Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hilangnya Masa Muda

Hilangnya Masa Muda

Safira Ayu Andini terpaksa merelakan masa mudanya demi pernikahan yang tidak diinginkan. Ia dipersunting oleh Danu Pratama, duda satu anak berumur tiga puluh tahun yang memiliki sifat dingin dan ketus. Pernikahan ini terjadi murni karena Danu harus menuruti desakan sang ibu, Bu Rina. Tanpa landasan cinta, Safira kini harus menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh tekanan bersama pria yang sama sekali tidak menaruh hati padanya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Semenjak kejadian di rumah sakit dan percakapan singkat di mobil, ada perubahan yang sangat, sangat halus dalam dinamika antara Safira dan Danu. Bukan perubahan yang kasat mata atau langsung terasa, melainkan lebih seperti retakan mikroskopis pada lapisan es tebal yang membekukan hubungan mereka. Danu masih dingin, ya, tapi kini dinginnya terasa seperti kabut pagi, bukan lagi badai salju yang membekukan.

Safira mencoba memaknai perubahan itu. Apakah Danu benar-benar merasakan sesuatu, atau hanya sebuah respons manusiawi terhadap situasi darurat? Ia tidak berani berharap lebih. Pengalaman telah mengajarkannya bahwa harapan hanya akan berujung pada kekecewaan. Jadi, ia memilih untuk mengamati, menjaga jarak emosionalnya, namun tetap menjalankan perannya.

Minggu-minggu berikutnya, rutinitas Safira berpusat pada Raihan. Bocah lima tahun itu adalah jangkar kebahagiaannya. Raihan mulai sering bertanya tentang Safira, tentang masa kecilnya, tentang hal-hal lucu yang pernah ia alami. Safira pun dengan senang hati bercerita, menyisipkan humor dan kehangatan yang selama ini terpendam dalam dirinya.

Suatu sore, Raihan pulang sekolah dengan wajah cemberut. "Mama Safira, Raihan sedih," keluhnya, memeluk kaki Safira.

"Kenapa, sayang?" Safira berjongkok, mengusap rambut Raihan.

"Teman-teman Raihan bilang Raihan tidak punya Mama. Mereka punya Mama, Raihan tidak," ucapnya, mata bulatnya mulai berkaca-kaca.

Hati Safira mencelos. Ia tahu cepat atau lambat ini akan terjadi. Raihan sudah cukup besar untuk menyadari perbedaan. "Sayang, Raihan punya Mama. Raihan punya Mama Nia di surga, dan Raihan punya Mama Safira di sini. Mama Safira akan selalu ada untuk Raihan," Safira menjelaskan pelan, berusaha selembut mungkin.

Raihan menatapnya dengan polos. "Benarkah?"

"Benar sekali. Mama Safira sayang sekali sama Raihan." Safira memeluk Raihan erat, menahan air mata yang hampir tumpah. Berat sekali menjelaskan situasi rumit ini pada anak sekecil Raihan.

Malam harinya, saat Danu pulang, Safira menceritakan kejadian itu. Ia berharap Danu akan memberikan perhatian, atau setidaknya menunjukkan sedikit empati.

"Raihan tadi sedih karena diejek teman-temannya," Safira memulai, saat Danu sedang meletakkan tas kerjanya.

Danu menoleh, alisnya sedikit terangkat. "Kenapa?"

"Mereka bilang Raihan tidak punya Mama," jawab Safira lirih.

Wajah Danu berubah tegang. Ia berjalan mendekat, duduk di sofa. "Lalu, kamu bilang apa pada Raihan?"

"Aku bilang Raihan punya Mama Nia di surga, dan punya Mama Safira di sini. Bahwa aku akan selalu ada untuknya."

Danu menatap Safira lekat-lekat. Tatapan itu tidak lagi kosong, melainkan mengandung campuran antara kekhawatiran dan sesuatu yang Safira tidak bisa definisikan. "Terima kasih, Safira," ucap Danu, suaranya sedikit lebih rendah dari biasanya. "Saya tahu ini tidak mudah untukmu."

Safira hanya mengangguk. Hatinya sedikit menghangat mendengar ucapan terima kasih tulus itu. Ini adalah pertama kalinya Danu secara eksplisit mengakui kesulitan yang Safira hadapi dalam pernikahan ini.

Sejak saat itu, interaksi Danu dan Raihan di depan Safira sedikit berubah. Danu mulai sesekali melirik Safira saat ia bermain dengan Raihan, seolah memastikan bahwa Safira memang benar-benar ada untuk putranya. Ada momen-momen ketika Safira melihat Danu tersenyum lembut saat Raihan memanggilnya "Mama Safira", dan senyum itu terasa seperti secercah matahari di tengah musim dingin.

Danu bahkan mulai lebih sering pulang tepat waktu. Jika tidak ada pekerjaan mendesak, ia akan makan malam bersama Safira dan Raihan. Meskipun percakapan mereka masih didominasi oleh Raihan, namun kehadiran Danu yang lebih lama membuat suasana rumah terasa sedikit lebih hidup.

Suatu malam, Raihan tiba-tiba terbangun karena mimpi buruk. Ia menangis ketakutan di kamarnya. Safira yang mendengar tangisan itu langsung bergegas masuk. Ia memeluk Raihan, menenangkannya. Tak lama kemudian, Danu juga masuk ke kamar Raihan, wajahnya terlihat khawatir.

"Ada apa, Nak?" tanya Danu, berjongkok di samping ranjang.

"Raihan mimpi buruk, Papa. Ada monster," rengek Raihan, memeluk Safira erat.

Danu mengusap kening putranya. "Tidak ada monster, sayang. Itu cuma mimpi."

Safira terus memeluk Raihan, mengusap punggungnya. Mereka bertiga berada di kamar Raihan, dalam keheningan malam, di tengah ketakutan seorang anak kecil. Ada keintiman yang tak terucap. Sebuah keluarga, meskipun disatukan oleh keadaan, kini berbagi momen rapuh bersama.

Danu memandang Safira, lalu beralih ke Raihan. "Mama Safira akan temani Raihan tidur, ya? Papa juga di sini," ucap Danu.

Safira terkejut. Itu adalah sebuah usulan, sebuah pengakuan bahwa ia adalah bagian dari keluarga ini, bahkan dalam hal sesederhana menemani Raihan tidur. Ia mengangguk. "Tentu, sayang. Mama Safira temani sampai Raihan tidur pulas."

Safira berbaring di samping Raihan, memeluknya. Danu duduk di kursi di sudut ruangan, mengawasi mereka. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak menikah, Safira merasakan sedikit kedamaian. Tidak ada lagi rasa sendirian yang mencekik. Ada Danu, ada Raihan, dan mereka adalah keluarganya. Mungkin bukan keluarga yang ia impikan, tapi keluarga yang nyata.

Hubungan mereka dengan Raihan menjadi jembatan utama. Danu melihat bagaimana Safira tulus menyayangi Raihan, merawatnya, dan menjadikannya prioritas. Perlahan, kekakuan Danu pada Safira mulai berkurang. Ia tidak lagi sepenuhnya memunggunginya saat tidur. Kadang, saat Safira terbangun di pagi hari, ia mendapati Danu menatapnya sebentar sebelum beranjak. Tatapan yang masih sulit diartikan, namun tidak lagi dingin.

Suatu akhir pekan, Danu mengajak Raihan dan Safira pergi ke taman hiburan. Ini adalah kejutan, karena biasanya Danu akan menyerahkan kegiatan rekreasi pada Bu Rina atau asisten rumah tangga.

"Kita mau ke mana, Papa?" tanya Raihan antusias di mobil.

"Taman hiburan," jawab Danu singkat, namun ada senyum tipis di bibirnya.

Raihan bersorak gembira. Safira ikut tersenyum. Ini adalah kali pertama mereka pergi bertiga sebagai sebuah keluarga kecil. Sepanjang hari di taman hiburan, Danu surprisingly aktif. Ia menemani Raihan naik wahana, bahkan ikut tertawa saat Raihan menjerit kegirangan. Safira mengamati Danu dari kejauhan, hatinya terasa hangat. Ia melihat Danu sebagai seorang ayah, bukan lagi sekadar suaminya yang dingin.

Ada satu momen ketika Raihan ingin mencoba wahana yang cukup tinggi. Safira sedikit khawatir, namun Raihan bersikeras. Danu menatap Safira.

"Tidak apa-apa, dia sudah berani sekarang," ucap Danu, seolah membaca kekhawatiran Safira. Lalu ia menoleh ke Raihan, "Tapi jangan takut, ya. Papa akan pegangan erat."

Saat mereka naik wahana, Safira duduk di samping Raihan, dan Danu di samping Safira. Wahana itu melaju, membawa mereka berputar dan meluncur. Raihan tertawa, dan Safira pun ikut tertawa, melepaskan sejenak beban di hatinya. Saat wahana berhenti, Danu melihat Safira.

"Kamu ketakutan?" tanyanya, ada sedikit nada geli di suaranya.

"Sedikit," Safira mengaku, tersenyum. Danu membalas senyumnya, senyum yang kali ini terasa lebih ringan.

Pulang dari taman hiburan, Raihan langsung terlelap di mobil, kelelahan. Danu memarkir mobil di garasi. Safira mengangkat Raihan keluar dari mobil, menggendongnya ke kamar. Danu mengikutinya, membantu membenarkan posisi Raihan di ranjang.

"Terima kasih, Danu," ucap Safira tulus. "Raihan pasti senang sekali hari ini."

"Sama-sama," jawab Danu. Ia menatap Raihan yang terlelap, lalu pandangannya beralih ke Safira. "Kamu juga senang?"

Safira mengangguk. "Iya. Senang sekali."

Untuk pertama kalinya, mereka berbagi momen kebahagiaan yang tulus, berdua saja, tanpa perantara Raihan. Ada keheningan yang nyaman menyelimuti mereka.

Beberapa hari kemudian, adalah ulang tahun Danu. Safira tahu dari Bu Rina. Ia merasa bingung. Haruskah ia memberikan kado? Atau cukup ucapan? Ia tahu Danu tidak mengharapkan apa-apa darinya. Tapi, sebagai istri, ia merasa memiliki kewajiban.

Safira memutuskan untuk membuatkan kue ulang tahun sendiri, dengan bantuan resep dari internet. Ia menghabiskan seharian di dapur, berkutat dengan tepung dan adonan. Hasilnya tidak sempurna, tapi cukup layak.

Malam harinya, saat Danu pulang, aroma kue langsung menyambutnya. Ia melihat Safira dan Raihan sudah menunggu di ruang makan, dengan lilin menyala di atas kue.

"Papa ulang tahun!" seru Raihan, gembira.

Danu tampak terkejut. Ia menatap kue, lalu ke Safira. "Kamu yang buat?" tanyanya, suaranya sedikit serak.

Safira mengangguk, sedikit gugup. "Iya. Selamat ulang tahun, Danu."

Danu tersenyum. Senyum itu lebih lebar dari biasanya, dan mencapai matanya. Ada kehangatan di sana yang membuat hati Safira berdesir.

"Terima kasih, Safira," ucapnya tulus. "Terima kasih, Raihan."

Mereka meniup lilin bersama, memotong kue, dan makan malam bersama. Suasana terasa lebih hidup. Ada tawa, ada canda, terutama dari Raihan. Danu pun terlihat lebih santai, sesekali bercerita tentang pekerjaannya, hal yang jarang ia lakukan.

Setelah Raihan tidur, Danu dan Safira duduk di ruang keluarga. Safira membersihkan sisa-sisa piring kue. Danu mengambil sebuah kotak kecil dari tas kerjanya.

"Ini untukmu," ucapnya, menyodorkan kotak itu pada Safira.

Safira terkejut. "Untukku?"

"Sebagai ucapan terima kasih karena sudah menyiapkan ulang tahun saya," jawab Danu datar, namun ada nada lembut di suaranya.

Safira membuka kotak itu. Di dalamnya ada sebuah kalung dengan liontin kecil berbentuk kupu-kupu. Desainnya sederhana tapi elegan.

"Indah sekali, Danu. Terima kasih," ucap Safira, matanya berkaca-kaca.

"Sama-sama," jawab Danu. Ada jeda. Lalu, Danu menambahkan, "Saya tahu kamu suka sejarah. Saya juga punya beberapa buku koleksi. Mungkin kamu mau membacanya."

Safira menatapnya tak percaya. Danu mengingat percakapan mereka tentang sejarah. Ini adalah sebuah isyarat, sebuah jembatan yang Danu bangun.

"Boleh sekali, Danu. Terima kasih," jawab Safira, senyumnya mengembang.

Malam itu, Safira merasa ada harapan yang kembali tumbuh. Bukan harapan untuk cinta yang membara, tapi harapan untuk sebuah hubungan yang lebih baik, lebih manusiawi. Hubungan yang didasari rasa hormat dan mungkin, sedikit kehangatan. Retakan di lapisan es itu kini semakin terlihat.

Beberapa waktu setelahnya, Safira mulai rutin menemani Danu berbelanja kebutuhan rumah tangga setiap akhir pekan. Bukan karena kewajiban, tapi karena Danu yang kini sesekali mengajaknya. Selama di supermarket, Danu akan bertanya pendapat Safira tentang barang-barang, dan mereka bahkan sesekali berdebat ringan tentang merek atau harga. Debat yang menyenangkan, tanpa tekanan.

"Menurutmu, lebih enak saus tomat merek ini atau yang itu?" tanya Danu, memegang dua botol.

"Yang ini lebih otentik rasanya, Danu. Kalau yang itu terlalu manis," jawab Safira, menunjuk salah satu botol.

Danu mengamati botol itu. "Baiklah, kita coba yang ini kalau begitu."

Momen-momen kecil itu, perlahan namun pasti, membangun jembatan di antara mereka. Safira mulai melihat sisi Danu yang berbeda. Sisi yang praktis, yang bertanggung jawab, dan yang perlahan mulai terbuka. Ia juga melihat Danu tersenyum lebih sering, terutama saat ada Raihan di dekat mereka.

Namun, Safira masih merasakan batasan. Ia tahu Danu tidak pernah mengatakan "aku mencintaimu". Ia tahu hati Danu masih milik orang lain. Tetapi, apakah mungkin, seiring berjalannya waktu, ia bisa mendapatkan tempat di hati Danu, meskipun bukan sebagai pengganti?

Bu Rina pun menyadari perubahan itu. Ia tersenyum lega setiap kali melihat Danu dan Safira berinteraksi. "Pelan-pelan saja, Nak. Hati itu seperti tanah, perlu waktu untuk menumbuhkan tunas baru," pesan Bu Rina pada Safira suatu sore.

Safira mengangguk. Ia tahu itu. Ia tidak ingin terburu-buru. Ia tidak ingin memaksakan apa pun. Ia hanya ingin menjalani.

Suatu malam, Safira terbangun karena haus. Ia keluar kamar, menuju dapur. Saat melewati ruang kerja Danu, pintu terbuka sedikit. Safira mendengar suara isakan. Ia mengurungkan niatnya ke dapur, dan mendekat ke pintu.

Danu sedang duduk di mejanya, memunggungi pintu. Di depannya, ada bingkai foto. Bingkai foto yang belum pernah Safira lihat dipajang di mana pun. Danu memegang foto itu, dan bahunya bergetar. Safira bisa melihat air mata di pipinya.

Foto itu adalah foto Danu dan mendiang istrinya, Mama Nia. Mereka tampak sangat bahagia, saling berpelukan. Rasa sakit itu kembali menusuk hati Safira. Danu masih sangat mencintai istrinya. Isakan itu adalah bukti. Air mata itu adalah bukti.

Safira mundur perlahan, tanpa suara. Ia kembali ke kamarnya, hatinya sakit dan campur aduk. Di satu sisi, ia merasa iba pada Danu. Ia tahu bagaimana rasanya kehilangan. Di sisi lain, ia merasa cemburu. Cemburu pada cinta yang tak akan pernah ia dapatkan. Cemburu pada kenangan yang begitu kuat mengikat Danu.

Ia berbaring di ranjang, menatap langit-langit. Air mata mengalir lagi, kali ini karena rasa sakit yang familiar. Ia telah melihat retakan di lapisan es, namun ia juga baru saja menyaksikan dasar laut yang membeku di hati Danu. Cinta itu. Cinta yang begitu dalam dan tak tergantikan.

Apakah ia akan selamanya hidup dalam bayang-bayang ini? Apakah ia akan selamanya menjadi istri kedua di hati suaminya sendiri? Pertanyaan itu menghantui Safira. Ia tahu ia tidak bisa memaksa. Ia tidak bisa meminta Danu untuk melupakan istrinya. Itu adalah hal yang tidak manusiawi.

Namun, bagaimana dengan dirinya? Bagaimana dengan hatinya yang juga membutuhkan cinta? Safira merasa terjebak. Ia telah berjanji untuk bertahan, untuk beradaptasi. Tapi, apakah bertahan berarti harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri?

Pagi harinya, Danu terlihat seperti biasa. Tidak ada bekas air mata, tidak ada jejak kesedihan. Ia kembali mengenakan topeng dinginnya, meskipun kini sedikit lebih tipis. Safira pun bersikap seperti biasa, seolah tidak pernah mendengar apa pun, seolah tidak pernah melihat Danu menangis.

Kejadian itu membuat Safira kembali merenung. Ia menyadari bahwa meskipun ada sedikit perubahan, meskipun ada retakan di permukaan, dasar hati Danu masih teguh pada masa lalunya. Ini adalah kenyataan pahit yang harus ia hadapi.

Ia tidak bisa terus-menerus menunggu cinta yang mungkin tidak akan pernah datang. Ia harus menemukan kebahagiaannya sendiri, dengan caranya sendiri. Ia harus membangun hidupnya, meskipun hidup itu berada dalam sangkar emas.

Safira memutuskan untuk kembali fokus pada dirinya. Ia akan melanjutkan kursus daringnya, ia akan mencari kegiatan sosial, ia akan mengembangkan hobinya. Ia akan menjadi pribadi yang utuh, terlepas dari status pernikahannya. Ia akan menjadi ibu yang baik untuk Raihan, itu pasti. Namun, untuk Danu, ia hanya akan menjadi istri yang menjalankan tugasnya, tanpa menuntut lebih.

Ia tahu ini akan menjadi perjalanan panjang. Sebuah perjalanan untuk menemukan kedamaian di tengah badai, untuk menemukan makna di tengah kehampaan. Masa mudanya memang telah hilang, direnggut oleh sebuah takdir yang tidak ia pilih. Tetapi ia menolak untuk membiarkan takdir itu menghancurkan seluruh kehidupannya. Ia akan berjuang. Ia akan menemukan cahaya di ujung terowongan.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Calon Istriku Gadis Matre
8.8
Revan dan Nayla telah lama memadu kasih dan siap melangkah ke pelaminan dengan restu penuh orang tua. Namun, pengkhianatan Nayla menghancurkan ketulusan Revan hingga ia nekat membatalkan rencana pernikahan mereka. Di tengah keputusan pahit itu, Nayla menangis tersedu dan memohon agar Revan tidak pergi. Ia mengaku tengah mengandung darah daging Revan, berharap janin di rahimnya bisa menjadi alasan bagi sang kekasih untuk tetap menikahinya.
Sampul Novel CINTA LAMA BELUM USAI
8.6
Gina hancur saat mengetahui Abian menikah dan akan menjadi ayah. Ia memilih mundur, namun Abian menolak mengakhiri hubungan mereka. Dengan alasan paksaan sang ibu, Abian bersikeras mempertahankan Gina meski telah memiliki istri. Gina merasa muak dengan janji palsu dan egoisme pria itu yang ingin menjadikannya selingkuhan. Di tengah pengkhianatan dan kehamilan istri sah Abian, Gina terjebak dalam hubungan gelap yang dianggap Abian tidak akan pernah berakhir.
Sampul Novel Di Mana Sayap Tumbuh
8.9
Sekuel The Maid and the Young Heir ini mengikuti Amelia, kini seorang ibu yang menjaga rahasia kelam. Saat Luciano berjuang mempertahankan keluarga, masa lalu kembali mengancam. Putra sulung mereka, Gabriel, dipenuhi tanda tanya, sementara Isabelita menghadapi bahaya di perantauan. Di tengah ancaman balas dendam musuh lama, Amelia harus memutuskan apa yang perlu dikorbankan demi keselamatan orang terkasih. Sebuah kisah tentang cinta dan keberanian untuk melepaskan.
Sampul Novel Kasih Sayang Yang Dikhianati
8.6
Tiga tahun menikah, Althea baru menyadari cintanya dikhianati. Lucas, suaminya, ternyata hanya menjadikannya tameng untuk melindungi mantan sahabatnya yang telah menyebabkan kematian ibu Althea. Kebenaran pahit terungkap saat Althea tahu Lucas memberi nafkah lebih besar pada wanita itu, bahkan kado mewahnya hanyalah barang bekas penolakan sang selingkuhan. Meski hancur, Althea memilih bungkam demi menyusun rencana pembalasan yang setimpal atas segala kepalsuan Lucas.
Sampul Novel Lupakan Aku
8.0
Sita terjebak dalam romansa indah bersama Raka, pria yang menjadi cinta pertamanya sejak masa kuliah. Hubungan mereka awalnya terasa sempurna dan penuh kebahagiaan. Namun, kenyataan pahit mulai muncul saat Sita menyadari jurang status sosial di antara mereka. Sebagai gadis dari keluarga sederhana, ia merasa terancam oleh posisi Raka sebagai putra pengusaha ternama. Akankah restu berpihak pada mereka, ataukah perbedaan kasta ini mengakhiri segalanya?
Sampul Novel Melahirkan Keturunan Untuk CEO
9.5
Kinara Ariana, wanita tiga puluh tahun, terjepit situasi sulit saat ibunya butuh operasi mendesak. Demi biaya medis, ia nekat meminta bantuan bos di kantornya. Namun, permintaan itu justru menjebaknya dalam kehidupan sang CEO. Di sisi lain, sang ibu yang sekarat menuntutnya segera menikah. Tanpa diduga, pria asing itu bersedia menikahinya. Seiring berjalannya waktu, rahasia masa lalu sang CEO mulai terungkap dan mengubah takdir hidup Kinara selamanya.