Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel HIGH SCHOOL LOVE ON

HIGH SCHOOL LOVE ON

Devano adalah siswa cerdas yang tertekan oleh obsesi orang tuanya. Hidupnya berubah saat bertemu Bea Miller, siswi pindahan nakal yang menjadi tetangganya. Meski berbeda kepribadian, mereka sering bertemu rahasia di malam hari untuk berbagi cerita. Namun, momen liburan ke pantai memicu amarah orang tua Devano hingga mereka dipisahkan. Bertahun-tahun kemudian, pengaruh Bea berhasil mengubah Devano menjadi fotografer ternama, sementara Bea sukses menjadi menteri luar negeri.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Gue takut pulang ke rumah. Gue tau pasti gue bakalan di marahin sama papah mamah. Sialan! hari ini bener bener menyebalkan. Awas aja si Riri. Gue nggak akan biarin Lo bisa berada di posisi gue " ucap Devan yang ada di depan stir mobil.

Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Karena perasaanya sedang tidak enak hati. Mungkin jika boleh ia ingin makan manusia hari ini juga. Rasanya berkecamuk di dalam dada Devan. Ia malas untuk pulang ke rumah. Tapi ia terlalu takut untuk pergi dari rumah. Nyalinya benar benar kecil sekali.

"Devan, kamu terlambat sepuluh menit. Udah sana buruan les matematika!" Ucap sang mama dengan cerewet. Mama melihat Devan dari mobil. Belum juga bersih bersih badan atau makan siang. Sang mama langsung saja nyerocos untuk les matematika.

"Habis les langsung ke sekolah model aja ya pak," perintah mama Sofi dengan tegas kepada pak Burhan. Kini pria dengan badan kekar itu segera saja masuk ke dalam mobil Devan.

Pak Burhan selalu mengantar Devan ke tempat les. Sengaja di lakukan oleh orang tua Devan. Agar Devan bisa terpantau oleh pak Burhan.

"Kenapa tuan muda Devano? Kok mukanya kusut gitu?" tanya pak Burhan dengan ramah.

Devan hanya diam saja.

"Saya tahu, tuan muda Devano pasti cape kan, karena habis pulang sekolah di suruh les matematika. kan susah susah dahulu senang kemudian," ucapnya sambil tersenyum.

"Jadi tuan muda Devano nggak usah sedih lagi ya. Harus tetap semangat. Ini kan demi kebaikan tuan muda Devano," ucap pak Burhan sambil tersenyum manis menghibur sang majikan.

"Sial, kenapa gue harus cengeng banget sih," ucap Devano di dalam hatinya sambil menyeka pojok mata yang hampir saja akan keluar air mata.

"Gue nggak suka semua yang orang tua gue suka. Gue nggak suka matematika gue juga nggak suka jadi model!" teriak Devano di dalam hatinya dengan keras.

Sampai di depan gedung les matematika. Ia keluar begitu saja tanpa pamit kepada pak Burhan sang sopir pribadi.

"Kasihan juga tuan muda Devano," ucap pak Burhan sambil menggeleng gelengkan kepalanya dengan hati yang sedih.

Pukul sembilan malam Devano telah selesai untuk semua kegiatan. Ingin rasanya ia merebahkan diri di kasur begitu saja.

"Eh eh, Devano! Sini kamu!" papah dengan wajah penuh kemarahan memanggil Devano yang ada di depan pintu kamar.

Baru saja ingin merebahkan diri. Tapi tidak bisa.

"Ada apa Pah?" tanya Devano dengan malas. Wajahnya kusut lelah sekali.

Ia berjalan mendekat ke papah yang beridiri di amping sofa ruang tengah.

"Ini kamu serius cuma dapet nilai matematika sembilan lima?" tanya papah yang melihat grup WhatsApp sekolah.

"Iya pah, kenapa sih? Itu kan udah bagus pah," kata Devano dengan santai. Meski hatinya sangat berdebar karena sebentar lagi pasti ia akan di pukul oleh sang papah.

"Kamu bercanda Devano? Kamu itu dapet nilai tertinggi kedua? Bukan pertama! Siapa yang pertama ?" tanya papah sambil melihat ponselnya dan membaca nama itu.

"Riri Alisa Ningrum? Siapa dia? Kenapa kamu bisa di kalahkan sama seorang perempuan Devano!" papah terlihat geram sekali.

"Ya maaf Pah, Devan juga nggak tau kenapa dia tiba tiba bisa ngalahin Devan," kata Devan dengan menundukkan kepalanya. Perasaannya begitu takut sekali.

"Kamu tahu kan akibatnya kalau kamu di kalahkan? Kami harus menerima hukuman dari papah," kata sang papah yang membuka sabuk celananya. Ia mulai bersiap untuk memukul Devan.

"Pah, jangan pah! Devan janji bakalan kalahin si Riri. Tapi tolong jangan pukul Devan Pah!" pinta Devan dengan nada memelas.

"Nggak bisa! Ini sebagai pelajaran untuk kamu Devan!" kata sang papah dengan tegas.

"Hadap sana kamu!" perintah sang papah dan anak laki laki itu tak bisa berbuat banyak. Devan hanya bisa berbalik sambil menundukkan kepalanya dan memejamkan matanya.

Plak plak plak

Rasa sakit itu begitu terasa sekali pada punggung Devan. Meski masih menggunakan baju tapi itu terasa sangat menyakitkan bagi Devan.

Sang mama yang berada di dapur merasa sangat kaget mendengar suara itu. Ia segera berlari dengan cepat dan melihat anak kesayangannya di pukuli begitu saja.

"Pah! Papah! udah pah!"mama memegang lengan papah dengan cepat dan membuat pria yang penuh kemarahan itu berhenti memukul Devan.

"Mama! selalu aja belain Devan! Devan itu harus menerima hukuman karena tidak mendapatkan nilai tertinggi di kelas ma!" Bentak laki laki dengan rahang mengeras itu. Tangannya akan memukul lagi. Tapi segera di pegang oleh sang istri.

"Cukup pah! Kalau Devan sakit gimana? Dia jadi nggak bisa sekolah model! Papah selalu aja egois!" Wanita Dengan mata tajam itu segera menarik pergelangan tangan anaknya dengan cepat. Pergi meninggalkan lelaki yang merupakan pemimpin keluarga itu.

"Dasar! Anak cowo kok selalu di manja! Heh mau jadi apa nanti," ucapnya dengan geram.

Sementara itu sang mama segera membuka punggung sang anak di dapur.

"Ya ampun, tuh kan jadi merah merah banget! Dasar gila papah kamu itu Devan! Udah sini kamu duduk! Mama obatin," kata mama dengan cepat membuka kotak obat.

Devan menangis di dalam hati. Ia sudah tidak bisa menangis mengeluarkan air mata. Karena i i terlalu sakit baginya. Ia benci jika harus mengeluarkan mata. Ia benci sekali.

"Sabar ya sayang, kamu harus sabar sama sikap papah. Nanti kalau mama udah punya banyak uang. Pasti mama minta cerai sama papa kamu. Karena papa kamu selalu aja bikin kamu sakit . Mama tau kamu sebenarnya nggak suka matematika kan? Tapi papa kamu benar benar terobsesi menjadikan kamu juara olimpiade internasional matematika seperti dirinya dulu," ucap mama dengan geram.

"Jangan ma, jangan ngomong cerai cerai. Devan nggak suka," kata Devan dengan tegas.

"Iya sayang, iya maaf ya sayang. Mama kesel banget sama papa kamu soalnya," kata mama sambil terus mengobati punggung sang anak semata wayangnya.

"Gimana sayang tadi sekolah modelnya? Enak kan? Seru kan? Mama tadi liat foto foto kamu di grup wa. Bagus hasilnya. Kamu pertahankan itu Devan. Pasti kamu bisa jadi model terkenal. Mama selalu dukung kamu sayang," kata sang mama berusaha menghibur sang anak yang sedang kesakitan.

"Iya ma, enak kok. Ya semoga aja Devan bisa jadi model internasional," jawab Devan sambil tersenyum penuh kebohongan. Ia terpaksa berbohong agar membuat sang mama merasa senang.

"Kalau kamu bisa jadi model terkenal kan nanti bisa keliling dunia. Hem, nanti mama bisa sekalian ikut. Pasti seru banget. Ketemu sama model model terkenal di dunia!" cerita sang mama dengan penuh antusias.

Sementara Devan hanya diam saja sambil menelan ludah. Ia sungguh tak bisa berkata apa apa. Ada rasa ingin memberontak di dalam hatinya. Tapi entah kenapa rasanya begitu sulit sekali.

Di dalam kamar Devan duduk di atas meja belajar. Ia harus belajar matematika lagi untuk mengalahkan Riri. Meski ia tidak suka dengan matematika. Tapi ia harus melakukan perintah sang papa agar ia tidak di pukuli lagi.

Devan melihat pulpen berwarna gold yang ada di laci miliknya. Pulpen hadiah dari sang guru matematika yang selalu memujinya jika mendapatkan nilai bagus. Banyak pulpen di laci itu tapi ia tak pernah memakainya sama sekali.

***

"Ini semua gara gara Riri! Gue jadi di pukulin sama papah gue!" kata Devan di dalam mobil dengan rasa kesal di dada. Ia mengendari mobil menuju ke sekolah dengan kecepatan tinggi.

"Kenapa mendung segala sih!" ucapnya dengan wajah cemberut sambil melihat langit gelap di pagi hari.

Jalanan yang ramai dan langit luas terlihat begitu gelap sekali. Seperti menjelang malam hari. Tiba tiba saja hujan turun dengan deras sekali. Devan yang ada di dalam mobile dengus dengan kesal.

Jalan mulai licin dan tak di sangka ia menabrak gadis yang memakai sepeda.

"Sial! Bukannya itu Riri!" kata Devan dengan kaget. Ia segera saja keluar dari mobil dan membantu Riri yang terjatuh. Kakinya kesakitan dengan sepeda yang menindihnya.

Hujan membuat baju seragam keduanya benar benar basah kuyup.

"Kamu tuh nyusahin banget sih RI. Udah cepetan masuk ke mobil!" ucap Devan dengan nada tinggi karena suara hujan begitu keras.

Riri hanya diam saja dan berusaha berdiri. Memang ia yang salah karena tidak fokus saat mengendarai sepeda.

Riri duduk di mobil dan Devan masih berusaha menaruh sepeda Riri di belakanng mobil. Akhirnya selesai juga. Tapai sayangnya baju yang di kenakan Devan basah kuyup semuanya.

"Sial! Jadi basah semuanya!" ucap Devan sambil duduk di jok mobil dan menutup pintu mobilnya dengan cepat. Sementara Riri memperhatikan Devna dari jok belakang. Ia takut sekali dengan kemarahan Devan.

"Ammbilin baju gue di belakang," kata Devan menyuruh Riri dan Riri mulai mencari baju Devan yang ada di belakangnya. Tercantol hanger dengan rapi. Hoodie yang sengaja di bawa untuk nanti sekolah model.

Tangan Riri segera meraihnya dan memberikannya kepada Devan. Tangan Devan meraihnya dengan cepat dan menaruhnya di kursi pas di sampingnya. Devan segera saja tanpa malu membuka baju atasan seragam miliknya.

Riri tak menyangka. Ia melihat luka di punggung Devan. Merah dengan garis garis yang besar.

"Devan? Kenapa sama punggungnya?" tanya Riri di dalam hatinya.

"Sebenarnya gue nggak mau nolong Lo. Karena ini kesalahan Lo. Tapi nanti gue di keroyok sama warga. Jadi gue bantu Lo, " kata Devan yang kini sudah memakai Hoodie warna putih. Wajahnya terlihat datar.

"Devan? Lo nggak ikut ekskul silat kan? Punggung ko kenapa?" tanya Riri dengan nada ragu.

Wajah Devan terlihat cemas sekali.

"Enggak kok, nggak papa. Gue habis jatuh," ucap Devan dengan cepat melajukan mobilnya. Ia berharap Riri tidak akan tahu kenyataan yang terjadi dengan Devan.

Tak ada percakapan apapun setelah itu. Devan tetap fokus dengan jalanan yang ada di depan. Sementara Riri terus saja bertanya tanya dalam hati apa yang terjadi dengan Devan.

Hanya dua menit mobil sudah sampai di depan sekolah. Sampai sekolah sudah tidak hujan lagi. Segera Devan turun dan membantu menurunkan sepeda milik Riri.

"Makasih ya Devan," kata Riri dengan tersenyum ramah

Devan hanya diam saja berjalan begitu cepat. Ia tidak ingin dekat lebih jauh dari Riri. Ia tidak suka dekat dengan siapapun di sekolah ini. Kesendirian adalah paling nyaman baginya.

"Aneh banget sih tuh anak," kata Riri melihat punggung Devan yang semakin menjauh.

Devan tetaplah Devan yang selalu menyendiri di sekolah. Tak ada yang berani mendekati Devan. Ia terlalu aneh untuk di dekati.

"Halo mah?" Panggil Devan yang baru saja mengangkat ponsel dari sang mama.

"Kamu buruan kesini! Mama ada berita baik untuk kamu!" seru mama dengan bersemangat sekali.

"Maksud mama apa? Devan di suruh pulang ke rumah? Ada apa sih ma?" tanya Devan dengan bingung.

"Liat deh, Instagram kamu banyak banget followers nya. Foto kamu viral Devan! Banyak banget nih DM endorsan. Ayo kamu pulang aja," kata mama dengan antusias.

"Devan nggak mungkin pulang ma. Hari ini ada pelajaran matematika. Devan nggak mungkin bolos. Nanti di marahin sama papah" mata Devan dengan tegas.

"Ya udah deh, kamu pulang sekolah langsung ke rumah ya. Cepet pokoknya jangan lama lama!" kata mama dengan tegas.

"Tapi kan pulang sekolah Devan ada les matematika mah,"

"Kamu takut di marahin papah? Udah nggak usah takut. Mama nanti yang bakalan ngadepin papah," kata mama dengan tegas.

"Ya udah terserah mama aja," kata Devan dengan nada datar . Ia segera saja menutup sambungan panggilannya. Dan berjalan menuju.

Kini Devan dengan cepat menuju ke kelasnya.

"Wih, ada calon selebgram nih," kata Zahra melihat ponsel dengan akun Instagram milik Devan.

Devan hanya melirik saja lalu duduk dengan santai menyender ke belakang.

"Kayaknya bakalan ada artis baru nih, di kelas kita!" seru Zahra dengan nada mengejek. Mendengar itu Riri mempercepat langkahnya menuju ke Zahra yang sedang duduk.

"Emangnya kenapa Zah?" tanya Riri penasaran.

"Lih liat aja nih, banyak banget followers nya!" seru Zahra memperlihatkan akun Instagram milik Devan.

"Wah banyak banget! Keren ya!" Kata Riri melirik ke Devano. Ada rasa sedih ketika mengingat luka yang ada di punggung Devano.

"Emang bisa ya cowo pendiem kaya Devano mendadak jadi selebgram?" ucap Zahra dengan sengaja. Membuat telinga Devano benar benar panas. Ia akhirnya berdiri dan pergi dari kelas itu.

"Sial! Ini semua gara gara mamah? Gue di ejek kaya gitu sama Zahra! Siapa juga sih yang mau jadi selebgram dan di lihat banyak orang!" ucap Devan sambil menendang botol minuman kosong di lapangan yang luas itu.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Pertama Mr. Eros
8.4
Hidup Agnella Wibisono hancur setelah kehilangan kesucian di masa remaja. Rasa kecewa membawanya ke dunia obat-obatan dan pergaulan bebas. Meski sempat terpuruk, dukungan orang terdekat membantunya bangkit hingga menemukan cinta yang nyaris sempurna. Namun, saat masa depan mulai tertata, sosok-sosok dari masa lalu kelamnya mendadak muncul kembali. Kini Agnella harus menghadapi trauma yang ingin ia lupakan demi mempertahankan kebahagiaan barunya.
Sampul Novel Cinta Si Kembar (TWINS LOVE)
9.0
Demi membiayai pengobatan sang ibu yang kritis, Maya terpaksa menyetujui tawaran pernikahan kontrak dari Reno. Di sisi lain, Reno sengaja memanfaatkan situasi sulit Maya untuk menjeratnya dalam ikatan legal yang menguntungkan. Bagi Reno, pernikahan ini hanyalah strategi licik untuk mengamankan harta warisan keluarga sekaligus memperkuat dominasinya di perusahaan. Mereka terjebak dalam kesepakatan gelap yang didasari oleh ambisi dan kebutuhan mendesak.
Sampul Novel DIBALIK CADAR ISTRIKU
9.5
Terjebak dalam pernikahan dengan Azizah tidak menghentikan perasaan lelaki ini terhadap Azkia, sosok cantik yang memikat hatinya. Keadaan kian rumit karena ia sama sekali belum pernah melihat wajah istrinya yang selalu tersembunyi di balik cadar. Tanpa ia sadari, Azizah menyimpan sebuah rahasia besar yang belum terungkap. Apakah misteri di balik penutup wajah itu akan mengubah segalanya? Sebuah kisah tentang cinta, keraguan, dan rahasia yang terpendam.
Sampul Novel Kau Curangi Aku
8.4
Maya sangat terpukul saat mengetahui kekasihnya berselingkuh dengan Miya, adik kembarnya sendiri. Namun, alih-alih fokus pada pengkhianatan itu, Maya justru mengungkap rahasia gelap tentang harta keluarga yang menjadi incaran komplotan penjahat. Ternyata, Miya hanyalah alat bagi mereka untuk mencapai tujuan licik tersebut. Kini Maya harus mencari tahu siapa dalang di balik semua ini dan apa motif sebenarnya yang mengancam keselamatan keluarganya.
Sampul Novel Kisah Aku & Dia
7.9
Rina bermimpi bisa terus bersanding dengan Damar dalam segala situasi. Meski hubungan mereka sangat erat, melebihi kedekatan Damar dengan keluarganya, kenyataan pahit justru menghantam. Damar tidak memiliki perasaan cinta yang sama terhadap Rina. Luka hati ini terpaksa Rina pendam sendirian tanpa berani diungkapkan kepada siapa pun. Harapannya kian hancur saat Damar harus pindah ke luar kota, meninggalkan Rina yang hanya bisa mendoakan kebahagiaannya.
Sampul Novel Membalas Pengkhianatan Suami & Sahabatku
8.1
Niat hati ingin merawat suami yang sedang sakit, aku justru memergoki Mas Reza sedang bermesraan dengan Joyce, sahabat baikku. Alih-alih menyesal, Mas Reza justru menceraikanku dengan kejam dan merampas seluruh harta yang kumiliki. Di tengah kehancuran ini, aku bersumpah tidak akan tinggal diam. Pengkhianatan mereka harus dibayar mahal. Kini, aku bangkit untuk merebut kembali kebahagiaanku dan membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkanku.