Sampul Novel Pernikahan Hanya Sandiwara

Pernikahan Hanya Sandiwara

9.0 / 10.0
Dalam Pernikahan Hanya Sandiwara, Kania terjebak ikatan kejam demi pengobatan adiknya. Di tengah siksaan Rendra, hadirnya Davian menawarkan cinta tulus. Simak kisah romance modern ini di webnovel kami, pilihan tepat bagi Anda yang ingin read novels online dengan konflik emosional yang mendalam.
Ringkasan Pernikahan Hanya Sandiwara
Bagi Kania, pernikahan lewat wasiat keluarga bukanlah kebahagiaan, melainkan derita. Rendra dan keluarganya menyiksa Kania layaknya pelayan di rumah sendiri. Ia bertahan dalam kepedihan demi biaya pengobatan adiknya yang sakit. Namun, kehadiran Davian membawa kehangatan baru yang memicu benih cinta di hati Kania. Kini ia bimbang, tetap terikat pada pernikahan beracun itu atau mengejar cinta tulus Davian demi kebahagiaan yang selama ini hilang dari hidupnya.
Baca Selengkapnya

Pernikahan Hanya Sandiwara Bab 1

Jantung Kania selalu terasa seperti es yang retak setiap kali mobil hitam mewah itu memasuki halaman rumah. Rumah megah, bak istana, tapi baginya ini adalah sangkar dingin yang penuh jeritan senyap. Bukan rumah, melainkan penjara. Penderitaan ini dimulai tepat enam bulan lalu, hari di mana ia dipaksa mengenakan gaun putih paling indah dan mengucap janji suci di hadapan semua orang. Janji yang terasa basi bahkan sebelum ia mengucapkannya.

"Cepat! Apa kamu tuli? Kenapa teh ini dingin sekali?!"

Suara berat dan menusuk itu, milik Rendra, suaminya. Atau lebih tepatnya, si pemilik sah penderitaannya.

Kania terperanjat, buru-buru menunduk. Tangan kurusnya gemetar memegang nampan perak. Udara di ruang tamu itu begitu tebal, dipenuhi aroma kopi mahal dan bau arogansi. Di sofa, duduk Rendra, dengan tatapan mata yang tak pernah menunjukkan kehangatan. Di sebelahnya, ada Mertua Kania, Nyonya Besar Ratna, yang selalu menatap Kania seolah ia adalah kotoran di bawah sol sepatu mahalnya.

"Maaf, Mas. Saya akan segera ganti." Kania berusaha agar suaranya tidak bergetar. Bergetar sedikit saja, hukuman yang didapat bisa berlipat ganda.

Rendra mendengus kasar. "Dasar perempuan bodoh. Teh saja tidak becus. Apa gunanya kamu di rumah ini selain menghabiskan jatah oksigen?"

Nyonya Ratna ikut menimpali, suaranya melengking tajam, "Dengar itu, Kania. Jangan pernah lupa posisimu. Di rumah ini, kamu hanya pelayan yang kebetulan berstatus istri. Jangan samakan dirimu dengan menantu lain yang berpendidikan tinggi."

Kania mengepalkan jemari di balik punggung. Ucapan itu adalah menu harian, sarapan, makan siang, dan makan malamnya. Ia sudah mati rasa, tapi setiap kata itu tetap meninggalkan bekas luka baru. Ia tahu ia hanya perempuan kampung yang didatangkan ke rumah ini karena "Wasiat Konyol" yang dibuat mendiang kakek Rendra, yang entah bagaimana, hanya dia yang bisa memenuhinya. Kania tak pernah tahu detail pastinya. Ia hanya tahu, pernikahan ini adalah kontrak, dan ia adalah budak bayaran.

Saat Kania berbalik menuju dapur, Rendra melemparkan majalah tebal yang baru ia baca, mendarat tepat di punggung Kania.

Malam harinya, setelah semua tugas rumah selesai, Kania baru bisa menyentuh telepon genggamnya yang usang. Ia membuka galeri, melihat foto adiknya, Bintang. Bintang yang tersenyum lemah, terbaring di ranjang rumah sakit dengan selang-selang di sekitarnya. Melihat wajah Bintang adalah satu-satunya alasan ia masih bernapas, masih kuat menelan semua hinaan dan perlakuan kasar.

Bintang sakit parah, penyakit langka yang butuh biaya pengobatan ratusan juta. Dan keluarga Rendra, melalui wasiat itu, adalah pihak yang menanggung penuh semua biaya.

Kania menghela napas panjang. Ia harus kuat. Ini semua demi Bintang.

Tiba-tiba, pintu kamar didobrak keras. Rendra masuk dengan wajah merah padam. Jelas, ia baru saja minum lagi.

"Kamu, dari mana saja?!" bentaknya, menarik kasar rambut Kania hingga kepala Kania mendongak.

"Di dapur, Mas. Saya baru selesai mencuci piring..."

"Dapur?!" Rendra tertawa sinis. "Sejak kapan pembantu bisa mencuci piring sampai selarut ini? Jangan bohong. Tadi siang, kamu bertemu siapa di luar?"

Kania membeku. Ia ingat, tadi siang saat ia disuruh membeli kebutuhan mendadak, ia sempat berpapasan dengan seorang pria di minimarket, dan pria itu-seorang asing-sempat membantunya memungut barang belanjaan yang jatuh. Itu saja. Hanya beberapa detik.

"Saya tidak bertemu siapa-siapa, Mas. Saya hanya di minimarket."

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi Kania. Panas, perih, dan memekakkan. Air mata Kania tumpah, namun ia tak berani mengeluarkan suara isak.

"Jangan anggap saya bodoh! Saya lihat CCTV di luar! Kamu berani menggoda pria lain saat kamu adalah istri sah saya?! Ingat Kania, kamu milik saya! Sampai saya bosan dan membuangmu!" Rendra mencengkeram rahang Kania.

"Saya tidak menggoda siapa-siapa, Mas. Saya mohon..."

"Diam!" Rendra mendorong Kania ke dinding. "Kamu tahu apa yang terjadi kalau kamu berkhianat? Malam ini juga, Bintang akan saya pindahkan dari rumah sakit terbaik itu ke puskesmas kumuh. Biaya perawatannya akan saya hentikan. Kamu mau adik kesayanganmu mati, hah?"

Ancaman itu selalu berhasil. Ini adalah kartu mati Rendra. Mendengar nama Bintang, Kania langsung merosot ke lantai, menangis tanpa suara. Tamparan tidak seberapa sakit dibandingkan ketakutan kehilangan Bintang.

"Tolong, Mas. Jangan lakukan itu pada Bintang. Saya janji, saya tidak akan bertemu siapa-siapa lagi. Saya akan melakukan apa pun yang Mas mau." Kania memohon dengan suara serak.

Rendra menatap tubuh Kania yang bergetar di lantai dengan pandangan puas. Kekuasaan. Ia suka melihat Kania tak berdaya.

"Bagus. Sekarang, berdiri. Dan jangan pernah lupa, kamu itu hanya boneka di rumah ini. Milik saya. Dan jangan pernah berani menolak sentuhan saya, karena itu juga bagian dari kontrakmu."

Kania menutup mata. Ia merasakan jijik yang tak terhingga, tapi ia membiarkan Rendra melakukan apa yang ia mau. Membiarkan dirinya menjadi benda mati. Ini adalah harga yang harus ia bayar agar Bintang tetap hidup. Di balik kemewahan rumah ini, di dalam kamar yang seharusnya menjadi saksi cinta, hanya ada pemaksaan, ketakutan, dan air mata yang mengering setiap malam.

Keesokan paginya, Kania harus tetap menjalankan peran sempurna sebagai menantu, meskipun wajahnya lebam dan hatinya hancur. Ia menyiapkan sarapan, menyetrika baju Rendra, dan membersihkan setiap sudut rumah. Tubuhnya terasa remuk redam, tapi ia memaksakan diri.

Saat sedang membersihkan taman belakang, ia mendengar percakapan antara Nyonya Ratna dan Ibu Mertua.

"Aku tidak mengerti, Bu. Kenapa Kania masih di sini? Rendra sudah punya kekasih, kenapa harus menahan perempuan kampung itu?" tanya Ibu Mertua, suara berbisik tapi cukup terdengar.

Nyonya Ratna menyesap tehnya dengan anggun. "Sabar, Sayang. Sampai kontrak itu selesai. Kita butuh dia. Ingat, hanya dengan dia, kita bisa menguasai semua aset warisan Kakek. Jika kita menceraikannya sekarang, wasiat itu akan batal, dan semua aset jatuh ke tangan yayasan. Kita tidak bisa biarkan itu terjadi."

"Tapi Rendra sudah semakin tidak sabaran dengannya."

"Biarkan saja. Selama dia tidak membunuh anak itu, itu baik. Perempuan seperti Kania itu gampang diatur. Cukup ancam adiknya yang sakit, dia akan patuh seperti anjing terlatih." Nyonya Ratna tertawa jahat.

Kania yang mendengar itu, hatinya seperti tertusuk belati es. Jadi, ini semua tentang aset dan warisan. Bukan sekadar wasiat kosong. Pernikahan ini, penderitaannya, semua hanyalah strategi licik untuk memindahkan kekayaan. Kania bukan istri. Dia adalah kunci, objek, alat tawar-menawar. Dan yang paling menyakitkan, mereka menggunakan Bintang-adiknya-sebagai rantai untuk mengikatnya.

Kania menyandarkan diri di pohon. Air matanya tak keluar, tapi dadanya terasa sesak sampai ia sulit bernapas. Kania menyadari, ia tidak hanya terjebak dalam pernikahan yang kejam, tapi ia adalah korban dari permainan kotor yang jauh lebih besar dan rumit daripada yang ia bayangkan. Penderitaannya di rumah ini, di mata mereka, adalah hal yang sangat murah dan sebanding dengan miliaran rupiah aset yang mereka incar.

Ia harus mencari cara, mencari celah. Tidak hanya untuk dirinya, tapi untuk Bintang. Tapi bagaimana? Di rumah sebesar ini, ia bahkan tak punya teman bicara. Ia benar-benar sendirian, terisolasi, dan tak berdaya. Babak baru penderitaan Kania baru saja dimulai, dan ia tahu, hari-hari di depan akan semakin gelap.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Pernikahan Hanya Sandiwara

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Istri Serakah
8.1
Wanita yang menjadi pendamping hidupku ternyata menyimpan ambisi gelap. Ia tidak sekadar haus akan kemewahan harta yang kumiliki, namun juga berambisi mengendalikan seluruh eksistensiku. Sayangnya, kabut cinta membutakan mataku hingga segalanya terlambat. Aku baru menyadari sifat serakahnya setelah seluruh kekayaanku habis tak bersisa dan hidupku hancur lebur. Penyesalan mendalam datang saat aku telah kehilangan semua yang pernah aku perjuangkan selama ini.
Sampul Novel Istriku Yang Buluk Menjadi Rebutan
8.8
Willia sering kali dipandang sebelah mata oleh suaminya sendiri karena penampilannya yang dianggap tidak menarik. Namun, siapa sangka di balik sosoknya yang sederhana, ia justru menjadi pusat perhatian dan rebutan banyak pria lain yang mengaguminya. Di tengah godaan dan perhatian yang melimpah dari para lelaki tersebut, kesetiaan Willia kini benar-benar diuji. Apakah ia akan tetap bertahan pada pernikahannya, atau justru memilih jalan baru yang lebih dihargai?
Sampul Novel Ketika Pernikahan Palsu Menjadi Nyata
8.1
Kapten Leon Hartmann terjebak dalam pernikahan paksa dengan Aveline Laurent akibat salah paham warga desa saat ia menolongnya di hutan. Padahal, Aveline segera menikah dengan tunangannya, sementara Leon menjalin hubungan serius dengan seorang dokter. Namun, formalitas ini justru membongkar rahasia gelap pasangan masing-masing yang selama ini tersembunyi. Di tengah pengkhianatan dan misteri, perasaan baru mulai tumbuh di antara mereka meski hati masih terikat masa lalu.
Sampul Novel Lima Tahun, Satu Kebohongan yang Menghancurkan
9.4
Lima tahun pernikahan yang kusebut sempurna hancur seketika saat sebuah email pembaptisan muncul di laptop suamiku. Dia menggendong bayi bersama Rania Adeline, seorang influencer ternama. Rupanya, selama ini dia membohongiku dengan alasan pekerjaan demi membangun keluarga rahasia di luar sana. Merasa dikhianati setelah sekian lama menunda impian demi dirinya, aku akhirnya memutuskan untuk pergi dan mengambil beasiswa arsitektur di Singapura secepat mungkin.
Sampul Novel Sentuh aku Mas (Kuserahkan istriku pada adik lelakiku)
9.2
Lisa menghadapi kenyataan pahit saat suaminya yang dulu perhatian berubah menjadi kasar setelah menikah. Keinginan memiliki anak justru dianggap beban, bahkan kewajiban malam pertama pun diabaikan tanpa alasan jelas. Setelah berbulan-bulan menderita dalam ketidakpastian, Lisa akhirnya mengungkap rahasia menyakitkan di balik penolakan sang suami. Alih-alih memperbaiki hubungan, ia justru diserahkan kepada adik iparnya sendiri dalam sebuah keputusan yang sangat menghancurkan hati.
Sampul Novel Tertawan Pesona Mantan Papa Tiri
8.0
Embun terjepit dalam situasi pelik saat tumpukan uang dilemparkan ke arahnya sebagai bentuk penawaran hina. Ia diminta untuk tidur dengan suami dari wanita yang menawarkan bantuan tersebut demi melunasi seluruh hutang keluarganya yang menumpuk. Meski berada dalam keputusasaan finansial yang hebat, Embun merasa tidak siap menghadapi tuntutan skandal tersebut. Kini, ia harus memilih antara kehormatan dirinya atau keselamatan ekonomi orang-orang yang ia cintai.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan