Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hanin & Wahyu

Hanin & Wahyu

Hanin dan Wahyu adalah saudara kembar yang selalu seiring sejalan hingga mereka dewasa. Namun, perbedaan mencolok muncul saat mereka memilih pasangan hidup. Suratman sukses menjadi konsultan bank dengan istri sekretaris hotel yang ambisius. Sebaliknya, Suratmin hanya bekerja sebagai petugas kebersihan dengan istri ibu rumah tangga biasa. Perbedaan status dan pola asuh anak yang kontras ini akhirnya memicu konflik besar yang mengorbankan masa depan anak-anak mereka.
Bab
Bagikan

Bab 2

Setelah selesai makan mereka bersantai ria duduk di teras

rumah, walaupun rumahnya kecil tetapi teras dan halaman rumah kontrakan Suratmin

sedikit luas.

Terdapat dua buah kursi yang terbuat dari kayu itu, menselonjorkan

kedua kakinya yang terasa pegal tadi karena duduk bersila, membuat Siska yang

hamil besar sedikit merasa rikeks di tempat itu.

Angin yang datang hilir mudik membuat Suratman dan Siska

malas beranjak dari tempat duduknya seakan-akan mereka pemilik kontrakan itu.

“Sus, enak juga ya di rumah kontrakan kamu, biar dikatakan

kecil, sumpek, bau, dan kotor kalau sudah ada angin sepoi-sepoi bawaannya

ngantuk melulu, kayak kita lagi di pantai, benar nggak sih Mas?” tanya Siska

yang asyik menikmati angin yang melewati dirinya.

“Iya, benar kamu Sayang, apalagi ada segelas es teh sama camilan,

serasa di pantai benaran loh!” sahutnya yang sengaja minta disediakan yang dia

maksud.

“Mudah-mudahan mereka masuk angin, jadi nggak ke sini, eh

tapi jangan deh, nanti kalau dua-duanya sakit malah aku yang repot, nggak mau

ah!” gerutu Susi  dalam hati tetapi

tangannya sibuk mengangkat jemuran yang sudah kering karena hari ini matahari sangat

bersahabat membuat  pakaian yang

dijemurnya kering semua.

Siska pun memperhatikan Susi yang cekatan mengambil

pakaian-pakaian itu walaupun sudah hamil besar, tidak membuat aktifitas

terganggu akan hal itu, malah lebih agresif dengan pekerjaan rumah tangganya.

“Sus, kamu dengar nggak apa yang dikatakan Mas Ratman, minta

es teh, tetapi gulanya sedikit saja, usahakan kalau mencari es batu itu kamu

harus tahu dia pakai air bersih atau tidak, atau sudah di masak atau belum.”

“Kesehatan itu mahal harganya, biaya rumah sakit berapa,

kita harus menjaga kesehatan jangan sampai masuk rumah sakit, kalau orang kaya

masih bisa bayar coba kalau orang miskin seperti kamu, pasti ujung-ujungnya

minta sama saudara pinjam uang!”

“Nanti kalau nggak dipinjamkan katanya kita lelit, padahal

kita ini dasarnya nggak pelit loh, Sus, cuma malas saja keluar uang begitu

aja!” jelasnya panjang lebar, tetapi Susi tidak menghiraukan mereka yang asyik

menikmati hari di siang tengah bolong itu.

“Sus, kamu dengar nggak sih?” tanya Siska mengulang

kalimatnya.

“Ya dengar Mbak!” sahutnya malas.

“Lah terus, ya buatkan dong, ingat tamu itu adalah raja,

maka harus dilayani dengan baik loh!” sindirnya kepada Susi.

“Sayangnya Mbak Siska bukan raja, kalian kan keluarga ku

toh, jadi kalau sama keluarga harus pengertian, aku lagi sibuk banyak kerjaan,

kalau Mbak kan enak ada pembantu yang ngerjakan, kalau aku kan nggak ada!”

kilah Susi sambil tersenyum.

“Lagian kita nggak ada teh maupun gula, belum beli,

menghemat,” lanjutnya lagi dengan sedikit memajukan bibirnya yang seksi ke

depan.

“Ya buatkan sebentar saja bisa toh, Sus?”

“Lah mau pakai apa buatnya, sudah di bilang nggak punya stok

teh!”

“Min, istrimu toh kok nggak sopan gitu, Siska ini lagi hamil

dia nggak boleh banyak gerak, apalagi bawa yang berat-berat, nanti kasihan

dedeknya di dalam!” sungut Suratman yang mulai membela istrinya.

Namun Suratmin juga harus membela istrinya yang juga hamil

besar bahkan tinggal menghitung hari saja.

“Wah, mas Ratman ini memang nggak lihat tuh apa yang ada

diperutnya itu, bukan bawa bantal, tetapi lagi hamil juga, dan bentar lagi mau

melahirkan kalau situ kan baru delapan bulan!”

“Mbak Siska itu harus banyak gerak, jangan-jangan di kantor cuma

duduk-duduk doang, dan menyuruh temannya kerja!” jelas Suratmin lembut.

“Kok malah kamu yang ngajarin aku toh , Min, suka-suka aku

lah, terserah Siska yang penting dia nggak stres, dia lebih suka di sini

ketimbang di rumahnya sendiri, nggak tahu kenapa?” kilahnya yang masih tetap

nggak mau beranjak dari tempat duduknya.

“Lah, situ juga ngatur-ngatur istriku, dia itu hanya

melayani rumah kecil ini, Mas Ratman, nggak lihat aku saja lagi bantu-bantu

perkerjaan istriku ini, supaya dia nggak stres di rumah, benarkan, Sayang?”

goda Suratmin kepada istrinya di balas dengan kedipan mata dari Susi.

“Hahaha ... orang miskin manggilnya Sayang, belagu amat jadi

orang kamu, Min,” ejek  Suratman saat

mendengar Suratmin memanggil Susi dengan sebutan Sayang.

Namun kedua suami istri itu hanya tersenyum mendengarkan

celoteh pasangan Suratman dan Siska yang selalu membanding-bandingkan dirinya.

“Wah perlu dikerjai ini si Suratman,” ucap Susi dengan

tersenyum licik.

Lalu dia melihat beberapa ibu-ibu sedang melewati tempat

kontrakan Suratmin dan Susi, lalu memanggil dan menyapanya dengan ramah.

“Bu Retno, mau ke mana siang-siang begini?” sapa Susi

mengalihkan perhatian mereka berdua.

“Eh, Mbak Susi, wah ibu hamil ini rajin banget sih, sudah

jangan terlalu capek, bentar lagi lahiran loh, sudah dipersiapkan belum

keperluannya, supaya nggak kalang kabut saat mau ke bidan, loh,” ucap Bu Retno

menasihati.

“Alhamdulillah sudah Bu, yang penting-penting sudah

dipersiapkan tinggal angkut,” sahut Susi tersenyum.

“Loh ada saudaranya toh datang, mau ngapain sih datang

melulu ke sini, pasti minta makan, ya toh, hayuk ngaku?” tanya Bu Retno ceplas-

ceplos membuat wajah Suratman dan Siska hanya bisa nyegir kuda.

“Nggak juga, cuma malas saja di rumah besar nan mewah nggak

ada kerjaan, Bu!”

“ Terus ya Bu, lagian kalau makan kita itu tinggal telepon,

bayar, nyampe terus makan deh, hidup itu nggak usah terlalu ribet, deh,” sahut

Siska dengan ketus.

“Eh, Siska jangan cuma duduk-duduk saja banyak gerak, tuh

contoh si Susi dia aja hamil besar masih bisa ngerjain tugas rumah tangga, lah

kamu malah santai!” celetuk Bu Lina mengejek.

“Malas ya Bu, buat apa ada pembantu dia kan digaji untuk

itu, makanya enak jadi orang kaya tinggal perintah beres deh,” sahutnya santai.

“Iya, Bu, mereka ini memang malas masak di rumah, eh maksudnya

karena sibuk kerja di luar, makanya pembantunya juga jarang masak.”

“Ini saja Mas Ratman mau minus es teh, tetapi persediaan stok

 kebetulan  sudah habis makanya dia mau kasih uang untuk

beli  teh sama gula, iya kan Mas?” tanya

Susi membuat Suratman bingung.

“Wah baik banget Mas Suratman ini, gitu dong sekali-kali

bantu saudara, lagian hidup rukun sudah saudara kembar, perhatian, tetanggaan

pula hanya beda dua rumah,” celetuk Bu Retno tersenyum.

“Iya betul itu, sesama saudara harus saling tolong menolong

seperti almarhum kedua orang tua kalian  dulu yang selalu baik sama kita, jadi jangan

membuat malu keluarga,” sahut Bu Lastri menimpali.

Karena merasa gengsi di depan Ibu-ibu tadi terpaksa Suratman

mengambil dan mengeluarkan salah satu uang kertasnya yang bewarna merah itu dari

dompetnya dengan tangan gemetaran.

“Mas, kok kasih seratus ribu buat Susi sih?” tanya Siska

yang tidak terima uang suaminya keluar begitu saja.

“Loh Mbak Siska ini bagaimana toh, tadi katanya mau es teh

sama camilan, ya aku belikan dulu sekalian mau beli yang lainnya, kebetulan

habis juga, nggak apa-apa kan, Mas?” tanya Susi mencari pembelaan sembari

mengambil cepat uang yang ada di tangan Suratman.

“I-iya, nggak apa-apa sekali-kali berbuat kebaikan sama

saudara banyak pahalanya apalagi kita sering juga makan di sini,” sanggah

Suratman tersenyum kecil.

“Mas ... tapi ... “ ucapannya lalu dipotong oleh suaminya

dengan nada kesal.

“Sudah nggak apa-apa,  malu banyak ibu-ibu sini, kamu mau citra kita

tercoreng hanya karena masalah sepele seperti ini, di luar sana suamimu ini

terkenal dengan dermawannya, kalau sampai mereka tahu aku pelit sama saudara

sendiri mau taruh di mana wajah gantengku ini?” Suratman menjelaskan kepada

istriya agar diam saja.

“Wah tekor aku seratus ribu gara-gara Susi Similikiti, ada

juga idenya, ngapain juga panggil Ibu-ibu itu yang biang gosip itu!” gerutunya

dalam hati.

“Selamat tinggal uangku, jangan marah ya, aku terpaksa

mengeluarkan dari dompetku!” Suratman bersedih karena uangnya keluar satu

lembar.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tak Ingin Menjadi yang Kedua.
8.2
Kehidupan Nisa hancur seketika saat melihat Damar, suaminya, bermesraan dengan wanita lain. Terungkap fakta pahit bahwa Damar telah memiliki istri pertama sebelum menikahinya. Alasan Damar enggan menyentuh Nisa karena statusnya yang masih mahasiswi hanyalah kebohongan belaka. Meski dikhianati secara keji, Damar tetap bersikeras menolak perceraian. Kini Nisa terjebak dalam dilema besar, haruskah ia bertahan dalam pernikahan yang penuh kepalsuan ini?
Sampul Novel Gadis Kecil Milik Tuan Nicholas
9.6
Nicholas Lauther terkejut saat baru menjabat CEO Nexon Games, karena Billi dan Emma menjodohkannya dengan Amora Georgina. Amora, gadis 19 tahun dari keluarga sederhana, baru saja pindah ke kota untuk mengelola restoran steak milik Mark dan Anna. Meski kepribadian mereka bertolak belakang, Nicholas dan Amora terpaksa bersandiwara demi orang tua mereka. Sambil berpura-pura patuh, keduanya diam-diam menyusun rencana matang untuk membatalkan ikatan perjodohan tersebut.
Sampul Novel Gairah Cinta Senior
8.4
Diana memprioritaskan masa depan di atas asmara, bahkan nekat menolak cinta Arga meski mereka saling suka sejak lama. Namun, keteguhannya diuji saat ia memasuki dunia perkuliahan. Di tengah upaya Arga yang terus mengejarnya dari jauh, Diana justru bertemu Bara, senior galak dengan reputasi bad boy yang mulai menunjukkan ketertarikan padanya. Kini Diana terjebak dalam dilema antara kesetiaan pada masa lalu atau menyerah pada gairah baru yang menantang.
Sampul Novel Guru Cantik dan Tetangganya Murid Macho
9.7
Menjadi dosen muda dengan penampilan menarik membuat wanita ini selalu menjadi pusat perhatian para mahasiswa di kampusnya. Ketegangan profesionalnya diuji ketika ia mengetahui bahwa salah satu murid laki-lakinya yang paling energik ternyata tinggal tepat di seberang rumahnya. Saat suaminya sedang pergi, sebuah insiden pipa air bocor membuat sang dosen basah kuyup dan tak berdaya. Di tengah kekacauan itu, sang murid datang menawarkan bantuan dengan penuh gairah yang sulit disembunyikan. Kisah romansa modern remaja yang penuh debaran ini menyoroti batas tipis antara etika guru dan godaan tetangga.
Sampul Novel Obsession In Love
9.5
Arinika adalah seorang mahasiswi yang sedang berjuang menyelesaikan skripsinya, namun ia terus terjebak dalam masalah dengan dosen pembimbingnya sendiri. Samuel Xalvandor, sang dosen yang dikenal sangat kejam, secara mengejutkan memaksa Arin untuk menjalin ikatan pernikahan. Meski sempat mencoba menolak, Arin tidak berdaya melawan kuasa sang dosen hingga pernikahan mereka akhirnya terwujud. Ikuti kisah rumit mereka dalam drama romansa modern ini.
Sampul Novel Pernikahan Kedua yang Dirahasiakan Suamiku
8.0
Siska adalah wanita muda sukses yang telah memberikan tiga anak bagi suaminya, Roni. Namun, kesetiaannya dibalas pengkhianatan pahit. Roni yang selama ini dikenal sebagai pria religius ternyata telah menikah lagi secara rahasia tanpa izin. Siska teringat masa lalu saat ia tegas menolak ide poligami yang pernah dilontarkan suaminya. Kini, ia terjebak dalam dilema besar: apakah tetap bertahan demi keluarga atau pergi membawa anak-anaknya?