Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel I LOVE YOU PAK PENGHULU

I LOVE YOU PAK PENGHULU

Pertemuan tak terduga dengan penghulu tampan di pernikahan kakaknya membuat gadis ini jatuh hati. Meski pria itu memiliki kepribadian yang sangat dingin dan tidak acuh, ia sama sekali tidak merasa gentar. Berbagai rayuan manis terus ia lancarkan demi meluluhkan hati sang penghulu yang beku layaknya gunung es. Akankah kegigihan dan segala gombalannya berhasil meruntuhkan tembok ketidakpedulian pria rupawan tersebut agar mau membuka diri padanya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Apa? Itu Malaikat Jibril, eh suamiku, eh Pak Jibril. 

Tanpa berpikir panjang, aku langsung tancap gas melihat mobil itu. Ternyata, mobil truk berwarna merah yang dinaiki Pak penghulu berhenti di rumah Bu Harun yang disewakan. Apa dia mau tinggal di sana?

Aku berjalan cepat menuju mobil yang sudah terparkir di halaman. Nampak sosok tampan nan rupawan turun dari kursi depan. 

"Ehem." Aku berdehem setelah ia menutup pintu mobil. Pak Jibril melirikku sejenak. 

"Bapak mau tinggal di sini, ya?" tanyaku basa-basi. 

"Iya, kenapa?" 

Yes. Peluangku buat deketin dia semakin besar. 

"Seneng, aja, karena ada penghuni baru. Ya, sukur-sukur bisa menghuni hatiku juga." Aku pun menggigit bibir. Namun, si dia cuma senyum sedikit. 

"Kayaknya ada mode trand terbaru." 

Hah? Apa maksudnya? 

"Mode apa, Pak?" 

Dia tersenyum lagi sembari menunjuk ke arah bawah dengan mulutnya. Dia menunjuk ... kakiku? Apa? Sendalku beda warna? 

"Iya, ini mode terbaru." Sialan! Kenapa aku nggak liat-liat dulu pas mau ke sini. 

"Bagus kan, Pak? Makanya gaul dikit, dong. Masa mode baru nggak tau." Aku menghembuskan napas pelan untuk menetralisir rasa malu ini. Berusaha biasa saja, padahal aku malu sekali. 

"Kamu mau berdiri aja atau mau bantu?" 

Si Tampan itu memecah lamunanku. Okelah, karena aku sudah terlanjur ke sini, apa salahnya aku bantu-bantu sedikit. 

Pintu bak belakang truk dibuka. Sopir dan Pak Jibril tentu aja mulai menurunkan barang-barang. Sementara aku, mengambil kardus berukuran sedang. Pak Jibril mulai mengangkat barang ke dalam rumah. 

"Psss, Pak Ganteng. Cakep banget sih, kalo lagi keringetan gitu," ujarku ketika kami berpapasan. 

"Cih." 

Dia berhenti sejenak dengan napas yang terengah-engah. Sepertinya, dia kelelahan. Tanpa kuduga, si tampan itu pun membuka kaos berwarna abu tua yang ia kenakan. 

Aku yang tengah berdiri diam menatapnya, seketika membuang pandangan. 

Apa itu? Dadanya? Roti sobeknya? Kenapa dia pamer begini? 

"Pak. Pak, dipakai atuh bajunya," ujarku lembut. Aduh, malunya. Pipikku pasti merah sekarang. Huft.

"Kenapa? Aku gerah. Kalo mau lihat, lihat aja. Gratis kok." 

Idih, tapi. Iya, juga sih. Aku pengen lihat. 

"Jangan ah, entar kalo saya udah lihat. Terus keterusan gimana?" Si dia menatapku. Aku membuang wajah seketika. Malunya ya Tuhan. 

Aku menunggu jawaban darinya, tapi kenapa lama sekali. Perasaan dia ... .

Loh, ternyata dia di depan sana sama Pak sopir berdua angkat meja makan. Pantes aja. 

"Makasih, ya, Pak. Sudah bantu-bantu angkat barang saya," ucap Pak Jibril pada sopir. 

"Sama-sama." Aku reflek menjawab begitu saja sambil malu-malu pula. 

"Eh, siapa namamu, aku lupa." 

Hah? Aku? 

"Saya, Pak?" Aku menunjuk diriku sendiri. 

"Iya, tolong buatin minum." 

Apa? Dia lupa namaku? Hah? Jangan marah Ayu, jangan marah. Dia ganteng dan bener-bener tipemu. Tahan. Tahan sampai kamu bisa naklukin gunung es ini. 

"Nama saya Ayu, Pak. Ayu Mahesti binti Sulaiman Ar Rasid. Tuh, hafalin, Pak. Biar kalo ucapin ijab qobul nanti gampang." 

"Kamu ge er banget, sih."

"Pak, orang itu harus punya sikap positif thinking. Supaya yang terjadi juga positif. Saya bukan ge er, tapi positif thinking." Aku pun melangkah ke dapur dan membuatkan teh hangat untuknya. Senang sekali rasanya bisa membantu calon suami, eh. 

"Saya seneng, deh, Pak. Bisa bantuin Bapak pindahan. Bisa bikinin Bapak minum juga. Kalo dipikir-pikir. Sepertinya kita cocok." Aku memberikan teh padanya yang tengah duduk di antara banyak barang. 

"Udah selesai ngegombalnya? Pulang gih. Saya mau lanjut beres-beres. Nggak enak cuma berdua di sini. Nanti jadi fitnah." 

"Saya suka kalo jadi fitnah, Pak. Kan, nanti bisa langsung dinikahkan." Aku menggigit bibir.

"Saya yang nggak suka. Udah, pulang sana." 

"Pak, kenapa sih, chat saya nggak dibalas?" 

"Ya, ampun. Iya, nanti saya balas. Udah sana." 

"Bener, ya. O, ya. Nanti lapor sama Pak RT kalo Bapak itu warga baru di sini." 

"Iya, bawel." 

Aku pun melangkah pergi. Sesekali berbalik dan memandangnya yang tengah menyeruput teh. Ganteng, pokoknya kamu harus jadi suamiku. Titik. 

Malam pun datang. Aku sudah berdandan cantik sekali. Memakai gincu nude dan mengenakan baju yang rapi. Aku tebak, dia pasti akan ke rumah. 

[Pak, kok gak ke sini, sih?] tanyaku memalui pesan chat. 

Tak sampai satu menit, ia mengirim pesan balasan.

[Siapa juga yang mau ke rumahmu?] 

[Jangan gitu, Pak. Aku udah siap dilamar kok.]

[Idih,] balasnya.

[Jangan lama-lama, Pak. Nanti bedakku luntur.] 

[Ayu Mahesti binti Sulaiman Ar Rasid. Saya tegaskan, ya. Saya nggak pengen ke rumah kamu. Buat apa saya ke sana? Kamu juga stop deh, jangan gombalin mulu. Mual tau nggak?] 

Ahai, dia udah mulai bereaksi ternyata. 

[Bapak nggak usah munak, deh. Sebentar lagi juga bapak ke sini.] 

Ya, iyalah dia ke rumahku. Secara Sulaiman Ar Rasid alias bapakku adalah katua RT di sini. Ahahaha. 

Tak butuh waktu lama, aku mendengar suara ketukan pintu yang cukup nyaring. 

"Loh, katanya nggak mau ke sini?" Aku langsung menyerangnya ketika membuka pintu. Sementara dia, tidak menanggapi ocehanku.

"Boleh masuk nggak, nih?" 

"Boleh, dong. Jangankan masuk ke rumah, masuk ke hatiku juga boleh." 

"Ayu. Maafin Ayu, ya, Pak Jibril. Ayu emang gitu. Mungkin isi kepalanya agak geser karena kelamaan jomblo." Ibu memegang lenganku dan menarikku paksa. Tapi, tunggu isi kepalaku geser? Otak, dong. Ibu tega banget sama anak sendiri. 

"Sana bikinin minum. Jangan bikin malu," ujar Ibuku dengan mata tanpa berkedip dan suara tidak keras, tapi penuh penekanan.

Terpaksalah aku ke belakang membuatkan minum. Kalau ibu sudah bicara bengitu, aku jadi takut mau gombalin si ganteng. Entar aku dikatain stres lagi. Ah, ibu. 

"Silakan diminum, Pak." Aku menaruh dua cangkir teh di atas meja sembari melirik Pak Jibril. 

"Ayu, sini. Duduk di sini." Ibu memanggilku untuk duduk di sebelahnya. Huft, padahal aku masih mau ngegombalin si ganteng itu. 

"Iya." Terpaksalah aku menurut saja. Mau bagaimana lagi daripada aku dikurung di kamar. 

"Kapan Nak Jibril datang? Kok, bapak nggak tau?" tanya bapakku. 

"Tadi siang, Pak." 

"Oh, berarti bapak masih di sawah. Harusnya telepon dulu biar bapak bisa ikut bantu." 

Hah? Bapak punya nomer HP Pak Jibril? Sejak kapan? 

"Takut merepotkan, Pak. Barang-barang saya juga nggak banyak. Tadi juga dibantu sama Ayu." 

Dia lihat ke arahku. Duh, merasa terbantu sih kayaknya. 

"Walaupun dia bawel, lumayan terbantulah." 

Yah, kata bawel pun nggak ketinggalan. 

"Maklumin saja, Nak Jibril. Mungkin si Ayu itu kesepian. Anak perawan mungkin emang gitu." Bapak terkekeh. Begitu juga si dia, tapi tawa mereka agak canggung. Entahlah. 

"Assalamualaikum." Seseorang mengucap salam dari teras rumahku.

"Waalaikumussalam." Kami pun serentak menjawab salam. 

"Umar? Ayo masuk." 

Hah, kenapa tuh laki ke sini? Nggak tau apa lagi ada obrolan penting sama calon mantu. Iih, ngeselin juga lama-lama. 

Kang Umar pun masuk dan duduk di sebelah Pak Jibril. 

"Begini, Pak, Bu. Saya dateng ke sini buat nanyain balasan surat saya sama Neng Ayu." 

Hah? Astaga surat itu. Jangankan menulis balasan, kubaca juga belum. 

"Sekaligus menanyakan hubungan kami." 

Hah. Hubungan apa? 

Bersambung........

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Menikahi Calon Kakak Ipar
7.9
Mentari Khairunnafiza, seorang reporter lapangan yang tomboi, terpaksa menikahi calon kakak iparnya yang bersifat dingin dan perfeksionis. Meski hampir tidak mengenal pria tersebut, ia tak kuasa menolak wasiat terakhir sang kakak yang terus mendesaknya. Kini, Mentari terjebak dalam dilema besar. Mampukah ia menjalani biduk rumah tangga tanpa rasa cinta dengan pria asing itu, sementara hatinya masih terpaku pada kekasih yang sangat ia sayangi?
Sampul Novel Meninggalkan Pengkhianatan Maut, Merangkul Kehidupan Baru
7.9
Sepuluh tahun pengabdian pupus saat Bramanta memilih menikahi Hana di altar yang kurancang. Demi selingkuhannya, ia tega memaksaku donor darah, membiarkan kucingku mati, hingga nyaris menenggelamkanku. Puncaknya, ia membiarkanku sekarat akibat syok anafilaksis demi menolong drama Hana. Sadar nyawaku terancam oleh pengkhianatannya, aku menerima tawaran ayah untuk menjalani pernikahan kontrak dengan CEO Arga Hadinata. Di titik nadir ini, aku memilih bangkit bersama pria baru.
Sampul Novel Mual! Wajahku Merona Dimanjakan Bos yang Agresif
7.8
Akibat salah masuk tenda saat acara kantor dalam kondisi mabuk, Liana tidak sengaja tidur dengan atasannya. Panik setelah terbangun, ia langsung kabur dan berusaha bersikap ekstra hati-hati di tempat kerja demi menjaga rahasia itu. Namun, dua bulan kemudian Liana justru mendapati dirinya hamil. Saat ia berniat melarikan diri lagi, sang CEO Perusahaan Barka langsung memblokir bandara dan menyudutkannya di dalam lift untuk meminta pertanggungjawaban atas calon anaknya.
Sampul Novel Perawan Satu Milyar
9.0
Hidup Olivia berubah drastis saat keluarganya menjual kehormatannya seharga satu miliar rupiah kepada Arga. Pria dingin tersebut tidak hanya menginginkan fisiknya, namun mengklaim kepemilikan penuh atas seluruh eksistensi Olivia. Meski kini dikelilingi kemewahan apartemen megah, Olivia merasa terpenjara dalam sangkar emas tanpa kebebasan. Di tengah dominasi Arga yang menyesakkan, ia harus berjuang agar tidak hancur dan kehilangan jati dirinya sebagai manusia merdeka.
Sampul Novel Pernikahan Hanya Sandiwara
9.0
Bagi Kania, pernikahan lewat wasiat keluarga bukanlah kebahagiaan, melainkan derita. Rendra dan keluarganya menyiksa Kania layaknya pelayan di rumah sendiri. Ia bertahan dalam kepedihan demi biaya pengobatan adiknya yang sakit. Namun, kehadiran Davian membawa kehangatan baru yang memicu benih cinta di hati Kania. Kini ia bimbang, tetap terikat pada pernikahan beracun itu atau mengejar cinta tulus Davian demi kebahagiaan yang selama ini hilang dari hidupnya.
Sampul Novel Pernikahan Kilat dengan Sang Miliarder
8.3
Riani dikhianati oleh kekasih yang selama ini ia nafkahi demi sahabatnya sendiri. Di tengah luka, ia nekat menikahi Rizky, pria asing yang berjanji menanggung segala kebutuhannya. Meski awalnya ragu, Riani justru menemukan sosok suami idaman yang protektif dan suportif hingga kariernya melejit. Namun, misteri menyelimuti identitas Rizky yang selalu punya solusi ajaib. Kejutannya muncul saat ia melihat wajah suaminya di sampul majalah bisnis dunia sebagai miliarder.