Sampul Novel Partner Satu Malam Jadi Istri Kontrak

Partner Satu Malam Jadi Istri Kontrak

8.0 / 10.0
Dalam Partner Satu Malam Jadi Istri Kontrak, Alessa mendekati Jovian demi balas dendam masa lalu. Namun, sang miliarder justru mengajaknya menikah demi menghindari perjodohan. Baca romance novel ini untuk melihat perjuangan Alessa menghadapi ibu mertua kejam di platform online novel kami.
Ringkasan Partner Satu Malam Jadi Istri Kontrak
Dahulu bintang ice skating, masa depan Alessa hancur saat sang ayah menjualnya pada pria misterius demi melunasi utang judi. Usai malam itu, Alessa hamil lalu diusir keluarga hingga mengalami keguguran akibat jebakan wanita licik. Bertahun-tahun kemudian, ia kembali untuk membalas dendam pada Jovian Arsenio Heide, pria dari masa lalunya. Namun, Jovian justru menawarinya pernikahan kontrak. Di tengah kasih sayang Jovian, Alessa harus menghadapi kekejaman ibu mertua dan obsesi wanita lain.
Baca Selengkapnya

Partner Satu Malam Jadi Istri Kontrak Bab 1

“Ingat ya say, kau harus memuaskan pelanggan kita karena Dia sudah membayar kontan pada bapakmu,” ucap Wanita berpakaian seronok pada gadis muda yang bertampang lugu itu. 

Gadis itu mengangguk patuh tapi tampak gelisah. Dia merasa tak nyaman bahkan sesekali menutupi kedua lututnya yang menggunakan rok mini itu. Gadis itu menarik ujung rok menutupi kedua kaki jenjang yang putih itu. 

“Jawab kalau mengerti!” Bentak Wanita dengan riasan tebal itu pada si Gadis itu. 

“Iya, Madam,” sahut Gadis itu. 

“Gih, ke kamar soalnya tuan itu sudah sampai di kamar pesanannya,” suruh Wanita paruh baya itu.

Gadis muda bermata cokelat terang itu berjalan dengan gugup menuju sebuah kamar VVIP yang dijaga oleh dua penjaga berjas hitam. Dia memegang gagang pintu kemudian mendorong pintunya. Di sana sudah ada seorang Pria yang duduk bersandar di sebuah sofa. Kepalanya bersandar di ujung sofa kemudian wajahnya menegadah menatap langit-langit kamar hotel.

“Cepat, puaskan aku,” perintah Pria itu. 

“B-baik, Tuan.” Gadis itu berjalan kaku mendekati Pria itu. Dia duduk berlutut di depan sang Pria. Gadis itu hanya memandanginya karena tidak memiliki pengalaman. Gadis muda berambut hitam ini bahkan terpaksa menjual dirinya karena bapaknya. 

“Apa-apaan ini! Kenapa kau diam saja!” bentak Pria itu. 

“Kumohon, Tuan, aku akan mencobanya lagi.” 

“Ya, seharusnya memang begitu karena aku sudah membayarmu dengan mahal.” 

Sang gadis yang duduk berlutut di depan Pria yang tengah duduk di sofa mahal itu. Wajahnya memerah malu, belum lagi kedua matanya berkaca-kaca seperti hendak menangis. Dia menyelipkan helaian rambut yang jatuh mengenai wajahnya ke daun telinga. Kedua tangannya gemetar ketika menyentuh kedua kaki Pria itu. Perlahan-lahan mendekati Pria berambut Pirang itu. 

“Kau benar-benar,” decak Pria itu sembari meraih rambut hitam panjang Gadis itu dengan kasar. “Jangan bersikap seolah kau gadis perawan!” bentak Pria itu. 

“Ampun, Tuan,” ringgis sang Gadis seraya memengangi tangan kanan Pria itu yang tengah meremat seluruh rambutnya. Gadis itu nyaris saja menangis tapi dia berusaha menahannya. 

Sang pria bermata biru menatapnya dengan tajam. Dia melepaskan rambut Gadis itu tapi menggantinya dengan mengangkat tubuh Gadis muda itu kemudian melemparnya ke atas ranjang kasur. “Jangan harap untuk merengek seperti gadis baik-baik, ingatlah, aku sudah membayarmu untuk malam ini.” Pria itu berbisik di daun telinganya. 

Sang gadis tak berdaya berada dalam kungkungan Pria itu. Dia hanya terisak dalam diam membiarkan Pria itu menggerayangi dirinya. Pria itu tak melewatkan bagian darinya justru melahap setiap inci dari Gadis itu. Sang gadis hanya bisa terus berharap jika pagi segera tiba agar semua malam penderitaannya berakhir. 

Pagi pun tiba bahkan mentari masih malu-malu menyapa hari. Sang gadis terbangun kemudian menatap ranjang kasur yang sudah berantakan. Dia juga melihat sprei putih yang terdapat noda kemerahan. Gadis itu kini melirik Pria bertubuh kekar bertelanjang dada yang masih pulas terlelap dalam tidurnya. Gadis itu beranjak pelan-pelan dari kasur karena tak mau membangunkan Pria itu kemudian memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Dia berjalan tertatih-tatih kemudian buru-buru keluar dari kamar ini. 

Matahari yang baru terbit bahkan udara masih dingin. Lalu lalang kendaraan masih sepi di jalan raya. Sang gadis tertatih berjalan dipinggiran trotoar. Dia memberhentikan sebuah taxi kemudian membawanya pulang ke rumah. Raut wajahnya berantakan sama seperti tubuhnya. Dia tiba di sebuah rumah kontrakan. Gadis itu buru-buru masuk ke rumah kemudian langsung berjalan ke kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya. 

Air dingin yang mengguyurnya tak Ia perdulikan. Dia menggosok tubuhnya dengan kasar berulang kali berharap semua sentuhan Pria itu akan bersih darinya. Berkas kemerahan menjadi corak pada kulit putih bersihnya. Gadis itu terisak karena melepaskan kesuciannya dengan cara seperti ini. Dia pun sembari meruntuki nasibnya. Lima belas menit kemudian dia keluar dari kamar mandi dengan raut wajah kusut. Gadis sudah memakai pakaian barunya. 

“Alessa, untung saja, berkat dirimu hutangku terbayarkan,” ucap Pria paruh baya sembari menepuk pundak Gadis itu. “Lain kali, hiburlah pria-pria kaya seperti itu dengan baik, tadi malam Kamu sempat diprotes tapi untung saja uangnya sudah masuk ke rekeningku.” Pria itu berucap sambil duduk di kursi kayu kemudian menghidupkan televisi. 

“Alessa, buatkan Bapak kopi,” suruh Pria itu tanpa memerdulikan keadaan Alessa.

“Baik, Pak.” Alessa mengangguk patuh. Dia pergi ke dapur untuk merebus air dan membuatkan kopi seperti yang ayahnya inginkan. 

Pranggg! Ketika membawa secangkir kopi panas. Alessa tak sengaja menjatuhkan cangkir itu sampai membuatnya pecah dan berserakan di lantai. Alessa buru-buru membersihkan pecahan kaca dari cangkir itu. Saat Ia sedang membereskan pecahan kaca. Seorang Wanita paruh baya baru tiba di dapur. 

“Alessa, dasar bodoh!” Wanita itu membentak Alessa sembari melayangkan pukulan pada wajah manis Alessa. “Kau memecahkan cangkir mahalku, dasar anak tidak berguna!” hardik Wanita itu.

“Aduh, ampun Bi, Alessa tidak sengaja,” ucap Alessa sembari melindungi kepalanya. 

“Tidak berguna,  bapakmu, dan kau, sama-sama benalu di rumahku!” omel sang Bibi sambil memukuli Alessa dengan ujung penyapu. Puas melampiaskan amarahnya dia malah menyuruh Alessa lagi.

“Hey, apa kau mau diam saja!” bentak Seorang Wanita paruh baya. “Cepat jual dagangan itu, dasar pemalas,” perintah Wanita itu sembari beranjak pergi meninggalkan Alessa sendiri di dapur. 

“Baik, Bi.” Alessa mengangguk sembari memengangi kedua kakinya yang sudah penuh dengan lebam. Alessa berdiri dengan perlahan sembari memengangi dinding. Alessa membuatkan kembali kopi untuk bapaknya. Setelah itu Alessa pun mengangkat dua buah keranjang berisi makanan camilan yang dibuat oleh bibinya. Alessa setiap hari menjual camilan itu ke kampusnya sembari berkuliah. 

Alessa mengangkat keranjang makanan yang berat itu menuju halaman rumah. Alessa berjalan dengan pincang karena semasa remaja mengalami cedera pada kedua kakinya. Dia meletakkan dua keranjang ke motor maticnya. “Tidak apa-apa, hari ini pasti laku,” ucap Alessa menghibur dirinya sendiri. 

“Oh, iya, aku lupa membawa hasil revisian skripsi di kamar,” ucap Alessa sembari kembali ke dalam rumahnya.

Dia sempat berjalan melintasi ruang tamu. Kedua mata cokelat Alessa membelalak kala Ia mendapati bapaknya yang sudah mengambil mendali emas milik Alessa dari lemari pajangan. “Bapak, mau dibawa kemana mendaliku?” tanya Alessa.

Bapaknya itu tidak memerdulikan pertanyaan Alessa. “Banyak bicara saja kau, uangmu semalam kurang jadi bapak akan jual mendalimu ini,” ketus bapaknya.

Alessa meletakkan keranjang makanan kemudian menghadang bapaknya yang hendak ke luar rumah. “Jangan, Pak, Alessa mohon, itu satu-satunya prestasi Alessa pak,” mohonnya. “Pak, Alessa tidak bisa bermain skating lagi, hanya itu satu-satunya kenangan yang Alessa miliki Pak.” Alessa berucap sembari terisak. Dia menarik lengan bapaknya yang hendak keluar dari rumah itu. Alessa tak rela mendalinya akan dikorbankan juga demi uang seperti dirinya ini.

Pria itu mendorong tubuh Alessa sampai Ia terjatuh. “Kau anak pembangkang!” Pria itu mengarahkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Alessa. 

“Kau sudah cacat, lagi pula mendali emas ini tidak ada gunanya jika jadi pajangan saja, lebih baik dijual untuk membayar hutang bapakmu ini,” ketus Pria itu sembari pergi meninggalkan rumah. Dia membawa mendali emas milik Alessa untuk dijual, tak lain agar melunasi hutang-hutangnya bermain judi. 

“Apapun Pak, asal jangan jual mendali yang Alessa susah payah dapatkan.” Alessa memengangi kedua kaki bapaknya agar mencegah Pria itu beranjak pergi membawa mendali yang Ia menangkan dulu dalam kejuaraan olimpiade grand prix lima tahun lalu. Mendali itu sangat berarti bagi Alessa yang mengingatkannya akan perjuangannya.

“Kalau begitu malam ini kau harus mau melayani Tuan Kaya itu lagi.”

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Partner Satu Malam Jadi Istri Kontrak

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Dulu Aku Bodoh, Sekarang Tidak Lagi
8.1
Saat hamil tiga bulan, Solene divonis mengalami kehamilan ektopik oleh suaminya yang seorang dokter. Sang suami mendesak aborsi demi keselamatannya dan menyarankan adopsi. Solene yang merasa bersalah kemudian tidak sengaja mendengar percakapan rahasia suaminya dengan wanita lain. Terungkap bahwa diagnosis itu palsu, dirancang agar Solene mau menandatangani surat adopsi untuk Leo, anak kandung suaminya dari hubungan gelap tersebut, demi mewariskan seluruh kekayaannya.
Sampul Novel Gadis Imut Kesayangan Sugar Daddy
8.9
William Samsons MacRay, arsitek ternama berusia 37 tahun, tak sengaja bertemu Emmy Estelia Setiawan saat tertimpa sial di bandara. Emmy, lulusan Harvard yang baru kembali ke Jakarta, ternyata adalah karyawan baru di perusahaan milik William. Ketertarikan mendalam membuat William selalu membawa Emmy dalam perjalanan bisnis dunianya hingga hubungan mereka berkembang menjadi sugar daddy dan baby. Namun, perjodohan dari orang tua William mengancam cinta beda usia ini.
Sampul Novel Impian untuk Rian
9.5
Anara adalah sosok gadis ceria yang selalu hadir dengan senyum lebar dan binar mata tulus untuk Rian. Bagi Anara, Rian adalah pusat kebahagiaan terbesarnya, sementara Rian sendiri merasa hidupnya kini sangat bergantung pada kehadiran gadis itu. Namun, sebuah tanda tanya besar muncul mengenai masa depan mereka. Jika suatu saat Anara pergi meninggalkannya, mampukah Rian melanjutkan hidup dengan normal atau justru selamanya terjebak dalam bayang-bayang kenangan Anara?
Sampul Novel Janda Buruk Rupa Kesayangan Idol Tampan
8.5
Jelita Laurenza, janda muda berparas buruk rupa, harus menelan pil pahit setelah dikhianati oleh suaminya, Romi. Tak lama usai bercerai dan menghadapi cibiran tetangga, ia mendapati mantan suaminya bertunangan dengan sang manajer. Di tengah keterpurukan, takdir mempertemukannya dengan Affandra, seorang idol populer yang sangat tampan. Pertemuan itu berujung pada hubungan satu malam yang tak terduga. Mampukah Jelita bertransformasi dan menemukan cinta sejati bersama sang bintang?
Sampul Novel Kesempatan Kedua dengan Istriku yang Seorang Taipan
9.5
Tiga tahun menikah, Stephanie hanya menerima sikap dingin dari Erik. Saat harapannya hancur oleh niat buruk sang suami, ia bangkit menjadi wanita terkaya di dunia. Erik yang terkejut melihat transformasi sang mantan istri pun berusaha mengejarnya kembali. Namun, Stephanie kini memegang prinsip bahwa pria hanya penghambat kesuksesan. Erik Palmer yang angkuh kini rela merendah di hadapan publik demi membujuk Stephanie agar bersedia membangun mahligai rumah tangga bersamanya lagi.
Sampul Novel Warisan dari sang Bibi
9.0
Setelah lima belas tahun mengabdi merawat bibinya yang lumpuh akibat kecelakaan, sang protagonis harus menerima kenyataan pahit. Sepupunya yang egois tiba-tiba kembali dari luar negeri menjelang ajal sang bibi, merebut seluruh harta warisan yang dijanjikan. Hanya diberi imbalan seratus juta yang menghina masa mudanya, ia jatuh ke sungai dalam keputusasaan. Namun, maut bukanlah akhir. Ia justru terbangun di masa lalu, tepat lima belas tahun sebelum tragedi pengkhianatan itu dimulai.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan