Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hanin & Wahyu

Hanin & Wahyu

Hanin dan Wahyu adalah saudara kembar yang selalu seiring sejalan hingga mereka dewasa. Namun, perbedaan mencolok muncul saat mereka memilih pasangan hidup. Suratman sukses menjadi konsultan bank dengan istri sekretaris hotel yang ambisius. Sebaliknya, Suratmin hanya bekerja sebagai petugas kebersihan dengan istri ibu rumah tangga biasa. Perbedaan status dan pola asuh anak yang kontras ini akhirnya memicu konflik besar yang mengorbankan masa depan anak-anak mereka.
Bab
Bagikan

Bab 1

“Min, kapan anakmu lahir?” tanya Suratman saudara kembar

Suratmin dengan nada mengejek.

“Alhamdulilah, Mas, kata bidan sih tinggal menghitung

hari saja paling tidak tiga atau lima hari lagi,” jawab Suratmin dengan santai

sembari membuat meja kecil dari kayu untuk di dapurnya.

“Berarti istri kamu melahirkan nanti di bidan dong?”

“Iya, nggak apa-apa, lagian nggak ada uang juga kalau harus

di rumah sakit, bayarannya mahal, nggak sanggup aku,” kilahnya merendah diri.

“Iya sih kamu kan jadi OB di warung makan kecil, gajimu berapa

di sana, Min?”

“Nggak cukuplah pastinya, kalaupun ngutang nanti susah

bayarnya, apalagi sama saudara nanti pura-pura amnesia kalau ditagih, lebih

baik yang sesuai kemampuan saja, nggak usah neko-neko!” hardiknya sembari

mengejek dengan jelas.

“Iya, Mas, makanya  disesuaikan

dengan kemampuan kami.” Suratmin tersenyum walaupun di dalam hatinya sangat

sakit dengan perkataan saudara kembarnya itu.

“Bagus deh tahu diri juga kamu. jadi nggak menyusahkan aku,

soalnya istriku rencananya sih mau lahiran di rumah sakit kalau perlu operasi

secar biasalah mau cari  tanggal yang

hoki gitu,” jelasnya bersemangat.

“Ngapain operasi secar Mas, kalau masih bisa normal, kecuali

kalau memang harus jalan operasi ya mau nggak mau,” tandas Suratmin menjelaskan.

“Itukan menurutmu, Min, kalau aku bedalah orang kaya itu harus

terlihat kayanya dong, jangan kayak orang miskin!” sahutnya tak mau kalah.

Senyum yang dipaksakan selalu dia lakukan lantaran agar

tidak menyinggung perasaan Suratman yang lebih kaya dari Suratmin.

Sudah sering kali Suratman merendahkan Suratmin lantaran menjadi

orang miskin baginya.

Perbincangan di hari minggu itu membuat Susi istri dari

Suratmin menitikkan air matanya ketika mendengar percakapan mereka.

Namun buru-buru dia usap air matanya dengan daster panjang

yang terlihat kusam dan banyak tambalan di mana-mana,  agar tidak ketahuan oleh Suratmin kalau dia

baru saja menangis.

 Susi kembali ke dapur

untuk memasak makan siang. Hanya goreng tempe, sambal terasi dan tumis kangkung

membuat aroma masakan yang dibuat oleh Susi menyeruak sampai keluar.

Penciuman hidung Suratman sangat tajam sampai tak terkendalikan

sehingga perutnya selalu berbunyi. Di saat itu juga istri Suratman yaitu Siska

ikut datang ke rumah kontrakan kecil milik Suratmin.

Sudah hal lumrah untuk pasangan suami istri ini yang mereka

bilang orang kaya itu setiap hari selain hari Jum’at mereka akan datang entah

pagi, siang ataupun malam ke rumah kontrakan 

Suratmin.

Apalagi kalau bukan minta makan, padahal Suratmin  juga dalam  kekurangan bahkan tidak pernah dia meminta

apapun, tetapi Suratman dan istrinya tetap tidak peka dengan keadaan.

“Assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikumsalam!”

“Eh Mbak Siska, mau jemput Mas Suratman ya?” tanya Suratmin tersenyum renyah ketika selesai membuatkan meja kayu untuk istrinya.

“Biasalah, hari Minggu main-main ke rumah saudara, nggak

apa-apa kan?” balasnya dengan santai.

“Berarti aku juga bisa main-main ke rumah sampean toh?”

tanya Suratmin semringah.

“Ngapain ke rumah nggak ada apa-apa di sana, lagian kalau di

sini kan ada makanan, tuh sepertinya istrimu sudah selesai masak, ayuk kita

makan,” ajak Suratman dan langsung masuk ke dalam tanpa di suruh.

“Ayuk, Mbak silakan masuk!” ajak Suratmin tersenyum yang

dipaksakan.

“Wah dengan senang hati, dong,” jawabnya dan langsung

menyelonong ke dalam.

Sampai di dapur, Susi yang selesai masak pun langsung menghidangkan

makanan diatas dipan yang terbuat dari kayu.

Nasi yang masih panas mengepul dengan baunya yang wangi,

ditambah sambal terasi yang menggugah selera.

Mereka pun sudah duduk menghadap makanan yang disajikan

Susi.

“Loh, Mas dan Mbak mau numpang makan lagi, kenapa nggak makan di rumah?” tanya Susi yang mulai kesal dengan tingkah mereka.

“Kamu kan tahu Mbakmu ini malas masak, lagian pembantu kalau

masak itu-itu saja, bosan nggak ada variasinya, beda sama kamu selalu

ganti-ganti walaupun hanya tempe saja,” kilah Suratman yang sudah tidak sabar

ingin menyantap makanan yang ada didepannya.

“Ya belajar dong, Mbak, sebentar lagi mau lahiran juga terus

siapa yang mengurus, Mbak nanti?” tanya Susi kepada Siska.

“Aku belum ngambil cuti sayangkan uangnya, nanti tunggu dua

atau tiga harilah, baru aku rehat dan kita mau pakai baby sister aja, aku kan

wanita karier ya bedalah sama kamu yang Cuma rebahan saja nggak ada kegiatan,”

sahutnya dengan nada menyinggung.

Tak lama kemudian Suratmin datang dan ikut bergabung duduk

di antara mereka.

“Ayuk, cepatan toh, aku sudah lapar nih!” ucapnya dengan

cepat tangannya mengambil nasi itu sudah berpindah cepat dipiringnya.

“Sus, kamu kok masak sedikit amat, jangan pelit-pelit sama

keluarga, nanti nggak berkah loh!” ucapnya sembari melahap makanan itu dengan

lahap begitu juga dengan Siska istrinya tanpa malu-malu dai pun menambah porsinya

dengan alasan harus makan yang banyak karena hamil.

Mendengar ucapan Suratman, Susi kembali terhenyak dan

membuat selera makannya berkurang.

“Loh bukannya kalian ya yang pelit, buktinya makan terus di

sini gratis pula, kan duit banyak tinggal telepon pesan makanan terus datang

lalu bayar, ngapain toh susah-susah ke sini!”

“Berasku tinggal sedikit, Mas, yang jatahnya cukup untuk

sebulan, eh malah nggak cukup, harusnya tahu diri dong!” ejek Susi tetapi

mereka pun tetap tidak memedulikan omongan Susi, karena masih menikmati

makanannya sehingga semua yang disajikan tadi ludes seketika tidak menyisakan

Suratmin.

“Wah enak sekali makananmu Sus, sampai lupa nggak nyisakan

makanannya!” ucap Suratman dengan enteng.

“Kalau mau makan banyak sini, mana uangnya biar aku buatkan

lagi kayak tadi dan bisa sampean bawa pulang makan di rumah kalian saja!” ucap

Susi sembari mengulurkan tangannya untuk minta uang.

“Lah, aku nggak ada uang kecil, adanya juga uang merah semua,

kalau kasih kamu yang untung kamu dong, makanan seperti ini nggak nyampe tiga

puluh ribu juga nanti mau minta angsulannya bilang nggak ada kembaliannya,

orang miskin kan selalu mencari kesempatan dalam kesempitan!” rutuknya membuat

Susi bertambah kesal.

“Ya Allah, Mas nggak apa-apa, aku belikan di warung tunggu

sini nanti uang kembaliannya tak kasih sampean lagi, bagaimana?”

“Alah itu akal-akalan kamu saja, nanti kalau kamu

lebih-lebihkan harga di warung bagaiamana bilang beli kangkung harganya cuma

tiga ribu seikat nanti kamu bilang lima ribu, tekor dong aku!” hardiknya kesal.

“Kalau begitu sama-sama ke warung supaya tahu harga semua

kebutuhan yang di beli, bagaimana?” usul 

Suratmin padahal dia sudah tahu jawabnnya.

“Nggak lah, aku malas kayak gitu, aku ini orang kaya, malu

lah belinya kok gituan, nggak level!” tolaknya.

“Ya sudah biar Mbak Siska saja yang ke warung, nanti biar

aku yang masakan, bagaimana ini alternatif terakhir loh!” ucap Susi yang hampir

putus asa mendengar alasaan demi alasan yang dibuatnya.

“Aku kamu suruh ke warung nggak ah ... nggak mau, nggak

level dengan warung kotor, bau, banyak kumannya ... iiihhh!” Siska mendelik

jijik saat membayangkan pergi ke warung dengan memakai sandal uang harganya

bisa mencapai satu juta rupiah itu.

Suratmin yang mendengarnya hanya biaa tertawa kecil

menampilkan deretan giginya yang putih, sedangkan Susi hampir kehilangan cara

untuk membuat mereka mengerti tetapi dia tidak ingin selalu dikelabui oleh

mereka yang bergelar sultan itu.

“Loh Mbak ini bagaimana sih, masakan yang aku buat itu dari

sana loh, yang Mbak bilang bau, kotor, banyak kumannya, berarti masuk ke perut

bahaya dong?” ejek Susi.

“Ya nggak lah, buktinya kamu dan Suratmin makan juga, nggak

ada masalah tuh, baik-baik saja!” jawabnya lagi dengan santai.

“Huh ... tenang Susi, tenang ... sabar ... aku harus banyak

istighfar kalau menghadapi mereka, untungnya aku tidak menikah dengan Suratman,

bisa pusing kepala aku dibuatnya tiap hari,” gerutunya dalam hati.

“Baiklah, kalian seperti benalu kok di rumah orang miskin,

benalu itu di rumah orang kaya, ini nggak bisa dibiarin , pokoknya aku akan  membuat mereka nggak ke sini lagi pelitnya

minta ampun malah kita lagi yang dibilang pelit!” rutuknya dengan kesal.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Manis Sang Ratu Miliarder
9.0
Pasca diusir, Helen menyadari bahwa ia bukan putri kandung di keluarganya. Meski dirumorkan kembali ke keluarga miskin yang eksploitatif, kenyataan justru berkata lain. Ayah kandungnya adalah miliarder yang sangat memanjakannya. Di balik itu, Helen memegang paten desain bernilai fantastis dan menjadi mentor astronomi nasional. Saat orang lain menanti kegagalannya, ia justru meraih status legendaris dan menarik perhatian pria misterius yang berkuasa.
Sampul Novel CEO Tampan dan Gadis Desa
9.2
Alaric Athafariz adalah duda yang mengabdikan hidupnya demi kebahagiaan Angel, putri kecilnya. Sejak kepergian istrinya, ia menutup hati hingga pertemuannya dengan Ashila, seorang gadis desa, mengubah segalanya. Kehadiran Ashila membawa warna baru dalam hidup sang CEO yang dingin. Namun, rahasia besar perlahan terungkap bahwa Ashila memiliki kaitan erat dengan masa lalu Alaric. Bagaimana kelanjutan takdir yang menghubungkan mereka berdua dalam cinta yang tak terduga?
Sampul Novel Jangan Main-Main Dengan Dia
8.9
Yolanda dibuang ke desa terpencil setelah tahu ia hanya dijadikan alat bisnis oleh orang tua angkatnya. Tak disangka, ia justru menemukan jati diri sebagai pewaris keluarga konglomerat yang sangat berpengaruh. Meski dihujani kasih sayang, ia harus menghadapi kecemburuan adiknya. Yolanda pun bangkit membalas dendam dengan bakatnya yang luar biasa. Pesonanya memikat seorang miliarder ternama yang kini memojokkannya demi mengungkap rahasia besar Yolanda.
Sampul Novel Malam Jahanam
9.5
Perceraian orang tua meninggalkan luka mendalam bagi seorang anak yang terjebak dalam kebingungan. Di tengah kepedihan itu, sebuah peristiwa tak terduga yang disebut malam jahanam pun terjadi. Meski sering menjadi fantasi, kejadian tersebut tak pernah direncanakan hingga mengubah alur hidupnya menjadi penuh lika-liku. Kini, ia harus menghadapi kenyataan pahit yang ironisnya terasa sangat indah. Sebuah kisah romansa modern tentang rahasia dan takdir yang kelam.
Sampul Novel Rahasia Dalam Dendam
8.4
Selama dua puluh empat tahun, Aurora dan ibunya hidup dalam penderitaan mendalam. Kini, ia bertekad menuntut balas dengan misi tunggal: menghabisi nyawa ayah kandungnya sendiri. Namun, di tengah aksi nekat tersebut, berbagai rahasia kelam mulai terungkap satu demi satu, mengguncang keyakinannya. Akankah Aurora tetap teguh pada niat mautnya saat kebenaran terkuak? Ikuti perjuangan penuh aksi dan misteri ini dalam menuntaskan sebuah dendam masa lalu.
Sampul Novel SCANDAL WITH PRIVATE DOCTOR
8.3
Eliza terjebak dalam pernikahan toksik dengan Karan, pria yang hanya memanfaatkannya demi pemuasan nafsu. Malam pertama yang seharusnya indah berubah menjadi trauma mendalam hingga mengganggu kesehatan mentalnya. Keadaan kian memburuk saat Karan berselingkuh dengan banyak wanita lain. Di tengah penderitaan itu, Eliza bertemu Sean, dokter tampan sekaligus teman baiknya. Kehadiran Sean tidak hanya memulihkan luka batinnya, tapi juga menjadi sosok sandaran hati yang baru.