Sampul Novel Terjerat Pesona Vampir Tampan

Terjerat Pesona Vampir Tampan

8.2 / 10.0
Dalam novel Terjerat Pesona Vampir Tampan, Shada terjebak antara loyalitas pada tunangannya dan gairah misterius setiap malam. Baca vampire romance books ini untuk mengungkap identitas pria bermata merah di alam mimpinya. Sebuah fantasy novel tentang pilihan sulit dan hasrat terlarang.
Ringkasan Terjerat Pesona Vampir Tampan
Shada terjebak dalam delusi erotis saat sesosok vampir tampan bermata merah misterius rutin menyambangi mimpinya. Meski telah bertunangan, Shada tak kuasa menolak sentuhan sensual dan kasih sayang intens yang diberikan sang makhluk abadi setiap malam. Kehadiran pria asing ini mulai mengusik kesetiaannya, menciptakan dilema batin yang membingungkan. Kini, Shada harus menentukan pilihan antara realita komitmennya atau pesona gairah terlarang sang vampir.
Baca Selengkapnya

Terjerat Pesona Vampir Tampan Bab 1

"Shada... apa kau menikmatinya?" tanya sebuah suara yang terdengar serak dan begitu sensual di telinga wanita yang kini berada dalam kungkungannya.

Wanita bernama Shada itu menggeliat dengan mata masih tertutup. Ia merasakan sentuhan lembut di pipinya, kemudian mulai turun ke bawah. Bibirnya menerima sapuan hangat dan lembut, membiarkannya terus masuk ke dalam dan membelai setiap ruang di mulutnya.

Pria bermata merah dengan kobaran api gairah itu tak tinggal diam. Ia terus melumat bibir Shada, tak membiarkan ada jarak di antara mereka. Perlahan ia mulai menyatukan tubuhnya dengan Shada.

Shada memekik karena sensasi aneh yang menjalari tubuhnya. Namun, setelahnya ia mulai menikmati permainan pria tampan yang kini menurunkan kepalanya ke ceruk leher Shada, memberikan tanda kepemilikannya di sana.

"Selamat tidur, Shada," bisik si pria sembari mengecup bibir Shada sekali lagi.

Shada sungguh tak ingin terbangun dari mimpi indah ini. Ia tak tahu kapan lebih tepatnya, ada pria tampan yang tak ia kenali datang ke dalam tidurnya dan memberikan kasih sayang yang tak pernah Shada dapatkan sebelumnya. Jika Shada bisa, ia tak akan bangun dari mimpinya ini. Tapi, jika ini mimpi kenapa rasanya begitu nyata dan luar biasa? Entahlah, Shada hanya ingin terlelap lagi, berharap jika pria itu akan datang kembali ke mimpinya besok.

♡♡♡

Sinar matahari yang menyelinap lewat celah jendela membangunkan seorang wanita yang masih menggeliat di bawah selimutnya.

"Hoaaam.. "

Shada meregangkan tubuhnya, merasa segar setelah semalaman ia tertidur nyenyak. Ia berjingkat dari tempat tidurnya dan menggiring kedua kaki jenjangnya menuju ke kamar mandi.

Shada mengguyur tubuhnya di bawah pancuran shower. Ia menikmati serbuan air hangat yang menerpa tubuh serta wajahnya.

Shada terdiam. Ia teringat dengan mimpinya semalam. Tanpa sadar ia mengulas senyum sambil menyentuh bibirnya. Rasa lembut yang ditinggalkan pria di dalam mimpi Shada seakan masih bisa ia rasakan. Bahkan sentuhan tangan pria itu yang menggerayangi setiap inci tubuhnya. Sungguh mematik hasrat Shada kembali.

"Sial... Shada, singkirkan pikiran kotormu itu," ujar Shada pada dirinya sendiri. Ia menggelengkan kepala kuat-kuat untuk mengusir pikiran laknat dari dalam kepalanya.

Shada segera menyelesaikan aktivitas mandinya. Selepas itu, ia bergerak menuju dapur untuk mengisi perutnya dengan makanan seadanya. Sepotong sandwich sudah cukup untuk mengganjal perutnya di pagi ini.

Sembari mengunyah makanannya, Shada mengambil ponselnya dan meletakkan benda pipih itu ke telinganya setelah menerima panggilan dari Max, tunangannya.

"Sayang, kapan kau ke sini, hmm?" tanya Max dari seberang telepon, menerbitkan senyum Shada di bibir merah mudanya.

"Setelah ini, Max. Kau pasti sudah sangat merindukanku kan?" tanya Shada menggoda sesudah ia berhasil menelan sandwichnya.

"Aku sangat... sangat... merindukanmu, Shada."

"Padahal kemarin kita juga sudah menghabiskan waktu bersama," tukas Shada mengejek. Shada ingin membayangkan wajah Max yang sedang cemburut ketika ia goda, tapi wajah lain yang muncul di kepalanya. Wajah tampan pria semalam. Meskipun tidak terlalu jelas, dan, memang apa yang kau harapkan dari mimpi? Ah, Shada bisa gila jika terus memikirkan pria yang tak nyata itu.

"Shada, kau dengar apa yang aku katakan barusan?" Suara Max menyadarkan Shada dari lamunan.

"Apa? Bisa kau ulangi, Max?" Shada mengerjap cepat.

"Aku bilang jika pernikahan kita dipercepat. Apa kau senang?" Max terdengar bersemangat, bahkan suara pria itu setengah memekik sekarang.

Shada tak langsung menjawab. Padahal kabar yang baru saja didengarnya adalah kabar baik.

Shada mengangguk pelan. "Tentu saja, aku senang."

Tentu saja, Shada bagaimanapun sangat mencintai Max. Mereka telah berpacaran sejak kelas satu di sekolah menengah atas, terhitung sudah lima tahun. Waktu itu ia menjadi warga yang dibilang cukup baru di Toronto, Canada ini, memulai segala sesuatu dengan beradaptasi kembali.

Sebelumnya, ia tinggal di Sierra Madre, daerah kecil tepi hutan dan lembah di Los Angeles. Shada dan kedua orang tuanya pindah ke sini lantaran nenek yang biasa menemani Shada telah memutuskan pergi selama-lamanya dari sisinya.

Dan dimulailah, kehidupan barunya, meskipun kedua orang tuanya tetap sibuk bekerja, di suatu kota maju yang damai ditepi pesisir ini.

Shada memutus sambungan teleponnya selepas Max mengucapkan kalau pria itu akan menanti di ruangannya. Ia bergegas keluar rumah dan menunggu taksi lewat. Kali ini ia ingin naik taksi dibanding menyetir sendiri.

Memang, rumah Shada tenang berada di pinggiran kota, tepat di tepi jalan besar namun dengan intensitas jumlah kendaraan yang cukup ramai seperti di pusat kota. Ia beruntung taksi masih lewat di depan rumahnya.

Shada langsung melambaikan sebelah tangannya untuk menghentikan taksi yang melaju ke arahnya.

"Nona, mau pergi ke mana?" tanya sopir sembari memutar setirnya ketika Shada sudah duduk di jok belakang.

"Antar saya ke perusahaan Holy Food, Pak," jawab Shada yang dibalas oleh anggukan dari sang sopir.

Tak perlu waktu lama untuk Shada sampai di perusahaan Holy Food. Taksi yang dinaiki Shada kini sudah berhenti tepat di depan gedung perusahaan.

"Terima kasih, Pak," ucap Shada setelah membayar ongkosnya.

"Sama-sama, Nona," balas sang sopir, melajukan kembali taksinya.

Shada bergegas menuju ke ruangan di mana Max sedang menunggunya. Ia masuk ke dalam lift dan menekan tombol delapan belas.

Lift segera membawa Shada melesat ke ruangan Max. Ia melangkahkan kaki begitu pintu lift terbuka.

Shada menggiring kedua kakinya ke ruangan yang bertuliskan 'Ruang Direktur' di bagian pintunya yang besar.

Sebelah tangan Shada memutar knop pintu. Ia mendorong dan masuk tanpa permisi untuk mengejutkan pria berambut pirang yang sedang duduk di balik meja besar.

Max tampak fokus dengan laptop di depannya, sampai tak menyadari kedatangan Shada di ruangannya.

"Max..." seru Shada memberikan pelukan erat untuk Max dari arah belakang.

Kedua mata biru Max berbinar. "Shada, kapan kau datang?" tanyanya dengan sebuah senyuman yang tercetak di bibir tipisnya.

"Kau terlalu sibuk dengan laptopmu sampai tak tahu aku datang," ujar Shada dengan sedikit cemberut, menggoda Max.

Max menarik sudut mulutnya ke bawah. "Astaga. Maafkan aku, Sayang."

"It's okay, Babe."

Max mengernyit melihat noda merah yang cukup mencolok di leher putih Shada. Perlahan ia melepaskan pelukannya. "Noda apa itu, Shada?" tanyanya penuh curiga.

Shada spontan mengeluarkan ponselnya cepat untuk melihat noda yang dimaksud Max. Ia seketika tercekat melihat noda merah di lehernya. Shada tak tahu dari mana ia mendapatkan noda tersebut. Tapi, jika ia menjawab pertanyaan Max seperti itu. Max tak akan percaya.

Shada mengerahkan seluruh tenaganya untuk berpikir. Ia harus memberikan alasan secepatnya kepada Max karena pria itu sedang menanti jawabannya.

"Semalam ada nyamuk yang menggigit leherku. Aku yang tak tahan terhadap gatalnya, jadi aku menggaruknya terus. Aku tak sadar jika itu membuat leherku seperti ini." Shada berucap dengan menyapu lehernya pelan. Ia memaksakan senyumnya, berharap Max akan mempercayai ucapannya tersebut.

Max mengangguk dan membuang wajahnya kembali kepada laptop di depannya. "Sebesar apa nyamuknya sampai membuat noda seperti itu?"

Shada terbungkam. Sekelebat bayangan pria bermata merah itu kembali memenuhi kepalanya. Mungkinkah itu semua bukan mimpi? Dia nyata?

- Bersambung..

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Terjerat Pesona Vampir Tampan

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Luka Yang Kutinggalkan
8.7
Di pesta ulang tahunnya, Joice yang berkursi roda mendengar gunjingan tamu tentang perselingkuhan tunangannya, Willy, dengan Anna. Mereka mengira Joice tuli, padahal pendengarannya sudah pulih. Willy, yang diselamatkan Joice dari kecelakaan tiga tahun lalu hingga ia lumpuh, memilih diam. Menghadapi pengkhianatan pria yang berjanji menjaganya seumur hidup ini, Joice tidak tinggal diam. Ia langsung mengonfirmasi layanan kematian palsu untuk mengirim replika jenazahnya ke pernikahan Willy lima hari lagi.
Sampul Novel Main Api
8.9
Mengejar sensasi mendebarkan yang belum pernah dirasakan sebelumnya, seorang remaja mengambil keputusan nekat yang penuh risiko dalam novel romantis remaja berjudul Main Api. Dia secara rahasia mengirimkan rekaman video intim dirinya yang sedang menggunakan mainan dewasa langsung kepada teman semejanya sendiri. Tindakan berani ini sengaja dilakukan demi memicu ketegangan dan menggoda hasrat sang teman sebangku secara bertahap, memulai sebuah permainan rahasia yang berbahaya di antara mereka berdua.
Sampul Novel Modal Dusta
9.4
Kecewa atas sikap suami yang kasar dan abai dalam menafkahi, seorang wanita terjebak dalam kehampaan. Di tengah luka itu, ia tak sengaja mengenal sosok pria tampan melalui temannya. Komunikasi yang awalnya biasa berubah menjadi pelarian emosional saat pria itu dengan tulus mendengarkan keluh kesahnya. Getaran cinta mulai muncul lewat pesan singkat yang intens. Kini, ia terjebak dalam romansa terlarang dengan pria yang jauh lebih muda. Akankah hubungan penuh dusta ini bertahan?
Sampul Novel Perjodohan Tidak Diinginkan
9.7
Nadira, gadis 22 tahun, terperangkap dalam paksaan menikah dengan Adrian, pengusaha sukses yang ternyata sudah beristri. Kakek Adrian sengaja merancang perjodohan ini demi menyelamatkan martabat keluarga dari rahasia gelap yang dipendam Rania, istri pertamanya. Kini Nadira harus terjebak dalam kemelut rumah tangga yang rumit dan penuh tekanan. Akankah Adrian membuka hati untuknya, atau justru konflik dengan Rania akan menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Rahasia Hati Suami Lumpuh
9.4
Mayang terjebak dalam dilema kesetiaan saat Galang, suaminya yang lumpuh, bersikap dingin dan menjauh. Di tengah keretakan itu, hadir Elang yang menawarkan kebahagiaan romantis serta Leo yang meragukan ketahanan rumah tangga mereka. Meski Galang bersikeras mempertahankan statusnya sebagai suami selamanya, godaan dari pria-pria dominan ini menguji komitmen Mayang. Sanggupkah ia bertahan di sisi Galang saat cinta lain mulai mengetuk hatinya dengan paksa?
Sampul Novel SETETES DARAH SUCI
8.6
Ramalan kuno mengungkap eksistensi gadis berdarah suci yang mampu memberikan keabadian dan kekuatan luar biasa. Setetes darahnya sanggup mencegah kepunahan klan serta menjamin kemudaan abadi bagi siapa pun yang memilikinya. Kelahirannya disambut pesta pora seluruh makhluk di alam semesta, ditandai awan gelap saat bulan purnama dan hawa dingin yang mencekam. Kini, nyawa dan darah sucinya menjadi incaran utama karena semua entitas mendambakan mukjizat yang ada dalam dirinya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan