
I LOVE YOU PAK PENGHULU
Bab 3
Aku langsung beranjak dan menghampiri Kang Umar kemudian menarik lengannya. Dia kubawa ke teras rumah.
"Kang, maksud kamu, apa? Saya kan, udah bilang saya nggak mau sama kamu. Jangan suka paksa-paksa orang, ya."
Dia diam saja. Raut wajahnya agak sedikit takut. Mungkin dia terkejut karena aku marah-marah seperti ini.
"Neng Ayu kan, tau kalau akang, teh suka dengan Neng dari jalan SMA dan kita juga sama-sama belum nikah. Apa salahnya kalau kita nikah saja. Emak sama Abah juga sudah setuju."
Astagaaa.
"Kang, saya tegaskan sekali lagi, ya. Saya suka dengan orang lain dan nggak suka dengan kamu."
Kami berhenti sejenak karena Pak Jibril keluar dari rumah begitu saja.
"Nih, saya suka sama Pak Jibril."
Aku langsung saja merangkul lengan Pak Jibril. Dia nampak keheranan, biarlah. Memang aku suka dengannya.
"Apa Pak Jibril juga suka sama kamu?"
"Pak, Bapak suka kan, sama aku?" tanyaku.
"Pak, bilang iya. Biar nih orang cepet pulang," bisikku berharap dia bilang iya. Walaupun mungkin harus terpaksa.
"Enggak." Pak Jibril melepas tangannya dari dekapan tanganku kemudian melangkah pergi setelah memakai sendal. Sedangkan aku, terpaku menatapnya dan menghela napas.
Umar tertawa kecil. Ia melihatku yang berkancah pinggang kemudian diam.
"Pak Jibril, teh tidak suka sama kamu, Neng. Sudah, kamu sama saya saja."
"Nggak. Nggak mau. Titik."
Aku melangkah masuk ke dalam rumah menuju kamarku. Kututup pintu dan mengunci diri di dalam. Tak kupedulikan lagi ibu dan bapak yang memanggilku berkali-kali.
Di dalam sini, aku menutup wajahku dengan bantal dan berteriak. Kesal sekali rasanya dengan dua orang laki-laki itu. Kenapa mereka sama sekali nggak ngerti aku? Mereka itu sama-sama semaunya sendiri.
[Selamat, ya, atas hubungan kalian.]
Pesan chat dari Pak Jibril semakin membuatku kesal. Kenapa? Kenapa?
[Siapa juga yang pacaran.]
[Loh, gak papa. Siapa tau habis ini kalian mau aku ijab qobulin sekalian.]
'Maunya kamu yang ucapin ijab qobul namaku, Pak. Ngerti nggak sih.'
Tak kubalas lagi pesannya. Aku lebih memilih menangis saja. Gara-gara Umar itu, aku dikira pacaran sama Pak Jibril. Malah dia nawarin mau nikahin aku sama Umar. Kan, kesel.
_____
"Loh, Yu. Tumben udah bangun," sapa ibu subuh ini. Ya, meski kejadian semalam bikin aku malu dan kesal, tapi aku belum menyerah.
"Aku mau buatin bekal makan buat Pak Gan ... Pak Jibril, Bu. Kasian dia kan, sendirian. Mana tau kalau dia nggak sempet masak."
"Kamu jangan terlalu kelihatan ngejar-ngejar dia, Yu. Perempuan itu harus jual mahal. Nggak baik kalau kamu ngejar laki-laki."
Benar juga sih, tapi model seperti gunung es begitu kalau nggak didaki, nggak akan takhluk.
"Iya, Bu."
Bergegas aku memasak dan menata bekal di dalam kotak bekal berwarna biru. Ada nasi uduk, tempe orek, telur dadar, dan timun.
Perlahan, aku mengambil nasi dan membentuk hati. Huh, lumayan sulit, tapi aku tetap berusaha. Kemudian lauk pauk aku tata tak kalah rapi di sebelah nasi. Mudah-mudahan, Pak Jibril suka dengan makanan yang aku masak ini.
Setelah pagi menjelang, aku mandi dan berdandan cantik. Tak lupa rangkaian skincare aku pakai dengan gesit. Takut kalau Pak Jibril sudah berangkat ke kantor.
"Pak," panggilku. Dia berjalan kaki lewat di depan rumah.
"Kenapa?"
"Ini, Ibu suruh aku ngasih makanan ini. Dia bilang kan, Bapak tinggal sendirian. Takut kalau nggak sempet masak."
"Aku udah masak sih, tadi, tapi makasih, ya."
"Iya, Pak sama-sama. Jangan lupa, ya. Ulasannya. Aku tunggu." Aku memegang HP dan berharap dia chat aku nanti.
"Oke." Dia pun pergi begitu saja. Lagi-lagi nggak pamit sama calon istri. Hihi.
"Yu, kamu belanja sana ke warung Ce Ida. Beras sama sayur udah pada habis," ucap ibu ketika aku baru masuk ke rumah.
Ia kemudian memberiku daftar belanjaan dan sejumlah uang pecahan seratus ribu.
"Ini daftar belanjaannya sama uangnya."
"Oke."
Aku langsung pergi ke warung Ce Ida yang tak terlalu jauh dari rumahku. Warung itu cukup dekat dengan kantor KUA di mana calon suamiku bekerja.
"Assalamualaikum, Ce."
"Waalaikumsalam. Eh, Ayu. Belanja?" tanya Ce Ida.
"Iya, Ce. Ini Ibu suruh aku belanja."
Aku menyerahkan daftar belanjaan pada Ce Ida. Ketika itu, tiba-tiba saja ada seorang wanita menyenggolku dari belakang.
"Eh, maaf, ya."
Aku sontak meliriknya yang biasa saja seakan tidak merasa bersalah sedikitpun.
"Ce, Ce Ida. Tolong ambilkan amplop!" Wanita bergincu merah itu berteriak pada Ce Ida yang masih sibuk mengambilkan pesananku.
"Cepet, atuh, Ce. Nanti Aa Jibril nunggunya kelamaan."
Hah? Aa? Siapa dia? Kenapa dia panggil Pak Ganteng Aa?
Aku memandanginya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Jilbabnya wah dengan manik-manik di atas kepala. Bedak tebal bak tembok berbempul. Gincunya merah, merah sekali. Bodinya? Ah, aku merasa dia bukan gadis, atau hanya perasaanku saja?
"Makasih, Ce."
Setelah menerima apa yang dia mau, wanita itu pergi. Aku memperhatikan cara dia berjalan. Sangat dibuat-buat apalagi dengan sepatu hak tinggi itu. Sepertinya dia sedikit kesusahan. Apalagi roknya sangat sempit.
"Ce, itu siapa?" tanyaku.
"Oh, itu Teh Lidia. Kenapa, Yu?"
"Dia cantik, Ce." Lebih tepatnya menor.
"Ya, maklumlah. Dia itu janda."
Hah? Janda. Astaga. Jadi, aku harus bersaing dengan janda?
"Dia kerja di KUA, Ce?"
"Iya. Bareng sama Pak Jibril. Awas, Yu. si Lidia itu genit pisan. Banyak lho yang sudah jadi korbannya."
"Korban perasaan, Ce?"
"Bukan, korban rumah tangga. Dia itu pelakor."
Aku membulatkan bibir dan mengangguk. Alamat ini mah. Bisa kalah telak aku. Apa iya aku harus mundur secara janda genit itu jauh lebih unggul daripada aku. Dia setiap hari ketemu sama Pak Ganteng, sedangkan aku.
Lemas sudah tubuhku memikirkan mereka.
"Minta air mineral, Ce."
Suara itu? Benar saja, Pak Jibril.
"Eh, Pak Gan ... Pak Jibril. Beli apa?" tanyaku.
"Kamu nggak denger aku tadi beli air mineral?"
Iya denger sih, tapi kan aku cuma basa-basi. Ya, ampun.
Kuhembuskan napas kemudian berkata, "Iya, saya denger kok. Suara detak jantung, Bapak juga saya denger."
Ce Ida menahan tawa. Ia kemudian memberikan pesanan Pak Jibril.
"Pak, Pak. Makanan dari saya udah dimakan belum?" Aku menahannya sejenak yang hendak pergi.
"Belum. Ini kan, masih pagi."
Oh, iya. Kenapa aku sampai lupa?
"Kenapa kamu di sini? Kamu nggak kerja?"
"A-ku aku ... ." Belum selesai bicara tiba-tiba wanita bernama Lidia itu muncul.
"Aa. Cepetan atuh, dicari sama yang lain."
Rasa kesalku memuncak secara tiba-tiba ketika wanita itu memanggil Pak Ganteng dengan sebutan Aa. Tanpa berpikir panjang, kutarik lengan Pak Jibril kemudian ...
Anda Mungkin Juga Suka





