
Disangka miskin diperantauan
Bab 3
"Sudahlah tidak usah berdebat, aku tidak akan memberikan sertifikat rumah ini kepada keluarga paman, memangnya tidak bisa pesta seperti biasa saja? Kenapa harus pesta mewah jika paman memang tidak punya uang!" Intonasi ku sedikit naik kali ini, emosiku sangat terpancing dengan jawaban-jawaban paman Adit.
"Ya karena kami keluarga terpandang, kami harus menggelar pesta yang mewah di kampung ini!" jawab bibi Santi pongah.
"Ya kalau mau kayak gitu kenapa ga pake sertifikat rumah paman saja? Rumah yang Paman tempati juga sama-sama rumah warisan, kenapa harus pakai sertifikat rumah bapak?" aku mulai geram dengan keluarga Paman ku ini, sepertinya bakal ada udang di balik bakwan, ujung-ujungnya mereka pasti tidak akan mulus membayar cicilan.
"Loh ya ngga bisa dong__"
"Ya aku juga gabisa dong, bibi saja enggak bisa kenapa aku harus bisa?" belum selesai bibi Santi berbicara, aku segera memotongnya.
"A, kami tersinggung dengan anak aa, aku harap aa bisa membantu kami, jika aa memang bersedia nantinya, tolong antarkan sertifikat rumah ini ke rumahku, apa aa lupa? bahwa kata emak dan Abah sesama adik kakak itu harus saling membantu!" luar biasa tidak tahu malunya pamanku ini, dia bisa-bisanya membawa almarhum Abah dan Nini dalam peminjaman sertifikat ini.
Aku merogoh tas dan segera mengeluarkan uang ber-nominal 3 juta rupiah.
"Ini, aku ikut menyumbang untuk pernikahan Sintya, menurutku segini lebih dari cukup untuk kakak adik saling menolong, meskipun aku tidak pernah merasa ditolong oleh keluarga paman," ucapku sambil menyimpan uang itu di hadapan paman Adit.
"Yaelah, duit segitu cukup apa!" cibir Septian, lelaki kemayu itu sepertinya makin menjadi saja, dan aku juga melihat Paman Adit tidak mengambil uang itu.
"Gamau? Yaudah aku bawa lagi!" bergegas Aku membawa uang itu kembali.
"Ehhh kalo udah ngasih jangan di pinta lagi, pamali!" Bibi Santi lalu menyambar uang itu.
"Ayo kita pergi, cukup sudah harga diri kita di injak-injak di rumah butut ini!" ajak Paman Adit kepada rombongannya, aku tidak menyahut ucapannya sama sekali.
Tanpa basa-basi dan mengucap salam, mereka bertiga keluar dari rumahku.
"Awwww aduh!!!"
Aku mencubit kecil lengan Septian, meskipun cubitan nya kecil, tapi aku yakin rasanya perih.
"Kenapa sih kamu Tian!" tanya bibi Santi pada keponakanya.
"Auuwww ateu, aku dicubit Sisil huhuhu," dengan gaya khas kemayu nya, Septian mengadu pada bibi Santi.
Bibi Santi berbalik dan memelototiku, akupun hanya mengangkat kedua bahuku.
Kini keluargaku semuanya duduk di ruang tamu, adik-adikku antusias membuka koper yang aku bawa, karena di dalam koper banyak barang dan juga oleh-oleh yang aku beli.
"Waaaah kak, bagus banget ini bajunya, sepatunya juga, aku suka kak!" ucap Lisa adik bungsuku.
Aku melihat Rifki pun bahagia, tapi mungkin karna dia anak laki-laki jadinya tidak eksfresif seperti Lisa.
Aku melihat bapak duduk dan menghela nafas panjang, sebelum bapak membuka obrolan, aku terlebih dulu membuka pembicaraan.
"Bapak, kenapa bapa dengan mudah memberikan sertifikat rumah pada paman Adit?" tanyaku sambil mengusap lengan bapak dengan lembut, aku tidak ingin terkesan mengintimidasi bapak.
Akupun melihat wajah emak yang sangat kesal dan geram kepada bapak, sepertinya sebelumnya ada keributan di antara emak dan bapak.
"Maafkan bapak neng Sil, bapak merasa kasihan pada adik bapak itu, tadi dia memohon sekali pada bapak," sungguh, kali ini aku kecewa pada bapak, padahal aku yakin bahwa bapak tahu tabiat adik dan kakaknya.
"Tapi pak, apa mereka menolong kita sewaktu kita kesusahan? jika kita yang meminta tolong pada mereka, aku yakin hanya hinaan yang akan kita dapatkan," aku berbicara dengan nada bergetar menahan tangis, mengingat kekejaman dan keserakahan kakak dan adik bapak.
"Emak sudah lelah dengan sifat bapakmu yang seperti itu, entah ibu harus bagaimana lagi, haruskah ibu pulang ke rumah orang tua ibu pak?," ujar emak sambil menangis, melihat suasana yang mencekam, Lisa dan juga Rifki pun terdiam.
"Ighstifar Mak, apa yang ibu bicarakan?" tanya bapak tidak menyangka.
"Emak sudah lelah dengan bapak, apa gunanya emak di sini jika emak tidak pernah didengar sama sekali, bukannya emak tidak ingin membantu adik atau kakak bapa, tapi orang bagaimana dulu yang harus di tolong?" suara emak semakin serak.
Bapak mengusap wajahnya pelan, terlihat gurat penyesalan di wajahnya yang semakin menua.
"Bapak sayang, coba sedikit lebih tegas kepada saudara-saudara bapak, bapak lebih ingin melihat anak-anak dan istri bapak kecewa seperti ini? kelak jika nanti bapak tua, bapak akan meminta diurus kepada kami, bukan kepada saudara-saudara bapak!" aku berusaha bersuara sangat lembut supaya tidak menyinggung perasaan bapak.
"Iya bapak tau neng, bapak hanya menjalankan wasiat dari emak dan Abah, untuk saling menolong sesama adik kakak, ditambah lagi bapa anak laki-laki pertama," lagi-lagi alasan ini lagi yang di keluarkan oleh bapak.
Aku pun menghela nafas panjang untuk meredakan emosi ku.
"Pak, kakak dan adik bapak itu sudah berumah tangga, bapak sudah tidak ada kewajiban untuk membantu mereka lagi, mungkin jika membantu sedikit dan sewarajanya tidaklah menjadi masalah, tapi menurut pandangan Sisil, bapak sudah terlalu melewati batas, tanggung jawab bapak sekarang bukanlah kepada adik dan kakak bapak, melainkan pada anak dan istri," tak kuasa lagi aku menahan tangis, air mataku akhirnya tumpah.
Aku melihat kedua adikku pun menangis, bapak pun menitikkan air matanya.
"Maafkan bapak sudah dzalim pada kalian, maafkan bapak Mak, maaf, jangan pergi pulang kerumah orang tuamu, bapak sadar, sudah 30 taun emak menemani bapak hiks," bapak minta maaf memohon sambil memegang lengan ibu, memang untuk mendapatkan ku, cukup sulit untuk emak dan bapak, emak kosong kandungan selama 9 tahun.
"Emak juga minta maaf pak, tidak mungkin emak meninggalkan bapak jika tidak Allah yang memanggil emak," emak pun semakin tergugu.
Kami semua pun larut dalam tangisan bersama, tangis haru bahagia dan juga lega karena sudah menemukan akar masalah.
"Sil, beliin gulan ke warung Mak Esih," emak menyuruhku ke warung mak Esih untuk membeli gula, sebenarnya aku malas jika harus ke sana, karena di sana sarang ibu-ibu menggibah.
"Wahhh Sisil kemana aja? Pulang dari kota makin glowing aja nih, kerja apa sil?" tanya seorang ibu-ibu dengan nada nyinyir.
Belum aku menjawab, sudah ada ibu lain yang menimpali.
"Halaaaah, dalam waktu 2 tahun mana mungkin sukses dan jadi glowing kalo gajadi lonet di kota hahaha," aku langsung terdiam dan menatap ibu-ibu itu dengan tatapan tajam, Siapa penyebar gosip pertama nya?
Anda Mungkin Juga Suka





