Sampul Novel Falling for him

Falling for him

9.1 / 10.0
Theo percaya bahwa hati manusia selalu berubah layaknya angin, sebuah keyakinan pahit dari masa lalunya yang kelam. Namun, pandangannya terusik saat bertemu Jaane Kim, gadis berpendirian teguh yang menutup rapat pintu hatinya untuk cinta. Bagi Theo, keteguhan Jaane adalah tantangan yang belum pernah ia temui sebelumnya. Mampukah sang 'Pied Piper' menaklukkan hati Jaane dengan pesonanya? Ikuti kisah romansa musim semi yang penuh debar dan keajaiban ini.

Falling for him Bab 1

Pemuda tinggi yang kini memasang ekspresi masam itu masih menggunakan seragam dari sekolah lamanya, masih dengan tas hitam dipunggung yang tidak berisi apa-apa. Laki-laki itu tengah duduk di meja makan, mendengarkan ceramah di pagi hari agar hatinya kembali putih suci.

"Kau sudah besar, tau lah mana yang benar dan mana yang tidak. Mana yang harus dilakukan dan mana yang jangan. Ibu sudah tua, Te, jangan buat Ibu terus-terusan pusing memikirkanmu. Sudah tiga tahun di SMA kau berpindah sekolah lebih dari lima kali, kenakalanmu itu sudah diluar nalar. Apalagi dengan usiamu- ya Tuhan! Katakan berapa usiamu tahun ini?"

"Dua puluh," jawab Theo pelan, telinganya sudah sangat panas. Ia tak mampu melakukan apapun, hanya berharap agar ini semua segera berakhir.

"Dua puluh, Te. Dan kau bertingkah seperti anak baru puber saja! Kau sudah dewasa, pikirkanlah apa yang baik untukmu sendiri mulai sekarang." Baru saja Theo hendak menjawab, sang Ibu melanjutkan.

"Jika seperti ini terus, universitas mana yang mau menerimamu? Dan jika kau tidak kuliah siapa yang akan meneruskan perusahaan Ayah? Usia dua puluh tahun masih di kelas sebelas. Jadi di usia berapa kau akan lulus kuliah, Te. Dan di usia berapa kau akan menikah. Ibu pusing, Te! Ibu pusing!" pungkas wanita berdress rumahan itu sambil memegangi kepala.

Theo mendekati Ibu-nya lalu memijat kepalanya. "Ibu pusing karna terlalu banyak berfikir, makanya jangan difikirkan," cicit Theo lagi.

Sang Ibu menabok lengan Theo keras-keras, seakan tak habis pikir dengan pola pikir putra bungsunya tersebut. "Jika bukan aku yang memikirkan, terus siapa lagi? Kau saja tidak mau berfikir tentang dirimu sendiri."

"Mulai sekarang aku akan memikirkan diriku sendiri, jadi Ibu tidak usah terlalu memikirkanku lagi."

"Mana bisa begitu," balas Ibu tak terima, tidak ada satu orangpun didunia yang bisa menyuruh seorang ibu untuk berhenti memikirkan putranya.

"Bisa lah, Bu. Dia sudah punya keinginan," sahut suara bariton yang baru saja turun dari lantai atas.

Seorang pria bersetelan kemeja biru tua dan celana bahan formal itu tersenyum, memamerkan pipi berlubang. Theo mencibir secara otomatis. Kehadiran kakak sulungnya tidak pernah menjernihkan keadaan. Ibu selalu pro kakaknya, dan Theo hanya akan berakhir jadi bahan untuk dibanding-bandingkan.

"Kau harus membimbingnya, bilang Ibu jika dia membuat masalah lagi," ujar Ibu Theo pada Namu- kakak Theo.

"Baik, jadi sekarang bebaskan dia, Bu. Kalau tidak, dia akan terlambat," balas Namu menenangkan, berhasil membuat Theo bebas dari kungkungan nasihat pagi sang Ibu, menyuruh Theo untuk segera berangkat sekolah.

"Cepatlah! Kita sudah terlambat."

Dahi Theo menyirit, "Apa maksudnya?" Otaknya kembali berfikir "Jadi sekolah baruku, adalah sekolah tempatmu mengajar, kak?!"

Benar. Theo bahkan tidak tau kalau ia resmi bersekolah di tempat kakaknya mengajar.

"Iya, Ayo cepat. Kau yang menyetir." jawabnya melemparkan kunci mobilnya pada Theo.

Oke, Theo mau mengaku bahwa ia memang anak lelaki bandel yang sulit melakukan perintah, namun ia juga kurang suka berbuat onar, tidak suka sama sekali malah. Jadi bukankah berlebihan jika ibu mengirimnya ke sekolah dan membuatnya diawasi setiap saat. Jelas sekali ibu membuangnya ke sekolah yang sama dengan Namu agar ia tak lepas dari pengawasan.

Theo memandang kunci ditelapak tangannya yang mengadah, "Aku memakai mobilku sendiri saja."

Setelah mengatakan itu Theo melemparkan kembali kunci mobil itu pada pemiliknya.

"Tidak bisa. Nanti kau bolos lagi," sahut Namu, tak setuju.

"Tidak, aku tidak akan bolos."

Namu hanya menatap adiknya itu dengan alis terangkat. Sebuah tanda mutlak kalau anak sulung keluarga Kim itu sama sekali tidak ingin dibantah. Setelahnya Theo memasuki mobil di bagian kemudi. Kakak-nya itu memang keterlaluan tegas.

Theo harus siap dengan penjara baru yang keluarganya buat.

--

Gadis delapan belas tahun yang menggunakan seragam ungu itu mendecak keras, gadis itu mengusap wajahnya lalu menghembuskan nafas kasar. Niatnya melampiaskan emosi malah berujung menambah emosi. Jaane tau mobil yang dibelikan Ayahnya setelah liburan semester kemarin itu merupakan mobil mahal dan dari produsen terkenal, tetapi Jaane tidak tau kalau ban mobil dari 'produsen terkenal' ini sangat tipis.

Gadis bersurai coklat itu membuka pintu mobil lalu mengambil ponselnya. Dengan cepat, Jaane mendial nomor Lica- salah satu sahabatnya. Hanya nada sambung yang terdengar, entah kemana gadis jangkung itu pergi hingga panggilan Jaane pun tidak dijawabnya.

Jaane mendial nomor Lica lagi, satu tangannya memegang ponsel dan satunya lagi memperlihatkan jam tangan kecil yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sudah hampir masuk, tapi Lica tidak juga menjawab. Jaane mengedarkan pandangan, jalanan beroperasi lancar tapi tidak ada satupun yang dikenalnya untuk meminta bantuan. Taksi pun tak terlihat di daerah ini. Setelah ketiga kalinya nada dering itu berhenti, Jaane meletakan ponselnya di saku. Menyerah. Masa bodoh, akhirnya dia bolos juga. Gadis itu mengambil tasnya, mencopot kunci, lalu mulai melangkah di bahu jalan. Mengambil arah berlawanan dari arah menuju sekolah.

Jaane mengambil ponselnya di saku, mengetikan pesan berisi perintah kepada Jung- adiknya untuk mengambil menghubungi orang dan mengambil mobilnya, lalu ponsel itu disetting dalam mode hening. Jaane terlalu malas untuk berbicara. Tak ingin membuat harinya lebih buruk lagi.

Langkah yang Jaane ambil belum genap sepuluh namun ia harus menghentikan langkah saat sebuah mobil berhenti disampingnya, Jaane mengamati mobil itu sejenak, hingga kemudian kaca gelap mobil sedan itu turun Jaane masih belum tau siapa pengemudi ini.

Jaane tidak mengenalnya, maksudnya, laki-laki berseragam sekolah yang duduk memegang setir itu. Lelaki bertampang acuh dengan rambut hitam legam dan kulitnya berwarna tan.

"Jane, kau mau kemana?" Pria dikursi penumpang sebelah menundukan kepala agar dapat terlihat, menampilkan stuktur wajah yang amat dikenal. Jaane tersenyum sedetik kemudian.

"Saya hendak ke sekolah, sir,” jawab Jaane pada guru Bahasa inggris di sekolahnya.

Jaane berbohong? Iya, tidak mungkin juga dia menjawab 'saya mau pulang, sir. Ban mobil meletus' kejujuran semacam itu tidak terlalu diperlukan.

"Kau salah arah. Sekolah ada disana," balas Namu seraya menujuk depan. Yah, bahkan anak SD pun tau Jaane berjalan kearah yang salah.

"Tadi ban mobil saya meletus. Jadi saya mau mencari taksi disana," alibi Jaane.

"Ikut kami saja, disana juga tidak ada taksi."

"Tidak usah, sir. Saya berangkat sendiri saja," tolak Jaane cepat, bolos adalah satu-satunya agenda hingga sore nanti.

Tapi kemudian, laki-laki berseragam itu berdehem ketara seraya melihat jam di pergelangan tangannya.

"Sebentar lagi bel berbunyi, masuklah."

Menolak tidaklah mungkin lagi, mesin mobil sudah dinyalakan. Terpaksa. Tangan gadis itu membuka pintu belakang, lalu duduk di belakang kursi supir.

Bolos yang tertunda.

——

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Falling for him

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Cinta Dalam Hati
8.4
Tania adalah pengacara berani yang rela bertaruh nyawa demi keadilan. Ia kerap berselisih dengan Yudi, pria dingin yang telah menjadi rivalnya sejak kecil. Meski selalu menolak dijodohkan, takdir memaksa keduanya bersatu dalam ikatan pertunangan rahasia dari orang tua mereka. Di tengah gejolak benci dan cinta, Tania harus menghadapi bahaya besar saat melawan Wijaya, konglomerat kejam di balik kasus perdagangan manusia. Akankah benih cinta tumbuh di antara mereka?
Sampul Novel Dari Saingan Menjadi Ipar
9.8
Josie Watson kembali menuntut cerai untuk ke-99 kalinya. Namun, Laurence Andrews justru mengusirnya dari mobil demi mengangkat telepon mantan kekasihnya, Rosalie Harris. Laurence terus merendahkan Josie dan yakin istrinya takkan sanggup pergi. Dia tidak menyadari bahwa pengabaian berulang ini telah mencapai batasnya. Di balik layar, saudara laki-laki Rosalie diam-diam terus mendesak Josie untuk segera berpisah dan meninggalkan negara ini selamanya.
Sampul Novel Dewa Itu Adalah Patungku
8.6
Melinda kecil yang polos menemukan sebuah patung beruang di jalanan dan memutuskan untuk membawanya pulang. Ia merawat benda itu dengan penuh kasih sayang tanpa menyadari identitas aslinya. Tak disangka, patung tersebut merupakan inkarnasi sosok pria muda yang perkasa. Hingga Melinda tumbuh menjadi gadis cantik, wujud beruang itu tetap bertahan sampai muncul ketegangan yang mengubah segalanya. Akankah hubungan unik antara manusia dan dewa ini berakhir bahagia?
Sampul Novel Godaan Cinta: Biarkan Aku Menjadi Budakmu
8.1
Angela mengambil risiko besar dengan mengandung anak Jeremy secara rahasia, meski ia tahu dirinya hanya dimanfaatkan. Sadar akan kekejaman Jeremy, Angela sengaja memancing amarah pria itu agar ia dilepaskan. Namun, pelariannya berakhir saat Jeremy berhasil melacak posisinya. Di ambang keputusasaan, Angela memohon kebebasan. Tak disangka, kehadiran sang buah hati justru mengubah segalanya. Jeremy yang dulu dingin kini menawarkan diri untuk melayani Angela dan bayi mereka.
Sampul Novel Jebakan Cinta SANG MANTAN
9.0
Nada menyadari bahwa menjerat Ivander ke dalam pernikahan paksa adalah langkah yang keliru. Namun, baginya ini satu-satunya jalan untuk tetap berada di sisi pria yang hidupnya pernah ia hancurkan. Didorong rasa bersalah yang mendalam, Nada bertekad menebus dosa masa lalunya melalui pengabdian ini. Akankah segala pengorbanan Nada mampu mencairkan kebencian di hati Ivander, ataukah usahanya untuk mendapatkan maaf justru akan berakhir sia-sia?
Sampul Novel Mafia In The Night
8.0
William, putra mafia kejam, rela menempuh cara apa pun demi ambisinya. Namun, pengkhianatan fatal merenggut nyawa ayahnya, Ferdinand, dalam insiden tragis. Rosemary yang selama ini tidak tahu sisi gelap suaminya mulai menyadari rahasia tersembunyi. William kini bertekad membalas dendam dan membersihkan nama baik ayahnya dari fitnah keji. Meski seorang polisi wanita terus menghalangi langkahnya, William takkan berhenti hingga peluru terakhir menentukan segalanya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan