
Hakikat Cinta
Bab 3
Keduanya memang sudah mendapat kabar dari mbah Abdullah tentang niatan Latifah untuk menimba ilmu di luar pondok. Hanya saja, mereka tak menyangka gadis remaja itu akan memilih sekolah teknik yang mayoritas siswanya laki-laki tersebut.
"Kamu yakin, Fah?" Alif menangkup kedua pipi Latifah dan menatap netranya. Barangkali adik perempuannya itu tengah berbohong atau mengigau.
"Astagfirullah, Mas … sejak kapan Tifah main-main dengan keinginan Tifah." Latifah berbicara dengan ekspresi yang begitu menggemaskan. Bibirnya mengerucut dengan mata yang menyipit. Suaranya pun tak begitu jelas karena wajahnya yang masih dicakup oleh Alif.
Pak Ma'ruf mengernyitkan dahinya karena tak bisa mendengar dengan jelas ucapan Latifah.
"Dia bilang yakin, Pak." Alif mencoba menerjemahkan ucapan Latifah dengan bahasa yang lebih ringkas.
"Kenapa harus ke sana?" Pak Ma'ruf masih tak mengerti dengan selera putrinya. Biasanya anak perempuan lebih suka masuk SMK-SMEA yang tak sekasar sekolah tekhnik. Entah mengambil jurusan akuntansi, tata boga atau mungkin tata busana. Setidaknya begitulah gambaran yang terlintas di benak pak Ma'ruf dan Alif. Namun ternyata anak itu memilih yang tak biasa.
"Tifah pengen kayak bu Sri sama bu Dhian yang kerja jadi arsitek, atau setidaknya yang berbau-bau seperti itulah …." Latifah menyatakan keinginannya dengan lancar setelah menepis tangan sang kakak.
"Bu Sri sama bu Dhian itu siapa, Fah?" Alif menatap adiknya keheranan tak paham yang dimaksudkannya.
"Itu … yang kemarin ikut andil dalam pengembangan pondoknya mbah kakung kemarin."
Keduanya manggut-manggut dengan mulut melongo.
"Yakin tidak mau ambil jurusan tata busana atau tata boga saja? Atau mungkin akuntansi? Perhitungannya kan juga sama-sama rumit." Alif masih mencoba mengalihkan pilihan Latifah.
"Tidak! Tifah mau menggambar rancangan bangunan! Bukan mau menggambar grafik, Mas …." Kini Latifah mulai meninggikan suaranya karena gemas dengan kakaknya.
Pak Ma'ruf menghembuskan nafas panjangnya sambil memejamkan mata. Kemudian dibukanya perlahan.
"Baiklah jika itu memang maumu. Bapak hanya bisa merestui dan mendukung. Selanjutnya kau sendiri yang harus berusaha mendapatkan ilmunya itu. Jangan mundur di tengah jalan!" Latifah mengangguk mantap dan mulai menggoyangkan badannya kecil. Saiful yang mulai tak sabar itu pun meraih makanan di tangan Latifah yang terus mengambang di depan mukanya bahkan sampai menggigit jemari Latifah. Gadis remaja itu mengaduh dan disusul gelak tawa yang lainnya.
***
Matahari masih malu-malu menampakkan dirinya, tapi Latifah sudah tampak begitu rapi dengan setelan putih birunya. Bersenandung sholawat dengan riangnya sambil menata sarapan ditemani si bungsu yang asyik memainkan mobil-mobilan mininya mengitari seluruh ruangan.
"Kau yakin tak perlu Bapak temani, Nduk?" Suara berat pak Ma'ruf mengalihkan perhatian Latifah. Gadis remaja itu hanya menoleh sekilas sambil tersenyum.
"Mas Alif yang temani Tifah, Pak … kalau Bapak yang temani Tifah, nanti Ipul sama siapa? Masa harus ikut …." Latifah memberengut tak suka mengingat si bungsu yang masih saja memanggilnya ibu. Tentu nantinya akan jadi bahan tertawaan orang, begitulah yang ada dalam bayangannya.
"Tapi …."
"Tak apa, Pak …. Alif sudah ijin cuti untuk tiga hari. Pak Sapto juga tidak keberatan." Alif mendekat dan menyahut ucapan bapaknya sambil meraih piring di tangan pak Ma'ruf dan mengisinya dengan nasi dan lauk seadanya yang telah tersaji lalu menaruhnya di hadapan sang ayah.
"Nanti Bapak datang ke sekolah kalau Tifah sudah benar-benar diterima saja, sambil sekalian daftar ulang." Latifah menimpali sambil menyuapi si bungsu.
"Kau yakin diterima, Fah?" Alif menatap adiknya remeh yang dibalas lirikan tajam Latifah.
"Mas meragukan Tifah? Kita lihat saja nanti! Insyaallah Tifah bakal diterima." Gadis itu membuang muka dan melanjutkan menyuapi si bungsu sambil sesekali memasukkan makanan kedalam mulutnya sendiri.
Seusai sarapan, Latifah pun pergi diantar sang kakak setelah mengalami sedikit drama dengan si bungsu yang enggan melepas kepergian Latifah.
"Kau memang harus ganti model kerudung, Fah … biar Ipul tak terus-terusan memanggilmu ibuk." Alif membuka pembicaraan setelah sekian menit keduanya terdiam menikmati semilir angin pagi dengan deru mesin motor sebagai musik latarnya.
"Nanti sajalah, Mas … sayang uangnya. Mending buat beli peralatan sekolah." Alif berdecak sambil menggelengkan kepalanya. Kepribadian hemat sang ibu benar-benar menurun dengan sempurna pada sang adik. Mungkin dirinyalah yang harus berinisiatif untuk sang adik masalah penampilan.
Latifah melongo, menatap takjub gerbang calon sekolah barunya tanpa mempedulikan lalu lalang calon siswa baru yang diantar oleh walinya maupun datang bersama rombongan teman-temannya. Alif yang mulai jenuh menunggui adiknya menuntaskan kekagumannya pun menarik tangan sang adik untuk naik kembali ke atas motornya menuju tempat parkir khusus.
"Kok kita parkir disini, Mas?" Latifah keheranan sambil menunjuk papan yang bertuliskan 'tempat parkir khusus' yang terletak di dekat mereka. Alif hanya tersenyum sambil mengedikan bahunya dan berjalan menjauh sambil menenteng helmnya. Latifah melongo dan semakin keheranan. Buru-buru Latifah menyusul langkah lebar sang kakak sambil ikut-ikutan membawa helmnya.
"Kok helmnya dibawa, Mas?" Latifah bertanya sambil berusaha mengimbangi langkah Alif.
"Nanti kamu juga bakal tau sendiri." Lagi-lagi Latifah hanya mendapatkan jawaban yang ambigu dan membuatnya semakin tak mengerti.
Latifah kembali dibuat takjub dengan pemandangan di hadapannya. Sebuah aula yang begitu besar nan megah disulap menjadi tempat pendaftaran calon peserta didik baru. Dirinya pun mulai paham kenapa sang kakak membawa helmnya setelah sang kakak melemparkan kunci beserta helmnya kepada seorang siswa yang tampak begitu asing di matanya. Bodohnya dia yang malah ikut-ikutan membawa helmnya.
"Makasih, Mas. Nanti aku balikin langsung ke parkiran saja. Motornya masih yang kemarin, kan?" Alif hanya mengangguk kalem menanggapi siswa tampan itu.
Latifah yang merasa malu karena membawa-bawa helm pun langsung memakai helm tersebut dan menutup kacanya. Berlagak sok PD, gadis remaja itu mulai sibuk menghitung stand pengambilan formulir pendaftaran.
"Hah!! Banyak banget, Mas. Memang disini ada berapa jurusan?" Latifah membuka kacanya dan menatap sang kakak yang cekikikan dengan tingkah si adik.
"Sepuluh, kalau belum nambah. Kamu jadi mau ambil jurusan apa?" Latifah mulai menggaruk kepalanya yang tertutup helm. Rasanya seperti ditawari untuk memilih makanan yang sama-sama menggoda, tapi belum terpikirkan rasanya seperti apa. Gadis remaja itu pun nyengir canggung. Menampilkan deretan giginya dengan mata yang sedikit menyipit.
Alif pun menggeleng pelan dan berjalan mengitari stand dan kenyambali menghampiri Latifah dengan membawa setumpuk formulir dari masing-masing stand.
"Nih, pilih sendiri! Mas mau cari camilan dulu, kamu duduk disini saja." Latifah yang sibuk dengan berkas di tangannya pun hanya mengangguk tanpa menatap kakaknya.
"Beneran. Jangan kemana-mana. Nanti kamu hilang kalau sampai nyempil di antara mereka." Alif menunjuk kerumunan calon siswa baru yang berdesak-desakan tak karuan di dalam aula sambil menatap adiknya yang tampak mencolok dengan helm yang masih betah bertengger di kepalanya. Sedangkan yang ditatap hanya diam, mengacuhkan sang kakak.
Beberapa menit berlalu, Alif kembali dengan membawa sebotol air mineral dan beberapa bungkus makanan ringan. Dia pun mulai celingukan mencari adik uniknya yang tak lagi berada di tempatnya. Dia mulai panik hingga akhirnya netranya menangkap benda berkilau yang tampak lain dari yang lain. Senyum lega pun terpampang di wajah manisnya. Ternyata si adik telah menentukan pilihan dan mengantri untuk memasukkan berkas ke loket pendaftaran. Dia pun bisa menikmati makanannya dengan tenang.
Sementara itu, Latifah tengah begitu antusias antri dalam barisan dan seseorang tiba-tiba menepuk bahunya.
"Kok pake helm, Dek?" Seorang kakak kelas yang melintas basa-basi menyapa Latifah yang tampak unik di matanya.
"Biar mudah dicari kalau hilang." Latifah menyahut sekenanya sambil tersenyum ramah.
Bersambung ….
Anda Mungkin Juga Suka





