Sampul Novel Hanin & Wahyu

Hanin & Wahyu

8.0 / 10.0
Hanin dan Wahyu adalah saudara kembar yang selalu seiring sejalan hingga mereka dewasa. Namun, perbedaan mencolok muncul saat mereka memilih pasangan hidup. Suratman sukses menjadi konsultan bank dengan istri sekretaris hotel yang ambisius. Sebaliknya, Suratmin hanya bekerja sebagai petugas kebersihan dengan istri ibu rumah tangga biasa. Perbedaan status dan pola asuh anak yang kontras ini akhirnya memicu konflik besar yang mengorbankan masa depan anak-anak mereka.

Hanin & Wahyu Bab 1

“Min, kapan anakmu lahir?” tanya Suratman saudara kembar

Suratmin dengan nada mengejek.

“Alhamdulilah, Mas, kata bidan sih tinggal menghitung

hari saja paling tidak tiga atau lima hari lagi,” jawab Suratmin dengan santai

sembari membuat meja kecil dari kayu untuk di dapurnya.

“Berarti istri kamu melahirkan nanti di bidan dong?”

“Iya, nggak apa-apa, lagian nggak ada uang juga kalau harus

di rumah sakit, bayarannya mahal, nggak sanggup aku,” kilahnya merendah diri.

“Iya sih kamu kan jadi OB di warung makan kecil, gajimu berapa

di sana, Min?”

“Nggak cukuplah pastinya, kalaupun ngutang nanti susah

bayarnya, apalagi sama saudara nanti pura-pura amnesia kalau ditagih, lebih

baik yang sesuai kemampuan saja, nggak usah neko-neko!” hardiknya sembari

mengejek dengan jelas.

“Iya, Mas, makanya  disesuaikan

dengan kemampuan kami.” Suratmin tersenyum walaupun di dalam hatinya sangat

sakit dengan perkataan saudara kembarnya itu.

“Bagus deh tahu diri juga kamu. jadi nggak menyusahkan aku,

soalnya istriku rencananya sih mau lahiran di rumah sakit kalau perlu operasi

secar biasalah mau cari  tanggal yang

hoki gitu,” jelasnya bersemangat.

“Ngapain operasi secar Mas, kalau masih bisa normal, kecuali

kalau memang harus jalan operasi ya mau nggak mau,” tandas Suratmin menjelaskan.

“Itukan menurutmu, Min, kalau aku bedalah orang kaya itu harus

terlihat kayanya dong, jangan kayak orang miskin!” sahutnya tak mau kalah.

Senyum yang dipaksakan selalu dia lakukan lantaran agar

tidak menyinggung perasaan Suratman yang lebih kaya dari Suratmin.

Sudah sering kali Suratman merendahkan Suratmin lantaran menjadi

orang miskin baginya.

Perbincangan di hari minggu itu membuat Susi istri dari

Suratmin menitikkan air matanya ketika mendengar percakapan mereka.

Namun buru-buru dia usap air matanya dengan daster panjang

yang terlihat kusam dan banyak tambalan di mana-mana,  agar tidak ketahuan oleh Suratmin kalau dia

baru saja menangis.

 Susi kembali ke dapur

untuk memasak makan siang. Hanya goreng tempe, sambal terasi dan tumis kangkung

membuat aroma masakan yang dibuat oleh Susi menyeruak sampai keluar.

Penciuman hidung Suratman sangat tajam sampai tak terkendalikan

sehingga perutnya selalu berbunyi. Di saat itu juga istri Suratman yaitu Siska

ikut datang ke rumah kontrakan kecil milik Suratmin.

Sudah hal lumrah untuk pasangan suami istri ini yang mereka

bilang orang kaya itu setiap hari selain hari Jum’at mereka akan datang entah

pagi, siang ataupun malam ke rumah kontrakan 

Suratmin.

Apalagi kalau bukan minta makan, padahal Suratmin  juga dalam  kekurangan bahkan tidak pernah dia meminta

apapun, tetapi Suratman dan istrinya tetap tidak peka dengan keadaan.

“Assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikumsalam!”

“Eh Mbak Siska, mau jemput Mas Suratman ya?” tanya Suratmin tersenyum renyah ketika selesai membuatkan meja kayu untuk istrinya.

“Biasalah, hari Minggu main-main ke rumah saudara, nggak

apa-apa kan?” balasnya dengan santai.

“Berarti aku juga bisa main-main ke rumah sampean toh?”

tanya Suratmin semringah.

“Ngapain ke rumah nggak ada apa-apa di sana, lagian kalau di

sini kan ada makanan, tuh sepertinya istrimu sudah selesai masak, ayuk kita

makan,” ajak Suratman dan langsung masuk ke dalam tanpa di suruh.

“Ayuk, Mbak silakan masuk!” ajak Suratmin tersenyum yang

dipaksakan.

“Wah dengan senang hati, dong,” jawabnya dan langsung

menyelonong ke dalam.

Sampai di dapur, Susi yang selesai masak pun langsung menghidangkan

makanan diatas dipan yang terbuat dari kayu.

Nasi yang masih panas mengepul dengan baunya yang wangi,

ditambah sambal terasi yang menggugah selera.

Mereka pun sudah duduk menghadap makanan yang disajikan

Susi.

“Loh, Mas dan Mbak mau numpang makan lagi, kenapa nggak makan di rumah?” tanya Susi yang mulai kesal dengan tingkah mereka.

“Kamu kan tahu Mbakmu ini malas masak, lagian pembantu kalau

masak itu-itu saja, bosan nggak ada variasinya, beda sama kamu selalu

ganti-ganti walaupun hanya tempe saja,” kilah Suratman yang sudah tidak sabar

ingin menyantap makanan yang ada didepannya.

“Ya belajar dong, Mbak, sebentar lagi mau lahiran juga terus

siapa yang mengurus, Mbak nanti?” tanya Susi kepada Siska.

“Aku belum ngambil cuti sayangkan uangnya, nanti tunggu dua

atau tiga harilah, baru aku rehat dan kita mau pakai baby sister aja, aku kan

wanita karier ya bedalah sama kamu yang Cuma rebahan saja nggak ada kegiatan,”

sahutnya dengan nada menyinggung.

Tak lama kemudian Suratmin datang dan ikut bergabung duduk

di antara mereka.

“Ayuk, cepatan toh, aku sudah lapar nih!” ucapnya dengan

cepat tangannya mengambil nasi itu sudah berpindah cepat dipiringnya.

“Sus, kamu kok masak sedikit amat, jangan pelit-pelit sama

keluarga, nanti nggak berkah loh!” ucapnya sembari melahap makanan itu dengan

lahap begitu juga dengan Siska istrinya tanpa malu-malu dai pun menambah porsinya

dengan alasan harus makan yang banyak karena hamil.

Mendengar ucapan Suratman, Susi kembali terhenyak dan

membuat selera makannya berkurang.

“Loh bukannya kalian ya yang pelit, buktinya makan terus di

sini gratis pula, kan duit banyak tinggal telepon pesan makanan terus datang

lalu bayar, ngapain toh susah-susah ke sini!”

“Berasku tinggal sedikit, Mas, yang jatahnya cukup untuk

sebulan, eh malah nggak cukup, harusnya tahu diri dong!” ejek Susi tetapi

mereka pun tetap tidak memedulikan omongan Susi, karena masih menikmati

makanannya sehingga semua yang disajikan tadi ludes seketika tidak menyisakan

Suratmin.

“Wah enak sekali makananmu Sus, sampai lupa nggak nyisakan

makanannya!” ucap Suratman dengan enteng.

“Kalau mau makan banyak sini, mana uangnya biar aku buatkan

lagi kayak tadi dan bisa sampean bawa pulang makan di rumah kalian saja!” ucap

Susi sembari mengulurkan tangannya untuk minta uang.

“Lah, aku nggak ada uang kecil, adanya juga uang merah semua,

kalau kasih kamu yang untung kamu dong, makanan seperti ini nggak nyampe tiga

puluh ribu juga nanti mau minta angsulannya bilang nggak ada kembaliannya,

orang miskin kan selalu mencari kesempatan dalam kesempitan!” rutuknya membuat

Susi bertambah kesal.

“Ya Allah, Mas nggak apa-apa, aku belikan di warung tunggu

sini nanti uang kembaliannya tak kasih sampean lagi, bagaimana?”

“Alah itu akal-akalan kamu saja, nanti kalau kamu

lebih-lebihkan harga di warung bagaiamana bilang beli kangkung harganya cuma

tiga ribu seikat nanti kamu bilang lima ribu, tekor dong aku!” hardiknya kesal.

“Kalau begitu sama-sama ke warung supaya tahu harga semua

kebutuhan yang di beli, bagaimana?” usul 

Suratmin padahal dia sudah tahu jawabnnya.

“Nggak lah, aku malas kayak gitu, aku ini orang kaya, malu

lah belinya kok gituan, nggak level!” tolaknya.

“Ya sudah biar Mbak Siska saja yang ke warung, nanti biar

aku yang masakan, bagaimana ini alternatif terakhir loh!” ucap Susi yang hampir

putus asa mendengar alasaan demi alasan yang dibuatnya.

“Aku kamu suruh ke warung nggak ah ... nggak mau, nggak

level dengan warung kotor, bau, banyak kumannya ... iiihhh!” Siska mendelik

jijik saat membayangkan pergi ke warung dengan memakai sandal uang harganya

bisa mencapai satu juta rupiah itu.

Suratmin yang mendengarnya hanya biaa tertawa kecil

menampilkan deretan giginya yang putih, sedangkan Susi hampir kehilangan cara

untuk membuat mereka mengerti tetapi dia tidak ingin selalu dikelabui oleh

mereka yang bergelar sultan itu.

“Loh Mbak ini bagaimana sih, masakan yang aku buat itu dari

sana loh, yang Mbak bilang bau, kotor, banyak kumannya, berarti masuk ke perut

bahaya dong?” ejek Susi.

“Ya nggak lah, buktinya kamu dan Suratmin makan juga, nggak

ada masalah tuh, baik-baik saja!” jawabnya lagi dengan santai.

“Huh ... tenang Susi, tenang ... sabar ... aku harus banyak

istighfar kalau menghadapi mereka, untungnya aku tidak menikah dengan Suratman,

bisa pusing kepala aku dibuatnya tiap hari,” gerutunya dalam hati.

“Baiklah, kalian seperti benalu kok di rumah orang miskin,

benalu itu di rumah orang kaya, ini nggak bisa dibiarin , pokoknya aku akan  membuat mereka nggak ke sini lagi pelitnya

minta ampun malah kita lagi yang dibilang pelit!” rutuknya dengan kesal.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Hanin & Wahyu

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel ASI untuk Pak Guru
8.5
Jenara Atmisly adalah siswi berprestasi yang mengidap galaktorea, sebuah kondisi hormon yang membuatnya memproduksi ASI meski belum pernah hamil. Suatu hari, rasa sakit akibat penumpukan cairan itu tak tertahankan hingga ia terpaksa meminta bantuan gurunya di sekolah. Kejadian tak terduga di ruang guru tersebut lantas mengubah segalanya. Berawal dari rahasia medis yang memalukan, hubungan mereka berkembang menjadi jalinan asmara yang rumit dan penuh risiko.
Sampul Novel Gadis 100 juta (fatamorgana)
9.6
Demi menyelamatkan adiknya yang diculik, Daiva Gayatri Maheswari terpaksa menjual kesuciannya kepada Keyko Khayang Gumelar senilai 100 juta rupiah. Namun, takdir mempertemukannya dengan Damian, seorang duda tampan, di sebuah supermarket secara tidak sengaja. Kini, Daiva terjebak dalam dilema cinta ketika kedua pria tersebut mulai mengejar hatinya. Siapakah yang akhirnya akan dipilih Daiva sebagai pendamping hidup di tengah bayang-bayang masa lalunya?
Sampul Novel Godaan Liar Sang Ustazah
8.5
Kisah romansa dewasa khusus pembaca 21 tahun ke atas ini mengeksplorasi sisi tersembunyi kehidupan yang jarang terungkap. Di balik topeng kesucian, tersimpan luka, dilema, dan kerinduan yang kompleks. Melalui narasi yang realistis dan eksplisit, pembaca diajak merefleksikan jati diri di tengah kegelapan demi menemukan titik cahaya. Sebuah hiburan penuh makna tentang pencarian makna hidup dan cinta yang tidak selamanya berjalan lurus, memberikan perspektif baru bagi pembacanya.
Sampul Novel Istri yang Dihancurkan Mereka
8.1
Bramantyo dan Bima terobsesi menyiksaku dengan kehadiran Sandra demi menguji cintaku. Puncaknya, saat kecelakaan terjadi, mereka membiarkan tanganku hancur demi menyelamatkan Sandra. Karier musikku pun sirna. Mereka menantikan amarahku, namun aku hanya diam membisu, bahkan saat liontin ibuku dihancurkan Sandra. Di ranjang rumah sakit, pengabdianku mati. Ini bukan cinta, melainkan sangkar kejam. Kini aku bersiap melarikan diri dan membalas kehancuran ini.
Sampul Novel Kekasihku Meninggalkanku di Hari Pernikahan
9.6
Hari pernikahan Cherish hancur seketika saat Diego pergi begitu saja setelah menerima sebuah telepon. Kepergian mendadak itu membuat nenek Cherish syok hingga muntah darah dan akhirnya meninggal dunia di rumah sakit tanpa ada yang membantu. Di tengah kedukaan di kamar mayat, Diego justru menghubungi Cherish untuk meminta donor darah bagi Zoey yang terluka. Kecewa mendalam, Cherish langsung mengakhiri hubungan mereka. Kini, Diego bersujud di bawah guyuran hujan, memohon dimaafkan dan berjanji menyerahkan segalanya demi mendapatkan kembali hati Cherish.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan