menghilangkan rasa mual dan muntah. Ia memilih memejamkan mata, saat Narsih membersihkan lantai rumah dengan muntahannya tanpa rasa jijik.
Narsih mengepel ruangan itu sampai bersih dan kinclong, ia juga mencuci tumpukan piring sisa sarapan di dapur. Setelah selesai mencuci piring, Narsih melihat tumpukan pakaian di mesin cuci. Ia memisahkan baju bewarna gelap dan terang, mencucinya dengan hati-hati berharap tidak melakukan kesalahan dalam mencuci pakaian Devano dan juga Pak Broto.
Setelah mencuci selesai, ia langsung menjemurnya. Pinggangnya terasa linu dan organ intimnya yang selalu bergesekan membuat rasa perih kembali melanda. Tanpa Narsih ketahui, ternyata Pak Broto mengirimkan foto dirinya sedang membereskan rumah Devano. Lelaki tua itu tersenyum simpul.
[Ini adalah salah satu manfaatnya punya mantu pembantu. Rumah bersih, rapi, kinclong, pakaian kotor dicuci. Mantap]
Begitulah isi pesan Pak Broto kepada anaknya. Lelaki itu benar-benar bisa bersantai di sofa ruang tengah, menikmati harum detergen lantai yang segar. Tidak perlu lagi memanggil jasa bersih-bersih rumah, cukup Narsih yang mengerjakan semuanya, pikir lelaki tua itu.
[Jangan sampai dia keluar rumah, Pa]
Itulah balasan pesan dari Devano pada papanya.
"Tuan, saya mau memasak boleh?"
"Oh, tentu saja boleh. Memangnya ada bahan masakan di kulkas?"
"Seadanya saja, Tuan."
"Terserah kamu saja. Oh ya, jangan terlalu berharap pada pernikahan ini ya."
"Tenang saja, Tuan. Saya tidak pernah berharap apapun pada pernikahan jadi-jadian ini," balas Narsih sambil berlalu meninggalkan Pak Broto di ruang televisi.
Narsih memasak menu seadanya, hanya ada telur, cabe, bawang merah, dan bawang putih. Ada juga sayuran pokcoy yang hampir saja layu, ia mengolah masakan seadanya dari bahan yang ada.
Peluhnya menetes, baju yang ia kenakan masih baju kausnya yang kemarin sudah basah oleh keringat saat ia baru saja selesai masak. Perutnya kembali berbunyi, menatap ricecooker yang sudah mengeluarkan aroma nasi yang baru saja matang.
"Tuan mau makan?" tanya Narsih pada mertuanya.
"Boleh," sahut Pak Broto, kini sudah berjalan ke arah meja makan. Sudah ada hidangan matang yang ditutup tudung saji di atas meja makan. Narsih mengambilkan nasi di dalam piring, lalu menyerahkan pada Pak Broto. Lelaki tua itu mengambil sayur dan juga telur dadar yang sudah ditumis dengan cabai dan juga bawang.
Narsih menatap cemas wajah mertuanya, saat lelaki tua itu mulai mengunyah masakannya. Bisa mati dia kalau rasanya tidak enak di lidah orang kaya seperti papa Devano ini.
"Enak, pintar masak kamu," puji Pak Broto sambil terus menikmati makan siangnya.
"Alhamdulillah, terimakasih Tuan. Saya permisi naik ke atas," pamit Narsih.
"Narsih, kamu bisa memakai baju yang ada di dalam kamar Devano, baju almarhum istri Devano. Kalau kamu masih berkeliaran di rumah ini tanpa mengganti baju kamu yang dekil itu, saya pastikan saya akan pingsan karena bau badan kamu."
"Emangnya boleh, Tuan?"
"Boleh, kamu pakai sekalian juga kamar mandinya, jangan lupa disikat ya. Gerak cepat, jangan sampai Devano tahu," ujar Pak Broto sambil menahan senyum.
"Alhamdulillah, ternyata Tuan tidak seangker kumis Tuan," ledek Narsih langsung berlari ke lantai atas.
Pak Broto tertawa sambil meraba kumisnya yang melebar. Ia akan membuat anaknya kesal, jika tahu Narsih memakai baju Sekar dan juga mandi di kamar mandi Devano.
Benar saja, Narsih mandi dengan senang di dalam kamar mandi Devano, ada sampo dan sabun wanita yang sangat harum. Ia pakai semua, sebelumnya ia sudah menyikat kamar mandi itu terlebih dahulu. Keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan kimono handuk bewarna merah muda yang sepertinya milik almarhum istri Devano.
Ranjang pangeran di sana tengah melambai-lambai padanya, Narsih menguap. Tanpa mengganti pakaian, Narsih rebahan di atas ranjang super besar milik Devano.
"Aduh, mimpi apa aku bisa rebahan di sini," gumam Narsih sambil meraba betapa halusnya seprei yang ia tiduri saat ini. Begitu menikmati suasana nyaman, Narsih lupa akan pesan dari mertuanya agar ia mandi dan berpakaian dengan cepat. Wanita itu malah terlelap sangat nyenyak di atas ranjang suami jadi-jadiannya.
Narsih merasa terganggu dari tidurnya, hawa panas dan harum yang kini mulai ia hapal, berhasil membuat matanya terbelalak kaget.
"Tuan," cicitnya dengan wajah pucat, saat Devano kini sudah memandangnya dengan horor.
Buugh!
Narsih tersungkur di lantai kamar Devano, lelaki itu menarik paksa Narsih dengan kasar, sehingga Narsih jatuh di bawah kaki suaminya, dengkulnya terasa linu. Hatinya pecah, air matanya sebentar lagi akan mengalir deras.
"Berani sekali sampah seperti kamu tidur di kamarku, hah? Cari mati kamu, Narsih?"
"Maaf, Tuan. Maaf," Narsih ketakuatan, kilat marah di kedua netra Devano membuat nyalinya ciut. Dengan susah payah ia mencoba berdiri dengan maksud segera pergi dari kamar suaminya.
"Karena kamu sudah di kamarku, mari kita ulangi seperti kemarin. Aku akan bikin kamu mati di ranjangku."
****
6. Giyem
Narsih masih terlelap di atas peraduan Devano dengan sangat lelap. Begitu juga dengan Devano yang kini tengah memeluk pinggang Narsih. Tubuh keduanya berselimutkan kain tebal dan hangat, sehingga AC kamar yang dinyalakan cukup dingin, tidak menggangu kenyamanan tidur mereka. Tanpa sadar, Devano malah menarik tubuh Narsih agar semakin dekat padanya.
"Sekar," gumamnya dengan mata tertutup.
Suara yang ternyata membuat Narsih membuka matanya pelan, wanita itu menepuk keningnya setelah ia sadar di mana ia saat ini dan sedang apa.
"Ih... berat!" keluh Narsih sambil melemparkan lengan Vano yang masih melingkar manis di pinggangnya. Devano tersentak kaget, lelaki itu langsung terduduk dengan tubuh atasnya yang polos. Dengan kuat, ia mengucek kedua matanya, memastikan keadaan apa yang baru saja terjadi.
"S-siapa kamu?" tanya Vano dengan mata menyipit melihat Narsih.
"Nenek Grandong," sahut Narsih sebal. Perlahan ia turun dari ranjang suami jadi-jadiannya.
"Kamu Narjikan?"
"Saya Wendy." Narsih benar-benar sebal dengan setiap kalimat yang keluar dari mulut Devano, benar-benar sakti.
"Eh, kamu Narsih ya? Sana cepat keluar!" Devano baru saja sadar, tangannya terangkat mengusir Narsih untuk segera keluar dari kamarnya.
"Iya, sebentar! Ini lagi pake baju dulu,"sahut Narsih ketus.
"Ayo cepat!" Devano semakin tak sabar. Jangan sampai ia menerkam istri dekilnya iji lagi, jika wanita di depannya ini terlalu lama drama memakai baju.
"Tadi saja, aduh enak, aduh enak, lagi-lagi," cemooh Narsih dengan wajah sebal melihat Devano. Lelaki itu tak bisa menyahut lagi, ia hanya membuang pandangannya dari Narsih.
"Cepat!" teriaknya lagi.
"Iya, ini juga cepat! Siapa suruh nelanjangin saya?" ketus Narsih sesaat setelah memakai pakaian lengkapnya.
Susah payah ia berjalan ke arah pintu kamar Devano. Organ intimnya sakit dan terasa bengkak. Namun, dari pada dia harus mendesah lagi, lebih baik ia keluar dari kamar Devano. Sebelum membuka pintu, kepalanya menoleh, pada tumpukan baju almarhumah istri Devano yang bernama Sekar. Sebelum mandi tadi, Narsih sempat memilih beberapa baju Sekar yang ada di lemari. Menaruhnya di atas meja kecil yang ada di dalam kamar suaminya.
Tanpa permisi, Narsih membawa tumpukan baju Sekar keluar dari kamar Devano.
"Hei, kenapa kamu bawa baju istri saya? Kembalikan ke tempatnya!" teriak Vano dengan mata berkilat merah. Langkah Narsih terhenti. Ia berbalik badan, memandang Devano dengan tatapan tak kalah garang.
"Aku ga punya baju, kalau baju ini aku pakai setiap hari tanpa dicuci, aku yakin papa kamu di bawah sana bisa mati kebauan!" ketus Narsih sambil menunjuk kaus yang ia pakai.
"Tidak bisa! Kembalikan pakaian istriku?!" titiah Vano pada Narsih.
"Terus, aku ini apa?!" tantang Narsih sambil tajam mata Devano.
"Ha ha ha Kamu itu pelacur dekil, bau lagi," tawa Devano menggema di dalam kamarnya.
Narsih menahan air matanya agar tidak tumpah, ia tidak tahu harus bagaimana dengan lelaki yang bernama Devano ini. Mencoba perlahan mengatur nafasnya yang memburu karena sakit hati dengan ucapan lelaki yang di mata agama, sah sebagai suaminya.
"Nih! Ambillah!" Narsih melemparkan tumpukan pakaian yang sudah ia pegang ke wajah Devano, hingga membuat lelaki itu berjengkit kaget.
"Narsih! Berani sekali kamu!" bentak Devano dengan amarah memuncak. Namun, wanita yang ia panggil, kini suda tidak ada di hadapannya.
Narsih berjalan cepat masuk ke dalam gudang kembali, dengan air mata yang berlinang. Ia membanting pintu, lalu mengunci kamar itu dari dalam. Tubuhnya meluruh di lantai, kedua kakinya gemetar menahan sakit di dadanya yang bagai tertusuk belati.
"Pelacur dekil katanya," gumam Narsih pilu.
"Gue dekil dan bau gini masih lu genjot aja. Sial!" ocehnya lagi.
"Dasar gila!" umpat Narsih kesal, dengan susah payah ia berjalan masuk ke dalam kamar mandi, membuka pakaiannya dengan kasar, lalu mengguyur seluruh tubuhnya, berharap bekas usapan sang suami laknat ikut hanyut bersama busa sabun.
Narsih memilih mencuci pakaiannya dengan sabun mandi, begitu juga dengan pakaian dalamnya. Ia berpikir, biarlah untuk sementara, ia tidak memakai baju. Tubuhnya akan ia tutupi selimut saja, berharap besok baju yang ia cuci akan kering. Ia menjemur pakaiannya di teralis jendela.
Malam pun menjelang, perut Narsih kembali keroncongan. Maklum saja, sehabis digagahi oleh Devano, ia tentu kehabisan tenaga. Diliriknya piring makan yang masih tersisa mie goreng tadi pagi yang belum sempat ia habiskan semuanya. Narsih memilih menghabiskan mie goreng dinging yang mengeras untuk mengisi perut laparnya. Bahkan ia menjilati piring itu mie goreng sampai licin dan bersih. Setelahnya, Narsih kembali masuk ke dalam kamar mandi sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. Rasa dahaga yang sangat menyiksa membuat Narsih nekat kembali minum air mentah di kamar mandi.
Sementara itu, Devano kini tengah duduk di teras rumahnya bersama dengan Jelita, seorang wanita yang dahulu pernah menjadi teman kencannya selama dua bulan, saat ia betugas di Malang. Jelita adalah wanita malam yang sangat cantik dan memesona. Dua hari lalu, tanpa sengaja keduanya bertemu di sebuah pom bensin. Dari situlah mereka kembali bertukar nomor ponsel dan saling berbalas pesan.
"Rumah kamu besar sekali, kamu tinggal sendirian di sini?" tanya Jelita.
"Iya. Terkadang ada papa yang menginap di sini," jawab Vano.
"Kamu tidak punya pembantu?"
"Ada, lagi di kamar atas. Cape aku habis suruh bersih-bersih," jawab Vano sambil melirik sekilas ke dalam rumah, tepatnya ke lantai dua.
"Aku turut berduka cita ya atas kematian istri kamu, Sekar."
"Iya, terimakasih. Tetapi hidup harus terus berjalan, Ta. Jadi aku sekarang fokus untuk mencari pendamping lagi. Sayang sekali, jika rumah besar seperti ini tidak mempunyai ratu, apalagi rajanya setampan aku," ujar Vano sambil tersenyum dan menatap sendu wajah Jelita yang kini bersemu merah.
"Ya, cari atuh."
"Ini, wanitanya sedang ada di hadapanku," goda Devano yang kini sudah menarik jemari Jelita, lalu menciumnya dengan lembut. Entah siapa yang memulai, keduanya tengah beradu bibir di teras rumah.
"Kamu maukan menjadi istriku?" tanya Devano saat baru saja melepas pagutan bibirnya, pada Jelita.
Wanita itu mengangguk malu-malu. Kini, Devano sudah menggendong Jelita masuk ke dalam rumah, membawa wanita itu ke kamar tamu. Jika wanita dan pria berada di dalam kamar bersama, tanpa ikatan pernikahan, tahukan apa yang terjadi selanjutnya?
****
Sayup-sayup, suara adzan shubuh berkumandang. Narsih membuka matanya perlahan dengan tubuh masih ditutupi selimut. Dengan tertatih ia bangun, lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Menenggak air mentah itu kembali, hingga menyegarkan ternggorokannya yang terasa begitu kering. Setelah kenyang, ia pun mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat shubuh semampunya dalam keadaan darurat.
Tuk!
Tuk!
"Buka, Narsih!" suara seseorang dari balik pintunya. Narsih memutar bola mata malasnya, dengan enggan dia berjalan membukakan pintu.
"Ada apa?" tanyanya langsung.
Devano menarik lengan Narsih masuk, lalu menutup pintu kamar. Di tangannya ada sepotong pakaian. "Pakaiklah! Buatkan sarapan untukku dan calon istriku!" titah Devano sambil melemparkan kasar pakaian itu ke depan wajah Narsih.
"Maksudnya?"
"Aku akan menikahi Jelita, wanita itu ada di dalam kamar tamu. Jangan sampai dia tahu, kamu adalah istriku. Ingat, kamu itu pembantuku," ujar Vano setengah berbisik.
"Oke."
Narsih dengan kasar mendorong tubuh Devano keluar dari kamarnya, entah tenaga dari mana, sehingga ia mampu dengan kuat mendorong Devano hingga hampir terhempas di lantai.
"Kurang ajar kamu!" pekik Devano sambil melotot tajam. Namun, sayang sekali, Narsih sudah menutup pintu kamarnya, lalu kembali menguncinya. Wanita itu mencoba mengatur nafasnya, memikirkan baik-baik ucapan Vano barusan. Ingat, dia hanya pembantu, bukan istri! Narsih mengusap air mata yang kini turun membasahi pipinya.
Ia harus kuat, lelaki itu memang di mata agama adalah suaminya, tetapi di dalam kepalanya, lelaki itu adalah manusia sampah.
Narsih memakai pakaian yang diberikan Devano. Baju model terusan sampai betis, berbahan katun. Ada juga dalaman lengkap dengan branya. Setelah ia rapi berpakaian, Narsih langsung saja turun menuju dapur. Ia mengecek isi kulkas, masih ada dua butir telur. Dengan cepat ia menggoreng telur sambil memasak nasi. Dengan cekatan, ia juga membuatkan teh untuk Devano dan juga wanita yang katanya akan menjadi istri sah Devano.
"Cuih." Narsih meludahi teh hangat di dalam teko, lalu mengaduknya dengan cepat, sambil sesekali melirik ke atas. Jangan sampai Devano tahu apa yang baru saja ia lakukan. Narsih juga meletakkan piring nasi hangat dengan telur goreng di bawah roknya. Entah apa maksud dirinya melakukan hal ini, bisik hatinya yang terlanjur sakit membuat ia nekat melakukan hal yang tidak baik.
"Semoga, kedua orang yang minum air teh ini dan makan nasi ini, ketiban sial sepanjang hari," rapal Narsih sangat pelan.
Untung saja, ia sempat membuat mie rebus tadi. Juga membuat teh manis untuk dirinya. Sehingga rasa lapar di perutnya dapat mereda, saat ia menghabiskan sarapannya dengan cepat. Bahkan ia memasukkan dua bungkus mie instan ke dalam celananya, buat stok nanti siang, jika ia tidak diberi makan lagi.
Devano turun dari lantai dua sambil menggandeng mesra wanita cantik. Apa Narsih cemburu? tidak! Malah ia sangat mengasihani wanita yang mungkin tidak akan berumur lama setelah pernikahannya dengan Devano.
"Makanannya sudah siap, Giyem?" tanya Devano pada Narsih yang telah mengganti nama Aminarsih menjadi Giyem. Narsih tersenyum miris sambil menahan kesal.
****
7. Kesialan Jelita dan Devano
Narsih memilih keluar dari ruang makan, ia berjalan menuju taman belakang, untuk mengangkat jemuran yang kemarin ia jemur. Sesekali melirik ke dalam ruang makan, sambil tersenyum licik. "Makan tuh iler gue," ledeknya sambil menahan tawa. Ia kembali melanjutkan aktifitasnya dengan menyetrika pakaian yang ada di dalam keranjang. Entah berapa abad sang suami laknat tidak menyetrika pakaiannya. Tumpukan pakaian begitu banyak di dalam empat bak besar bewarna hitam.
Huk!
Huk!
Suara batuk-batuk wanita terdengar dari ruang makan. Narsih tersenyum sambil memainkan matanya, barisan gigi kuningnya ia perlihatkan pada tumpukan pakaian yang audah mengantre minta disetrika.
"Alhamdulillah," gumamnya, lalu melanjutkan aktifitas main mobil-mobilan.
Huk!
Huk!
Kini suara batuk Devano yang terdengar nyaring, bahkan kini keduanya saling batuk bersahutan.
"Emang enak, kena corona, ha ha ha hi hi hi," Narsih tertawa geli menutup mulutnya.
"Giyem! Huk...huk..." teriak Devano memanggil Narsih. Dengan malas, Narsih menekan tombol pause pada setrikaannya, lalu berjalan masuk ke dalam ruang makan. Dua orang di sana masih saja terbatuk-batuk, bahkan wajah Jelita memerah karena mungkin tenggorokannya sangatlah gatal.
"Ada apa, Paduka?" tanya Narsih sambil membungkukkan tubuhnya. Jika Devano memanggilnya Giyem, maka panggilan Devano juga akan dia ganti.
"Ck, panggilan apa itu Paduka? Ngaco aja! Sana, buatkan kecap dan jeruk nipis untuk kami minum!" titah Devano pada Narsih.
"Kecap tidak ada Paduka, jeruk nipis sudah kisut di dalam kulkas. Paduka yang Mulia sudah satu bulan tidak belanja ke supermarket. Saya saja makan cuma pakai nasi dan telur," terang Narsih dengan mimik muka dibuat semelas mungkin. Maksud hati agar wanita yang kini tengah di rangkul pundaknya oleh Devano itu, ilfeel. Tetapi wanita itu malah kini berwajah sumringah.
"Ayo, kita belanja saja, Sayang," ucap Jelita mendayu-dayu.
"Tapi aku ada meeting jam sembilan, tidak bisa. Kamu saja yang belanja ya. Beli apa saja yang kamu inginkan," ujar Vano sambil mengeluarkan kartu sakti dari dalam dompetnya.
"Terimakasih, Sayang. Aku boleh beli tas juga ga? Ada keluaran baru dari produk ZARA," rengek Jelita pada Devano.
"Tentu boleh, Sayang. Kartu ini unlimited. Sekalian cari juga gaun untuk pernikahan kita ya," ujar Devano sambil melirik Narsih sekilas.
Pemandangan yang membuat Narsih miris. Sekuat tenaga ia menahan air mata agar tidak tumpah. Dia istri, minum saja masih dengan air mentah. Ini, wanita jadi-jadian malah disuruh belanja, membeli baju pernikahan pula. Narsih menggeram dalam hati. Ia lebih memilih kembali ke ruang belakang, sambil sesekali menghapus air matanya. Mulai saat ini, detik ini, ia tidak akan berharap apapun dari pernikahan gila ini. Anggap saja ia memang hanya sebagai pembantu di rumah keluarga Vano.
"Giyem, tolong pijatkan kaki saya! Kok pegal banget." Jelita memanggil Narsih agar mau memijatnya. Narsih menggigit gemas sempak Devano, sebelum akhirnya dia melemparkan kasar celana dalam itu ke atas meja setrika.
"Iya, Mbak. Sebentar," sahut Narsih, lalu berjalan ke arah ruang televisi. Sudah ada Jelita sang calon nyonya yang tengah berbaring di sofa sambil membaca majalah. Mata Narsih mencari di mana kiranya keberadaan Vano, namun tidak ia temukan sama sekali tanda kehidupan Vano di dalam rumah.
"Majikan kamu sudah berangkat. Ayo sini, tolong pijat kaki saya!" titah Jelita.
"Saya tenaganya kuat, Mbak. Nanti Mbak tidak kesakitan?"
"Mulai hari ini, belajar panggil saya Nyonya, ya. Karena mungkin dua pekan lagi, saya akan menjadi nyonya rumah ini," ujar Jelita penuh percaya diri. Narsih kembali merasakan perih di dalam hatiya, namun senyuman tetap ia berikan pada sang wanita yang terlalu percaya diri di depannya ini.
"Baik, Nya."
"Bagus."
"Muk," lanjut Narsih sangat pelan, hingga Jelita tidak menyadari ucapan Narsih. Nya-muk. Ha ha ha ...
"Saya ambil minyak kayu putih dulu di belakang ya, Nya-muk."
"Oke, silakan!" Narsih meninggalkan Jelita di ruang televisi. Kakinya melangkah lebar menuju dapur, lalu membuka kotak obat. Senyumnya terbit, tatkala melihat ada param kocok panas dan juga minyak kayu putih botol besar di dalam kotak obat. Dengan sejuta muslihat, isi botol tersebut ia tukar.
Dari kejauhan, senyum manis ia berikan pada Jelita yang kini juga ikut tersenyum padanya.
"Sini, Nya. Kakinya!" Narsih meluruskan kedua kaki Jelita. Lalu dengan perlahan menuangkan cukup banyak minyak param kocok yang bercampur aroma minyak kayu putih yang telah ia tukar.
Narsih mulai memijat kaki Jelita dengan tenaga penuh, hingga wanita itu meringis sakit.
"Au, pelan Giyem! Sakit," keluhnya.
"Ini urat kakinya ada yang bengkok, Nya. Sabar ya," ujar Narsih menenangkan.
"Kamu pakai minyak apa? Kok panas sih?"
"Ini, Nya. Ada di kotak obat belakang." Narsih menunjulkan botol minyak kayu putih yang berisi minyak param kocok.
"Aduh, panas nih. Aduh...udahan aja deh. Saya mau ke kamar mandi dulu, panas banget," ujar Jelita blingsatan mengibas kakinya dengan tangan.
Wanita itu bergegas naik ke lantai atas untuk mandi, sedangkan Narsih tertawa senang. Ia berjalan santai ke dapur untuk mencuci tangan di wastafel.
Merendam jemarinya dengan air sabun cuci piring yang diberi air hangat. Walaupun ini berlaku untuk tangan yang panas karena cabai, tetapi efektif juga untuk mengurangi rasa panas akibat minyak gosok.
****
Sementara itu, Devano tengah berada di sebuah bengkel mobil. Di tengah jalan tadi, ban mobilnya pecah, sehingga ia terpaksa mendorong mobilnya ke bengkel terdekat yang dibantu oleh tiga orang. Untung saja, pagi ini ia menggunakan mobil sedan miliknya yang masih manual. Apa jadinya jika ia menggunakan mobil sport miliknya, dijamin tidak bisa bergerak, harus memanggil mobil derek.
Ponselnya dari tadi berdering, sang papa yang memanggilnya di seberang sana. Sudah hampir pukul sembilan, ia belum juga sampai di kantor. Masih menunggu montir menyelesaikan pekerjaan pada ban mobilnya.
[Hallo, kamu di mana, Van? Sudah mau mulai ini.]
[Ban mobil Vano pecah, Pa. Tunggu ya, mungkin lima belas menit lagi selesai.]
[Ya sudah, papa tunggu.]
Vano mematikan ponselnya, lalu memasukkan ponsel tersebut ke dalam saku celananya.
"Sudah selesai, Pak. Semuanya enam puluh lima ribu," ucap sang montir.
"Oke." Vano meraba saku celana sebelah kanan, tempat ia biasa menaruh dompet. Berkali-kali meraba sakunya, tidak ia rasakan ada benda bernama dompet di sana. Wajahnya seketika panik, di mana dompetnya?
"Kenapa, Pak?" tanya montir.
"Tunggu ya, saya cek di mobil. Kenapa saya tidak bawa dompet ya," ujar Vano sambil berjalan cepat membuka pintu mobilnya. Matanya terus saja mencari di mana keberadaan dompetnya, tetapi tetap tidak ada.
"Bagaimana, Pak?" wajah montir yang kumal belepotan oli kini menatap horor wajah Devano.
"Mm...begini, Mas. Saya kelupaan membawa dompet. Bisa saya bayarnya nanti sepulang saya dari kantor?"
"Kalau tidak bisa bayar, silakan tinggalkan saja mobil di sini. Nanti, setelah punya uang silakan diambil. Bawa saja kuncinya," terang montir memberi solusi.
"Duh, saya buru-buru, Mas," timpal Vano lagi.
"Jam tangan bapak saja jadi jaminan," tunjuk montir pada jam tangan mahal yang melingkar di tangan Devano.
"Ya sudah, sore saya ambil, Mas." Devano membuka jam tangannya, lalu memberikan pada montir. Secepat kilat ia kembali masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanannya ke kantor.
"Aduh, hari ini repot sekali!" gerutu Devano di dalam mobil.
Huk!
Huk!
Ia kembali terbatuk-batuk di dalam mobil, tangannya meraba tempat air yang biasa ia selalu bawa. Sial! Dia lupa membawanya pagi ini.
Huk!
Huk!
Devano terbatuk-batuk di dalam mobil, begitu juga Jelita di rumah. Bahkan lipstik yang ia pakai sampai mencoret pipi karena batuk yang sangat kencang. Dengan berlari, Jelita turun ke bawah. Bermaksud minum air hangat.
Narsih hanya melirik sekilas sambil menahan tawa. Masa ia kena iler doang, sama hawa selangkan gue langsung TBC, ha ha ha ha Narsih bersorak dalam hatinya.
"Giyem...huk...huk, air uhuk..panas mana uhuk...sa..huuk!"
"Sebentar saya masak dulu, Nya. Dispensernya rusak, jadi ga ada air panas," sahut Narsih sambil masuk ke dapur, memasak sedikit air untuk Jelita. Untuk menghilangkan rasa gatal ditenggorokannya, Jelita meminum air dingin yang ada di dalam lemari es. Bukannya hilang, tenggorokannya malah semakim gatal. Tanpa sepengetahuan Jelita, yang sibuk merejan karena batuk, Giyem, eh...Narsih kembali meludahi gelas air putih hangat untuk jelita. Kemudian dicampur dengan air dingin yang ada di dalam kulkas.
Jelita langsung menenggak air hangat yang diberikan Narsih. Tanpa memperhatikan ada buih di dalam sana. Dalam hati, Narsih berkata, "semoga kesialan lainnya segera menyusul."
****
Sore hari, sepulang dari kantor. Devano kembali menyambangi bengkel mobil tempat ia menjaminkan jam tangannya. Ia dipinjamkan uang satu juta oleh Pak Broto untuk menebus jam tangan miliknya.
Terlibat sepi, tidak ada kustomer. Hanya ada satu orang montir berusia senja sedang menikmati sebatang rokok sambil bermain ponsel. Devano memarkirkan mobilnya tepat di depan bengkel. Lalu turun dengan sedikit tergesa. Karena ia harus segera menjemput Jelita di sebuah mall.
"Permisi,Pak. Saya mau bertemu dengan montir muda yang memiliki tahi lalat besar di hidung," ujar Devano pada pria baruh baya itu.
"Oh, si Maman baru aja pulang kampung, istrinya sakit."
"Oh gitu, tapi Mas Maman ada menitipkan jam tangan tidak, Pak?"
"Tidak ada."
****
8. Devano yang Menyebalkan
Memang dasar wanita, tubuh masih terasa panas, serta terus saja terbatuk-batuk, tetap tidak menyurutkan semangatnya untuk berbelanja di mall. Apalagi sudah memegang kartu sakti unlimited, maka ia akan berbelanja sepuasnya dan penyakitpun hilang.
Sambil mendorong troli belanja yang sudah penuh barang belanjaan, sesekali juga ia mengecek ponselnya, belum ada kabar dari Devano, padahal lelaki itu berjanji menjemputnya. Tidak mungkin ia membawa berkantong-kantong belanjaan barang dapur sambil membeli baju dan sepatu.
"Ck,mana sih?" matanya terus saja mencari keberadaan Devano yang tidak kunjung terlihat.
"Dasar Giyem aneh! Masa calon majikan disuruh beli udang, ikan, telur, gula, beras, dan masih banyak lagi. Hadeeeh," gerutu Jelita sambil menggelengkan kepala.
Jelita memutuskan untuk masuk ke antrean kasir yang sudah kosong, dengan mahir sang kasir menghitung satu per satu barang belanjaan Jelita, lalu dimasukkan ke dalam goodie bag besar sebanyak tiga kantong.
"Semuanya dua juta dua ratus, Bu."
"Saya belum menikah, Mbak. Panggil saja, Mbak atau Teteh," protes Jelita tidak suka dengan panggilan yang diucapkan sang kasir.
"Maaf, Mbak." Petugas kasir tersenyum kaku, melirik dandanan Jelita yang lebih mirip tante girang dari pada ibu rumah tangga.
"Sebentar," ucapnya seraya meraba tasnya, mencari kartu sakti pemberian Devano. Hingga satu per satu isi tas kremesnya ia keluarkan, tetap ia tidak menemukan di mana kartu sakti Devano berada. Seketika kakinya lemas, detak jantungnya mengalun sangat cepat.
"Mbak, maaf. Yang lain sudah mengantre," tegur sang kasir pada Jelita, benar saja, Jelita menoleh ke samping, sudah ada lima orang yang mengantre di belakanganya dengan wajah tak sabar.
"Aduh, Mbak. Maaf, kartu belanja saya ketinggalan. Saya bayar cash aja ya," ujar Jelita sambil merogoh isi dompetnya, hanya ada enam lembar uang merah di sana.
"Saya yang ini dan ini, tidak jadi Mbak, sama ini juga, dan ini, ini, ini, ini, dan ini." Jelita menggeser lebih dari dua puluh barang, meminta kasir untuk meng-cancel barang belanjaan yang yang sudah ia pinggirkan. Jangan ditanya malunya seperti apa, seandainya ia bisa menghilang saat ini, maka ia akan menghilang dengan segera. Sepatu dan tas mahal yang ia kenakan saat ini, ternyata tidak berharga bila isi dompetnya tipis.
"Dandanan sih ngartis, isi dompet karyawan pabrik," bisik seorang wanita pada temannya, mereka berdiri tepat di belakang Jelita.
"Kalau gue sih, mending mati aja dari pada malu depan orang banyak," timpal teman wanitanya.
Jelita menutup telinga rapat-rapat, mengambil satu kantong belanjaan yang sudah ia minimalis. Hanya kecap, aneka mie instan, gula, teh, kopi, telur, daging, detergen dan juga sampo, serta sekantong buah apel dengan berat tiga kilo untuk dirinya.
Tanpa menoleh lagi, Jelita mendorong troli menuju pintu keluar. Rasa malu, telah membuat tubuhnya gerah tak menentu. Ditambah lagi Devano belum juga datang dan perutnya sudah lapar.
"Jelita!" suara Vano sedikit berteriak.
"Maaf, lama ya," ujar Vano dengan wajah memelas.
"Udah selesai belanjanya? Kok cuma sedikit?"
"Kartu kamu entah ada di mana, padahal tadi sudah aku masukkan tas."
"Aduh, kok bisa? Kamu tidak hati-hati sih. Duh, gimana ini?" Vano meremas rambutnya kasar.
"Maaf ya sayang," rengeknya manja sambil menggosok perutnya.
"Aku lapar, mau makan," rengek Jelita lagi.
"Makan di rumah saja ya. Itu ada belanjaan," tunjuk Devano pada kantong biru yang masih berada di dalan troli.
"Ini bayar pakai uang aku satu juta lho, Van. Nanti diganti ya?"
"Iya, nanti aku ganti. Mahal juga ya, belanja satu kantong doang satu juta," komentar Devano yang kini sudah mendorong troli ke area parkir mobil.
"Ck, ada-ada saja. Jangan sampai itu kartu kredit ditemukan orang lain. Bisa habis gue!" gumam Devano kesal.
****
Selesai menyapu rumah besar Devano, Narsih melanjutkan kegiatannya dengan mengepel lantai. Pekerjaan yang benar-benar menguras tenaga, hingga baju yang dipakai Narsih basah oleh keringat. Puas melihat hasil pekerjaannya, Narsih memilih membuat teh manis dan duduk santai di depan televisi.
Tangannya terulur mengusap kulit sofa mahal yang sangat halus dan lembut. Tangan Narsih tanpa sengaja meraba sesuatu seperti kartu dari balik bantal sofa. Ia lalu mengambilnya dan tersenyum senang. "Berarti itu si Nyamuk Julita tidak bawa kartu. Ha ha ha ha ..." Narsih terbahak, lalu dengan sekuat tenaga mematahkan kartu sakti milik Devano.
"Gue bininya ga dikasih belanja pake kartu, maka wanita lain juga ga boleh belanja pake kartu laki gue."
Pletak
Setelah kartu terbagi dua, Narsih melemparkannya ke dalam bak sampah di dapur. Ia pun melanjutkan acara menontonnya sambil menikmati segelas teh manis hangat.
Bosan menonton acara film yang selalu saja bertemakan percintaan, Narsih memilih ke dapur. Memang ia belum mengecek semua bahan makanan yang ada di dapur. Dengan bantuan sebuah kursi, Narsih membuka lemari kitchen set bagian atas. Betapa kagetnya ia melihat ada beberapa bahan olah untuk membuat kue, seperti terigu, tepung sagu, gula bubuk, kacang hijau, kacang tanah, margarin, beberapa pewarna makanan, dan juga sebuah kotak mixer.
Narsih membawa turun beberapa bahan, ia mulai menuangkan tepung ke dalam baskom. Tahukan apa yang akan dibuat oleh Narsih? Ya, Narsih memilih membuat peyek kacang, seperti waktu dahulu ia selalu ditugaskan oleh Yasmin, mantan majikannya.
"Semoga Bu Yasmin dan Mas Jaja berjodoh ya. Ah... jadi kangen Reza," gumamnya dengan mata berkaca-kaca. Narsih teringat Reza, anak majikannya yang selalu saja cerewet kalau ia sedang berada di dapur.
"Pasti sekarang, Reza sudah kelas lima SD," gumamnya lagi sambil terus mengaduk tepung yang telah diberi air.
Ia pun dengan asik menggoreng peyek kacang, tanpa mengetahui bahwa Devano dan Jelita sudah kembali ke rumah. Jelita turun dari mobil dengan wajah masam dan perut lapar.
"Gi...Gi...!" suara Jelita setengah berteriak.
"Benar-benar dua orang gak waras nih, nama gue cakep-cakep Aminarsih, diganti Giyem. Sekarang Gi...Gi...gila apa ya?" gumam Narsih sambil mematikan sebentar api kompornya.
Setengah berlari Narsih menghampiri Jelita dan Devano yang sudah duduk di ruang televisi, tampak keduanya kelelahan. Devano tak lama segera bangkit dari duduknya, lalu berjalan naik ke lantai dua.
"Ada apa, Nya-muk?"
"Angkat belanjaan yang di dalam mobil. Kemudian ambilkan saya nasi, saya lapar."
"Oke, saya masak dulu berasnya. Nyonya sudah beli berasnyakan?" tanya Aminarsih dengan tatapan mencurigakan pada Jelita.
"Ya ampun, saya lupa!" Jelita menepuk keningnya dengan keras.
"Duh, gimana mau makan kalau tidak ada beras?" Aminarsih memutar bola mata malasnya. Kalau gua jadi majikan, lu pembantu lupa beli beras, udah gue pites lu Juliiiit! Geram Narsih dalam hati. Jujur ia pun lapar, menunggu beras datang agar bisa segera dimasak.
"Aduh, mana saya lapar banget," keluh Jelita.
"Saya buatkan mie instan saja deh. Dibeli ga mienya?"
"Beli, itu ada di kantong belanja. Tapi, saya tidak bisa makan mie," jawab Jelita sambil memegang perutnya.
"Ada makanan apa di dapur?"
"Peyek kacang."
"Ya sudah, saya makan peyek kacang saja."
"Gak takut batuk?"
"Nggak."
Aminarsih bergegas ke dapur, mengambil toples besar yang berisi peyek kacang yang warna coklatnya menantang lidah ingin segera mencicipinya. Wanita yang berstatus istri sah Devano itu, membuka tutup toples, lalu kembali memercikkan air ludahnya di sana. "Semoga besok kedua spesies jadi-jadian itu kembali sial."
"Jadi kamu lupa beli beras? Aduh, Jelita... yang benar saja. Jadi kita makan apa?" Devano mendesah kesal.
"Ada peyek Paduka, makan ini saja." Narsih meletakkan satu toples besar berisi peyek kacang buatannya.
"Kamu yang bikin?" tanya Devano.
"Iyalah, masa setan bisa bikin peyek. Setan mah ga suka masak, sukanya belanja," ujar Aminarsih sambil melirik Jelita.
"Ya sudah, sana! Buatkan kami minum!" tangan Devano mengusir Narsih agar segera pergi ke dapur. Wanita itu menurut, berjalan ke dapur untuk membuatkan teh untuk Devano dan juga Jelita.
Huk!
Huk!
Huk!
Huk!
Suara batuk-batuk menggema dari ruang televisi. Ternyata benar, Devano dan Jelita sedang saling sahut batuk. Bahkan wajah keduanya memerah. Cepat Narsih berjalan ke ruang televisi dengan dua cangkir teh di tangannya. Betapa kaget ia, saat melihat toples besar peyek sudah kosong.
"Makanya, Nyonya-Tuan, kalau makan peyek itu dikunyah, jangan langsung telan kayak bubur. Jadi batuk deh," komentar Narsih sambil meletakkan teh di atas meja.
Ia pun langsung naik ke kamarnya tanpa memedulikan dua orang uang masih saja terbatuk di bawah sana. Tubuhnya sangat lelah dan berpeluh. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. Narsih meraba baju kaus yang ia gantung di teralis jendela, ternyata sudah kering sehingga bisa ia pakai kembali.
Sedang asik menggosok rambutnya dengan sampo yang dibeli Jelita, suara pintu kamarnya terdengar dibuka. Narsih terdiam, dadanya berdebar hebat. Jangan! Devano tidak boleh menyentuhnya lagi.
Kkreek
"T-tuan mau apa?" Narsih yang kaget, refleks menutup kedua dadanya dan merapatkan pahanya.
Cup...mmmpp...
Mata Narsih terbelalak, saat Devano tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar mandi dan mencium rakus bibirnya. Mereka mengulangi aktifitas panas di dalam kamar mandi.
Jelita sedang menunggu Devano di kamarnya, lelaki itu pamit sebentar mau memberi makan anjingnya. Namun, sudah satu jam belum juga kembali ke kamar Jelita.
"Masa gagal lagi sih? Kemarin tidak jadi karena dia ketiduran di kamarnya, masa malam ini dia ketiduran lagi di kandang anjing," gumam Jelita yang akhirnya memutuskan untuk tidur saja.
"Katanya jijik, tapi dipake terus," omel Narsih sambil melemparkan tangan Devano dari pinggangnya. Lelaki itu kini terlelap kembali di kamar Narsih.
****
🤣🤣🤣 Jijik sih sama orangnya, sama anunya nggak. Dasar Panuuu!!🤣
9. Jin Penungu Rumah
Narsih terbangun dari tidurnya, saat adzan shubuh berkumandang. Dengan malas ia menoleh pada lelaki yang menjadi suaminya kini, ada air liur yang menetes di sudut bibir lelaki itu karena tidur dengan mulut terbuka. Mati-matian Narsih menahan tawanya. Dasar aneh! Pikirnya. Dengan perlahan, Narsih masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka dan juga menyikat giginya dengan telunjuk. Karena sikat gigi pesanan Narsih tidak dibeli oleh Jelita. Setelahnya, ia kemudian berwudhu dan melaksanakan sholat shubuh seadanya karena tidak ada mukena di rumah keluarga Devano ini.
Devano masih terlelap, sambil sesekali tersenyum dalam tidurnya. Narsih yang memperhatikan tingkah suaminya, tentu saja tersenyum kecil. Mulut saja yang pedas, wajah polosnya seperti anak PAUD lagi mimpi dibelikan es krim, gumam Narsih sebelum ia akhirnya keluar kamar. Narsih melewati kamar wanita calon istri kedua suaminya. Masih sepi tiada suara apapun di sana.
Narsih melanjutkan aktifitasnya menyalakan mesin cuci, sambil memasak air untuk diisi ke dalam termos air panas. Ia menyalakan kompor yang masih kosong, merebus air di dalam panci, dengan maksud membuat mie goreng.
"Mau masak apa?"
"Allahu Akbar!" pekik Narsih kaget saat Jelita dengan baju tidur seksi menghampirinya di dapur.
"Kaget saya. Mau masak mie goreng, Nya," jawab Narsih sambil mengiris bawang.
"Bikin yang banyak ya. Saya lapar, kemaren malam hanya makan peyek saja."
"Apalagi saya, Nya. Minum air putih doang, orang Peyeknya dihabiskan Nyonya sama Paduka," jawab Narsih.
Kening Jelita berkerut, saat memandang leher Narsih yang kemerahan di beberapa titik. Rambut basah Narsih yang digelung handuk, membuat warna kemerahan hampir coklat itu membuat pandangan Jelita terganggu.
Jelita yang memang sudah pakar dalam urusan ranjang, tentu saja tahu itu tanda apa. Namun, ia tidak mau berburuk sangka. Tidak mungkin Devano pelakunya, karena saat ini Devano masih tertidur di kandang anjing.
"Leher kamu kenapa, Gi?" tanya Jelita penuh selidik.
"Eh, emang kenapa, Nya?" Narsih meraba lehernya. Tidak terasa apapun di sana, tidak gatal ataupun sakit. Memangnya kenapa dengan lehernya. Narsih tidak paham.
"Warna merah di leher kamu itu seperti bekas dihisap," tunjuk Jelita.
Narsih tersadar, ia baru saja paham maksud pembicaraan Jelita. Tanda merah yang telah dibuat oleh Devano di sekujur tubuhnya.
"Siapa yang melakukannya?" desak Jelita sambil menatap sorot mata Narsih.
"Nyonya belum tahu satu rahasia ya. Rumah ini ada jin penunggunya, tubuhnya tinggi besar. Rambutnya gondrong, ada tahi lalat di dekat ujung ketiaknya. Dia yang suka mendatangi saya malam hari," bisik Narsih dengam ekspresi meyakinkan.
"Hah? Serius?"
"Ck, benar Nya. Nyonya pernah ga saat tidur, tahu-tahu seperti ditindih tubuhnya oleh sesuatu yang besar, sampai bernafas saja tidak bisa?"
"I-iya, pernah."
"Nah, itu dia Nya, kalau jin di rumah ini suka sama yang dekil kayak saya, ga bakalan nyentuh Nyonya yang mulus seperti ini. Jadi Nyonya tidak perlu takut," terang Narsih sambil tersenyum.
"Serem juga ya, duh...saya jadi takut mau mandi di atas. Temani yuk!" Jelita menarik lengan Narsih.
"Saya mau masak sarapan, Nya," Narsih enggan, ia menahan tubuhnya.
"Narsiiiih...!" teriak Devano dari lantai atas, membuat Narsih dan Jelita menoleh.
"Siapa Narsih?" tanya Jelita pada Narsih.
"Kamu cari siapa, Sayang?! suara Jelita sedikit berteriak menjawab panggilan Vano. Lelaki itu menepuk jidatnya, ia lupa kalau Narsih ia ganti nama dengan Giyem.
"Narsih...guk..guk...!" Devano berakting memanggil anjing peliharannya.
"Oh, anj**ng. Namanya lucu juga ya. Nama pinggiran," gumam Jelita pada Narsih.
Dengan wajah geram, Narsih kembali memasak. Tak dipedulikannya Jelita yang kini menghampiri Devano di atas sana. Tidak ada cinta, maka tidak ada cemburu. Jika bisa bercerai saat ini juga, tentu ia lebih memilih bercerai dari lelaki seperti Devano.
Narsih memasukkan empat bungkus mie instan ke dalam air yang sudah mendidih. Mengaduknya sebentar, lalu menuangkan bumbu ke dalam mangkuk besar.
Cup
Narsih berjengkit saat Devano tiba-tiba mencium pipinya, wanita itu menatap horor ke arah Devano. Lalu ia bergegas ke wastafel untuk mencuci pipinya yang baru saja dicium Devano. Tidak ada Jelita di sana, sehingga buaya darat ini bisa melakukan semauanya pada Narsih.
"Narsih itu nama saya ya, bukan nama an**ng!" ketus Narsih pada Devano.
"Ha ha ha ... bukannya kamu juga sama seperti itu, mau saja saya suruh ini-itu, tanpa pakaian pula," tawa Devano menggema. Lelaki itu merasa menang dengan Narsih.
Sekuat tenaga Narsih menahan air mata atas hinaan Devano yang mengumpamakan dirinya dengan seekor binatang peliharaan. Ia tidak mau menoleh pada Devano, hatinya sakit, seluruh tulangnya seakan lepas dari persendian saat kalimat menyakitkan itu keluar dari mulut Devano.
"Kalau saya seperti anj*ng, kenapa masih anda pakai?"
"Bukankah itu tandanya anda lebih rendah dari pada binatang itu?"
Narsih mengusap air matanya kasar di depan Devano. Ingin sekali rasanya, pisau yang kini ia pegang, ia tusukkan saja ke perut lelaki yang berdiri terdiam di depannya ini.
"Kamu harus bersukur, walau jelek, kurus tinggal tulang, dan kumal, aku masih mau menidurimu," bisik Devano dengan suara meremehkan.
Narsih tidak menanggapi lagi ucapan Devano, hingga lelaki itu pergi dari hadapannya. Narsih melanjutkan memasak mie goreng, lalu ia menyajikannya di atas meja makan. Tak lupa seteko air teh manis untuk Devano dan Jelita. Jangan dikira ia lupa untuk memberikan ludahnya pada teko air teh. Bahkan ia meludahi sepuluh kali air teh tersebut.
Narsih memilih sarapan di taman belakang. Mencoba menyuapkan sendok demi sendok mie goreng ke dalam mulutnya, namun sangat sulit untuk ia telan. Mie itu tertahan di dalam mulutnya, hingga pipinya menggembung. Air mata masih saja turun, tanpa bisa dibendung, bahkan air bening itu, kini membasahi piring yang masih ada terisi mie goreng.
Kelakar yang terdengar dari ruang makan, membuat hatinya panas. Ia benar-benar tidak dianggap , hanya sebagai peliharaan dan babu yang bisa dipakai oleh lelaki yang bernama Devano dalam status halal di mata agama.
"Mbak, kenapa?" tanya Pak Samsul yang baru saja masuk ke taman belakang.
"Eh, ga papa, Pak," jawab Narsih kikuk. Lalu dengan cepat menghapus air matanya.
"Pak Samsul sudah makan? Masih ada mie goreng di dalam, mau tidak?" tawar Narsih pada supir Devano.
"Sudah tadi di rumah, kalau ada teh manis, saya mau itu saja," sahut Pak Samsul.
"Baik, Pak. Tunggu sebentar!" Narsih meletakkan piringnya di meja, lalu bergegas masuk ke dapur untuk membuatkan teh untuk Pak Samsul.
Tak butuh waktu lama, Narsih sudah kembali ke taman belakang dengan satu cangkir teh manis hangat. Lalu memberikannya pada Pak Samsul. Pemandangan yang sedari tadi diperhatikan oleh Devano dan ia tidak suka, saat Narsih terlihat tersenyum pada supirnya.
"Giyeeem!" Jelita menoleh.
"Ada apa, Sayang?"
"Ah, tidak. Aku lupa memberitahu Giyem, kalau kamar mandi di kamarku harus segera disikat," kilah Devano.
"Ya, Paduka. Ada apa?" dengan tergopoh Narsih menghampiri Devano.
"Ikut saya ke atas! Lihat kamar mandi saya belum kamu sikat!" belum sempat Narsih menjawab, Devano sudah menarik dengan kasar tangan Narsih hingga sampai di kamarnya di lantai dua.
Bugh!
Narsih dihempaskan ke lantai oleh Devano.
"Apa lagi kali ini salah saya?" tanya Narsih lirih dengan menahan nyeri di lututnya.
"Aku tidak suka peliharaanku, berbicara manis pada lelaki lain," ujar Devano sambil mencubit dagu Narsih.
"Cih...cemburu?" tantang Narsih dengan berani menatap wajah Devano.
"Mimpi!" Narsih kembali terjerembab di lantai, saat Devano mendorong keningnya dengan cukup kuat.
"Aku bersumpah tidak akan pernah memaafkan semua perbuatan biadabmu," janji Narsih pada dirinya, saat kini kedua tangannya diikat di kepala ranjang Devano.
Lelaki itu menggagahinya Narsih kasar dengan kedua tangan terikat. Berkali-kali Devano menghentak Narsih, membuat Narsih hampir saja hilang kesadaran.
"Tolong, bunuh saja aku!" lirih Narsih sesaat sebelum ia pingsan.
****
10. Berencana Kabur
Tuk!
Tuk!
Tuk!
"Vano...Giyem! Buka pintunya!" teriak Jelita dari luar kamar Devano. Jelita menunggu dengan gelisah, sambil menggigit kukunya dengan kasar, ia kembali mengetuk pintu kamar Devano.
Bugh!
Bugh!
Kali ini ia menggunakan kepalan tangannya untuk menggedor pintu kamar Devano dengan keras.
"Non, sini!" Pak Samsul menarik Jelita menjauh dari depan kamar majikannya.
"Lepas! Ngapain sih, pegang-pegang?" Jelita menghempaskan tangan Pak Samsul yang memegang lengannya.
"Ck, jangan ganggu Tuan dan Nyonya Devano," bisik Pak Samsul dengan ekor mata melirik kamar Devano.
"Maksud kamu apa? Siapa yang nyonya di sini?"
"Itu Narsih, istri Tuan Devano."
"Siapa Narsih?"
"Narsih itu yang Non panggil Giyem. Dia istri sah Tuan Devano baru seminggu nikah."
"Lha, bukannya Devano duda?"
"Siapa bilang? Tuan Devano sudah menikah kembali sepekan yang lalu dengan Aminarsih."
"Tahu gak, kenapa Tuan Devano menikah dengan Aminarsih?"
Bahu Jelita melemah, ternyata Devano berbohong. Bukannya ia mengaku duda dan belum menikah kembali. Kenapa sekarang malah ia sudah menikah dengan pembantu.
"Kenapa?" tanya Jelita tanpa minat lagi.
"Setiap wanita yang dinikahi Tuan Devano meninggal, setelah dua hari menikah. Ada yang terpeleset di tangga, ada yang serangan jantung, gantung diri karena kesambet jin. Serreem deh pokoknya!" cerita Pak Samsul antusias sambil bergidik ngeri.
"Hanya Narsih yang panjang umur. Non harus hati-hati sama Narsih, siapa tahu dia punya jampe," bisik Pak Samsul menakut-nakuti Jelita.
Bukan hanya Pak Samsul yang bergidik, Jelita pun ikut bergidik ngeri, kakinya melangkah masuk ke dalam kamar tamu, lalu memasukkan pakaian yang sudah ia taruh dalam lemari. Dengan wajah sedikit pucat dan gerakan secepat kilat, ia meninggalkan rumah Devano. Bahkan tanpa menoleh lagi ke belakang.
"Non, mau ke mana?" tanya Pak Samsul saat menghampiri Jelita yang sudah memegang pintu pagar.
"Mau pulang saja. Saya takut, masa ia udah mati, baru dua hari nikah. Tobat aja belum," sahut Jelita sambil memencet aplikasi ojek online di ponselnya. Pak Samsul menahan tawa, matanya memperhatikan tas yang dibawa oleh Jelita. Kenapa terisi penuh? Apa memang pacar majikannya ini membawa banyak baju? gumam Pak Samsul dalam hati.
"Sampaikan pada majikan kamu, dia punya utang pada saya satu juta, belum dibayar. Segera ditransfer hari ini juga!" titah Jelita ketus pada Pak Samsul. Lelaki itu mengangguk paham.
Ojek online pun sampai di depan rumah Devano, lalu membawa pergi Jelita dari sana. Pak Samsul menarik nafas lega, ia tidak bisa menolong Narsih secara terang-terangan. Biar dengan cara seperti ini saja ia membantu mengurangi kesulitan Narsih.
Sementara itu di kamarnya, Devano masih terlelap sangat pulas. Tali pengikat Narsih telah ia lepaskan saat tahu wanita itu pingsan. Ia tak sadar, saat Narsih dengan tertatih menahan sakit di pangkal paha, serta luka lebab di pipinya akibat tamparannya, berjalan keluar kamar dari kamarnya, dengan sangat pelan dan hati-hati. Ia menarik selimut tebal yang menutupi tubuh Devano, untuk menutupi tubuh telanjangnya.
Dengan membiarkan pintu kamar terbuka lebar, pemandangan Devano tidur menyamping tanpa sehelai benang pun pasti membuat mata yang melihatnya bergidik ngeri. Narsih sengaja membiarkan pintu itu tidak tertutup lagi, ia memilih berjalan masuk ke dalam kamar lalu membersihkan diri.
Devano tersentak dari tidurnya, tepat saat Pak Samsul pun berdiri di depan kamar Devano yang terbuka lebar.
"Waduh, mana selimut saya ini?" Devano gelagapan mencari selimut yang tidak ada di sekelilingnya. Pak Samsul memalingkan wajah karena malu sendiri, melihat lelaki telanjang gelagapan mencari penutup tubuh.
"Tutup dong pintunya, Pak!" titah Devano yang kini menutupi tubuhnya dengan dua bantal. Pak Samsul berjalan medekati pintu, berniat menutupnya. Namun, sebelum tertutup rapat, Pak Samsul meledek, "oh, segitu doang. Kirain segeda apa? Ha ha ha .."
Buugh!
Devano mencebik kesal sambil melemparkan bantal ke arah pintu yang kini tertutup.
"Sial!" umpatnya kesal, lalu turun dari atas ranjang dan bergegas ke kamar mandi.
Guyuran air dingin di kepalanya turun ke badan hingga kakinya, terasa sangat segar dinikmati oleh kulit tubuhnya yang bewarna kecoklatan. Matanya turun pada senjatanya yang masih terkulai lemas. Kenapa bisa dengan Narsih, nafsunya begitu cepat tersulut? Sedangkan dengan Jelita tidak berasa apapun, padahal Jelita begitu mahir di ranjang. Bukannya terangsang, dirinya malah tertidur kepulesan saat dibelai oleh Jelita.
Cepat ia membilas tubuh, lalu keluar kamar mandi dengan melilitkan handuk di pinggangnya. Matanya menyapu kamar yang sangat berantakan akibat ulahnya yang menyiksa Narsih di ranjang.
"Narsiihh...!" teriaknya dari dalam kamar, namun, Narsih tak segera datang. Wanita itu masih duduk di atas kasur busa sambil meneteskan air mata. Kakinya kini melangkah pelan menuju jendela, memperhatikan keadaan sekitar rumah Devano yang merupakan susunan bangunan tinggi, yang takkan mudah terdengar bila ada orang berteriak minta pertolongan. Bagaimana caranya ia bisa keluar dari sini?
"Narsih!" teriak Devano semakin kencang. Wanita itu mengalah, dari pada harus disodok tanpa ampun, lebih baik dia menurut. Dengan langkah malas, ia berjalan menuju kamar suaminya.
"Ada apa?" tanya Narsih ketus saat pintu kamar terbuka.
"Lama sekali kamu, seperti siput saja! Cepat bereskan semua ini!" titah Devano sambil menunjukkan kekacauan yang dibuat oleh dirinya. Narsih masuk ke dalam kamar, melemparkan satu per satu bantal serta guling ke lantai, hingga mengenai kaki Devano.
"Pelan dong!" sergah Devano tak suka.
"Ya, kamu geser! Jangan di situ! Siapa suruh berdiri di situ?" omel Narsih tanpa memperhatikan wajah Devano yang merah karena kesal. Lelaki itu tidak menyahut, namun ia menurut, menggeser tubuhnya menjauh dari Narsih yang kini sibuk mengganti seprei. Aroma percintaan yang sangat menggoda indera penciuman, membuat Devano memperhatikan gerak-gerik Narsih dari sofa.
Apa yang membuat senjatanya selalu bangun saat berhadapan dengan Narsih? Cantik tidak, montok apalagi, orang kurus ceking begitu. Kulit hitam bagai budak. Terus di mana daya tariknya? Devano bergumam dalam hati sambil memijat pelipisnya.
"Geser!" titah Narsih pada Devano.
"Mau apa?" tanya Devano tak paham.
"Saya mau ambil celana dalam saya yang kamu duduki!" Reflek Devano berdiri kaget, menoleh ke arah sofa. Benar saja, ada celana dalam Narsih yang ia baru saja duduki. Tepatnya celana dalam Sekar yang ia pinjamkan pada Narsih.
Dengan serampangan, Narsih keluar dari kamar Devano sambil membanting pintu.
Blaaam!
"Kembali menjadi babu dan budak ranjang, dari lelaki tak waras!" gerutu Narsih sambil memutar mesin cuci.
Suara air kolam renang membuat Narsih menoleh, sudah ada Pak Samsul di sana sedang menguras kolam renang. Dengan mengendap-ngendap, Narsih menghampiri Pak Samsul sambil membawa sapu, seolah-olah ia sedang menyapu teras kolam.
Setelah mengintip keadaan sekitar yang terlihat aman, Narsih melambaikan tangan pada Pak Samsul tanpa suara.
Psst...
Psst...
Siul Narsih pelan, saat Pak Samsul tak kunjung menyadari keberadaannya. Lelaki setengah baya itu menoleh, lalu berjalan menghampiri Narsih.
"Ada apa, Mbak?" tanya Pak Samsul pelan.
"Bapak bisa bantu saya kabur dari sini?"
"Apa?!"
"Saya bisa mati disiksa, Pak. Kalau saya tidak kabur. Tolong saya, Pak. Saya janji akan pergi sangat jauh, agar Devano tak bisa menemukan saya," pinta Narsih dengan cucuran air mata. Hanya Pak Samsul orang yang kiranya menyelamatkan dirinya dari sangkar emas Devano.
"Maaf, Mbak. Saya tidak berani," sahut Pak Samsul dengan wajah iba menatap Narsih.
"Bantu saya, Pak. Hiks...hiks..." Pak Samsul akhirnya mengangguk pelan, ia tidak tega dengan air mata yang mengalir begitu deras membasahi kedua pipi istri majikannya.
Rencana telah disusun oleh Samsul, agar Narsih bisa kabur. Wajah Narsih yang sendu, kini mendadak bersinar terang, seakan ada harapan malam ini ia bisa lari dari rumah Devano. Rumah juga telah sepi, Devano sedang berkumpul bersama teman-temannya di sebuah club yang diantar oleh Pak Samsul.
Keadaan yang seakan mendukung dirinya untuk segera kabur dari rumah Devano. Berbekal uang dua ratus ribu pemberian Pak Samsul, Narsih kini sudah turun dari lantai dua. Semua lampu sudah ia matikan, seakan-akan semua penghuninya sudah terlelap. Dengan mengendap-endap, Narsih berjalan keluar dari pintu samping, agar tidak terlihat oleh anjing peliharaan Devano. Tanpa memakai alas kaki, ia berjalan ke tembok yang sudah ada tumpukan batang pohon palem yang belum lama ditebang oleh Pak Samsul.
Berusaha tanpa suara, ia meraih ujung tembok tinggi.
Bismillah
Hup.
Dengan keringat bercucuran, ia berusaha naik ke atas tanpa suara. Pandangannya mengabur saat berada di atas tembok, karena jujur ia takut ketinggian.
Narsih menghela nafas lega, saat memperhatikan kanan dan kiri yang sepi. Hanya ada sebuah mobil terparkir jauh dari rumah Devano.
Buugh!!
Narsih menjatuhkan badannya di jalan aspal. Ia meringis, saat merasakan perih di lutut dan juga kedua telapak tangannya.
Alhamdulillah
Dengan cepat ia berdiri, kaki yang tanpa alas membuat ia ingin secepatnya meninggalkan kediaman Vano.
"Narsih, berhenti kamu!"
****
Hayo...siapa yang memergoki Narsih?
Berhasilkan ia kabur?
Daftar Isi Istri Tanpa Suami
Novel Rilisan Terbaru













![[Versi suara dubbing] Pada Masa Muda Kita](https://v.melolo.com/b1265344voduse1318177724/1e096df45145403706108303931/OsMBFyOplFEA.webp!15491.webp!15491.webp)



