Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gairah Istri Kelima Juragan

Gairah Istri Kelima Juragan

Malini terjepit utang besar setelah suaminya menghilang misterius. Satu-satunya harapan adalah Juragan Chandrakanta, pria kaya raya yang ingin menjadikannya istri kelima. Meski awalnya menolak dan memilih bekerja kasar, Malini akhirnya tak berdaya menghadapi pesona sang juragan. Sebuah mantra rahasia dan daya pikat Chandrakanta berhasil membuatnya bertekuk lutut dalam semalam. Akankah Malini menyerah sepenuhnya pada gairah dan menjadi bagian dari keluarga sang juragan?
Bab
Bagikan

Bab 3

***

Pria tua itu terpaku menatap wajah seorang wanita mengenakan kerudung gelap dan penutup wajah. Hanya alis legam tebal dan bulu mata panjang lentiknya saja yang terlihat di keremangan malam.

Di punggungnya tergantung keranjang anyam bambu besar berisi beraneka macam sayuran hijau yang segar yang sudah diikat sedemikian rupa. Begitu rapi dan tertata.

"Saya boleh jualan di sini, Pak?" tanyanya membesarkan suara. Agar tak kalah dengan para pedagang lain yang juga sedang menggelar dagangannya.

"Sebenarnya lapak ini ada pemiliknya. Cuma beberapa hari ini sedang sakit. Sementara kamu boleh pakai. Tapi kalau pemiliknya sudah kembali. Ya kamu harus pergi dan mencari lapak yang lain."

"Inggih Pak. Saya paham ...." jawabnya senang. Mengucap hamdalah dalam hati lalu mulai meletakkan kain jarik sebagai alas jualannya.

Baru beberapa detik berlalu. Pria lain dengan kulit yang agak gelap tengah berbisik kepada pria tua berpeci. Lalu pria tua itu menganggukkan kepalanya.

"Maaf. Maaf, Nak! Pemilik lapaknya akan berjualan hari ini. Jadi kamu jangan di lapak ini, ya. Cari lapak yang lain saja!"

Malini urung mengeluarkan semua sayurannya. Darahnya berdesir. Tengkuknya terasa dingin karena angin. Mungkin belum terbiasa keluar tengah malam untuk berjualan di pasar.

"Inggih, Pak. Ndak apa-apa. Terima kasih. Semoga dagangan bapak habis terjual malam ini."

Pria tua mengaminkan dalam hati. Selepas Malini pergi ia segera menuju sebuah pos kecil di tengah pasar. Sebuah kelambu di pasang di sana. Dari dalam seorang pria tampan berkharisma tersenyum puas melihat apa yang dikerjakannya lalu menyodorkan beberapa lembar uang.

"Terima kasih, juragan!" pria tua itu menunduk hormat. Walau hatinya merasa tak tega kepada Malini. Siapa yang bisa melawan juragan Chandrakanta?

Sementara sepasang mata elang pria yang dipanggil juragan nampak mengekor semua pergerakan wanita yang menjadi incarannya.

"Hmm ... Malini ... Malini. Wanita bodoh! Apa untungnya berjualan tengah malam begini? Lapak saja kamu tak punya. Kapan mau melunasi hutang suamimu? Dasar keras kepala!"

Beberapa pria membawakan makanan hangat dan juga kopi dalam pos itu. Yang mengenakan topi kupluk memijat bahu Chandrakanta dengan senyum manis yang selalu disunggingkan.

"Tumben, juragan main ke sini."

"Aku lagi bosan di rumah. Kenapa? Apa tidak boleh?"

"Tentu boleh juragan. Ini pasar milik juragan. Saya bisa apa? Ya ... saya hanya kaget saja. Tak biasanya juragan rela bangun dini hari hanya untuk datang ke sini."

"Kau lihat wanita itu?" tunjuknya ke arah wanita berkebaya cokelat dengan selendang gelap. Di belakangnya tergantung keranjang anyaman bambu besar berisi puluhan ikat sayuran hijau yang belum laku satu pun.

"Malini, juragan? Isterinya Prabawa?"

"Ya benar. Malini! Aku minta kalian jangan pinjamkan lapak barang seharipun. Paham?"

"Paham juragan!"

Malini menawarkan barang dagangannya kepada satu pembeli dan pembeli lainnya. Ia juga menawarkan diri untuk membawakan barang belanjaan mereka. Namun, sama saja. Semua menolak.

Malini menepi sebentar. Berpikir dengan keras dan hampir menyerah. Tapi bayangan wajah Kanaya dan Suma menari-nari di pelupuk mata.

"Ah ... Mungkin karena aku orang baru di sini jadi belum memiliki pelanggan. Coba aku kembali ke pasar bagian depan. Siapa tahu di depan sana ada beberapa orang yang mau membeli beberapa ikat sayuran segar ini," ucapnya pelan.

Namun, Malini menelan kekecewaan. Hingga subuh tiba, tak satu orang pun yang mau membeli belanjaannya. Jasa angkut barang belanjaan pun ditolak mentah-mentah. Menahan tangis ia menuju masjid besar di seberang pasar.

Pasrah ia menggeletakkan keranjang anyaman bambunya. Lalu bergegas menuju tempat wudu. Di koridor panjang yang dihiasi dengan keramik kehijauan, Malini berpapasan dengan Chandrakanta.

Wanita itu membalikkan badan dan mengucap istighfar. Sementara Chandrakanta menatapnya dengan tatapan mata yang tak bisa dijelaskan.

Di atas sajadah berwarna terang Malini menangis. Menumpahkan segala keluh kesah. Terisak ia mengusap bulir-bulir embun yang luruh satu persatu.

"Mau makan ayam, Bu. Makan ayam ...." teringat bagaimana Suma dengan wajah polosnya menginginkan sesuatu. Untuk yang pertama kali.

Melipat sajadah dengan tangan yang gemetar. Malini ingat belum makan apapun sejak habis isya. Perutnya terasa perih. Keringat jagung keluar dari pelipis hingga memenuhi hampir seluruh tubuhnya.

Malini bahkan terhuyung-huyung ketika memaksakan punggungnya untuk kembali memanggul keranjang anyaman bambu itu. Chandrakanta menatapnya dari kejauhan.

"Dasar, wanita yang keras kepala," gumamnya pelan lalu meninggalkan tempat itu.

Baru beberapa meter berjalan ia terjatuh. Wajah mulusnya terantuk di jalanan berpasir. Seorang wanita dengan kebaya bunga berwarna cerah menghampiri.

"Ya Allah ... Malini ... Malini. Bangun Malini! Mbok ... Mbok panggilkan Hartoyo. Lekas!"

"Inggih Ndoro ...."

Mbok Giyem tergopoh. Setengah berlari menuju sebuah mobil sedan putih. Di dalamnya ada seorang pria paruh baya yang tengah merokok.

"Yo ... Yo. Dipanggil Ndoro putri. Ayo buruan!"

"Ono opo toh, Mbok?"

"Ada yang pingsan. Bantuin ...."

Belum sempat Hartoyo tiba di tempat itu. Dari kejauhan ia melihat beberapa orang sudah membantu mengangkat Malini menuju mobil sedan putih milik majikannya itu.

"Ayo kita antar pulang Malini, Yo."

"Inggih Ndoro ...."

Di dalam mobil Yuvati memeluk tubuh Malini yang dingin. Sesekali di usapnya keringat yang masih menempel di kening.

"Kamu tahu kan rumah Malini, Yo?"

"Tahu, Ndoro. Rumahnya Moko dan Walimah bukan?"

"Iya betul!" Mbok Giyem menyahut.

"Kenapa dia bisa jatuh pingsan ya? Kalian taruh di mana keranjang tadi?"

"Di belakang, Ndoro. Sepertinya Malini sedang berjualan. Mbok lihat tadi banyak sekali sayuran hijau di dalam keranjang anyam bambunya," terang wanita yang semua rambutnya hampir memutih itu.

"Berjualan?"

"Inggih Ndoro ...."

Malini sedikit meracau ketika mobil tiba di depan rumahnya. Saat itu hari sudah cukup terang sehingga beberapa orang yang berkegiatan di pagi itu bisa melihat Malini turun dari mobil.

Walimah bergegas turun dari rumah besarnya. Membuka pagar karena untuk menuju rumah Malini harus membuka pagar berwarna gelap setinggi tiga meter.

"Nyonya Yuvati!" teriak Walimah senang.

Yuvati tersenyum. Menundukkan sedikit kepalanya lalu berlalu tak mempedulikan gemerincing di leher dan pergelangan tangan Walimah. Walimah memajukan bibirnya lalu mengekor di belakang Mbok Giyem.

"Malini kenapa, Mbok?"

"Pingsan di pasar."

"Pingsan?"

"Iya," jawab Mbok Giyem singkat. Seolah tak ingin berlama-lama membicarakan tentang Malini.

Walimah urung mengikuti. Ia berbelok kembali ke rumah. Dengan rasa kesal. "Sombong sekali isteri juragan itu. Bahkan menoleh saja padaku ia tak ingin. Seberapa kayanya sih, si Chandrakanta itu?" rutuk Walimah lalu masuk ke dalam rumah sambil membanting pintu.

Yuvati mengetuk pintu. Kanaya yang sedang mencuci beras di sumur timba mendengar suara ketukan. Wajahnya nampak berseri. Tak menyangka jika ibunya akan pulang lebih cepat dari pasar.

"Sebentar, Bu!" teriaknya.

Terkejut. Kanaya terkejut ketika ibunya dengan wajah pucat dibantu oleh beberapa orang masuk ke dalam rumah.

"Ibu kenapa?"tanyanya cemas.

"Ibumu sepertinya masuk angin. Jangan cemas! Kamu Kanaya, ya?"

"Iya, Bu," jawab Kanaya.

"Boleh buatkan ibumu teh hangat?"

"Iya, Bu. Baik!"

Mereka membaringkan Malini di atas tikar. Anak laki-laki Malini terbangun ketika mendengar suara beberapa orang. Suma yang sudah lancar bicara. Duduk di dekat Malini seraya menepuk pipi wanita itu pelan.

"Ibu ... Ibu kenapa? Ibu sakit? Suma ndak apa-apa ndak makan ayam. Tapi Ibu ndak boleh sakit, ya ...."

Yuvati tersenyum. Mengambil Suma dalam pelukannya. Lalu mencium pipi anak kecil yang baru bangun itu.

"Namamu siapa, Nak?"

Suma menunduk. Lalu tersenyum malu. Giginya yang omong berwarna sedikit kehitaman terlihat lucu. "Suma ... Suma Perkasa ...." jawabnya bangga seraya memukulkan tangannya di atas dada.

Semuanya tersenyum. Juga Malini yang sudah sadar.

"Ini Bu, minum dulu!" Kanaya membantu ibunya untuk duduk.

Malini bangun perlahan. Bibirnya gemetar ketika mulai menyentuh pinggiran gelas. Perutnya mungkin sudah merasa nyaman.

"Ibu Yuvati, Mbok Giyem, Pak Hartoyo ... Maafkan saya jika merepotkan."

"Ndak merepotkan Malini. Kamu tadi kenapa?"

"Saya ... Saya tadi ...."

"Ibu kemarin ndak makan seharian. Mungkin itu yang membuat ibu masuk angin," terang Kanaya memijat kaki ibunya.

"Kamu berjualan?" tanya Yuvati lagi. Malini mengangguk pelan.

Yuvati mengeluarkan dompet kain kecil dengan bordir burung emas. Mengeluarkan beberapa lembar uang dan hendak menyerahkannya kepada Malini.

"Kebetulan saya dan Mbok Giyem mau membuat besekan. Isinya urap sayur. Saya perlu sekali sayuran hijau. Untung bertemu kamu. Sayurannya sudah saya letakkan di mobil. Terima kasih banyak, ya, Malini ...." terang Yuvati membesarkan hati Malini dan kedua anak-anaknya.

Mbok Giyem menyeka ujung matanya ketika melihat Kanaya dan Suma menangis. Tapi kebahagiaan itu terhenti seketika.

Seorang pria yang tengah mabuk mendobrak pintu. Merampas lembaran uang itu dengan paksa lalu tertawa senang ketika mendapatkan uang ditangan.

"Bapak ... Jangan!" teriak Kanaya. Hati anak perempuan itu kembali nelangsa.

***

Dukung terus ya, Bebh.

Haturnuhun ....

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Belaian Cinta
9.6
Ratih harus menjalani hubungan jarak jauh setelah suaminya, Prima, bekerja di Kalimantan demi masa depan putri mereka, Chika. Meski awalnya tampak baik-baik saja, perpisahan ini memicu konsekuensi tak terduga. Pesona Ratih menarik perhatian Wira sang duda, Heru tetangga depan rumah, hingga Derry yang masih sekolah. Tanpa perlindungan suami, Ratih terjerat dalam godaan mereka hingga hamil. Kini, ia harus menghadapi kehancuran rumah tangganya dan misteri ayah janin tersebut.
Sampul Novel DENDAM dan JERAT PESONA GADIS yang KUCULIK
9.7
Demi membalas kepedihan atas kematian sang ibu, Anggara nekat menculik Almaira. Ia bertekad menyiksa ayah gadis itu dengan cara memisahkan mereka selamanya. Namun, kedekatan yang terjalin justru menumbuhkan perasaan tak terduga di hati Anggara. Kini ia terjebak dalam dilema antara kebencian masa lalu dan cinta yang mulai bersemi. Mampukah kasih sayang menghapus dendam membara, sementara Almaira sendiri sangat membenci sosok yang telah menyekapnya?
Sampul Novel Hasrat Cinta Terlarang CEO
8.8
Ditinggal pergi oleh kekasihnya tepat di hari pernikahan membuat Rachael hancur dan berhenti memercayai cinta. Namun, takdir membawanya kembali bertemu dengan Andrew Collins. Merasa tak punya harapan lagi dalam asmara, Rachael akhirnya setuju menikahi Andrew yang merupakan putra sahabat ayahnya. Tanpa ia sadari, keputusan ini menjadi awal dari rencana besar takdir yang akan mengubah pandangannya terhadap hubungan dan masa depannya selamanya.
Sampul Novel Impian Dongengku Hancur: Pengkhianatan Kejamnya
9.3
Sembilan tahun pernikahan indah arsitek brilian dengan Adrian Wijaya hancur seketika saat kecelakaan menghapus ingatan sang taipan. Adrian berubah menjadi monster kejam di bawah kendali Helena yang licik. Ia membunuh adikku, melumpuhkan kakiku, hingga merampas pita suaraku untuk diberikan pada Helena. Pengkhianatan ini mengubah cinta menjadi dendam membara. Aku memalsukan kematian dan siap menghancurkan kerajaannya. Saatnya sang monster membayar segalanya.
Sampul Novel Mantan Tapi Menikah
8.8
Pertemuan Emily dengan King di acara reuni tahunan membangkitkan luka lama yang belum sembuh. King, mantan kekasih yang sangat ingin dihindarinya, justru muncul kembali dan memberikan tawaran pernikahan yang mengejutkan. Meski Emily sempat bersumpah tidak akan pernah menerimanya kembali, sebuah peristiwa besar memaksanya untuk berubah pikiran. Kini, Emily harus berjuang menjalani kehidupan rumah tangga yang rumit bersama pria yang dulu paling ia benci.
Sampul Novel Membakar Habis Rumah Empat Kekasih Gadunganku
8.4
Alina Barata, pewaris tunggal kerajaan bisnis, dikhianati Damian Adiputra dan tiga pria pelindungnya. Damian justru mencintai Luna dan merencanakan kecelakaan demi menguasai harta Alina. Saat nyaris tewas, Alina sadar bahwa mereka semua bersekutu melawannya. Di sebuah pesta yang dirancang untuk mempermalukannya melalui video pribadi, Alina tidak lagi tunduk. Ia siap membalas dengan rekaman rahasia yang akan menghancurkan reputasi kotor mereka selamanya.