Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel I LOVE YOU PAK PENGHULU

I LOVE YOU PAK PENGHULU

Pertemuan tak terduga dengan penghulu tampan di pernikahan kakaknya membuat gadis ini jatuh hati. Meski pria itu memiliki kepribadian yang sangat dingin dan tidak acuh, ia sama sekali tidak merasa gentar. Berbagai rayuan manis terus ia lancarkan demi meluluhkan hati sang penghulu yang beku layaknya gunung es. Akankah kegigihan dan segala gombalannya berhasil meruntuhkan tembok ketidakpedulian pria rupawan tersebut agar mau membuka diri padanya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Aku langsung beranjak dan menghampiri Kang Umar kemudian menarik lengannya. Dia kubawa ke teras rumah. 

"Kang, maksud kamu, apa? Saya kan, udah bilang saya nggak mau sama kamu. Jangan suka paksa-paksa orang, ya." 

Dia diam saja. Raut wajahnya agak sedikit takut. Mungkin dia terkejut karena aku marah-marah seperti ini. 

"Neng Ayu kan, tau kalau akang, teh suka dengan Neng dari jalan SMA dan kita juga sama-sama belum nikah. Apa salahnya kalau kita nikah saja. Emak sama Abah juga sudah setuju." 

Astagaaa.

"Kang, saya tegaskan sekali lagi, ya. Saya suka dengan orang lain dan nggak suka dengan kamu." 

Kami berhenti sejenak karena Pak Jibril keluar dari rumah begitu saja. 

"Nih, saya suka sama Pak Jibril." 

Aku langsung saja merangkul lengan Pak Jibril. Dia nampak keheranan, biarlah. Memang aku suka dengannya. 

"Apa Pak Jibril juga suka sama kamu?" 

"Pak, Bapak suka kan, sama aku?" tanyaku.

"Pak, bilang iya. Biar nih orang cepet pulang," bisikku berharap dia bilang iya. Walaupun mungkin harus terpaksa. 

"Enggak." Pak Jibril melepas tangannya dari dekapan tanganku kemudian melangkah pergi setelah memakai sendal. Sedangkan aku, terpaku menatapnya dan menghela napas. 

Umar tertawa kecil. Ia melihatku yang berkancah pinggang kemudian diam. 

"Pak Jibril, teh tidak suka sama kamu, Neng. Sudah, kamu sama saya saja." 

"Nggak. Nggak mau. Titik." 

Aku melangkah masuk ke dalam rumah menuju kamarku. Kututup pintu dan mengunci diri di dalam. Tak kupedulikan lagi ibu dan bapak yang memanggilku berkali-kali. 

Di dalam sini, aku menutup wajahku dengan bantal dan berteriak. Kesal sekali rasanya dengan dua orang laki-laki itu. Kenapa mereka sama sekali nggak ngerti aku? Mereka itu sama-sama semaunya sendiri. 

[Selamat, ya, atas hubungan kalian.] 

Pesan chat dari Pak Jibril semakin membuatku kesal. Kenapa? Kenapa? 

[Siapa juga yang pacaran.] 

[Loh, gak papa. Siapa tau habis ini kalian mau aku ijab qobulin sekalian.] 

'Maunya kamu yang ucapin ijab qobul namaku, Pak. Ngerti nggak sih.'

Tak kubalas lagi pesannya. Aku lebih memilih menangis saja. Gara-gara Umar itu, aku dikira pacaran sama Pak Jibril. Malah dia nawarin mau nikahin aku sama Umar. Kan, kesel. 

_____

"Loh, Yu. Tumben udah bangun," sapa ibu subuh ini. Ya, meski kejadian semalam bikin aku malu dan kesal, tapi aku belum menyerah. 

"Aku mau buatin bekal makan buat Pak Gan ... Pak Jibril, Bu. Kasian dia kan, sendirian. Mana tau kalau dia nggak sempet masak." 

"Kamu jangan terlalu kelihatan ngejar-ngejar dia, Yu. Perempuan itu harus jual mahal. Nggak baik kalau kamu ngejar laki-laki." 

Benar juga sih, tapi model seperti gunung es begitu kalau nggak didaki, nggak akan takhluk. 

"Iya, Bu." 

Bergegas aku memasak dan menata bekal di dalam kotak bekal berwarna biru. Ada nasi uduk, tempe orek, telur dadar, dan timun. 

Perlahan, aku mengambil nasi dan membentuk hati. Huh, lumayan sulit, tapi aku tetap berusaha. Kemudian lauk pauk aku tata tak kalah rapi di sebelah nasi. Mudah-mudahan, Pak Jibril suka dengan makanan yang aku masak ini. 

Setelah pagi menjelang, aku mandi dan berdandan cantik. Tak lupa rangkaian skincare aku pakai dengan gesit. Takut kalau Pak Jibril sudah berangkat ke kantor. 

"Pak," panggilku. Dia berjalan kaki lewat di depan rumah. 

"Kenapa?" 

"Ini, Ibu suruh aku ngasih makanan ini. Dia bilang kan, Bapak tinggal sendirian. Takut kalau nggak sempet masak." 

"Aku udah masak sih, tadi, tapi makasih, ya." 

"Iya, Pak sama-sama. Jangan lupa, ya. Ulasannya. Aku tunggu." Aku memegang HP dan berharap dia chat aku nanti. 

"Oke." Dia pun pergi begitu saja. Lagi-lagi nggak pamit sama calon istri. Hihi. 

"Yu, kamu belanja sana ke warung Ce Ida. Beras sama sayur udah pada habis," ucap ibu ketika aku baru masuk ke rumah. 

Ia kemudian memberiku daftar belanjaan dan sejumlah uang pecahan seratus ribu. 

"Ini daftar belanjaannya sama uangnya." 

"Oke." 

Aku langsung pergi ke warung Ce Ida yang tak terlalu jauh dari rumahku. Warung itu cukup dekat dengan kantor KUA di mana calon suamiku bekerja. 

"Assalamualaikum, Ce." 

"Waalaikumsalam. Eh, Ayu. Belanja?" tanya Ce Ida. 

"Iya, Ce. Ini Ibu suruh aku belanja." 

Aku menyerahkan daftar belanjaan pada Ce Ida. Ketika itu, tiba-tiba saja ada seorang wanita menyenggolku dari belakang. 

"Eh, maaf, ya." 

Aku sontak meliriknya yang biasa saja seakan tidak merasa bersalah sedikitpun. 

"Ce, Ce Ida. Tolong ambilkan amplop!" Wanita bergincu merah itu berteriak pada Ce Ida yang masih sibuk mengambilkan pesananku. 

"Cepet, atuh, Ce. Nanti Aa Jibril nunggunya kelamaan." 

Hah? Aa? Siapa dia? Kenapa dia panggil Pak Ganteng Aa? 

Aku memandanginya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Jilbabnya wah dengan manik-manik di atas kepala. Bedak tebal bak tembok berbempul. Gincunya merah, merah sekali. Bodinya? Ah, aku merasa dia bukan gadis, atau hanya perasaanku saja? 

"Makasih, Ce." 

Setelah menerima apa yang dia mau, wanita itu pergi. Aku memperhatikan cara dia berjalan. Sangat dibuat-buat apalagi dengan sepatu hak tinggi itu. Sepertinya dia sedikit kesusahan. Apalagi roknya sangat sempit. 

"Ce, itu siapa?" tanyaku. 

"Oh, itu Teh Lidia. Kenapa, Yu?" 

"Dia cantik, Ce." Lebih tepatnya menor. 

"Ya, maklumlah. Dia itu janda." 

Hah? Janda. Astaga. Jadi, aku harus bersaing dengan janda? 

"Dia kerja di KUA, Ce?" 

"Iya. Bareng sama Pak Jibril. Awas, Yu. si Lidia itu genit pisan. Banyak lho yang sudah jadi korbannya." 

"Korban perasaan, Ce?" 

"Bukan, korban rumah tangga. Dia itu pelakor." 

Aku membulatkan bibir dan mengangguk. Alamat ini mah. Bisa kalah telak aku. Apa iya aku harus mundur secara janda genit itu jauh lebih unggul daripada aku. Dia setiap hari ketemu sama Pak Ganteng, sedangkan aku. 

Lemas sudah tubuhku memikirkan mereka. 

"Minta air mineral, Ce." 

Suara itu? Benar saja, Pak Jibril. 

"Eh, Pak Gan ... Pak Jibril. Beli apa?" tanyaku.

"Kamu nggak denger aku tadi beli air mineral?" 

Iya denger sih, tapi kan aku cuma basa-basi. Ya, ampun. 

Kuhembuskan napas kemudian berkata, "Iya, saya denger kok. Suara detak jantung, Bapak juga saya denger." 

Ce Ida menahan tawa. Ia kemudian memberikan pesanan Pak Jibril. 

"Pak, Pak. Makanan dari saya udah dimakan belum?" Aku menahannya sejenak yang hendak pergi. 

"Belum. Ini kan, masih pagi." 

Oh, iya. Kenapa aku sampai lupa? 

"Kenapa kamu di sini? Kamu nggak kerja?" 

"A-ku aku ... ." Belum selesai bicara tiba-tiba wanita bernama Lidia itu muncul. 

"Aa. Cepetan atuh, dicari sama yang lain." 

Rasa kesalku memuncak secara tiba-tiba ketika wanita itu memanggil Pak Ganteng dengan sebutan Aa. Tanpa berpikir panjang, kutarik lengan Pak Jibril kemudian ...

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ARFESO
8.7
Seorang gadis kurang kasih sayang mendapati hidupnya kian kelam setelah dikhianati lelaki yang ia puja. Kabar kehamilan di usia muda memicu murka keluarga hingga ia dituduh sebagai wanita murahan. Meski sang lelaki menolak bertanggung jawab dan menuduhnya menjebak, ia tetap melahirkan bayi yang memiliki tatapan mirip ayahnya. Kini, di tengah keraguan antara melindungi atau mengungkap kebenaran, rahasia besar lain telah menanti di babak baru hidupnya.
Sampul Novel Berondong Simpanan Istriku
9.3
Kehidupan rumah tangga yang tampak tenang mendadak diguncang oleh persoalan yang sangat sensitif. Cerita ini mengeksplorasi gejolak batin dan dilema besar yang dihadapi ketika seorang suami gagal memberikan kepuasan serta nafkah batin kepada istrinya. Di tengah kekosongan emosional dan hasrat yang tak terpenuhi, sang istri mulai mencari pelarian yang tak terduga. Sebuah drama modern yang penuh ketegangan tentang kesetiaan, rahasia kelam, dan harga sebuah kebahagiaan.
Sampul Novel DICERAI KARENA MANDUL
8.3
Dunia Kala runtuh seketika saat ia dicerai dengan tuduhan mandul dan dikhianati pasangannya. Di tengah rasa rendah diri dan luka batin yang mendalam, ia mempertanyakan takdir hidupnya yang tragis. Namun, secercah harapan muncul lewat pertemuannya dengan Sheryl Amanta Versha, seorang bocah polos yang kehadirannya ditolak ibu kandungnya. Meski sempat menepis perasaan yang tumbuh, Kala terjebak dalam pusaran emosi baru yang menantang keberaniannya untuk bangkit.
Sampul Novel Gadis Penyuka Hujan
8.5
Seorang siswi SMA terjebak dalam memori kelam masa lalu saat hujan turun membasahi malam yang dingin. Di balik tetesan air itu, ia menyembunyikan kesedihan mendalam dan kenyataan pahit sebagai remaja yang tengah mengandung. Kisah ini mengikuti perjalanan emosionalnya menghadapi luka lama yang kembali terbuka, sembari berjuang menanggung beban hidup yang berat di usia muda. Sebuah narasi tentang duka, rahasia, dan kenyataan yang tak terelakkan.
Sampul Novel Tambatan Hati
9.6
Reynand Arya Wijaya adalah duda mapan yang menutup hati akibat dikhianati mantan istrinya di masa lalu. Setelah berjuang dari titik nol dan ditinggalkan demi pria lain, ia kini hanya fokus membesarkan putranya sendirian. Namun, kehadiran Amanda Mey Diana, seorang guru TK yang tulus, mulai meruntuhkan tembok pertahanannya. Meski trauma akan cinta masih membekas, kasih sayang Mey kepada anaknya membuat Reynand perlahan belajar membuka diri untuk sebuah kesempatan kedua.
Sampul Novel Taruhan Nasib: Suamiku yang Tak Terduga
9.8
Kirani dipaksa menikahi Devon, pria yang dicap preman berbahaya. Meski dihina sebagai anak angkat yang malang, hidupnya justru penuh berkah hingga memenangkan rumah mewah. Ternyata, Devon bukanlah orang biasa, melainkan miliarder terkaya di dunia yang menyembunyikan identitasnya. Saat rahasia besar ini terungkap dan Kirani merasa terintimidasi hingga meminta cerai, Devon menolak tegas. Ia justru menyerahkan seluruh hartanya demi mempertahankan sang istri.