
Ibu Angkat Psikopat
Bab 3
"Maafkan aku, aku nggak akan melarikan diri lagi."
Mendengar ucapannya, Donny malah menampar wanita itu lagi. "Perempuan nggak tahu diri! Sudah diperlakukan baik-baik, tapi malah mau melarikan diri," katanya sambil mengangkat tongkat kayu dan memukul keras kakinya.
Tulang kaki wanita itu patah, tertekuk ke arah yang tidak wajar. Namun, Donny tidak berhenti. Sebaliknya, dia malah semakin brutal memukulinya. Setelah lelah memukulinya, Donny duduk di samping dengan terengah-engah.
Pada saat itu, wanita yang terluka itu merangkak ke arahku. Wajahnya berlumuran darah dan dia berbisik dengan suara serak, "Tolong aku ... kumohon, tolong aku."
Aku belum sempat merespons ketika Donny berjalan mendekat, lalu menarik rambut wanita itu dan menatapku sambil tertawa sinis. "Kamu juga mau coba melarikan diri?"
Lemak di wajahnya bergetar hebat dan tampak sangar.
Wanita ini adalah orang baru yang dibawa beberapa minggu lalu. Sejak dibawa ke sini, dia selalu berteriak ingin melaporkan kejadian ini ke polisi. Sepertinya kali ini dia tertangkap saat mencoba kabur lagi.
Melihat hal itu, aku menenangkan diri sejenak. Kemudian, aku tersenyum sambil berkata dengan pelan, "Tentu saja nggak, aku nggak sebodoh dia. Aku sudah jadi milikmu. Tentu saja, aku akan melakukan apa pun yang kamu perintahkan."
Sebelum kembali ke rumah, kakakku sudah berpesan agar aku tidak memancing amarah Donny.
Donny mengangkat alis dan tidak mengatakan apa pun lagi. Namun, dia tetap menunjukkan kekejamannya di hadapanku. Dia mengambil tongkat kayu dengan duri di ujungnya dan mulai memukuli punggung wanita itu. Darah segar yang hangat memercik ke wajahku.
Sambil memukuli wanita itu, dia menatapku. Aku tahu dia sedang mengancamku dengan memberikan peringatan agar aku tidak mencoba melawan.
Namun, aku tidak gentar sama sekali. Aku hanya memeluk lutut, menggigil, dan berpura-pura ketakutan. Donny tampak puas melihatnya.
Entah bagian mana dari kejadian itu yang membuat Donny terangsang. Dia langsung menelanjangi wanita itu, lalu membuka celananya sendiri dan menodai wanita itu tanpa menghiraukan tangisan dan permohonannya.
Aku hanya bisa menatap pemandangan menjijikkan itu dengan tatapan dingin dan merasakan mual yang luar biasa.
Kejadian itu menimbulkan keributan yang mengganggu orang-orang di luar. Ibu angkatku datang untuk melihat apa yang terjadi. Namun, dia tampak tidak peduli. Dia hanya berkata dengan nada datar, "Tahan dirimu, jangan sampai dia mati. Kalau begitu, uang yang kita keluarkan jadi sia-sia."
Donny tertawa sinis, "Tenang saja, aku akan memastikan kamu mendapatkan cucu."
Setelah mendengar ucapan itu, ibu angkatku pun langsung pergi, bahkan menutup pintu dengan rapat. Donny kembali melanjutkan aksinya. Wanita yang terbaring di bawahnya hanya meratap dengan mata yang dipenuhi keputusasaan.
Di tempat ini, para wanita terbagi menjadi tiga kategori. Ada yang diadopsi, ada yang dibeli, dan ada yang datang secara sukarela.
Namun, tak peduli dari mana mereka berasal, mereka hanyalah alat untuk melahirkan tanpa hak sedikit pun. Bagi kami, wanita-wanita yang tidak memiliki kekuatan ataupun kuasa, kami tidak lebih dari ternak yang mereka pelihara.
Beberapa orang pernah mencoba melaporkan kejadian ini ke polisi. Namun, aksi ibu angkat dan Donny sangat rapi. Mereka cukup berpengaruh di kota ini untuk menutupi semua kejahatan yang mereka perbuat.
Sejak ayah Donny meninggal, ibu angkatku semakin tak terkendali. Dia terobsesi memakan plasenta, sementara Donny adalah pria cabul. Rumah ini benar-benar telah berubah menjadi neraka bagi wanita.
Beberapa hari setelah kami kembali ke rumah, Donny kembali memasuki kamar kakakku.
Aku berdiri di luar pintu dengan putus asa. Melalui celah pintu, aku dan kakakku saling bertatapan. Tebersit kekejaman dalam sorot mata kakakku. Sejak melahirkan anak keduanya, Donny seolah-olah terobsesi pada kakakku.
Anda Mungkin Juga Suka





