Sampul Novel Good morning Pak Dosen (Series 3)

Good morning Pak Dosen (Series 3)

9.4 / 10.0
Dalam Good morning Pak Dosen (Series 3), Axel Leo Dinata dan Elvio Nadira harus menjaga hubungan mereka di tengah perbedaan kecerdasan yang kontras. Romance novel ini menguji kesetiaan mereka saat menghadapi rintangan hidup yang rumit. Baca romance stories ini selengkapnya di web novel.
Ringkasan Good morning Pak Dosen (Series 3)
Cinta sejati tidak pernah memandang perbedaan intelektual. Hal inilah yang dirasakan oleh Axel Leo Dinata dan Elvio Nadira, pasangan dengan latar belakang kecerdasan yang sangat kontras. Meski perasaan mereka tulus, perjalanan asmara ini tidak berjalan mulus karena berbagai rintangan yang terus menguji kesetiaan keduanya. Mampukah Axel dan Elvio bertahan menghadapi tembok penghalang besar yang mengancam keutuhan hubungan mereka di masa depan?
Baca Selengkapnya

Good morning Pak Dosen (Series 3) Bab 1

Malam Minggu, adalah malam yang sangat keren bagi Dira. Karena ia bisa bertemu dan kencan dengan Leo, yang saat ini berstatus sebagai kekasihnya.

Ya, mereka memang bisa di katakan bertemu setiap hari di kampus. Tapi, sikap Leo padanya akan berbeda 400 derajat jika berada di kampus. Luar binasa, bukan. Yang jelas, kalau hanya berdua dengan Dira, sikap manis Leo akan muncul. Tapi, kalau sudah ada orang ketiga, setan di dalam dirinyalah yang mendominasi.

"Sekarang kita kemana lagi?" tanya Leo saat keluar dari cafe setelah makan malam berdua dengan Dira.

"Shooping," jawab Dira langsung bersemangat.

Leo langsung menghentikan langkah kakinya saat mendengar kalimat itu.

"Kenapa?" tanya Dira. " Nggak mau nemenin?"

"Ada yang lain, nggak? Shooping itu membuang-buang waktu, membuang-buang uang ... mending kita ke toko buku aja. Baca buku, bisa nambah ilmu," jelasnya panjang memberi solusi.

Dira mendengus mendengar pernyataan Leo. Haruskah hidupnya juga ikut bergelut dengan buku seperti cowoknya ini?

"Leo," panggil Dira.

Jujur saja, Leo sedikit tersentak saat Dira menyebut namanya. Pasalnya, biasanya Dira pasti akan memanggilnya dengan embel-embel, Bapak, Pak, atau apalah itu.

"Saat ini, di waktu ini, status kamu itu adalah pacar aku. Jadi, jangan bersikap seperti seorang dosen. Ntar, di kampus nggak apalah bersikap kayak gitu."

"Tapi, Ra ..."

Dira langsung saja menarik tangan Leo untuk pergi dari sana. Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba saja seseorang menabraknya. Gilanya lagi, segelas minuman yang ada di tangan orang tersebut malah  mengguyur kepalanya.

"Kyaaaa!!!" teriaknya histeris. Dikira ia belum mandi apa, pake diguyur segala.

"Maaf, Mbak. Saya nggak sengaja," ucap orang tersebut meminta maaf. "Tapi, Mbak juga, sih, yang salah ... jalan nggak lihat-lihat,'' tambahnya lagi dan berlalu pergi begitu saja.

Kutu kupret, ingin rasanya Dira berkata kasar saat itu juga. Awalnya dia minta maaf, tapi ujung-ujungnya malah nyalahin dirinya juga? Andai saja Leo tak ada di sampingnya, mungkin ia akan hajar tu orang habis-habisan. Sampai bayangannyapun nggak bakal balik ke badannya.

"Kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Leo memastikan.

"Nggak apa-apa gimana, kamu nggak liat orang udah basah kuyup gini?" tanya Dira terus mengoceh.

"Lihat," jawab Leo. "Makanya aku nanya keadaan kamu. Ada yang sakit atau gimana?" tanya Leo sambil mengelap wajah Dira yang sudah cemong terkena guyuran segelas capuccino.

Ya, Dira tahu kalau yang mendarat di kepalanya barusan adalah segelas capuccino ... ada yang menetes ke bibirnya dan itu rasa capuccino. Manis.

"Iya, hati aku sakit banget sama tu orang," geram Dira masih belum terima.

"Jadi gimana ... masih mau shooping?" tanya Leo sedikit menahan senyumnya.

"Ya enggaklah, Bapak. Nggak lihat, kekasihmu ini udah kayak gini," dengus Dira kesal. "Bentar, aku ke toilet dulu. Tunggu aja di mobil." Dira berjalan meninggalkan Leo menuju toilet cafe.

Oke, sepertinya ini memang hari sialnya. Karena apa? Si toilet ternyata lagi bermasalah. Jadilah, ia kembali ke mobil masih dengan tampang lepek, kucel dan berlepotan.

"Kok masih jelek aja?" tanya Leo saat Dira kembali dengan wajah dan ekspressi yang masih sama. "Eh, maksud aku bukan gitu ..." Ia segera meralat ucapannya. Sebenarnya ia tak ingin mengatakan itu, tapi tiba-tiba saja bibirnya malah mengucapkan itu. Jadi, apalah dayanya.

"Jangan meledek," dengus Dira langsung saja masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah di bukakan Leo.

Di dalam mobil, Dira terus saja mengumpat karena tak tahan dengan rambut dan wajahnya yang lengket.

"Kenapa nggak dibersihin di toilet tadi?" tanya Leo.

"Toiletnya lagi rusak, Bapak," jawab Dira sambil menekankan kata 'Bapak' pada ucapannya.

Beberapa saat kemudian, Leo menghentikan laju mobilnya di parkiran sebuah hotel. Tentu saja Dira bingung.

''Kenapa berhenti di sini?" tanya Dira dengan kening berkerut.

Leo tak menjawab pertanyaan Dira. Justru ia malah turun dan membukakan pintu mobil buat Dira.

"Ayok," ajaknya sambil mengamit tangan Dira untuk mengikutinya.

Leo menuju ke meja receptionist, sementara Dira cuman bengong sambil celingak-celinguk kiri kanan, serta agak takut-takut. Apalagi melihat pengunjung di hotel ini, yang bisa di bilang tak tahu malu. Masa iya mereka bebas ciuman di depan umum gitu. Ya ampun, ini hotel atau neraka, sih.

"Hei ... kenapa?" tanya Leo mengagetkan Dira yang sedang menjernihkan pandangannya yang barusan terkontaminasi.

"Kita ngapain, sih, kesini?" tanya Dira sedikit berdiri mendekat pada Leo.

"Bukannya mau bersihin badan kamu?"

"Tahu nggak. Ini hotel, bukan toilet."

"Aku tahu ini hotel. Di sekitaran sini nggak ada toilet umum. Jadi, mending ke sini aja, lebih aman. Mau mandi sekalian juga bisa kan," terang Leo.

"Tapi, ini hotel apaan, sih. Orang-orang di sini pada gila semua ya. Masa iya ci ..."

Belum sempat Dira menyelesaikan perkataannya, Leo langsung menariknya pergi menuju nomer kamar yang terletak di lantai dua.

Hingga sampai di kamar yang dituju pun, Dira sudah merasa panas dingin melihat penampakan-penampakan yang membuat otaknya sedikit bergeser.

"Yakin, nih, aman?" tanya Dira penuh curiga saat sudah berada di depan pintu kamar.

"Maksud kamu, aman dari apa. Dari aku? Aku ini cowok baik-baik. Jadi, jangan berpikiran buruk padaku. Ayo masuk," ajak Leo lagi menarik Dira.

Padahal Dira memikirkan keamanan hotel ini, tapi Leo malah berpikiran lain lagi. Sudahlah, mungkin pikiran orang-orang ber'otak jenius memang begitu kali, ya. Lain yang dikatakan, lain pula yang dibahas.

Mau tidak mau, akhirnya Dira masuk juga mengikuti Leo yang sudah masuk terlebih dahulu.

"Di dalam kamar mandi ada handuk dan lain-lain. Ini, kamu pake kaos ku dulu," terang Leo sambil menyodorkan kaos oblong miliknya yang sengaja ia bawa dari mobil. "Rok kamu nggak kotor kan?"

Dira menggeleng menjawab pertanyaan Leo.

"Ya udah, sana mandi. Aku tunggu disini."

"Tapi, jangan ditinggal, ya?"

"Iya," jawab Leo. "Sana," suruhnya

Dira masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya. Sementara Leo duduk di sofa menunggunya sambil sibuk dengan ponsel.

Baru beberapa menit, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar. Tentu saja Leo bingung, siapa yang bertamu? Tapi, ia kembali berpikiran positif, mungkin saja pegawai hotel.

Ia berjalan hendak membuka pintu kamar.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Good morning Pak Dosen (Series 3)

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Anak Milik CEO
8.8
Seorang wanita mendadak tegang saat bertemu kembali dengan Davero di dalam lift kantor. Pertemuan yang tak terduga itu berubah mencekam ketika sang CEO tampan memojokkannya ke dinding dengan tatapan tajam yang penuh dominasi. Meski sang wanita merasa ketakutan dan gugup, Davero dengan suara serak menegaskan bahwa ia tak akan membiarkannya pergi lagi. Sebuah klaim penuh ancaman pun terucap, menandai bahwa wanita itu kini adalah miliknya sepenuhnya secara mutlak.
Sampul Novel Benih Dari Kebencianmu
8.2
Lima tahun berlalu sejak tragedi maut merenggut nyawa Anya, namun dendam Rizky belum juga padam. Saat bertemu kembali dengan Lia, sepupu Anya sekaligus penyintas peristiwa tersebut, amarah Rizky meledak. Lia dianggap sebagai penyebab utama penderitaan mereka selama ini. Dalam sebuah malam yang kelam, Rizky melampiaskan kebenciannya hingga menghancurkan masa depan Lia. Kini, Lia harus menanggung beban luka di tengah kebencian orang-orang di sekitarnya.
Sampul Novel Dibuang, Bangkit, Menang!
8.1
Tiga tahun Cindy berbakti sebagai istri, namun sang suami menceraikannya demi wanita lain hingga ia jadi bahan hinaan kota. Pasca perpisahan, Cindy bangkit menunjukkan bakat terpendamnya hingga meraih sukses besar. Saat mantan suaminya menyesal dan mengemis ingin kembali, Cindy tegas menolaknya. Di tengah momen itu, seorang pria tampan yang kini menjadi suaminya muncul melindungi Cindy, memperingatkan sang mantan agar tidak lagi mengganggu hidup mereka.
Sampul Novel Mencintai Anak Kakakku
8.0
Ara Qubilah Iskander, gadis cantik keturunan Turki, telah mengidolakan Chandra Syauqi Abimana sejak kecil. Baginya, adik dari ibunya itu adalah sosok pangeran sekaligus pahlawan sejati. Sebaliknya, Chandra justru merasa terbebani dan terganggu oleh kehadiran Ara di hidupnya. Sebuah kesalahpahaman besar di suatu malam akhirnya memicu konflik tajam yang membuat Chandra membenci Ara. Mampukah hubungan mereka membaik, ataukah kekaguman Ara terhadap Chandra akan sirna selamanya?
Sampul Novel persahabatan
8.6
Dalam ranah sastra modern, cerpen hadir sebagai bentuk prosa unik yang merangkum berbagai narasi fiktif penuh makna. Karya ini menyajikan jalinan cerita rekaan yang mendalam namun ringkas, sesuai dengan karakteristik utamanya sebagai cerita pendek. Melalui pendekatan naratif yang padat, pembaca diajak menyelami dunia imajinasi yang dirancang khusus untuk menyampaikan pesan emosional serta dinamika hubungan manusia dalam format tulisan yang sangat efisien.
Sampul Novel Sedingin Es
7.8
Tisa dikenal memiliki hati sedingin es yang sulit ditembus oleh siapapun. Baginya, cinta hanyalah sumber penderitaan dan pengkhianatan sejak sang ayah pergi demi wanita lain. Trauma masa lalu itu membuatnya menutup diri rapat-rapat. Namun, sikap apatis Tisa justru memicu rasa penasaran Langga, seorang playboy kampus yang terbiasa mendapatkan segalanya. Meski terus diabaikan, Langga pantang menyerah. Akankah kegigihan Langga mampu meluluhkan dinding pertahanan Tisa?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan