Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel HIGH SCHOOL LOVE ON

HIGH SCHOOL LOVE ON

Devano adalah siswa cerdas yang tertekan oleh obsesi orang tuanya. Hidupnya berubah saat bertemu Bea Miller, siswi pindahan nakal yang menjadi tetangganya. Meski berbeda kepribadian, mereka sering bertemu rahasia di malam hari untuk berbagi cerita. Namun, momen liburan ke pantai memicu amarah orang tua Devano hingga mereka dipisahkan. Bertahun-tahun kemudian, pengaruh Bea berhasil mengubah Devano menjadi fotografer ternama, sementara Bea sukses menjadi menteri luar negeri.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Ini adalah cara supaya gue bisa Deket sama Lo Devan! Gue berusaha mati Matian ngalahin nilai matematika Lo! Supaya lo bisa nyapa gue!" ucap Riri di dalam hatinya sambil melihat ponsel yang berisikan foto foto Devan.

"Jadi secret admirer emang susah ya. Rasanya nyesek banget!" kata Riri yang sedang berada di dalam kamarnya sambil rebahan.

"Andai aja Lo tau isi hati gue. Kenapa sih lu jadi orang pendiem banget Devan. Padahal lo kan ganteng Pinter lagi. Heh, harusnya Lo tuh bisa tebar pesona!" kata Riri sambil terus melihat foto foto Devan di Instagram.

Sementara itu Devan yang telah sampai di depan rumahnya segera di sambut oleh sang mama. mama Sofi terlihat berwajah bahagia sekali menyambut sang anak.

"Sayang, kamu pasti cape ya. Sini kamu ikut mama yuk!" kata mama sambil membawakan tas Devan.

"Nggak biasanya mamah ramah dan baik kaya gini, pasti ada apa apanya nih," kata Devan dengan curiga.

Sampai di ruang tamu sudah ada produk skincare serta banyak jajanan di atas meja.

"Mah? Itu punya siapa?" tanya Devan penasaran.

"Itu punya kamu sayang. Semuanya di kasih. Karena sekarang kamu itu Nerima endorsan . Mama yang akan jadi asisten kamu. Oke sayang, sekarang kamu ganti baju dulu. Oake baju yang bagus!" Kata mamah dengan mendorong Devan masuk ke dalam kamar.

Mama Sofi segera duduk dan menata jajan dengan baik di atas meja. Ada cemilan pedas bermacam macam rasa.

"Wah enak banget ya kalau kaya gini nggak usah beli jajanan. Banyak endorsan enak juga nih," kata mama Sofi sambil membuka keripik rasa balado. Ia memakannya dengan lahap.

Tak menunggu waktu lama. Devan segera keluar dari kamarnya dengan kaos warna putih polos.

"Duh anak mama pake baju kaya gitu aja udah ganteng!" Puji mama sambil tersenyum.

"Sini duduk sayang," kata mama dengan ramah.

Devan duduk dengan malas.

"Ini semua produk Yang ada di meja ini adalah endorsan. Jadi kamu nanti mamah foto ya, kamu harus bergaya yang bagus nih pertama jajan aja dulu deh yang gampang!" Kata mamah dengan antusias sekali.

Semuanya di foto dengan baik oleh sang mama. Devan juga bergaya dengan bagus di depan kamera. Dengan wajah hitam manis dan postur tubuh yang tinggi serta hidung mancungnya membuat netizen terpesona hingga banyak sekali komentar positif.

Sampai satu jam akhirnya mereka selesai juga dan telfon berdering. Ada tulisan papa di layar ponsel Devan.

"Biar mama aja yang angkat!" kata mama dengan cepat menyambar ponsel milik Devan yang ada di meja ruang tengah.

"Halo Devan? Kenapa kamu nggak berbakat les matematika?" Tanya sang papah dengan nada marah.

"Pah, udah jangan marah marah pah, Devan itu lagi sakit. Panas banget badannya pah. Nggak bernagkay les matematiak dulu sehari nggak papa kan lah," kata mama dengan suara cemas yang di buat buat.

Devan hanya bisa menggelar nafas dengan berat.

"Ya ampun, bisa bisanya mama bilang aku lagi sakit," ucapnya di dalam hati.

"Mama mau bohong sama papah? Orang tadi pagi Devan baik baik aja nggak sakit. Kenapa tiba tiba jadi sakit? Papah pulang sekarang juga!" Kata laki laki yang temperamental itu dan segera saja memutuskan sambungan panggilan.

"Papah mau ke rumah mah?"

"Iya udah gampang biar mama yang ngadepin. Pokoknya kamu fokus aja jadi selebgram. Nggak usah jadi juara matematika internasional seperti papa kamu," kata mama dengan geram.

Sementara itu Devan pergi masuk ke dalam kamarnya. Karena ia t lah selesai dengan produk endorsan.

"Nah sekarang pasang ini," kata mama dengan menempelkan kompres di dahi devan.

Ia juga menaruh obat obatan di atas meja kecil kamar Devan. Lalu juga pura pura ada bubur di atas meja. Supaya papah mengira bahwa Devan sakit.

"Kamu harus bisa akting ya Devan. Kamu harus bisa bohongin papa. Kamu jangan mau di Perintah les matematika sama papah," kata mama dengan tegas. Devan hanya diam saja menurut apa kata sang mama.

Suara mobil terdengar. Itu adalah suara mobil Papah.

"Nah, itu papah. Kamu pura pura sakit. Mending kamu diem aja deh. Biar keliatan lemes," kata mama dan segera pergi dari kamar Devan.

"Harusnya papa nggak usah pulang pah, papah kan lagi kerja," kata mama dengan membukakan jas milik sang suami.

"Mana Devan?" Tanya laki laki garang itu.

"Ada di kamarnya pah, udah pah jangan marahin Devan..dia lagi sakit lah, lagi istirahat juga," kata mama sambil memegang lengan papah.

"Papah mau liat kondisi Devan," kata papah dengan cepat berjalan masuk ke dalam kamar Devan.

"Kamu mau bohong Devan?" tanya papah memegang lengan Devan yang sama sekali tidak panas.

Devan hanya diam saja menurut apa kata sang mama.

"Pah, ngapain Devan bohong sih pah? Devan emang sakit pah," kata mama dengan wajah memohon.

"Papah udah liat semuanya di Instagram! Mamah pikir papah nggak tau! Mana barang barang endorsan itu? Mau papah buang! Ngapain jadi selebgram! Nggak ada guna!" Kata papah dengan wajah marah.

Papah mencari-cari di semua sudut kamar Devan. Sang mama dengan meminta agar papah tidak perlu marah marah.

"Pah udah dong pan, kamar Devan jadi berantakan semua nih," kata mama dengan memegang lengan papah yang sedang sibuk membuka semua lemari.

"Ini semua gara gara mamah juga! Devan jadi nggak bisa dapet nilai matematika yang bagus! Mama itu selaluuu aja manjain Devan!" Kata papa dengan nada marah.

"Papah itu harusnya tahu diri. Jangan memaksa Devan untuk jadi apa yang papah inginkan? Devan itu nggak suka matematika pah?!" Kata mama dengan nada tinggi dan menantang wajah di depan papah.

Mendengar pertengkaran itu akhirnya dengan kemarahan di dada. Devan segera pergi dari kamar dengan cepat. Ia berlari dan kabur dari rumahnya.

Sampai malam tiba Devan belum juga pulang ke rumah.

Papah dan mamah berjalan bolak balik seperti setrika. Mereka berdua sangat cemas sekali dengan keadaan anaknya.

"Ini semua gara gara Papah. Kalau Devan sampai nggak pulang gimana coba?" tanya mama dengan wajah kesal.

"Udah jangan mulai ribut lagi deh ma. Ini papah lagi usaha nelpon semua temen kelas Devan!" kata papah dengan nada tegas.

"Duh, ngapain sih pah, mereka nggak akan tahu pah. Orang Devan di sekolah nggak punya temen," kata mama dengan yakin.

Sementara itu di taman kota. Devan hanya duduk begitu saja menikmati malam yang dingin. Ia juga bingung harus pergi kemana. Ia tak mempunyai keberanian lebih. Akhirnya dengan segera Devan pergi dari taman itu dan pulang ke rumah.

Esok harinya papah marah besar. Devan tentu saja di pukuli lagi. Kali ini di bagian telapak tangannya.

"Udah pah! Udah! Devan kan udah janji nggak akan kabur lagi dari rumah," kata mama dengan nada memohon sambil memegang tangan papah.

Devan hanya diam aja menahan rasa sakitnya. Ia memendam kemarahan yang tak bisa di ungkapkan.

Akhirnya papah menghentikan pukulan. Ia menaruh sabuk celanany di atas meja dengan geram.

"Pokoknya kalau kamu kabur lagi dari rumah. Papah nggak akan segan segan mencoret nama kamu dari kartu keluarga! Pulang sekolah harus berangkat les matematika! Kamu ngerti devan?"

"Iya pah," jawba Devan lirih sambil.terus menunduk menahan telapak tangannya yang sakit.

Sampai di sekolahpun. Rasa perih di kedua telapak tangannya masih saja terasa. Ia bingung bagaimana nanti ia menulis. Rasanya memegang pulpen saja sakit.

"Hari ini ada siswi pindahan. Kalian harus bersikap baik ya," kata ibu wali kelas.

"Wah ada murid baru Bu? Siapa Bu?" tanya cowo dengan rambut ke atas. Model rambut seperti landak.

"Sebentar ya ibu panggil dulu," kata guru itu dan dengan cepat berjalan keluar.

"Bea? Kamu udah siap kan? Kenalin diri kamu ke semua temen kelas?" Kata Bu Risma dengan ramah.

"Iya Bu, saya udah siap. Kalau itu aja gampang buat saya Bu," Kata bea dengan yakin.

"Yaudah kamu masuk sekarang juga ya,"

Kini Bea masuk bersama dengan Bu Risma di depannya. Semua kelas tertuju pada wajah Bea yang begitu cantik sekali. Karena blasteran Indonesia dan Jerman. Rambut pirang terurai pendek hanya sebahu tanpa poni. Hidung mancung sempurna dengan kalung hitam di lehernya yang hampir saja mencekik lehernya.

"Widih... Ada bule guys!" seru hendro dengan medok Jawa.

Semuanya tertawa kecil sambil terus memperhatikan wajah gadis cantik di depannya. Sementara yang lain terpesona dengan kecantikan bea. Baik laki laki maupun perempuan. Tapi berbeda dengan Devano. Ia sama sekali tidak tertarik dengan kecantikan Bea. Devan hanya melihat sekilas saja lalu fokus mengerjakan tugas matematika di atas meja.

"Jangan pada liatin gue gitu dong woy! Santai aja!" seru Bea dengan akrab. Semuanya tertawa karena mendengar logat bea yang ternyata bahasa gaul nya sangat enak di dengar. Seperti sudah lama tinggal di Jakarta Selatan.

"Sekarang kenali diri kamu ya" kata Bu Risma tersenyum manis yang duduk di meja guru.

"Oke, terimakasih Bu," kata bea dengan sopan melihat ke Bu Risma dan wajahnya kini menghadap ke semua siswa kelas.

"Halo perkenalkan nama gue Bea Miller . Panggil aja Bea. Gue pindahan dari sekolah Bandung," kata nya dengan ramah.

"Wih, kok pindah ke sini sih? Di Bandung nggak ada cowo ganteng ya?" tanya Hendro membuat semua teman temannya tertawa.

"Sudah sudah, kalau mau tanya tanya sama bea kalau sudah waktunya istirahat. Silahkan bea kamu duduk di kursi kosong di sana ya," kata Bu Risma dengan ramah.

"Iya makasih Bu," kata Bea dengan ramah dan kini ia berjalan menuju ke tempat duduk di sebelah Devan. Devan hanya diam saja tak mengucapkan kalimat apapun. Tersenyum pun bahkan tidak.

Melihat Bea dan Devan duduk bersama rasanya membuat Riri sangat kesal sekali.

"Ya ampun, rajin amat ngerjain matematika," mata bea sambil duduk dan melihat kertas di atas meja milik Devan. Tak sengaja lengan atasnya menempel ke lengan Devan. Membuat Devan kaget dan segera menggeser kursinya sedikit agar jauh dari Bea.

"Ya ampun, cuma liat sebentar aja langsung sensi," ucap Bea dengan kesal.

"Pasti ni cowo paling pinter di kelas. Heh, kenapa ya gue paling jijik liat cowo Pinter. Rasanya tuh kaya sok banget gitu loh," kata Bea dengan melirik ke Devan yang berwajah serius.

"Oke sekarang buka halaman lima belas ya. Disitu sudah ada beberapa judul puisi dan isinya. Nanti tugas kalian semua itu membacakan puisi di depan kelas!" Seru Bu Risma dengan tegas sambil berdiri.

"Oh, bahasa Indonesia ya sekarang pelajarannya. Tapi kenapa anak di samping gue malah ngerjain matematika?" tanya Bea dengan heran menggaruk kepalanya.

Ia mulai mendekat menggeser duduknya ke Devan. Mulutnya berbisik ke Devan.

"Weh, ini kan pelajaran bahasa Indonesia. Kenapa lu ngerjain matematika?" tanya Bea penasaran

"Lo berisik banget sih. Kalau Lo mau duduk di samping gue. Lo nggak boleh berisik," kata Devan dengan nada berbisik.

Bea langsung saja menyender ke belakang dengan kesal.

"Sialan nih anak belum tau aja siapa gue," kata Bea dengan kesal di hatinya.

Ia segera saja mengangkat telapak tangannya ke atas dengan cepat.

"Bu ini pelajaran bahasa Indonesia kan Bu? Kok, cowo di samping saya ngerjain tugas matematika sih," kata Bea dengan berani dan membuat Devan membelalak kaget. Bisa bisanya Bea berbicara seperti itu.

"Devan! Masukkan pelajaran matematika kamu ke dalam tas!" perintah Bu Risma dengan tegas.

Devan hanya diam saja dan mengikuti perintah Bu Risma. Meski di dalam hatinya sangat emosi sekali dengan sikap Bea.

"Sialan, awas aja ya Lo," kata Devan dengan lirih.

"Hahaha bisa marah juga ya Lo Devan. Btw nama Lo bagus juga," kata Bea dengan berbisik.

Pelajaran bahasa Indonesia berlangsung sangat membosankan sekali bagi Bea. Akhirnya Bea mendengarkan lagu lewat headset bluetooth miliknya. Guru tentu saja tak akan tahu jika bea memakai headseat. Karena rambutnya menutupi telinganya.

Bea mendengarkan musik rock yang begitu enak di dengar. Bahkan sepatunya sampai menari di atas lantai meski hanya ketukan ketukan kecil. Matanya sampai terpejam dan kepalanya mengangguk angguk cepat meskipun tidak terlalu terlihat. Tapi tentu saja Bu Risma tahu. Karena ia adalah guru paling fokus ketika mengajar di kelas.

"Sekarang saya mau tanya ke Bea. Bea? Bea?" panggil Bu Risma dengan nada cukup tinggi tapi bea sama sekali tidak mendengarnya. Akhirnya Bu Risma memerintahkan Devan dengan isyarat gerakan tangannya untuk mencopot headset yang ada di telinga Bea.

Devan dengan malas mentobakkan rambut bea yang mengenai telinga dan mencibir headset Bea.

"Heh, apaan sih lu!" Seru Bea dengan keras melihat marah wajah Devan. Membuat semuanya tertawa kecil.

"Bea!" panggil bu Risma dengan nada tinggi.

Beapun melihat ke arah Bu Risma dengan senyum ragu.

"Iya Bu ada apa ya Bu?" tanya Bea seolah polos.

"Ini saatnya belajar! Bukan mainan hape sambil denger musik!" Kata Bu Risma dengan nada marah.

"Tapi kan Bu, dari tadi ibu jelasin tentang puisi itu ngebosenin banget Bu. Jadi saya dengerin musik aja deh," kata Bea dengan santai.

"Heh! Kamu itu kurang ajar sekali ya kalau bicara? Maksud kamu ibu ngajarkan nggak enak? Murid baru aja belagu banget kamu ya. Ibu kasih kamu nilai lima! Udah sekarang kamu keluar aja dari kelas saya!" Perintah Bu Risma yang sudah muak sekali dengan sikap murid baru itu.

"Beneran Bu? saya di suruh keluar nih? Ya udah saya keluar nih ya," kata Bea dengan senang hati berdiri sambil berjalan keluar.

Devan yang melihat Bea hanya bisa geleng geleng kepala begitu saja.

"Dasar cewe gila! Dia berani banget sama Bu Risma," ucap Devan di dalam hatinya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Pertama Mr. Eros
8.4
Hidup Agnella Wibisono hancur setelah kehilangan kesucian di masa remaja. Rasa kecewa membawanya ke dunia obat-obatan dan pergaulan bebas. Meski sempat terpuruk, dukungan orang terdekat membantunya bangkit hingga menemukan cinta yang nyaris sempurna. Namun, saat masa depan mulai tertata, sosok-sosok dari masa lalu kelamnya mendadak muncul kembali. Kini Agnella harus menghadapi trauma yang ingin ia lupakan demi mempertahankan kebahagiaan barunya.
Sampul Novel Cinta Si Kembar (TWINS LOVE)
9.0
Demi membiayai pengobatan sang ibu yang kritis, Maya terpaksa menyetujui tawaran pernikahan kontrak dari Reno. Di sisi lain, Reno sengaja memanfaatkan situasi sulit Maya untuk menjeratnya dalam ikatan legal yang menguntungkan. Bagi Reno, pernikahan ini hanyalah strategi licik untuk mengamankan harta warisan keluarga sekaligus memperkuat dominasinya di perusahaan. Mereka terjebak dalam kesepakatan gelap yang didasari oleh ambisi dan kebutuhan mendesak.
Sampul Novel DIBALIK CADAR ISTRIKU
9.5
Terjebak dalam pernikahan dengan Azizah tidak menghentikan perasaan lelaki ini terhadap Azkia, sosok cantik yang memikat hatinya. Keadaan kian rumit karena ia sama sekali belum pernah melihat wajah istrinya yang selalu tersembunyi di balik cadar. Tanpa ia sadari, Azizah menyimpan sebuah rahasia besar yang belum terungkap. Apakah misteri di balik penutup wajah itu akan mengubah segalanya? Sebuah kisah tentang cinta, keraguan, dan rahasia yang terpendam.
Sampul Novel Kau Curangi Aku
8.4
Maya sangat terpukul saat mengetahui kekasihnya berselingkuh dengan Miya, adik kembarnya sendiri. Namun, alih-alih fokus pada pengkhianatan itu, Maya justru mengungkap rahasia gelap tentang harta keluarga yang menjadi incaran komplotan penjahat. Ternyata, Miya hanyalah alat bagi mereka untuk mencapai tujuan licik tersebut. Kini Maya harus mencari tahu siapa dalang di balik semua ini dan apa motif sebenarnya yang mengancam keselamatan keluarganya.
Sampul Novel Kisah Aku & Dia
7.9
Rina bermimpi bisa terus bersanding dengan Damar dalam segala situasi. Meski hubungan mereka sangat erat, melebihi kedekatan Damar dengan keluarganya, kenyataan pahit justru menghantam. Damar tidak memiliki perasaan cinta yang sama terhadap Rina. Luka hati ini terpaksa Rina pendam sendirian tanpa berani diungkapkan kepada siapa pun. Harapannya kian hancur saat Damar harus pindah ke luar kota, meninggalkan Rina yang hanya bisa mendoakan kebahagiaannya.
Sampul Novel Membalas Pengkhianatan Suami & Sahabatku
8.1
Niat hati ingin merawat suami yang sedang sakit, aku justru memergoki Mas Reza sedang bermesraan dengan Joyce, sahabat baikku. Alih-alih menyesal, Mas Reza justru menceraikanku dengan kejam dan merampas seluruh harta yang kumiliki. Di tengah kehancuran ini, aku bersumpah tidak akan tinggal diam. Pengkhianatan mereka harus dibayar mahal. Kini, aku bangkit untuk merebut kembali kebahagiaanku dan membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkanku.