
Hilangnya Masa Muda
Bab 2
Pagi-pagi sekali, Safira sudah terbangun. Bukan karena alarm, melainkan karena kebiasaan. Sejak menikah dengan Danu, tidurnya tidak pernah lagi senyenyak dulu. Selalu ada gelisah yang mengambang, rasa hampa yang membayangi, bahkan dalam mimpi sekalipun. Di sampingnya, Danu masih terlelap. Punggungnya menghadap Safira, seolah membangun tembok tak kasat mata di antara mereka. Safira menghela napas, berusaha mengusir kesedihan yang selalu datang di pagi hari.
Ia bangkit perlahan, merapikan selimut, lalu melangkah ke kamar mandi. Cermin memantulkan bayangan seorang wanita muda yang dulunya ceria, kini terlihat sedikit layu. Lingkar hitam di bawah matanya adalah bukti malam-malam tanpa tidur nyenyak. Ia memaksakan seulas senyum, berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini adalah hidupnya sekarang, dan ia harus bisa menjalaninya.
Setelah mandi dan berpakaian, Safira menuruni tangga menuju dapur. Aroma kopi dan roti panggang sudah tercium. Bu Rina, mertuanya, sudah sibuk di sana, menyiapkan sarapan. Sejak Safira tinggal di sini, Bu Rina sering datang untuk membantu, entah sekadar mengobrol atau memastikan semuanya baik-baik saja. Kehadiran Bu Rina adalah salah satu berkah kecil bagi Safira di rumah besar ini.
"Pagi, Bu," sapa Safira, mencoba terdengar ceria.
"Pagi, Safira," jawab Bu Rina dengan senyum hangat. Wanita paruh baya itu selalu menyiratkan ketenangan. "Sudah bangun? Danu belum turun?"
Safira menggeleng. "Belum, Bu. Mungkin masih tidur." Ia mengambil tempat di meja makan, membantu menata piring.
Tak lama kemudian, langkah kaki kecil terdengar. Raihan, dengan rambut sedikit acak-acakan dan mata setengah terbuka, menuruni tangga. Ia langsung berlari memeluk kaki Safira.
"Mama Safira!" serunya dengan suara khas anak-anak yang baru bangun tidur.
Hati Safira menghangat. Raihan adalah pelipur lara baginya. Pelukan dan panggilan "Mama Safira" dari Raihan adalah obat penawar paling mujarab untuk setiap kesedihan yang ia rasakan. Ia menggendong Raihan, mencium puncak kepalanya. "Pagi, jagoan Mama. Sudah bangun?"
"Sudah! Raihan lapar," jawab Raihan sambil menggosok-gosok perutnya.
Bu Rina tersenyum melihat interaksi mereka. "Lihat, Danu. Raihan semakin lengket saja dengan Safira," ucapnya saat Danu akhirnya muncul di ruang makan, mengenakan setelan kantor yang rapi.
Danu hanya tersenyum tipis, yang nyaris tak terlihat, lalu duduk di kursinya. "Pagi, Bu. Pagi, Raihan." Matanya melirik sekilas ke arah Safira, namun tatapan itu buru-buru beralih.
Sarapan berlangsung dalam keheningan yang biasa. Danu fokus pada sarapannya, sesekali berbicara dengan Raihan tentang sekolah atau mainannya. Safira berusaha terlibat dalam percakapan dengan Bu Rina, menceritakan kegiatan hariannya, atau sekadar bertanya resep masakan. Ia merasa seperti ada dua dunia yang berbeda di meja makan itu: dunia hangat Bu Rina, Safira, dan Raihan, serta dunia dingin Danu yang berdiri sendiri.
Setelah sarapan, Danu berpamitan. "Saya berangkat ke kantor."
"Hati-hati, Nak," ujar Bu Rina.
"Papa Danu hati-hati," timpal Raihan.
Safira hanya mengangguk, tanpa suara. Danu pun berlalu, pintu depan tertutup, menyisakan keheningan yang familiar.
Rutinitas Safira di rumah Danu memang terasa sepi. Setelah Raihan berangkat sekolah, rumah besar itu terasa semakin hampa. Bu Rina akan pulang ke rumahnya sendiri, menyisakan Safira sendirian dengan para asisten rumah tangga. Safira mencoba mengisi waktunya dengan berbagai hal. Ia mulai membaca banyak buku, belajar memasak dari internet, bahkan mencoba berkebun kecil di halaman belakang.
Terkadang, ia merasa seperti seorang tahanan di sangkar emas. Semua fasilitas ada, semua kebutuhan terpenuhi, namun kebebasan jiwanya terenggut. Ia merindukan masa kuliahnya, saat ia bisa bebas berkumpul dengan teman-teman, sibuk dengan tugas-tugas, atau sekadar nongkrong di kafe. Ia merindukan orang tuanya, rumah kecil mereka yang sederhana tapi penuh tawa.
Orang tua Safira sesekali datang berkunjung. Mereka selalu menatap Safira dengan pandangan sendu, seolah meminta maaf tanpa kata. Safira tahu, mereka juga merasakan beban yang sama. Perusahaan ayah Safira perlahan bangkit kembali berkat bantuan modal dari keluarga Danu. Danu sendiri tidak pernah menyinggung masalah itu. Ia hanya memberikan bantuan seperti kewajiban, tanpa ada tuntutan atau pameran kekuasaan. Ini adalah satu-satunya hal yang Safira syukuri dari Danu: ia tidak pernah merendahkan keluarga Safira.
Suatu siang, Safira sedang membereskan kamar Raihan. Ia menemukan sebuah kotak kecil di bawah tempat tidur. Kotak itu terbuat dari kayu, diukir sederhana, dan sedikit usang. Dengan rasa ingin tahu, Safira membukanya.
Di dalamnya ada beberapa foto. Foto Danu muda dengan seorang wanita cantik berambut panjang, tersenyum cerah. Itu pasti almarhumah istri Danu, ibu kandung Raihan. Ada juga foto Raihan kecil dalam gendongan wanita itu, dan foto keluarga mereka bertiga yang terlihat sangat bahagia. Hati Safira mencelos. Ia merasakan gelombang rasa sakit yang tajam.
Rasa iri itu muncul lagi. Iri pada wanita di foto itu, yang pernah mendapatkan cinta Danu. Iri pada kebahagiaan yang terpancar dari senyum mereka. Safira sadar, ia tidak akan pernah bisa mengisi tempat wanita itu di hati Danu. Ia hanyalah bayangan, pengganti sementara, atau bahkan hanya formalitas.
Saat Raihan pulang sekolah, Safira bertanya tentang kotak itu. "Raihan, ini kotak apa?"
Raihan kecil memandang kotak itu. Matanya berbinar. "Itu kotak kenangan, Mama Safira. Isinya foto-foto Mama Nia." Mama Nia, nama panggilan untuk almarhumah ibu kandung Raihan.
"Mama Nia orangnya bagaimana, sayang?" Safira bertanya hati-hati.
Raihan tersenyum lebar. "Mama Nia baik sekali! Mama Nia suka nyanyi. Mama Nia suka masakin kue. Mama Nia cantik!" Raihan bercerita dengan antusias, seolah sedang menceritakan pahlawan kesayangannya.
Safira mendengarkan dengan seksama, hati kecilnya semakin perih. Ia tahu ia tidak bisa bersaing dengan bayangan masa lalu. Ia tidak bisa memaksa Danu melupakannya. Tapi, bagaimana dengan dirinya sendiri? Akankah ia selamanya hidup di bawah bayang-bayang ini?
Danu memang tidak pernah membahas almarhumah istrinya. Tidak ada foto Mama Nia yang dipajang di ruang tamu atau kamar mereka. Semua kenangan itu seolah terkunci rapat di hati Danu, dan mungkin, di dalam kotak kecil Raihan. Safira merasa Danu seperti menyimpan benteng pertahanan yang kuat, mencegah siapa pun masuk, terutama Safira.
Beberapa minggu berlalu. Safira mencoba mengalihkan perhatiannya. Ia mulai sering mengunjungi perpustakaan umum, mencari buku-buku baru, atau bahkan mencoba mengikuti kursus daring. Ia ingin mengisi dirinya, mengembangkan diri, agar tidak merasa terlalu kosong.
Suatu malam, saat Danu pulang kerja, ia mendapati Safira masih terjaga di ruang keluarga, membaca buku tebal. Danu, yang biasanya langsung menuju ruang kerjanya, kali ini berhenti.
"Belum tidur?" tanyanya, suaranya sedikit lebih lembut dari biasanya, mungkin karena kelelahan.
"Belum," jawab Safira singkat, menoleh padanya. "Baru selesai membaca."
Danu mengangguk. Ia menatap buku yang dipegang Safira. "Buku sejarah?"
Safira mengangguk. "Iya. Cukup menarik."
"Kamu suka sejarah?"
Safira terkejut. Ini adalah percakapan terpanjang yang mereka miliki di luar konteks Raihan atau Bu Rina. "Lumayan. Dulu waktu SMA sering ikut lomba cerdas cermat sejarah."
Danu mengangguk lagi. Ada jeda hening. Safira menunggu, bertanya-tanya apakah Danu akan mengatakan sesuatu lagi.
"Saya ke atas dulu," ucap Danu akhirnya, lalu berbalik dan berjalan menaiki tangga.
Safira menghela napas. Sedikit kecewa. Sedikit berharap. Ia kira obrolan mereka akan berlanjut. Tapi ternyata tidak. Danu tetaplah Danu, dingin dan tertutup.
Malam itu, Safira kembali merenung. Perhatian kecil Danu, meskipun hanya beberapa kalimat, sempat membuat hatinya berdesir. Apakah ada secercah harapan? Atau ini hanya halusinasinya saja? Ia tahu ia tidak boleh terlalu berharap. Harapan hanya akan menimbulkan rasa sakit yang lebih dalam.
Beberapa hari kemudian, insiden kecil terjadi. Safira sedang menyiapkan sarapan untuk Raihan, dan tanpa sengaja, ia menjatuhkan gelas kaca hingga pecah berkeping-keping. Suara pecahannya cukup keras.
Danu, yang sedang membaca koran di meja makan, langsung menoleh. Ekspresinya sedikit terkejut.
"Maaf," ucap Safira panik, langsung berjongkok untuk memunguti pecahan kaca.
"Hati-hati, Safira!" suara Danu terdengar tegas. Ia beranjak dari kursinya, mengambil sapu dan serokan dari sudut dapur. "Biar saya saja."
Safira terdiam, tangannya yang sudah hampir menyentuh pecahan kaca terhenti. Danu dengan sigap menyapu pecahan-pecahan itu. Gerakannya cekatan dan tenang.
"Sudah. Jangan disentuh, nanti terluka," ucap Danu, tanpa menatap Safira. Ia membuang pecahan kaca ke tempat sampah, lalu kembali duduk di kursinya.
Safira merasa aneh. Ada sedikit rasa canggung. Ia berterima kasih dalam hati. Danu tidak memarahinya, bahkan membantunya. Ini adalah sisi Danu yang jarang ia lihat. Sisi yang bertanggung jawab, bahkan sedikit peduli.
Kejadian itu membuat Safira sedikit lebih berani. Ia mulai mencoba berinteraksi lebih banyak dengan Danu, meskipun hanya obrolan ringan. Ia akan menanyakan tentang hari Danu di kantor, atau menawarkan untuk membuatkan kopi. Respons Danu tetap singkat, namun tidak seketus dulu. Ada perubahan yang sangat, sangat kecil, namun cukup untuk membuat hati Safira berdebar.
Suatu akhir pekan, Bu Rina mengajak Safira dan Raihan pergi ke sebuah panti asuhan. "Kita jenguk anak-anak di sana, Safira. Sekalian berbagi sedikit rezeki," ajak Bu Rina.
Safira dengan senang hati menyambut ajakan itu. Ia suka anak-anak, dan ia merasa senang bisa melakukan sesuatu yang positif. Mereka menghabiskan waktu di panti asuhan, bermain dengan anak-anak, membacakan cerita, dan membagikan mainan.
Saat mereka kembali ke rumah, Danu sudah berada di ruang keluarga. Ia melihat Safira dan Raihan yang tampak ceria setelah kunjungan itu.
"Bagaimana tadi, seru?" tanya Danu pada Raihan.
"Seru, Papa! Raihan punya teman baru di sana," jawab Raihan bersemangat.
Danu tersenyum tipis pada Raihan, lalu pandangannya beralih ke Safira. "Kalian dari mana?"
"Dari panti asuhan, Danu. Bu Rina yang mengajak," jawab Safira.
Danu mengangguk. "Baguslah kalau begitu. Kalian terlihat senang."
Safira merasakan kelegaan kecil. Danu tidak keberatan. Bahkan, ia terdengar sedikit... senang? Atau mungkin itu hanya perasaannya saja.
Namun, kebahagiaan kecil itu tidak bertahan lama. Beberapa hari kemudian, Safira tak sengaja mendengar percakapan antara Danu dan Bu Rina di ruang kerja Danu. Pintu sedikit terbuka, dan suara mereka samar-samar terdengar.
"Aku sudah bilang, Bu, aku tidak akan pernah bisa mencintai Safira," suara Danu terdengar tegas, nadanya dingin. "Aku hanya menikahinya karena desakan Ibu dan karena kondisi keluarga Safira."
Hati Safira mencelos. Kata-kata itu menusuknya seperti belati yang berkarat, meninggalkan luka yang dalam. Ia membeku di tempat, napasnya tertahan. Ia mendengar suara Bu Rina yang membujuk, "Tapi Danu, Safira itu anak baik. Dia juga cantik. Beri dia kesempatan. Beri dirimu kesempatan."
"Kesempatan untuk apa, Bu? Untuk berpura-pura?" suara Danu terdengar jengah. "Aku sudah bilang, hatiku sudah milik satu orang. Selamanya akan begitu."
Safira tidak sanggup mendengar lebih jauh. Ia berbalik perlahan, langkahnya gontai, kembali ke kamarnya. Air mata yang selama ini ia tahan, kini mengalir deras tanpa terbendung. Kata-kata Danu menusuk tepat di ulu hatinya.
"Hatiku sudah milik satu orang. Selamanya akan begitu."
Kata-kata itu terngiang-ngiang di benaknya. Ia tahu siapa "satu orang" itu. Almarhumah istri Danu. Mama Nia. Danu masih mencintai istrinya. Dan itu berarti, tidak ada ruang sedikit pun untuk Safira di hatinya. Tidak ada.
Semua harapan kecil yang sempat tumbuh di hati Safira, musnah seketika. Semua interaksi singkat, semua bantuan kecil, semua obrolan yang sempat membuat hatinya berdebar, kini terasa seperti ilusi belaka. Danu hanya bersikap sopan, itu saja. Tidak lebih.
Safira menangis hingga lelah. Ia merasa begitu bodoh karena sempat berharap. Ia terlalu naif. Danu sudah mengatakan sejak awal bahwa ia menikah karena desakan, bukan karena cinta. Kenapa ia harus melupakan kenyataan itu?
Malam itu, saat Danu masuk ke kamar, Safira sudah terlelap di balik selimut, memunggunginya. Atau setidaknya, ia berpura-pura terlelap. Ia tidak sanggup menghadapi Danu, tidak sanggup menatap wajahnya setelah mendengar semua itu.
Keesokan harinya, Safira kembali ke mode 'robot'. Ia berbicara seperlunya, menanggapi dengan singkat, dan menjaga jarak. Ia tidak ingin lagi terluka. Ia tidak ingin lagi berharap. Ia harus membangun kembali dinding di sekeliling hatinya, lebih tinggi dan lebih kuat dari sebelumnya.
Danu sepertinya menyadari perubahan sikap Safira. Ia sesekali melirik Safira dengan tatapan aneh, seolah bertanya ada apa. Namun, Safira selalu menghindar. Ia tidak ingin menjelaskan. Apa gunanya? Danu tidak akan peduli.
Kehidupan Safira kembali menjadi abu-abu. Ia fokus pada Raihan, pada kegiatan sehari-hari, pada buku-buku yang ia baca. Ia berusaha sebisa mungkin tidak berinteraksi langsung dengan Danu, kecuali jika memang benar-benar diperlukan.
Suasana di rumah terasa lebih dingin. Bu Rina pun menyadari ketegangan di antara Safira dan Danu. Ia seringkali mencoba mencairkan suasana, namun usahanya sia-sia. Danu terlalu tertutup, dan Safira terlalu terluka.
Beberapa hari kemudian, Safira mendapat kabar bahwa ibunya masuk rumah sakit. Ayahnya menelepon dengan suara panik. Safira segera bersiap-siap. Ia harus pergi menjenguk ibunya.
Saat ia berpamitan pada Danu, yang sedang membaca koran di ruang tamu, Danu mengangkat kepalanya. "Mau ke mana?"
"Ibu masuk rumah sakit. Aku mau menjenguknya," jawab Safira singkat, tanpa menatap Danu.
Danu bangkit dari duduknya. "Saya antar."
Safira terkejut. "Tidak perlu. Saya bisa naik taksi."
"Ini sudah malam. Saya antar saja," ucap Danu, nadanya tidak bisa dibantah.
Safira tidak punya pilihan lain selain mengiyakan. Selama perjalanan ke rumah sakit, keheningan menyelimuti mereka. Safira menatap jalanan yang basah karena hujan, sementara Danu fokus menyetir.
Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung menuju kamar rawat inap ibu Safira. Ibu Safira tampak lemah, namun matanya berbinar melihat kedatangan putrinya.
"Safira... Danu..." Ibu Safira berusaha tersenyum.
Danu menyalami orang tua Safira dengan sopan. Ia bertanya tentang kondisi Ibu Safira, dan menawarkan bantuan jika dibutuhkan. Sikapnya yang tenang dan dewasa membuat orang tua Safira merasa sedikit lega.
Safira memperhatikan Danu. Di mata orang lain, Danu adalah suami yang baik, menantu yang bertanggung jawab. Ia tampil sempurna di depan publik. Hanya Safira yang tahu, di balik topeng itu, ada hati yang terkunci rapat.
Setelah memastikan Ibu Safira baik-baik saja, Danu mengajak Safira pulang. "Sudah larut. Besok kita bisa menjenguk lagi," ucapnya.
Di perjalanan pulang, Safira merasa sangat lelah. Ia menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, memejamkan mata.
"Kamu baik-baik saja?" suara Danu terdengar.
Safira membuka mata. "Tidak apa-apa. Hanya lelah."
"Maaf," ucap Danu.
Safira menatapnya. Maaf untuk apa? Maaf karena tidak mencintainya? Maaf karena menyakiti hatinya? Atau maaf karena situasi ini?
"Untuk apa?" tanya Safira lirih.
"Untuk semuanya," jawab Danu, suaranya pelan.
Safira tidak tahu harus berkata apa. Ia menatap Danu, mencoba membaca ekspresinya. Namun wajah Danu tetap datar, sulit ditebak.
"Aku tahu ini tidak mudah untukmu, Safira," lanjut Danu, tanpa menatap Safira. Ia fokus pada jalanan. "Aku tahu aku bukan suami yang kamu impikan."
Air mata Safira mulai menggenang di pelupuk matanya. Mendengar Danu mengakui itu, rasanya campur aduk. Sakit, tapi juga ada sedikit kelegaan.
"Kalau saja aku bisa memilih..." Safira tidak melanjutkan kalimatnya. Ia menelan pil pahit itu.
Danu menghela napas panjang. "Aku tidak bisa memberimu apa yang kamu inginkan, Safira. Aku tidak bisa memberimu cintaku. Tapi aku akan berusaha menjadi suami yang baik, dan ayah yang baik untuk Raihan. Aku akan menjagamu."
Kalimat itu, meskipun bukan cinta, setidaknya memberikan sedikit pegangan bagi Safira. Sebuah janji untuk dijaga, meskipun tanpa rasa. Ia tahu itu tidak akan mudah. Ia tahu hatinya akan terus merintih. Tapi setidaknya, ada sedikit harapan. Harapan bahwa ia tidak akan sendirian sepenuhnya.
Mungkin, hanya mungkin, seiring berjalannya waktu, dinding es itu akan mencair. Atau mungkin tidak. Safira tidak tahu. Ia hanya bisa terus menjalani, hari demi hari, dalam sangkar emas yang sunyi ini. Masa mudanya memang telah hilang, namun ia harus mencari makna baru dalam kehidupannya yang sekarang. Demi dirinya, demi Raihan, dan demi orang tuanya. Ia akan bertahan. Ia harus bertahan.
Anda Mungkin Juga Suka





