Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel I Love You Chef

I Love You Chef

Renata Deanita akhirnya jatuh hati pada atasannya yang dingin dan angkuh, Arjuna Tunggajaya Nuraga. Meski terlihat galak, Arjuna ternyata menyimpan rasa yang sama namun takut terluka lagi setelah ditinggal sang istri. Sebuah ciuman spontan di Bandung membawa mereka ke dalam malam penuh gairah hingga sepakat untuk menikah. Namun, saat hubungan mereka semakin serius, ancaman tak terduga mulai mengintai. Sanggupkah cinta mereka bertahan dari gangguan orang asing?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Senyummu sangatlah manis. Mungkin aku akan terkena penyakit diabetes jika kamu tersenyum setiap kali melihatku." - Renata Deanita -

Sial! Mampus! Itu umpatan yang dikeluarkan Renata pagi ini. Bagaimana tidak? Saat ia melirik jam dinding di kamarnya, waktu sudah menunjukan pukul 08.30 pagi. Sudah dipastikan, dia akan telat masuk kerja, setidaknya setengah jam.

Tak tinggal diam, Renata langsung saja bangkit dari tidurnya dan menyambar handuk yang tergantung di belakang pintu kamar, lalu buru-buru masuk ke kamar mandi dan membersihkan badan secepat kilat. Karena sudah tidak ada waktu lagi untuknya bersantai-santai.

Kalau bukan gara-gara semalam, Renata mungkin tidak akan terlambat bangun pagi ini. Bayangkan saja, dia selesai kerja pada pukul 22.00, tetapi karena hujan deras yang tak berhenti-henti, akhirnya dia harus pulang pukul 00.00. Tengah malam! Dan itu pun pulang sendiri, dengan menaiki ojek online. Belum lagi ojek yang yang ditumpanginya mogok di tengah jalan. Jujur, itumembuat Renata ingin menangis karena kesal. Sudah lelah, pulang larut, motor mogok, kehujanan dan keesokannya harus masuk pagi.

Sebenarnya, semalam banyak rekan kerjanya yang menawari Renata untuk pulang bersama. Hanya saja, Renata terlalu malu untuk menerimanya karena dia merupakan pekerja baru.

"Lo bareng gue aja Re. Bakal lama nih hujannya." tawar Imelda malam itu, yang kemudian ditolak oleh Renata. "Gue dijemput pake mobil sama pacar gue."

Tentu saja Renata menolaknya, dia tidak mau menjadi kambing congek di antara Imelda dan pacarnya. "Nggak usah, deh, Del, bentar lagi juga reda. Gue udah pesen ojek online soalnya."

"Kenapa lo nggak pesan yang pake mobil?"

Nah itu dia, kenapa Renata tidak pesan yang pakai mobil? Karena uang Renata malam itu pas-pasan. Jadi, untuk tarif sebuah mobil sangatlah kurang. Pokoknya malam itu adalah malam ter-apes yang pernah dia rasakan.

"Nggak deh, udah tanggung," balas Renata dengan berbagai macam alasan. Kalau dia bilang uangnya tidak cukup, sudah pasti Imelda akan terus memaksanya. Dia tidak ingin hal itu terjadi.

Menyerah, Imelda pun berpamitan kepada Renata karena jemputannya sudah tiba. Sekarang tinggalah Renata seorang diri, berdiri di belakang gerbang hotel, sambil menatap jalanan yang masih saja dijatuhi oleh air hujan. Sesekali, Renata juga melirik jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya.

"Ah sial, udah jam sebelas malam," rutuknya pada diri sendiri.

"Belum pulang?"

Suara yang terdengar datar dan dingin itu berhasil mengejutkan Renata dan membuatnya seketika menoleh ke arah suara tersebut. Astaga! Demi apapun yang ada di dunia ini, apa yang dilihat Renata itu benar-benar nyaris membuatnya melemas saat itu juga. Jantungnya kembali berdebar keras dan dia merasa sesak. Hawa panas pun mulai menjalar di seluruh tubuh Renata dan tanpa sadar dia sudah menggigit bibir bawahnya sembari menelusuri penampilan sosok yang baru saja menyapamya.

Arjuna.

Pria itu yang menyapanya, khas dengan nada datar dan dingin. Berdiri hadapannya, Arjuna sudah mengganti chef jacket-nya dengan kaos putih polos berlengan pendek. Tatapan Renata terhenti pada kaos ketat yang dikenakan Arjuna. Kedua otot tangannya terlihat sempurna. Dada bidangnya...ugh! Renata ingin mengusapnya lembut. Dan wajahnya juga terlihat lebih bersih serta tatanan rambutnya juga begitu rapi. Tampak sebuah tas punggung hitam yang tergantung pada sebelah bahunya yang kekar. Pokoknya, seksi abis!!!

"Renata?" panggil Arjuna, yang membuat Renata makin salah tingkah, karena ketahuan merenung pria itu terlalu lama. Buru-buru, Renata memalingkan wajah dan mengutuk dirinya sendiri karena bersikap layaknya wanita jalang yang mendapatkan pelanggan. "Kamu belum pulang?"

"Be-belum, Pak." Renata masih memalingkan wajah, tak berani menatap Arjuna, karena itu bisa membuatnya sakit jantung lalu pingsan seketika.

"Um... " Arjuna bergumam. "Ngomong-ngomong, tangan kamu masih terasa panas?"

Lagi dan lagi, Arjuna terus menanyakan kondisi tangannya, dan tentu saja itu membuat Renata semakin salah tingkah. "Udah agak mendingan, Pak."

"Saya benar-benar minta maaf. Saya nggak sengaja."

Meskipun ucapan itu terdengar dingin, tetapi Renata dapat merasakan kekhawatiran yang Arjuna rasakan.

"Iya, Pak, nggak apa-apa, saya udah biasa kalau kena minyak panas." Sebisa mungkin, Renata mencoba untuk tidak bertukar tatap dengan Arjuna.

"Mau pulang bareng saya? Kebetulan, saya di jemput sopir pribadi, " tawarnya, yang membuat Renata membulatkan kedua matanya.

"Ng-nggak usah, Pak, saya udah pesan ojek online," tolak Renata cepat. Renata hanya tak ingin hubungannya dengan Arjuna melebihi batas antara atasan dan bawahan. Lagipula, dia tidak yakin jantungnya bisa tahan jika duduk semobil bersama Arjuna. Jadi, lebih baik tidak.

"Hujannya deras banget. Masa kamu pakai ojek," Arjuna tetap bersikeras.

Renata menggerak-gerakkan tangannya, juga bertekad menolak tawaran Arjuna. "Tadi saya pesan sebelum hujan, Pak."

"Yakin?"

Renata mengangguk cepat, tanpa benar-benar melihat ke arah Arjuna. Duh sial, kok atasannya ini tiba-tiba saja bersikap lembut? Argh...bisa-bisa Renata gila! Begitu mobil jemputan Arjuna datang, pria itu langsung saja menaikinya dan berpamitan dengan Renata. Satu hal lagi yang membuat Renata gila saat itu juga adalah; Arjuna kembali tersenyum, senyum hangat yang mampu membuat kedua lutut Renata melemas dan ingin ambruk begitu saja.

Renata tidak peduli dengan padangan karyawan lain ketika dia berlarian memasuki hotel. Yang dia pikirkan saat ini - bagaimana dia bisa menghindar dari amukan seorang Arjuna Tunggajaya Nuraga.

Tepat pukul 09.00 pagi, dan Renata baru sampai di dapur. Dia terlambat satu jam! Masih dengan napas yang memburu, Renata berjalan masuk dengan cepat, dan membuat semua staf dapur menoleh untuk menatapnya. Dia tidak sadar pada penampilannya sendiri sampai Imelda memanggilnya. Wanita itu menatap Renata dari atas ke bawah lalu kembali ke atas, lalu menepuk dahinya keras.

"Ampun Renataaa. ucapnya gemas seraya menghampiri Renata yang masih sibuk mengatur napasnya.

"Lo apa-apaan? Duh ini.."

Imelda menunjuk kancing chef jacket Renata yang tidak terpasang pada tempatnya. Jadi, bayangkan saja betapa berantakannya penampilan Renata sekarang.

"Terus, ini," tunjuk Imelda pada rambut Renata yang tak terikat dan berantakan.

"Dan satu lagi, ini," Imelda menunjuk bagian celana Renata yang belum terpasang dengan rapi. Kancingnya saja masih terlepas. Untung saja sepanjang perjalanan, celananya itu tidak melorot.

"Lo kayak gembel, tahu nggak," tambahnya lagi.

"Gue kesiangan, Del, jadi gue buru-buru aja," ucap Renata, seolah itu menjawab semuanya.

"Iya-iya, gue tau. Udah, lo sana, benerin dulu, tuh, baju sama semuanya," saran Imelda dan Renata mengangguk setuju. "Sebelum Pak Arjuna datang."

Benar juga ya, batin Renata. Ketika dia memasuki dapur, Renata tidak melihat pria itu. Dan ini kesempatannya untuk bisa membenahi diri sebelum bekerja. Mungkin, pria itu sudah pergi ke ruangan briefing.

☆☆☆☆☆

Mata Renata tak henti-hentinya memperhatikan sekelilingnya saat berjalan menuju ruang ganti. Dengah langkah cepat, sambil sesekali berlari kecil, Renata mencapai ruang ganti dalam waktu singkat. Begitu memasuki ruang ganti, Renata langsung saja berlari menuju cermin besar yang terpasang di dinding. .Betapa terkejutnya Renata saat melihat penampilannya sendiri. Kancing yang tak terpasang rapi, rambut yang berantakan, belum memakai make up dan celana yang belum dia kaitkan. Sangat buruk. Jauh lebih buruk dari seorang gembel.

Tak tinggal diam, Renata mulai merapikan dirinya sendiri. Dimulai dengan menyisir rambutnya dan mengikatnya dengan gaya pony tail, lalu merapikan kancing baju, dan kemudian mengaitkan celananya cepat.

"Renata?" Suara itu membuat Renata hampir mengumpat karena rasa terkejut yang luar biasa. Renata menoleh dan mendapati Arjuna muncul dari ruangan di baliknya. Aduh, sial! Dia pikir pria itu sudah ada di ruang briefing pagi. Tapi, bukan itu masalah terbesarnya sekarang. Renata membulatkan kedua matanya ketika menyadari penampilan Arjuna rambut pria itu berantakan dan Arjuna memang sudah mengenakan chef jacket, tapi... Oh Tuhan, aura keseksian pria itu menyeruak memenuhi ruang ganti sumpek ini. Renata bisa melihat perut sixpack pria itu, begitu juga dengan dada bidangnya yang terekspos jelas, karena chef jacket yang dikenakanannya belum dikancingkan. Membuat Renata harus menelan salivanya susah payah.

"Kamu ngapain di sini?" Masih sama dengan Arjuna yang biasa, suaranya masih datar dan sedingin es, walaupun dia nyaris tampil bertelanjang dada di depan bawahannya.

"Umm... anu, Pak." Renata benar-benar salah tingkah. Putus asa, dia mengedarkan pandangannya ke segala arah. "Saya lagi merapikan baju saya, Pak," jawabnya jujur, sambil sesekali melirik Arjuna yang mulai mengancingi bajunya.

"Tapi, ini, Re-"

"Pak, saya minta maaf, Pak, " potong Renata cepat, sebelum pria itu melanjutkan. Dia sudah tahu apa yang akan dikatakan Arjuna padanya. "Saya telat Pak, saya pulang dari sini jam dua belas malam, Pak. Terus sampai rumah udah jam satu pagi, Pak. Dan akhirnya saya bangun kesiangan, Pak," jelasnya cepat, dengan nada yang sedikit memohon.

"Renata-"

"Pak, tolong maafin saya, Pak. Jangan pecat saya, Pak. Kalau saya dipecat, saya nggak bisa makan, Pak. Saya minta maaf, Pak. Saya janji nggak akan mengulangi kesalahan ini lagi, Pak. Dan saja janji, nggak akan bikin Bapak marah sama saya lagi," cerocosnya tanpa henti.

"Renata-"

"Pak, tolong, Pak," lagi-lagi Renata memotong ucapan Arjuna. Dia tahu bahwa itu sangatlah tidak sopan, tetapi Renata melakukan itu agar Arjuna mau memaafkannya.

"Tapi, Renata, ini ruang ganti khusus laki-laki," ucap Arjuna akhirnya, dengan nada datar. Sambil menatap intens kedua mata Renata yang langsung melebar kaget.

"HAHI?"

Renata tersentak begitu mendengar ucapan Arjuna. Pipinya langsung memerah karena rasa malu yang menjalari dirinya. Matanya mulai menjelajahi sekitar ruangan. Dan benar saja, saat kedua mata Renata menatap ke arah pintu, di sana tertulis jelas 'RUANG GANTI KHUSUS PRIA. Membuat Renata malu setengah mati karena berada di ruang ganti tersebut. Untung saja, hanya Arjuna yang berada di sini. Jika sampai banyak orang, bagaimana? Entahlah, mungkin Renata memilih untuk mati saja karena rasa malu.

"Aduh, Pak... maaf." Renata lalu terburu berbalik dan berjalan cepat ke arah pintu. Namun, suara pria itu kembali mencegahnya.

"Renata.." Terpaksa, Renata menahan langkah. Renata tak bergerak, namun tak juga membalikkan tubuh. Remasan pada tasnya diperkuat dan sesekali juga, dia memejamkan kedua matanya. Hatinya sudah menjerit dan berharap agar atasannya itu tidak memarahinya lagi seperti kemarin.

"Kamu sakit?" selidik Arjuna.

"Hah!? Nggak Pak," jawab Renata, masih sambil memunggungi pria itu.

"Muka kamu pucat."

"Itu... itu karena saya nggak pake make up, Pak. Saya duluan ke dapur, ya, Pak."

Bagaikan kilat, Renata langsung melesat pergi. Dan dalam hitungan detik, wanita itu sudah hilang begitu saja. Sedangkan Arjuna, masih termangu manatap tempat Renata tadi berdiri. Menarik, gumamnya pelan, lalu diikuti dengan senyum kecil karena mengingat tingkah laku Renata barusan. Sayangnya Renata tidak melihat senyum Arjuna.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95NKS" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95NKS
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tak Membencimu
8.5
Demi melunasi utang ibunya, Ayyara Faderica terpaksa menikahi CEO Kieran Bimantara. Meski Kieran memperlakukannya bak ratu karena rasa cinta yang lama terpendam, Ayyara justru sulit membuka hati dan diam-diam masih menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya. Walau dikhianati, Kieran tetap gigih berjuang demi mendapatkan cinta sang istri. Akankah Ayyara akhirnya menyadari ketulusan Kieran, ataukah masa lalu akan menghancurkan pernikahan mereka?
Sampul Novel Bastard My Stepfather
7.9
Dave Eshan Mahendra akhirnya menyerah pada pernikahan enam tahunnya dengan Dara Caroline. Di balik perselingkuhan istrinya, Dave ternyata memendam rasa pada putri tirinya, Clara. Kabar perceraian ini mengejutkan Clara yang ceria hingga ia mendatangi kantor Dave. Tak disangka, Dave justru menyatakan cinta padanya. Setelah bimbang cukup lama, Clara menerima perasaan itu. Namun, hubungan rahasia ini membawa Clara pada fakta tersembunyi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Sampul Novel Bertemu Karena Jodoh
8.2
Nasyira terbiasa menikmati kemewahan sebagai putri orang kaya, namun roda kehidupan berputar drastis saat hartanya ludes seketika. Nasib malang menimpa keluarganya ketika sang papa dinyatakan bangkrut total. Kehancuran finansial ini bukan tanpa alasan, melainkan akibat pengkhianatan keji yang dilakukan oleh adik kandung papanya sendiri. Kini, Nasyira harus menghadapi realita pahit setelah orang terdekat menghancurkan seluruh kejayaan mereka.
Sampul Novel CINTA DINGIN TUAN BESAR
8.4
Marla masuk ke kediaman Austin sebagai pelayan, namun ia tidak menyadari bahwa Margaret memiliki agenda tersembunyi untuk menjodohkannya dengan sang cucu tertua, Richard Branson Austin. Richard adalah pria kaku yang sangat pendiam, kontras dengan adiknya, Ascar, yang gemar memberontak. Terjebak di antara dua kepribadian yang bertolak belakang, Marla kini menghadapi dilema besar: bertahan dalam rencana perjodohan tersebut atau memilih untuk melarikan diri.
Sampul Novel Cinta Telah Padam, Jalan Kita Berpisah
9.6
Dipandang rendah oleh suami sendiri karena latar belakangnya sebagai wanita petani adalah kepedihan sehari-hari bagi sang protagonis. Keadaan kian menyakitkan karena suaminya juga bersikap dingin pada anak mereka yang masih bayi. Namun, segalanya berubah saat cinta pertama sang suami kembali ke Kota Jenang. Pria itu tiba-tiba menunjukkan kehangatan yang tidak pernah ada sebelumnya, bahkan bersikap manis di meja makan demi menyenangkan kekasih lamanya. Menyadari bahwa senyuman palsu suaminya bukan untuk mereka, sang ibu memeluk erat anaknya dan bersiap melangkah pergi demi memulai hidup baru.
Sampul Novel Gairah Masa Remaja
9.2
Dalam momen yang penuh gejolak, Billy perlahan melepas rok yang kukenakan. Aku hanya bisa menggerakkan kaki untuk membantunya hingga pakaian itu terlepas, menyisakan celana pendek di balik kainnya. Saat Billy menyingkirkan celana tersebut, ia terpaku menatap kakiku yang mulus tanpa cela. Jemarinya mulai menelusuri kulitku dengan perlahan, membuatku terhanyut dalam sensasi yang ia berikan. Aku hanya bisa terdiam dan menikmati setiap sentuhan Billy padaku.