Sampul Novel Gairah Masa Remaja

Gairah Masa Remaja

9.2 / 10.0
Dalam Gairah Masa Remaja, Billy dan pasangannya terjebak dalam momen intim yang penuh eksplorasi. Romance novel bergenre young adult ini menggambarkan pilihan sulit dan konsekuensi hasrat di era modern. Baca kisah lengkapnya di platform web novel kami sekarang.
Ringkasan Gairah Masa Remaja
Dalam momen yang penuh gejolak, Billy perlahan melepas rok yang kukenakan. Aku hanya bisa menggerakkan kaki untuk membantunya hingga pakaian itu terlepas, menyisakan celana pendek di balik kainnya. Saat Billy menyingkirkan celana tersebut, ia terpaku menatap kakiku yang mulus tanpa cela. Jemarinya mulai menelusuri kulitku dengan perlahan, membuatku terhanyut dalam sensasi yang ia berikan. Aku hanya bisa terdiam dan menikmati setiap sentuhan Billy padaku.
Baca Selengkapnya

Gairah Masa Remaja Bab 1

Halo kenalin namaku Husna Amira, aku berasal dari kota metropolitan di pulau jawa, aku berada dikeluarga yang cukup taat dalam beragama. Aku lahir 18 tahun lalu.

.

Hari ini adalah hari pertamaku sekolah, hari dimana aku masuk ke SMA terkemuka di kotaku.

.

"Unaaaaaa" Teriak mamahku dari lantai 1 rumah.

.

"Iya mah" Balasku dengan juga teriak.

.

"Cepet turun dulu sebentar nak, ada yang mau mamah kenalin" Ucap mamah ku.

.

Aku pun bergegas keluar dari kamarku, dan turun ke lantai 1. Oh ya rumahku ini 2 lantai. Jadi ruang tidurku dan orang tua ku di lantai 2, sisanya seperti dapur dan ruang tengah ada di lantai 1. Saat aku berjalan daru tangga aku melihat ibuku lagi duduk bersama bapak bapak tua kira kira umurnya 40 an keatas, dengan wajah yang keriput, kurus, dan kulitnya hitam.

.

"Ini mama mau ngenalin kamu supir yang akan sering antar jemput kamu" Ucap mamah sambil senyum padaku.

.

Kenapa mamaku memperkerjakan supir karna sekolahku ini lumayan jauh dari rumah, berbeda dengan waktu aku SD dan SMP yang sekolahnya hanya berjarak 3 blok dari rumahku, jadi bisa ditempuh jalan kaki. Namun sekarang aku harus pekerjakan supir karna sekolahku lumayan jauh dari rumah.​.

"Kenalin, saya Pramono Non. Panggil aja pak Pram" Sambil menyodorkan tangannya ke arahku yang berdiri

.

" Iya pak, kenalin juga aku Husna Amira panggil aja Una" Sambil bersalaman dengan Pak Pram.

.

"Yaudah kami makan dulu, habis itu siap siap sekolah, Pak Pram udah sarapan? " Kata mamaku

.

"Udah bu, sudah sarapan saya tadi di rumah" Ucap Pak Pram dengan lembut.

.

"Oh iya pak, yaudah ini kunci mobilnya, mobilnya warna putih itu ya pak, panasin dulu mobilnya sebelum antar jemput Una" Kata ibuku sambil mengambil kunci dan menyerahkannya kepada Pak Pram.

.

" Iya bu" Kata Pak Pram sambil mengambil kunci mobil yang disodorkan ibu.

.

Pak Pram kemudian pergi ke garasi buat panasin mobil, sementara aku dan ibuku menyantap sarapan yang dibuatkan oleh Bibi Inem. Aku makan dengan ibuku sambi berbicara tentang persiapan disekolah baruku.

Setelah makan akupun bergegas ke mengambil tas dan segera menuju garasi di rumahku. Sampai disana aku melihat Pak Pram yang melap mobilku.

.

"Udah siap pak? " Kata ku sambil menepuk pundak Pak Pram.

.

"Eh Non, kaget saya, ini udah siap, mau berangkat sekarang non?" Kata Pak Pram.

.

"Ayo Pak, takut telat saya" Kata ku sambil masuk mobil.

.

"Ok non" Kata Pak Pram juga sambil masuk mobil.

.

Posisi ku di belakang Pak Pram, disepanjang perjalanan aku dan Pak Pram berbincang tentang apapun, karna kami nyambung obrolannya jadi enak buat bincang lama.

Tak terasa sudah sampai disekolah dan aku pun berpamitan dengan Pak Pram dan menuju sekolahku. Aku pun langsung mencari kelasku disekolah baru itu. Diperjalanan aku bertemu dengan 2 temanku yaitu Anin dan Linda, mereka berdua bukan cuman temanku, tetapi mereka berdua adalah sahabatku. Dari SD kami sudah satu sekolah dan sampai SMA kami juga satu sekolah.

anin

"Unaaaaaaa" Teriak Anin dengan mengangkat satu tangannya ke arahku.

.

"Eh kalian" Bergegas aku pergi ke arah mereka berdua

.

"Lo lama amat sih dari tadi nunggu" Kata Linda.

.

"Iyanih ampe luntur skincare gue" Timpal anin.

.

"Maafin yak hehe" Kata ku sambil tersenyum tipis.

.

"Lo tau na kelas kita dimana? " Kata Linda nanya.

.

"Kan digrub dikasih tau, kelas kita di lantai 3 ujung, gak masuk grub sih" Kata ku.

.

"Hehe, yaudah kesana aja langsung yok" Kata Anin.

.

Kami pun bertiga langsung menuju kelas yang dituju itu, sesampainya disana aku cukup terkejut karna sudah banyak murid lain yang sudah sampai, aku dan temanku pun langsung duduk ditempat bangku yang tersisa, aku duduk dimeja paling belakang pojok kanan sementara anin dan Linda duduk di depan meja ku.​

.

Tak lama kemudian ada seorang siswa dengan gaya culun masuk kelas, dia memakai hoodie abu abu dan bekepala cepak, di juga memakai kacamata bulat yang sering dipakai oleh siswa siswa culun pada umumnya, karna meja disebelah tempat ku saja lagi yang kosong tersisa dia menuju meja itu, tapi saat dia sampai dia meja dia seperti kebingungan dengan kepala tertunduk malu, mungkin gugub duduk bersebelahan dengan wanita cantik sepertiku, haha bersyandaaaa.

Aku pun memberanikan diri untuk berbicara dengannya terlebih dulu.

.

"Duduk aja gakpapa kok" Kata ku sambil menepok kursi disebelahku.

.

Dia menatapku sebentar dan kembali menundukan kepalanya, lalu dia duduk. Aku menatapnya dengan sedikit tersunyum karna baru pertama kali aku bertemu dengan orang seperti ini. Setelah itu dia mengarahkan wajahnya kepadaku.

.

"Makasih yah udah mau duduk disamping aku" Kata laki laki culun itu, sambil menganggukan kepalanya dan kembali memalingkan wajahnya dari ku.

.

"Hai kenalin nama ku Husna Amira, panggil aja Una" Sambil menyodorkan tanganku ke dia.

.

"Oh iya namaku Ridho, panggil aja Edo" Sambil tangganya meraih tangan ku untuk bersalaman.

edo

.

Saat bersalaman dengannya aku merasakan tangannya gemetar, seperti orang yang gugub mau tampil dipentas seni. Tak lama kemudian lonceng berbunyi dan ada guru yang masuk kekelas kami. Beliau memperkenalkan diri nama beliau Pak Sucipto, beliau adalah wali kelas kami selama satu tahun nantinya.

.

Kelas belum bisa melaksanakan belajar dan mengajar, karna hari ini tentang pengenalan sekolah dan sesi perkenalan setiap siswa. Habis dari kegiatan itu waktu pulang dan aku di jemput lagi oleh Pak Pram. Dan sampai dirumah aku istirahat dan melakulan aktifitas seperti biasa dirumah.

***

Sudah hampir 2 bulan aku belajar disekolah ini, tidak banyak hal menarik namun cukup menyenangkan bagiku untuk berada disini, apalagi ada Anin dan Linda yang selalu menemaniku saat disekolah maupun pulang sekolah, biasanya habis pulang sekolah kadang mereka ikut pulang bersamaku dan dirumahku mereka main sampai sore. Dengan semua hal happy yang aku rasakan disekolah ini berbanding terbalik dengan teman sebangku ku si Edo, karna perawakannya culun dia sering dibully di kelas maupun di luar kelas. Kadang dia diejek dengan panggilan wibu, gila, miskin dan semacamnya. bahkan dilukai secara fisik dan mental. Aku cukup kesian dengan apa yang iya alami, beberapa kali aku membantunya dengan membelanya supaya tidak diganggu oleh teman teman, namun hal semacam itu tidak bisa menghindarkan dia dari bullyan itu. Dia hanya punya waktu tenang saat duduk disampingku, karena saat duduk disampingku tak ada satupun orang yang mengganggunya.

.

Bel jam ke 5 sudah berbunyi saatnya kami masuk kelas, aku, Anin, dan Linda sedang berada di kantin. ​.

Anin

.

"Eh udah bel tuh, ayo cepet kekelas hari ini kan materinya Pak Bagas" Kata Anin langsung membereskan tempat makannya dan langsung berdiri.

.

"Sebentar ah, ini belum abis nasi gorengku" Kata ku sambil mengunyah nasi goreng yang kusantap.

.

"Bungkus aja na, dari pada nanti kena marah sama Pak Bagas" Kata Linda menarik tanganku.

.

"Iya iya aku minta bungkusin dulu ama mangnya" Kataku mengambil piring nasi goreng yang masih tersisa setengah piring.

.

Setelah mamangnya membungkuskan nasi gorengku, kami pun bergegas ke kelas. Saat sampai dikelas aku terkejut saat melihat Edo dengan pakaian sebagian basah kuyup. ​.

Edo

.

"edo lu kenapa?" Dangan suara yang agak keras sambil memposiskan badan ku untuk duduk dibangku ku.

.

Edo hanya diam tak bergeming, dia hanya menunduk dan tak mengucapkan sepatah kata pun.

.

"Yaudah kalo gitu, gakpapa kamu gak mau cerita sekarang, kamu udah makan do? " Kata ku sambil menepukan tangan kiriku dipundaknya.

.

"Be be belum na" Kata edo dengan gemetar tapi tidak menatap wajahku.

.

"Yaudah ni ada nasi goreng tadi aku gak habis makanya. Kamu makan aja" Kata ku sambil menyodorkan bungkusan nasi goreng.

.

"Makasih una" Sambil menganggukan kepalanya namun tak menatap kearahku, tangan kanannya pun mengambil sebuah bungkusan nasi goreng yang kusodorkan tadi.

.

Edo pun makan dengan lahapnya, dia seperti orang yang kelaparan. Aku jadi iba kepadanya berharap suatu saat aku bisa membantunya. Tak lama saat Edo menghabiskan makanannya Pak Bagas masuk dan langsung memulai materi pada hari ini. Ditengah beliau menjelaskan tentang matematika beliau membuat soal dan siapa saja yang bisa menjawab soal ini akan diberi nilai tambahan saat ujian nanti. Aku lihat soal itu sangat susah, akupun tak berfikir bisa menjawab soal itu, namun Edo disampingku langsung menghitung soal itu dibukunya. Edo anak yang dikenal pintar dikelasku jadi aku berfikir dia bisa menjawab soal yang diberikan Pak Bagas. Namun Edo malah memberikan jawaban itu padaku.

.

"Ini Una jawabannya, kamu yang jawab yah" Kata Edo menyodorkan buku yang berisi jawaban soal Pak Bagas.

.

"Eh nggak ah, kan kamu yang ngerjain masa aku yang jawab sih" Kata ku sambil berbisik dengan mendekatkan badanku pada Edo.

.

"Gakpapa Una, kalo aku yang jawab aku bakal dibully lagi, nanti aku dibilang caper, hitung hitung kamu udah bantu aku, kasih aku makan tadi jadi aku gak lapar lagi" Kata Edo meyakinkan ku sambil berbisik.

.

Aku diam karna aku merasa tak enak dengan Edo.

.

"Ayo Una cepet nanti keburu ada yang jawab" Kata Edo kembali meyakinkan ku.

.

"Kamu beneran gak apa apa do?" Kataku ragu.

Bersambung

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Gairah Masa Remaja

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Bos, Istri Anda Minta Cerai
9.1
Enam tahun Sella Wisara terjebak dalam pernikahan pilu sebelum Wildan Bramantio mengusirnya demi kembalinya Aisha. Tanpa ragu, Sella menyetujui perceraian itu dan pergi tanpa air mata. Namun, Wildan justru murka saat melihat mantan istrinya bahagia di pelukan pria lain tak lama kemudian. Meski dihina, Sella dengan tegas menolak campur tangan Wildan atas hidupnya. Melihat tatapan lembut Sella untuk pria baru, akal sehat Wildan pun seketika runtuh terbakar cemburu.
Sampul Novel Istri Kedua Pak Kades
9.8
Raya, mahasiswi KKN, mengalami tragedi kelam saat Pak Kades yang sedang sakau kehilangan kendali dan merenggut kesuciannya secara paksa. Meski Raya telah memohon dan berteriak histeris di tengah malam yang sepi, tak ada warga yang datang menolong. Kejadian memilukan ini menghancurkan hidup Raya seketika. Bagaimana nasib Raya selanjutnya setelah kehormatannya dirampas oleh pria beristri yang sudah memiliki anak tersebut? Ikuti kelanjutan kisahnya yang penuh duka.
Sampul Novel Kematian Berujung Perceraian
8.0
Setelah memohon 99 kali, sang ibu akhirnya membujuk Rizald Pratama untuk membawa putri mereka berkemah saat ulang tahunnya. Namun esoknya, sang anak ditemukan tewas di kaki gunung sambil memegang erat foto keluarga. Di tengah duka, sang ibu melihat unggahan media sosial suaminya bersama teman masa kecilnya dan seorang bocah lain. Foto bahagia menikmati matahari terbenam itu rupanya dipotret oleh mendiang putrinya sendiri sebelum meninggal, menyisakan misteri dan pengkhianatan yang memilukan.
Sampul Novel Merebutmu Kembali
9.3
Banyak orang berjuang sembuh dari luka batin, sementara sisanya memilih kabur dari kenyataan pahit. Chandani kini terjepit saat bayang-bayang masa lalu yang sangat traumatis tiba-tiba muncul kembali di hadapannya. Tak disangka, sosok yang menjadi sumber penderitaannya justru datang untuk melamar. Haruskah ia menerima pinangan itu atau melarikan diri demi ketenangan hidupnya? Di tengah kebuntuan ini, kegelapan seolah menjadi satu-satunya cahaya penuntun bagi nasibnya.
Sampul Novel Perempuan dan Kuasanya
8.7
Kehidupan seorang ibu hancur setelah suaminya menyebarkan video persalinannya ke situs terlarang. Di tengah rundungan siber, upaya hukum orang tuanya justru berakhir dengan kematian tragis mereka akibat terlindas mobil pelaku. Masih dalam kondisi lemah, wanita ini diusir mertua dan suaminya pada tengah malam, lalu disiksa hingga tewas oleh sekelompok orang kejam. Jasadnya dikubur diam-diam di gunung terpencil oleh sang suami yang berdalih demi kebaikan. Namun, maut bukan akhir; ia mendadak terbangun kembali di hari bayinya lahir.
Sampul Novel Skenario Palsu
8.2
Victoria Calloway, pengacara tangguh di New York, harus berhadapan dengan Damian Whitmore, hakim federal yang dingin dan tak kenal kompromi. Konflik memuncak saat Victoria menangani kasus keluarga elit Manhattan di hadapan Damian. Di tengah perdebatan sengit ruang sidang, mereka menemukan rahasia kelam yang saling terhubung. Batas profesionalisme pun memudar menjadi ketegangan personal. Mampukah mereka menghadapi kebenaran pahit saat skenario besar mulai terungkap?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan