
Hanin & Wahyu
Bab 3
“Ayuk Sus, kalau mau bareng ke warung kebetulan kita juga
mau ke sana, rencananya kita mau rujakan, kamu ikut saja,” ajak Bu Retno dengan
senang hati mengajak Susi.
Siska yang mendengar kalau ada makanan gratis pun dengan
sigap mendatangi mereka yang asyik ngerumpi.
“Loh, Bu saya kok nggak diajak ikutan gabung?” tanya Siska
dengan panik karena takut ketinggalan makan rujak.
“Siska kalau mau ikut sumbang dong, katanya orang kaya apa
kata dunia kalau kamu tidak ikut, apalagi suamimu kan setiap Jumat sedekah tuh
bagi-bagi sembako, sekalian buat pencitraan kalau istri dari Bapak Suratman Jayadiningrat
Satroatmojo itu suka membaur di kalangan warga kampung, tidak pelit dan juga
tidak sombong,” jelas Bu Retno yang selalu membanggakan Siska hingga dia pun
tersenyum malu-malu.
“Usul Ibu boleh juga, baiklah saya izin suami dulu, sebentar!”
ucap Siska dengan tersenyum lebar memperlihatkan gigi gingsulnya.
Susi dan Ibu-ibu lainnya tersenyum puas karena bisa
mengerjai Siska habis-habisan, hanya sekali disanjung atau dipuji dia akan
berubah sebagai peri yang baik hati.
“Bu, Susi juga ke dalam sebentar taruh cucian pakaian dulu!”
“Iya, cepat kita tunggu, hari ini kita bisa makan enak nih,”
celetuk Bu Lastri tersenyum licik.
“Mas, aku izin bentar ke warung,” ucap Susi kepada suaminya
Suratmin.
“Iya, hati-hati, bawa sini saja biar Mas lipatkan pakaiannya!”
perintah Suratmin.
“Iya, Mas, terima kasih ya sudah dibantu in,” balas Susi dengan
memberikan senyuman termanisnya.
“Ibu-ibu titip istriku!” pesan Suratmin kepada ibu-ibu
tetangga.
“Iya Mas ganteng, jangan khawatir duduk manis saja di rumah,
nanti kita antarkan lagi kalau pulang,” sahut Bu Retno tersenyum.
“Loh, Bu Retno, kok sampean bilang Suratmin ganteng dari mananya?”
Suratman sewot tidak terima kalau saudara kembarnya dikatakan ganteng oleh
ibu-ibu lain, sedangkan dia tidak pernah disanjung oleh siapa pun apalagi
dengan istrinya sendiri.
“Kulit hitam nggak putih kayak aku, rambutnya botak kalau
aku lihat klimis kan, dia punya kumis lah saya lihat bersih terawat dari ujung
sampai kaki,” sahut Suratman yang sangat percaya diri.
“Aduh sampean nggak tahu kalau hitam itu eksotis tahu,
lagian kulitnya menjadi hitam itu karena kerjaannya di luar kena panas matahari.”
“Apalagi senyumannya manis banget kayak gula merah, tuh
lihat suami idaman nggak malu lipat pakaian di depan rumah, kurang apa coba,
mau dong kalau kita digodain?” goda Bu
Nila menimpali.
“Hust ... jangan begitu ibu-ibu, itu suaminya orang,
bagaimana yang di rumah?” tandas Bu Retno kesal.
“Kalau yang di rumah itu tetaplah nomor satu dong, hahaha
... tawa ibu-ibu menggelegar membuat Suratmin ikut tertawa melihat tingkah laku
mereka yang bisa dianggap seperti ibu mereka.
“Nak Suratmin jangan marah ya, kita Cuma bercanda saja, lagian
kami ini tetap setia kok sama suami masing-masing,” ucap Bu Retno menjelaskan.
“Iya Bu, nggak apa-apa!”
“Man, contoh itu adekmu, sopan santunnya oke punya, lah kamu
minta di sanjung dulu, jangan takabur loh, Man.”
“Roda itu selalu berputar, begitu juga dengan kehidupan
manusia hari ini memang kaya tetapi kita nggak tahu besoknya.”
“Kita harus menerima kehidupan yang kita jalani, jangan
berkeluh kesah kalau tidak dibarengi oleh usaha dan do’a, setidaknya kita masih
bisa bernapas itu sudah rezeki dari Allah, kita harus mensyukuri apa yang kita
punya, intinya jangan banyak mengeluh karena sama saja kamu tidak menyukai
hidupmu!” nasihat Bu Retno panjang lebar.
“Tuh dengar Min, mensyukuri seperti saya ini, buktinya dari
tahun ke tahun hartaku tidak habis tujuh turunan sedangkan kamu dari zaman kita
susah bareng-bareng ya tetap saja kamu miskin dan melarat seperti ini!”
“Lah saya bertemu Siska karena kita memang berjodoh dia kaya
dan berkelas cocok memang denganku,” jelasnya panjang lebar tetapi Suratmin
hanya mangut-mangut mendengarkannya.
“Mas, Susi jalan dulu, Assalamu’alaikum!” ucap Susi tidak
lupa mencium tangan suaminya.
“Wa’alaikum salam, hati-hati di jalan ya!” sahut Suratmin
yang sedikit khawatir dengan kehamilan istrinya itu.
“Iya, Mas!” jawab Susi tersenyum.
Sedangkan Siska berpamitan dengan suaminya dengan mencium
pipi kanan dan kiri Suratman.
“Sus, lebay banget sih cium tangan segala, terlalu over
akting tahu nggak!” gerutu Siska yang tidak suka mencium tangan suaminya.
“Contoh dong kayak aku cipika-cipiki orang kaya begitu lah,
dasar udik,” ujarnya dengan percaya tinggi tingkat dewa.
“Nggak apa-apalah udik yang penting membawa berkah,” sindir
Susi dengan tersenyum manis.
Akhirnya mereka pun berjalan beriringan ke warung milik Mak Leha
yang menyediakan berbagai macam kebutuhan sembako dan ada juga warung sayur.
“Sus, pelan-pelan ini, sandalku bisa rusak kalau jalannya
seperti ini, kamu tahu kan harga sandalku ini hampir setara dengan gaji suamimu
itu!” hardiknya kepada Susi yang berpegangan tangan dengannya saat melewati
tanah yang sedikit lempung akibat kemarin hujan deras.
“Ini suami istri sama saja, duh mau benci sama mereka kan
nggak boleh kata orang kalau lagi hamil dan membenci sama orang itu, bisa-bisa
wajah anakku mirip dengan mereka perpaduan antara mbak Siska dan Mas Ratman!”
“Duh, amit-amit cabang bayi, jangan dulu benci tunggu sampai
lahiran deh, Ya Allah kuatkan imanku agar tidak membenci mereka!” Do’a
Susi yang sangat takut membayangkan kalau wajah bayinya nanti mirip mereka.
Sampai di warung Mak Leha, dan di sambut hangat oleh yang
punya warung.
“Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumsalam, eh Susi, sama kakawalan, handak manukari
apakah, ikam?”
“Ulun, handak beli wadai, gula sama teh, sekalian yang
lain, ulun cari dulu lah, setumat, Mak ai!” ujar Susi yang sedikit bisa
berbahasa Banjar.
“Iih, cari aja, yang mana ikam handak, unda barpandir
dulu sama yang lain, tuh ada Nia, di dalam,” sahut Mak Leha kepada Susi dan
segera menemui ibu-ibu yang karena ingin membeli buah-buahan yang kebetulan
masih ada di warung itu.
Susi lalu
membeli beberapa kebutuhannya yang dianggap penting setelah berhasil menjarah
kakak iparnya.
Uang seratus ribu itu dia belikan semua bahan makanan, dan
menyisakan uang seribu rupiah dengan sengaja untuk dikembalikan ke Suratman
yang pasti akan menagih sisa uang kembaliannya.
Sementara itu Bu Retno dengan lainnya menyibukkan Siska
untuk membelikan buah-buahan untuk bahan rujakan.
“Wah ada bubuhan Susi!”
“ Retno, siapa ini, unda kada pinandu, urang hanyar kah?”
tanya Mak Leha sedikit berbahasa Banjar nampak tetlihat bingung.
“Loh, Mak Leha piye toh, ini loh kakak iparnya Susi, namanya
Siska yang punya rumah gedung di sebelahnya Pak Umar itu,” jelas Bu Retno
tersenyum.
“Oh iya kah, kada parnah lihat ikam sorang, maaflah,” sahut
Mak Leha tersenyum.
“Aduh, Mak, orang dermawan begini nggak kenal sama saya, ituloh
yang sering bagi-bagi sembako tiap hari Jum’at,” jelasnya sedikit sewot karena ada juga yang tidak
mengenal dirinya.
“Kada ingatlah, maklum sudah tuha, muha ikam kada parnah malihat,
tapi kalau uang tetaplah ...hahaha ,” tawa Mak Leha diikuti tawa ibu-ibu
yang lain.
“Mbak Sus, tumben dia mau ke sini, biasanya ogah deh?” tanya
Nia anak dari Mak Leha.
“Biasalah namanya juga saudara, ya main-main ke rumah,”
celetuknya dengan santai.
“Main ke rumah kok tiap hari, apa Mbak Sus nggak gerah gitu
di datangi terus, padahal sudah punya pembantu lengkap, tetapi doyan banget ke
rumah Mbak Sus, memang Mbak pernah ke rumahnya gitu?” tanya Nia penasaran.
“Selama nikah dengan Mas Ratmin baru dua kali ke sana,
itupun kita di suruh cepat-cepat pulang alasannya ada tamu penting katanya,”
jelas Susi sambil mengambil bahan makan dan lainnya yang dianggap penting.
“Oh walah, kok bisa Mbak Sus? Aneh tapi nyata loh,” ucapnya
sambil tertawa kecil dan sedikit berbisik.
Ini saja Mbak Nia, tolong totalkan semuanya ya Mbak,” ucap
Susi sambil menyerahkan semua barang yang sudah diambilnya.
“Mbak semuanya jadi Rp. 99.000, “ ucap Nia setelah menghitung
semua belanjaanya.
“Oke!”
“Nggak digenapin seratus ribu, Mbak?” tanya Nia penasaran.
“Nggak usah biar kelihatan ada kembaliannya,” jawab Susi
tersenyum licik.
Sementara itu di luar para Ibu-ibu sedang memilah-milah
buah-buahan yang masih bagus.
“Pakai mentimun nggak sih?”
“Pakai saja Bu, terserah saja yang penting kelihatan banyak,”
sahut Bu Wulan menimpali.
Dengan segala pujian yang dilontarkan oleh Ibu-ibu itu
uangnya pun akhirnya keluar yang berwarna merah dan membayarkannya dengan
ihklas.
Tak lupa ibu-ibu yang lain memanfaatkan untuk membeli
camilan yangblain ubtuk dibawa ke rumah kontrakan Susi.
Di saat Suratman mengeluarkan uang sebesar seratus ribu
rupiah kini Siska dengan penuh percaya diri mengeluarkan uangnya juga sebesar
dua ratus ribu rupiah.
“Eh, Bu enakkan rujakan di mana ya?” tanya Bu Wulan
bersemangat.
“Bagaimana kalau di rumah Susi saja, kan enak tuh anginnya
kebanyakan ke rumah Susi, bagaimana?” usul Bu Retno.
“Aku sih yes!” sahut
Bu Wulan dan Bu Nila secara bersamaan.
“Iyalah kita ngikut sajalah!” jawab ibu-ibu yang lain.
Setelah membayar dan membeli buah-buahan di sana mereka pun segera
ke rumah Susi.
Sampai di rumah kontrakan Susi, dia lalu menaruh
belanjaannya di dalam lemari, dan menguncinya, dan benar saja Suratman menanyakan sisa uang yang dipakai oleh Susi.
“Sus, ada kembaliannya nggak, soalnya aku mau membeli bensin!” teriaknya dari luar.
·
Kakawalan, bubuhan = teman
·
Ulun = aku, saya
·
Unda = saya
·
Manukari= beli
·
Handak = ingin, mau
·
Hanyar =baru
·
Iih = iya
·
Kada =tidak
·
Pinandu = kenal
·
Malihat =melihat
·
Tuha. = tua
·
Urang =orang
·
Muha. = muka atau wajah
·
Barpandir = mengobrol
·
Setumat =
sebentar
Anda Mungkin Juga Suka





