Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel I Love You Chef

I Love You Chef

Renata Deanita akhirnya jatuh hati pada atasannya yang dingin dan angkuh, Arjuna Tunggajaya Nuraga. Meski terlihat galak, Arjuna ternyata menyimpan rasa yang sama namun takut terluka lagi setelah ditinggal sang istri. Sebuah ciuman spontan di Bandung membawa mereka ke dalam malam penuh gairah hingga sepakat untuk menikah. Namun, saat hubungan mereka semakin serius, ancaman tak terduga mulai mengintai. Sanggupkah cinta mereka bertahan dari gangguan orang asing?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Rasa gengsi di dalam diri saya yang membuat saya sulit untuk mengakui bahwa kamu itu cantik. " - Arjuna Tunggajaya Nuraga -

Renata dan Imelda pun kembali menuju dapur setelah menghabiskan waktu satu jam untuk beristirahat. Masih ada pertanyaan yang berkeliaran di kepala Renata sejak dia datang ke kantin khusus karyawan. Yaitu; dia tidak melihat Arjuna di sana, lalu biasanya pria itu beristirahat di mana?

Sepanjang perjalanan menuju dapur, Renata tak henti-hentinya mendengarkan Imelda yang terus berbicara. Imelda menyerocos tentang apa saja, mulai dari kesan pertama dia kerja di sini, melihat sosok Arjuna yang membuatnya selalu horny atau apalah, sampai-sampai Imelda bercerita tentang salah satu kucing kesayangannya yang terlindas oleh mobilnya. Dan tentu saja, itu membuat Imelda menangis berhari-hari, itu sih yang Renata dengar sejak tadi.

Tiba-tiba saja, kedua mata Renata menemukan sosok yang tak asing lagi baginya. Sosok itu sedang duduk pada sebuah kursi taman dan meskipun jarak mereka cukup jauh, Renata bisa segera mengenalinya.

"Pak Arjuna.." gumamnya pelan, dan langsung saja dia berhenti berjalan dan menatap Arjuna yang sedang duduk di kursi taman.

Renata melihat Arjuna sedang duduk sembari menghisap rokok, lalu membuang asapnya begitu saja, seolah-seolah asap itu merupakan masa lalunya yang dibuang ke udara. Terlihat juga raut wajah Arjuna yang menunjukan kesedihan. Sesekali juga, pria itu tampak memejamkan kedua mata, dan membukanya kembali. Renata yang melihat itu merasa hatinya terenyuh. Apalagi saat mengetahui bahwa Arjuna merupakan seorang pria yang baru bercerai.

"Woyy!!" teriak Imelda yang membuyarkan lamunan Renata. Dia melihat temannya itu sudah berjarak beberapa meter darinya.

"Lo ngapain sih?!"

Renata yang tersadar, langsung saja kembali berjalan cepat. Oh bukan, melainkan berlari kecil agar bisa segera tiba di samping Imelda.

"Nggak apa-apa." jawabnya ketika sudah berada di samping Imelda.

"Lihat apa sih? Serius amat." Imelda pun kembali bertanya. Renata berpikir sejenak, lalu menggeleng. "Um... nggak lihat apa-apa sih."

"Pak Arjuna ya?" tebakan Imelda membuat Renata terkejut. Bagaimana Imelda bisa tahu? Ah sial, dia terpergok juga.

"Ah, apaan sih lu," sergah Renata cepat.

"Pak Arjuna emang nggak suka istirahat di kantin." Imelda pun mulai melanjutkan langkahnya kembali, sementara Renata menyamakan langkah.

"Dia emang suka duduk di kursi taman itu. Sambil menikmati pemandangan hotel ditemani sebatang rokok. Sendiri, dan nggak pernah ada yang nemanin."

Kali ini, Renata mulai mendengarkan secara serius tatkala Imelda menjawab pertanyaan di kepalanya. Tanpa dia ucapkan, temannya itu sudah tahu.

"Emang suka sedih gitu ya, mukanya?" tanya Renata.

"Maklumlah, namanya juga orang yang baru cerai satu bulan yang lalu. Jadi, wajar aja kalau Pak Arjuna belum bisa move on," jelas Imelda lagi, sementara Renata mengangguk mengerti.

"Lo kayaknya, tahu banget ya tentang Pak Arjuna," lanjut Renata sementara mereka masih terus berjalan kembali ke dapur.

"Re, semua orang juga tahu. So, bukan cuman gue aja. Dannsekarang lo juga tau. Apa lu nggak tahu, gimana mulutnya orang-orang dapur kalau ada gosip terbaru," Imelda terkekeh. "Kayak lambe turah yang selalu up-to-date."

Renata tertawa. "Masa, sih?"

"lya, pura-pura ah lo. Tahu nggak, anak-anak dapur di sini paling suka gosip. Hidup semua kalau udah bergosip." Tawa Imelda berderai ketika sudah berada di depan dapur.

"Ekhm!" Suara dehaman itu membuat Imelda dan Renata terkejut setengah mati. Renata berhenti melangkah sementara Imelda segera menutup mulutnya.

"Sudah waktunya kerja. Ketawa-ketawa saja kerjaannya."

Mereka berdua tak berani menjawab, melainkan mempercepat langkah dan masuk ke dapur. Namun, tiba-tiba saja Renata merasakan cengkeraman lembut di tangan kanannya. Tentu sajanitu membuatnya tersentak dan jantungnya berdebar tak karuan.

"Ikut saya."

Perintah itu membuat bibir Renata kelu, ia tak mampu menjawab perintah Arjuna dan lebih memilih berjalan mengikuti pria itu di belakangnya. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah ruangan kecil, dan sudah dipastikan itu adalah kantor Arjuna.

"Pak, sa-saya minta maaf," ucap Renata, yang masih mengira pria itu marah karena Renata dan Imelda tertawa-tawa di jam kerja.

Arjuna bergeming. Tak menyahut ucapan Renata. Dia hanyanmenatap tajam kedua mata Renata dengan tatapan yang mampu menghunus menuju hati Renata yang paling dalam. Ditatapnya kedua mata Renata tanpa henti, membuat wanita itu semakin menunjukan raut wajah yang ketakutan.

Satu hal yang disadari Arjuna, tatkala menatap mata Renata adalah; cantik. Dia tidak bisa menolak mengakuinya, kalau Renata benar-benar cantik, walaupun dia tahu wanita itu sedikit tolol.

"Pak.." lirih Renata lagi.

Tetapi, pria itu masih tak menyahutnya dan lebih memilih untuk memandangi penampilan Renata. Matanya mulai menjelajahi seluruh bagian atas kemudia terhenti pada dada wanita tersebut.

Arjuna menelan salivanya susah payah. Dua buah gunung yang terlihat menggoda tentunya membuat gairah Arjuna bergejolak meskipun Renata mengenakan chef jacket, namun sialnya, chef jacket yang dikenakan wanita itu terlihat terlalu ketat. Sehingga mencetak jelas semua lekuk tubuh wanita tersebut. Ah sial, apa yang sebenarnya Arjuna pikirkan?

Arjuna langsung saja membuang pikiran kotornya jauh-jauh. "Kamu tahu alasan saya menjadikan kamu sebagai Sous Chef?"

Renata mendongak setelah sejak tadi tertunduk ketakutan. "Ng-nggak tau, Pak."

Kenapa wanita ini semakin menggemaskan ketika sedang ketakutan, pikir Arjuna gemas.

"Karena saya yakin, kamu bisa memperhatikan pegawai lain di sini. Dan saya percaya kamu bisa bertanggungjawab pada resep di dapur kita." Renata terdiam, tidak berani membuka mulut. "Jadi, saya harap kamu bisa bekerja dengan baik. Bukan malah ketawa-ketawa kayak tadi."

"Saya minta maaf, Pak," ucap Renata lagi, kali ini bahkan lebih pelan.

"Kembali ke dapur!" Perintah tegas itu langsung saja membuat Renata membalikkan badan dan melesat pergi dari ruangan Arjuna.

Jangan buat saya tergila-gila sama kamu, Re.

☆☆☆☆☆

Renata kembali ke dapur dan langsung saja memakai apronnya dengan cepat. Lalu kembali bekerja sebagai mestinya. Dia tidak ingin di hari pertama bekerja, sudah membuat masalah. Jadi, saat Imelda mengajaknya mengobrol, Renata tidak mendengarkannya.

"Re..." panggil Imelda sedikit berteriak, padahal jarak mereka cukup dekat. "Re ish...gue mau nanya."

"Apaan?" Renata menolehkan kepalanya sekilas, lalu kembali memfokuskan diri pada masakan yang sedang dibuatnya.

"Lo tau resep adonan poffertjes?"

"Tahu. Nih..." Renata menyodorkan catatan kecil yang biasa digunakannya.

"Eh, tadi Pak Arjuna bil-"

Pertanyaan Imelda terhenti ketika melihat Arjuna sudah memasuki dapur. Suasana dapur pun kembali berubah menyeramkan.

Arjuna berjalan-jalan melewati beberapa orang yang bekerja. Kadang juga mencicipi masakan yang sedang dibuat oleh para Juru masak.

"Kurang garam," ucapnya setelah mencicipi masakan dari salah satu juru masak pria.

"Ini," Arjuna kini berada di samping Imelda, yang sedang meracik bahan untuk membuat adonan poffertjes. "Ini putih telurnya kocok pisah."

Meskipun begitu, nada suara Arjuna tidak berubah. Tetap saja dingin seperti es, dan hal itulah yang membuatnya disegani oleh para pekerja yang lainnya. Kemudian, Arjuna terus saja memantau kinerja pekerja yang lainnya, hingga dia berjalan mendekati Renata. Tentu saja, Renata sedikit panik.

Saat Arjuna berjalan mendekati Renata, tanpa sengaja dia menyenggol siku kanan wanita itu, sehingga terdengar suara ringisan kesakitan dari mulut Renata.

"Renata," panggil Imelda terkejut, lalu cepat menghampiri wanita itu. "Tangan lo nggak apa-apa, kan? Duh... ini kan minyak panas."

Arjuna yang melihat itu langsung saja bereaksi, dengan cepat meraih tangan Renata dan membawanya menuju pancuran air mengalir di wastafel. Telihat sekali kalau wajahnya terksesan panik. Mungkin, Arjuna merasa bersalah karena telah tak sengaja menyenggol siku Renata.

"Pak.." panggil Renata hati-hati. Sumpah demi apapun, saat tangannya disentuh dan digenggam oleh Arjuna, jantungnya berdebar sangat kencang. Rasa sakitnya pun tiba-tiba saja hilang. Bahkan tubuhnya juga menegang kaku.

"Diam," perintah Arjuna yang masih bernadakan sedingin es.

"Pak, ini nggak apa-apa." Renata bersikeras ingin melepaskan genggaman itu. Tetapi, Arjuna menahannya semakin kuat.

"Saya minta maaf. Saya nggak sengaja," ucapnya kemudian, sembari mematikan pancuran air. "Masih panas?" lanjutnya.

Renata bisa menangkap kekhawatiran pria itu. Bahkan raut wajahnya juga menggambarkan rasa bersalahnya.

"Udah mendingan, kok, Pak," balas Renata seraya menarik tangannya. "Nanti di rumah saya olesi salep."

Arjuna bergeming. Pria itu tak membalas ucapan Renata dan hanya menatap wanita itu penuh arti. Pada detik selanjutnya, lengkungan senyum di bibirnya akhirnya terbit. Dan itu nyarismembuat Renata kehabisan napas karena senyuman Arjuna... benar-benar manis.

Gila! Bisa-bisa Renata melemas seketika. Hal yang dikatakan oleh semua orang tentang pria itu, justru membuat Renata semakin penasaran dengan sosok Arjuna. Arjuna yang terlihat lebih tampan dan seksi saat tersenyum. Arjuna yang terlihat begitu manis saat peduli kepadanya. Dan Arjuna yang selalu membuat jantung Renata berdebar kencang.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tak Membencimu
8.5
Demi melunasi utang ibunya, Ayyara Faderica terpaksa menikahi CEO Kieran Bimantara. Meski Kieran memperlakukannya bak ratu karena rasa cinta yang lama terpendam, Ayyara justru sulit membuka hati dan diam-diam masih menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya. Walau dikhianati, Kieran tetap gigih berjuang demi mendapatkan cinta sang istri. Akankah Ayyara akhirnya menyadari ketulusan Kieran, ataukah masa lalu akan menghancurkan pernikahan mereka?
Sampul Novel Bastard My Stepfather
7.9
Dave Eshan Mahendra akhirnya menyerah pada pernikahan enam tahunnya dengan Dara Caroline. Di balik perselingkuhan istrinya, Dave ternyata memendam rasa pada putri tirinya, Clara. Kabar perceraian ini mengejutkan Clara yang ceria hingga ia mendatangi kantor Dave. Tak disangka, Dave justru menyatakan cinta padanya. Setelah bimbang cukup lama, Clara menerima perasaan itu. Namun, hubungan rahasia ini membawa Clara pada fakta tersembunyi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Sampul Novel Bertemu Karena Jodoh
8.2
Nasyira terbiasa menikmati kemewahan sebagai putri orang kaya, namun roda kehidupan berputar drastis saat hartanya ludes seketika. Nasib malang menimpa keluarganya ketika sang papa dinyatakan bangkrut total. Kehancuran finansial ini bukan tanpa alasan, melainkan akibat pengkhianatan keji yang dilakukan oleh adik kandung papanya sendiri. Kini, Nasyira harus menghadapi realita pahit setelah orang terdekat menghancurkan seluruh kejayaan mereka.
Sampul Novel CINTA DINGIN TUAN BESAR
8.4
Marla masuk ke kediaman Austin sebagai pelayan, namun ia tidak menyadari bahwa Margaret memiliki agenda tersembunyi untuk menjodohkannya dengan sang cucu tertua, Richard Branson Austin. Richard adalah pria kaku yang sangat pendiam, kontras dengan adiknya, Ascar, yang gemar memberontak. Terjebak di antara dua kepribadian yang bertolak belakang, Marla kini menghadapi dilema besar: bertahan dalam rencana perjodohan tersebut atau memilih untuk melarikan diri.
Sampul Novel Cinta Telah Padam, Jalan Kita Berpisah
9.6
Dipandang rendah oleh suami sendiri karena latar belakangnya sebagai wanita petani adalah kepedihan sehari-hari bagi sang protagonis. Keadaan kian menyakitkan karena suaminya juga bersikap dingin pada anak mereka yang masih bayi. Namun, segalanya berubah saat cinta pertama sang suami kembali ke Kota Jenang. Pria itu tiba-tiba menunjukkan kehangatan yang tidak pernah ada sebelumnya, bahkan bersikap manis di meja makan demi menyenangkan kekasih lamanya. Menyadari bahwa senyuman palsu suaminya bukan untuk mereka, sang ibu memeluk erat anaknya dan bersiap melangkah pergi demi memulai hidup baru.
Sampul Novel Gairah Masa Remaja
9.2
Dalam momen yang penuh gejolak, Billy perlahan melepas rok yang kukenakan. Aku hanya bisa menggerakkan kaki untuk membantunya hingga pakaian itu terlepas, menyisakan celana pendek di balik kainnya. Saat Billy menyingkirkan celana tersebut, ia terpaku menatap kakiku yang mulus tanpa cela. Jemarinya mulai menelusuri kulitku dengan perlahan, membuatku terhanyut dalam sensasi yang ia berikan. Aku hanya bisa terdiam dan menikmati setiap sentuhan Billy padaku.