Sampul Novel Hakikat Cinta

Hakikat Cinta

9.5 / 10.0
Alan De Xavirio, pemuda blasteran Jawa-Italia, jatuh hati pada Latifah Nur Aisyah yang merupakan gadis muslimah asal desa. Meski awalnya bertepuk sebelah tangan, perjuangan gigih Alan akhirnya mampu meluluhkan hati sang gadis. Keduanya pun terjebak dalam romansa masa remaja yang membara hingga mengabaikan perbedaan agama yang membentang. Kini, mereka harus menghadapi tembok besar tersebut. Akankah mereka menyerah saat cinta telah membuat mereka buta dan tuli?

Hakikat Cinta Bab 1

Suara anak-anak yang tengah mengaji bersahutan, menggema hingga menembus dinding ruang tempat Latifah berada. Tak peduli meski hari ini hari minggu, mereka tetap menjalankan rutinitas mengaji seperti biasa. Kecuali Latifah. Gadis remaja itu tengah sibuk berbenah. Merapikan kamarnya setelah semua barangnya tertata rapi dalam koper. Keputusan Latifah sudah bulat. Hari ini dia mantap untuk pulang. Semalam, dia pun sudah meminta izin dari sang kakek. Alhamdulillah, sang kakek sudah menyetujuinya untuk hal itu. Senyum leganya terkembang kala sang kakek dengan lembut membelai pucuk kepalanya untuk memberinya restu. Masih teringat dengan jelas petuah yang diberikan sang kakek sebelum dia undur diri.

"Mbah Kakung ijinkan kamu untuk pulang, Nduk ... tapi ingatlah! Sembilan tahun kamu menuntut ilmu di sini, pergunakanlah dengan baik di luar sana. Pegang teguhlah imanmu, jangan mudah goyah oleh cobaan dan godaan duniawi, Nduk."

Latifah menghembuskan nafas panjangnya. Ditatapnya seluruh ruangan yang telah menjadi tempat persinggahannya selama sembilan tahun terakhir. Ternyata cukup berat untuk meninggalkan tempat yang awalnya dia benci karena merasa terbuang. Namun, tempat itulah yang menjadi saksi perjuangan seorang Aisyah Nurlatifah untuk membentuk karakter dan menimba ilmu agama sedari kecil. Cinta dari orang tua memang luar biasa, mereka rela dibenci, hingga akhirnya sang anak memahami bahwa mereka ingin yang terbaik untuk anaknya. Seperti yang ibu Latifah lakukan. Dia mengirimkan Latifah ke tempat kakeknya untuk belajar agama lebih dalam. Bahkan saat sang ibu sakit, perempuan tangguh itu bersikap biasa saja di hadapannya agar dia tetap bisa berkonsentrasi dalam belajar. Siapa sangka, kunjungan sang ibu menjelang ujian kelulusannya dari Madrasah adalah pertemuan terakhirnya dengan sang ibu.

Bulir bening Latifah meluncur begitu saja ketika bayangan sang ibu hadir di pelupuk matanya. Begitu jelas saat terakhir kali sang ibu berkunjung, tak biasanya wanita lembut itu menginap dan begitu memanjakannya. Disana! Di atas tempat tidur kecil Latifah, sang ibu tampak duduk dan tersenyum dengan begitu anggunnya.

"Ibuk ... hari ini Tifah akan pulang, Buk ..." lirih gadis remaja itu dengan suara bergetar. Pandangannya semakin buram dengan bayangan sang ibu yang kian memudar meninggalkan semerbak wangi yang menguar di seluruh ruangan. Benarkah arwah ibunya kembali? Atau memang hanya karena pengharum ruangan yang tadi disemprotkan Latifah? Entahlah!

Ketukan pelan di pintu, membuyarkan lamunan Latifah. Ditatapnya Khoiri, adik sepupunya yang masih kecil berdiri di ambang pintu dengan pandangan yang tertunduk dan jari-jemari yang saling bertaut. Latifah menghapus sisa harunya dan berjalan menghampiri gadis kecil itu. Diraihnya tangan mungil itu hingga membuat sang empunya berjingkat dengan mata membulat menatap Latifah. Senyum termanis didapatnya dari sang kakak yang membuat si gadis kecil langsung menghambur memeluk pinggang Latifah. Tangisnya pun pecah, tak dapat lagi ditahannya.

"Mbak Tifah beneran mau pulang hari ini? Apa tidak nunggu Khori khatam iqro dulu?" Disela sesenggukannya, Khoiri mencoba menawar keinginan Latifah untuk pulang. Dirinya yang begitu dekat dengan sang kakak sepupu membuatnya tak rela ditinggalkan.

Latifah membelai lembut pucuk kepala Khoiri sambil tertawa kecil meski rasa haru memukul-mukul perasaan lembutnya.

"Khori kan baru jilid tiga. Kalau nunggu Khori khatam iqro masih lama, dong ..." Gadis kecil itu memberengut tak suka dengan sanggahan Latifah kakinya pun mulai menghentak-hentak dengan tangis yang tertahan. Tifah tersenyum dan membelai lembut wajah imut Khoiri.

"Insyaallah Mbak Tifah akan sering berkunjung, sampai Khori khatam iqro nanti." Mata gadis cilik itu mulai berbinar menatap Latifah dengan senyum yang semakin melebar.

"Beneran ya Mbak ..." Latifah tersenyum sambil mengangguk yang membuat gadis kecil itu melonjak kegirangan dan berlari menjauh. Tiba-tiba gadis kecil itu kembali lagi dan mengecup kecil pipi Latifah kemudian berlari sambil melambaikan tangan dan mengucap salam. Latifah tertawa kecil mendapati tingkah polos si adik sepupu. Tak menyangka ternyata semudah itu membahagiakan seorang anak kecil. Hanya dengan menuruti keinginan sederhana bisa membuatnya berjingkrak-jingkrak kegirangan.

Seorang pemuda gagah menghampirinya sambil mengucap salam dan tersenyum dengan manisnya. Wajah orientalnya yang bersih lengkap dengan lesung pipi membuat pemuda itu menjadi pusat perhatian para santriwati yang dilewatinya. Latifah menyahut salamnya dan langsung melompat, menghambur dalam gendongan sosok itu dengan begitu girang. Pemuda itu menyambutnya dengan sigap. Digesek-gesekannya hidung kecilnya ke hidung mancung pemuda itu yang membuatnya terkekeh geli.

"Ya Allah, Tifah … kau sekarang sudah besar. Tak malukah kau berbuat begini?"

"Tidak! Tifah kangen sama Mas Alif." Gadis remaja itu menyahut dengan santainya dan semakin mempererat pelukannya ke leher pemuda itu. Alif pun hanya bisa pasrah dengan perlakuan manja adik perempuannya itu.

"Baiklah … mari kita pulang!" Alif membawa masuk Latifah dan menyeret kopernya keluar kamar. Gadis itu masih betah nemplok dalam gendongan dan hanya disangga dengan satu tangan oleh Alif.

Simbah Abdullah menggeleng pelan sambil berdecak melihat kelakuan kedua cucunya yang menjadi bahan tontonan para santrinya. Suara salam menyapanya dengan begitu takzim. Latifah pun turun untuk berpamitan pada sang kakek yang telah merawatnya selama ini.

"Salam untuk pak lek Ahmad, Kung. Maaf Alif tidak bisa berlama-lama," ucap Alif sambil menaiki motor tua sang ayah dan ditanggapi dengan anggukan pelan sang kakek.

"Alif, tunggu …." Panggilan seseorang yang sangat familiar menggema, menghentikan Alif yang telah memancal pedal kopling motornya. Adik dari ibunya itu berlarian menghampirinya sambil membawa bingkisan di tangannya.

"In … ini ada titipan dari bulek Siti untuk kalian sekeluarga." Paklek Ahmad berbicara terbata dengan nafas yang tersengal-sengal. Senyum manis Latifah terkembang dan menyahut bingkisan itu dengan girangnya.

"Suwun, Pak Lek … sampaikan salam kami untuk bulek. Jika sudah mau lahiran nanti jangan lupa kasih kabar."

"Ya … hati-hati di jalan …."

Suara salam saling bersahutan. Setelah keduanya mencium takzim tangan kedua lelaki beda usia itu. Latifah masih terus melambaikan tangannya bahkan hingga kedua lelaki itu tak lagi nampak. Alif menggeleng sambil tersenyum kecil.

"Jika berat untuk pergi, kenapa buru-buru, Tifah?" Pertanyaan sang kakak membuat Latifah memberengut dan menghentikan lambaiannya.

"Mas Alif dulu juga gitu!" Gadis remaja itu protes sambil memanyunkan bibirnya. "Bahkan dulu Mas Alif nangis sampai beberapa hari karena tak tega ninggalin Tifah. Padahal di sana Tifah tetep asyik main sama mbah Kakung."

"Oh ya? Jahatnya, kau … padahal Mas nangisin kamu lho …." Keduanya pun terkekeh geli mengenang masa lalunya.

Tiba-tiba bayangan sang adik terlintas di kepala Latifah dan membuatnya bertanya-tanya.

"Sekarang Ipul bagaimana, Mas?"

"Ipul? Ya biasalah … namanya juga balita. Pasti rewel, lah. Dia nanyain ibu terus. Bapak sampai bingung mau jelasin gimana."

"Hmm … kira-kira dia ngenalin Tifah tidak, ya?"

"Entahlah! Bisa jadi dia bakal kira kamu ibuk." Tawa Alif menggelegar disambut dengan cubitan manis dari Latifah yang membuat tawanya berubah mengaduh merasakan perih di perutnya.

"Jangan marah, Fah … kau kan memang mirip ibuk. Jika kita kangen, tinggal pandangi kamu aja sambil kirim do'a."

Latifah terdiam, mengenang kepergian sang ibu. Dirinya seakan masih tak percaya telah menyandang gelar piatu disaat sang adik belum genap lima tahun.

"Kapan-kapan kita ke makam ibuk ya, Mas …." Suara Latifah bergetar menahan tangisnya agar tak tumpah.

"Tentu! Tapi jangan tangisi ibuk lagi, Fah … biarkan ibuk tenang di sana. Allah lebih sayang ibuk. Jadi, dia memanggil ibuk untuk cepat pulang disisi-Nya." Ditepuknya pelan tangan sang adik yang melingkar di perutnya.

"Fah … tadi pas Mas pamit pergi, Ipul kira mau jemput ibuk. Mas iya-in aja. Terus dia melompat-lompat girang gitu. Jadi jangan kaget kalau nanti kamu dipanggil ibuk sama dia." Mata Latifah membulat.

"Kenapa Mas bilang 'iya' ?" Lagi-lagi cubitan didaratkannya ke perut sang kakak. Bahkan lebih lama saking gemesnya. Tak peduli meski pemuda itu mengaduh tak karuan.

Bersambung ….

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Hakikat Cinta

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel En-PD154
9.0
Setelah memenangkan sepuluh laga beruntun di arena, aku justru dikhianati Roderick. Tunanganku itu malah bermesraan dengan cinta pertamanya dan membiarkan wanita itu menghinaku sebagai sosok kasar yang tak berkelas. Kelembutannya kemarin sirna, berganti pengakuan cinta untuk wanita lain di hadapanku. Dengan hati yang mendingin, aku menghubungi ayahku sang bos mafia. Aku meminta pernikahan dibatalkan karena aku ingin mencari pria lain yang jauh lebih layak.
Sampul Novel Istri yang Dihancurkan Mereka
8.1
Bramantyo dan Bima terobsesi menyiksaku dengan kehadiran Sandra demi menguji cintaku. Puncaknya, saat kecelakaan terjadi, mereka membiarkan tanganku hancur demi menyelamatkan Sandra. Karier musikku pun sirna. Mereka menantikan amarahku, namun aku hanya diam membisu, bahkan saat liontin ibuku dihancurkan Sandra. Di ranjang rumah sakit, pengabdianku mati. Ini bukan cinta, melainkan sangkar kejam. Kini aku bersiap melarikan diri dan membalas kehancuran ini.
Sampul Novel Mafia In The Night
8.0
William, putra mafia kejam, rela menempuh cara apa pun demi ambisinya. Namun, pengkhianatan fatal merenggut nyawa ayahnya, Ferdinand, dalam insiden tragis. Rosemary yang selama ini tidak tahu sisi gelap suaminya mulai menyadari rahasia tersembunyi. William kini bertekad membalas dendam dan membersihkan nama baik ayahnya dari fitnah keji. Meski seorang polisi wanita terus menghalangi langkahnya, William takkan berhenti hingga peluru terakhir menentukan segalanya.
Sampul Novel Menyusui Bayi Mafia
9.7
El Zibrano Elemanus memberikan tawaran gila kepada Lea untuk menyusui putranya dengan imbalan kekayaan yang tak terbatas. Lea yang masih berstatus pelajar menolak keras karena merasa permintaan itu tidak masuk akal bagi gadis seusianya. Namun, El tidak menerima penolakan dan bersikeras bahwa ia bisa mewujudkannya melalui caranya sendiri. Di bawah tekanan sang bos mafia, Lea terjebak dalam situasi intim yang mengancam masa depan dan harga dirinya.
Sampul Novel MY LOVELY LITTLE WIFE
8.9
Yuki tak mampu menyembunyikan kekesalannya setelah ditolak mentah-mentah oleh pria yang dijodohkan dengannya. Alasan pria itu sangat klise, ia merasa tidak mengenal Yuki sama sekali. Sambil mengumpat dalam hati, Yuki menjuluki calon suaminya itu sebagai pria tua yang menyebalkan. Namun, rasa dongkol itu segera berubah menjadi sebuah rencana licik. Sebuah seringai muncul di wajahnya saat sebuah ide brilian terlintas untuk memberi pelajaran bagi pria itu.
Sampul Novel She's Mine
9.3
Salju berjuang keras membesarkan She's Mine agar mampu bersaing di industri fesyen. Namun, saat kariernya memuncak, ia justru dihadapkan pada dilema rumit antara dua pria masa lalu. Ada Justin, sang mantan kekasih yang gigih mengejarnya kembali, serta Mars, sosok setia yang selalu membantu bisnisnya. Demi menyelamatkan reputasi perusahaan dari isu miring, Salju harus segera menentukan pilihan hati demi masa depan karier dan kehidupan pribadinya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan