Sampul Novel My Iceberg

My Iceberg

9.3 / 10.0
Dalam My Iceberg, Ganistra Yunata diusir oleh Prana Guntara saat mengandung. Empat tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali dalam romance novel ini. Ganistra harus menghadapi obsesi sang suami yang tak ingin kehilangan dirinya lagi. Baca kisah selengkapnya di web novel modern ini.
Ringkasan My Iceberg
Prana Guntara adalah suami yang kaku dan otoriter. Tanpa ampun, ia mengusir istrinya, Ganistra Yunata, atas kesalahan yang tidak pernah dilakukannya. Ganistra pergi membawa rahasia kehamilan yang belum terungkap. Empat tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali. Sosok Prana kini tampak berubah, ia menjadi sangat protektif dan terobsesi untuk memiliki Ganistra lagi. Ia bersumpah tidak akan membiarkan wanita itu pergi dari hidupnya untuk kedua kali.
Baca Selengkapnya

My Iceberg Bab 1

Bola plastik itu menggelinding di area mall megah yang sedang banyak pengunjungnya, lalu bersarang di bawah kaki seseorang. Di belakangnya berlari seorang bocah laki-laki kecil sekitar tiga tahunan. sepertinya sedang mengejar bola itu.

Tubuhnya yang mungil, tampak bulat berisi, seperti bola yang di kejarnya. Wajah yang tampan, terlihat sangat menggemaskan.

Sementara di tempat lain lagi yang tidak begitu jauh dari sana, seorang perempuan cantik berambut panjang hendak mengejar anaknya yang bernama Gagah. Langkahnya terhenti seketika.

Deg! 

Ia mengenali siapa pemilik sepatu itu,  yang berdiri menjulang tinggi di hadapan anak laki-laki kecilnya. Dengan segera tubuh ramping itu menyelinap ke belakang sebuah pilar besar penompang bangunan mall, secara diam-diam. Dengan hati cemas, ia terus memperhatikan lokasi Gagah dan laki-laki tinggi itu berada.

Wajah Gagah terangkat, saat mengetahui bola miliknya tertahan di kaki seseorang yang tidak dikenalnya.

"Bolaku" tunjuknya mengarah pada sepatu lelaki itu. "Danan ijak bolaku." katanya lagi secara lantang. Sepertinya marah karena barang milik dia, ada di bawah sepatunya.

Namun, karena raut wajah ciliknya sangat tampan, mimik marahnya malah terlihat lucu. Yang punya sepatu itu tersenyum, mulai tertarik dengan sikap beraninya.

"Bolamu baik-baik saja, kamu tidak usah marah." ucapnya dengan suara rendah. Kemudian dia mengambil bola itu dari bawah sepatunya.

Dan entah kenapa, sepertinya dia ingin sejenak menahan bocah tampan yang lucu ini, padahal seumur hidup belum pernah bercengkrama dengan anak-anak. Dia tidak begitu menyukainya.

"Danan abil, itu punaku." tunjuk Gagah lagi pada bola yang di pegang lelaki itu. Suara cadelnya terdengar lucu.

Tubuh jangkungnya berjongkok, berusaha menyesuaikan dengan tinggi badan Gagah. "Kalau bola ini mau kembali, kamu harus memintanya." 

Mata Gagah membulat. "Nda mau! itu punaku." mulutnya cemberut.

"Mintalah!" kata laki-laki itu, semakin senang mengganggunya. Kenapa anak ini, begitu menyita perhatiannya? Dia jadi bingung sendiri.

"Nda mauuu ...!" teriaknya lagi. Bibirnya sudah sangat mengerucut.

"Anak baik kalau menginginkan sesuatu, harus memintanya dengan sopan." Dia semakin mencadai Gagah yang semakin marah, malah semakin lucu dan terlihat menggemaskan.

Sepertinya Gagah sudah mulai tidak sabar, dia melangkah lebih mendekati dan menyambar bola dari tangannya. Laki-laki itu pun sengaja membiarkan bola dengan mudah di dapatkannya.

Gagah langsung berlari menjauh, sambil membawa bola plastik dan sempat melirik kembali kepadanya yang sudah berdiri. Tangan kecilnya melambai sambil tersenyum. Dan dia tertegun melihat senyumnya. 

Senyumnya! Mengingatkan dia pada seseorang. Dia jadi tertegun untuk sesaat, wajah anak itu seperti cermin dirinya sendiri. Tidak mungkin! Sangkalnya. Tidak percaya pada apa yang dilihat matanya sendiri.

Dia sempat mengedarkan pandangannya. Tidak mungkin bocah itu sendirian di mall sebesar ini, tetapi tidak ada tanda-tanda yang mendekati bocah itu. Saat melihatnya lagi, ternyata Gagah sedang duduk manis di sebuah kursi. Di sekitar konter makanan cepat saji, karena memang mereka sedang berada di area food court. Seakan sedang menunggu seseorang. 

Anak pintar dan patuh, pikirnya segera berlalu. Tanpa merasa khawatir lagi yang sekilas sempat dirasakannya tadi. Pikiran dia, takut diracuni lagi oleh hal yang menurutnya tidak mungkin.

Ganistra Yunatha yang biasa dipanggil Ganis, adalah ibu dari anak lucu itu. Segera keluar dari persembunyiannya, Setelah yakin kalau Laki-laki yang menahan bola anaknya, tidak terlihat lagi.

"Mami ...." teriak Gagah, saat melihat Ganis menghampirinya.

"Gagah, Mami mencarimu, lain kali jangan lari-lari di tempat seperti ini." tegurnya dengan nada lembut.

"Mami, bolana ang lali-lali ... aku halus takap." Gagah berusaha membela diri. Tangannya ditangkupkan, seolah sedang menangkap bola.

"Hmm ... bolanya tidak punya kaki, ya? Dan kaki Gagah yang kecil ini, kalah kencang sama bola yang tidak punya kaki ... huh! Kalau Gagah mau menang, harusnya Gagah taruh bolanya di lapangan berumput, bukan di sini."

"Iyaa, Mami. Bolana nda puna kaki, tapi bisa belali kecaaang." celotehnya.

"Bola ajaib." komentar Ganis asal. Menanggapi pemikiran anaknya, secara praktis saja.

"Ndak adaib, Mami. Latai ini licin, ndak cepeti lumput."

OMG!!! Kalau sudah begini, Ganis suka kehabisan akal untuk menjawab kalimat-kalimat cerdas anaknya. Padahal usia Gagah baru tiga tahun lebih, sekolah saja belum, tetapi mengenal hurufpun sudah tahu.

"Gagah mau ice cream ?" tanyanya, untuk mengalihkan perhatian. Akan tetapi, dijawab secara spontan oleh Gagah. Terlihat sangat antusias.

"Gagah mau es klim, Mami ...."

"Yuk, kita cari ice cream-nya."

Anak itu berjikrak kegirangan, sambil berpegangan pada lengan maminya. Meloncat-loncat secara zigzag.

Ternyata anak ini sudah melupakan kejadian tadi saat pertemuannya dengan laki-laki yang menahan bolanya, sebelum sempat menceritakan padanya.

Hampir saja, pikir Ganis. Dunia ini memang sempit.

"Gagah mau es krim rasa apa?" tanya Ganis, saat mereka sudah duduk mau memesan es krimnya.

"laca ... emm ... stobeli, sama laca ... emm ... cotlat!" serunya dengan mimik yang sangat menggemaskan.

Tidak begitu lama, pesanan yang diharapkan sudah datang. cup kecil es krim itu penuh dengan topping warna-warni.

"Wow!" mata Gagah membulat. Terlihat gembira melihatnya.

Sebelum menyuapkan es krim ke mulutnya, bocah cilik itu melihat dulu ke maminya. "Mami, napa ndak beli ec klimna?"

"Mama lagi gak enak perutnya, sayang. Udah, Gagah aja yang habisin es krimnya, ya?" 

"Mami cakit?" tanyanya sedikit menunjukan rasa kekhawatirannya. "pelica ke dotel, Mami." 

"Sakitnya Mami, gak harus diperiksa kedokter, Gagah. Mami masih kuat seperti biasanya." jawab Ganis, sambil menyikukan lengannya seperti binaragawan. Membuat Gagah tertawa. "Ayo, dimakan es krimnya, keburu cair nanti."

Gagah baru menyuapkan es krim ke mulutnya, setelah merasa yakin maminya tidak apa-apa. 

Ganis membiasakan untuk tidak selalu membantu anaknya makan, supaya mandiri. Ia lebih memilih mengelap bibir atau pipinya yang belepotan terkena makanan, karena tidak sepenuhnya masuk ke mulut kecilnya.

"Mami, tatut dicutik, ya? Ndak mau ke dotel." ternyata Gagah masih membahas soal sakitnya. Ia jadi menyesal telah membuat khawatir anaknya dengan memberi alasan yang sebenarnya asal saja. Tidak berpikir sama sekali akibatnya. Beginilah kalau punya anak pintar dan kritis. Tidak mudah untuk diyakinkan.

"Danan tatut dicutik, Mami. Kan Mami biang, kaa di didit cemut lacana." Ganis jadi tersenyum dibuatnya.

"Mami juga gak pernah takut disuntik, sayang. Dokter juga tidak sembarang kasih suntik ke yang sakit." ia kembali mengelap pipi gembil Gagah, dengan tisu.

"Abis, Mami." Gagah menggeser cup es krimnya, menjauh dari badannya. Topping-nya banyak yang berceceran di meja, juga di lantai bawahnya. "Pemenna banak ang jatuh, Mami." ia turun dari kursi kecilnya, melihat-lihat ke lantai.

Ganis terpaksa turun dan menghampiri anaknya. "Jangan ambil yang sudah jatuh ke bawah, sudah tidak bersih lagi, sayang." lalu menarik tisu yang tadi diselipkan di dadanya. Sebelum anak itu mulai makan es krimnya, supaya tidak mengotori bajunya. 

"Pulang, yuk!" ajaknya kemudian, yang diangguki oleh Si tampan ciliknya ini.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi My Iceberg

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Dosa Di Lautan
8.3
Demi mengusir rasa jenuh di rumah, seorang istri memutuskan untuk menemani suaminya pergi melaut. Namun, perjalanan ini berubah mencekam ketika kecelakaan hebat melanda kapal mereka keesokan harinya. Terpaksa berlindung di dalam ruang aman yang sempit, situasi justru berubah menjadi sangat intim dan membingungkan. Di tengah kegelapan, tangan seorang pelaut menyelinap masuk ke balik pakaiannya, memberikan sentuhan sensual yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Alih-alih menolak, ia justru terbuai dalam sensasi yang mendebarkan tersebut.
Sampul Novel Married The Wolf Queen
8.4
Ratu Jenny dijatuhi kutukan menjadi serigala putih setelah menolak perjodohan dari ayahnya. Tak hanya kehilangan wujud manusia, ia pun diusir dari kerajaan hingga terdampar di dunia manusia. Di sana, Jenny bertemu seorang pria asing yang menjadi satu-satunya harapan. Ia memohon bantuan pria tersebut demi mematahkan kutukan jahat agar bisa kembali ke bentuk aslinya. Akankah sang ratu berhasil merebut kembali takdirnya? Simak perjuangan Jenny di sini.
Sampul Novel My Possessive Husband Book 1
9.7
Aleina Xavinzo merasa terganggu oleh obsesi mantan kekasihnya, Richard, yang terus mengejar. Di tengah rasa frustrasi, sebuah insiden mabuk di kelab malam membawanya ke pelukan pria asing bernama Adrianus James Verona. Hubungan satu malam itu berujung kejutan besar saat mereka bertemu kembali sebulan kemudian sebagai pasangan tunangan pilihan orang tua. Kini, Aleina harus menghadapi babak baru dalam pernikahan kontrak yang penuh dengan teka-teki cinta.
Sampul Novel PELUKAN HANGAT PAPA MERTUA
8.6
Sepuluh tahun Luna menderita dalam pernikahan tanpa cinta karena Eric gemar berselingkuh. Terikat perjanjian keluarga, Luna mencari pelarian pada alkohol hingga tak sengaja tidur dengan Brian, ayah mertuanya. Brian yang menduda tak kuasa menolak pesona Luna. Meski merasa bersalah telah mengkhianati putranya, Brian terus menjalin hubungan terlarang demi mengusir kesepian. Saat Eric menceraikan Luna demi kekasihnya yang hamil, rahasia pun terungkap dan mereka memilih hidup bersama.
Sampul Novel Pesona Bodyguard Tampan
9.7
Ditinggalkan tepat pada hari pernikahannya membuat July sangat terpukul hingga jatuh sakit dan harus dirawat. Namun, masa kelam itu tidak dibiarkannya berlarut-larut. Setelah kondisinya pulih dan kembali dari rumah sakit, July bertekad bangkit dan menghapus semua memori menyakitkan tersebut. Dalam proses penyembuhan luka hatinya, ia pun mulai menjalin kedekatan yang tak terduga bersama David, pengawal pribadinya yang selalu setia mendampingi.
Sampul Novel Prahara Uang Kompensasi
8.4
Indra Djatmoko berpaling pada Ceani Janeta, seorang janda yang tinggal di lantai bawah. Bagi Indra, kehangatan Ceani yang menyajikan sarapan spesial jauh lebih berharga ketimbang istrinya sendiri yang dianggap kaku layaknya robot. Merasa diperlakukan seperti manusia seutuhnya oleh Ceani, Indra bahkan iri pada mendiang suami janda tersebut. Sang istri yang menyadari perselingkuhan batin ini pun mengambil keputusan dingin: dia akan mengabulkan impian Indra sebelum sang suami tersadar dari ilusinya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan