Sampul Novel PANTHER & DEA

PANTHER & DEA

9.0 / 10.0
Dalam PANTHER & DEA, seorang pembunuh bayaran berusaha pensiun namun hartanya dikuras habis oleh Edward Elmund. Di tengah pengkhianatan kekasihnya, dia menyandera anak sang mafia demi kebebasan. Nikmati aksi penuh intrik dalam mafia romance books ini melalui layanan read novels online.
Ringkasan PANTHER & DEA
Panther, pembunuh bayaran yang menghabisi orang tuanya sejak kecil, jenuh dengan dunia gelap dan ingin pensiun. Namun, hartanya dikuras oleh mafia Edward Elmund. Demi uang tebusan, Panther menculik Natalia, putri Edward, tapi sang ayah menolak membayar. Di tengah pelarian, Sophie yang ia cintai justru berkhianat demi harta. Saat terpojok, muncul Dea, informan lama yang membantunya meraih kebebasan. Akankah Panther layak mendapatkan hidup normal setelah masa lalunya?
Baca Selengkapnya

PANTHER & DEA Bab 1

Di dalam salah satu gerbong kereta api, terlihat para penumpang duduk berjejer memenuhi kedua sisi tempat duduk. Dua orang wanita terlihat sedang berbicara sambil memamerkan cincin dan gelang indah mereka. Beberapa pria dan wanita tampak berpakaian kerja yang rapi. Seorang pria kaya mendengus sombong sambil memperlihatkan rantai emas tebal yang menggantung di lehernya dan beberapa penumpang lainnya terlihat sibuk dengan telepon genggam atau sekedar diam sambil mengantuk.

Dua orang pria dari tempat duduk yang berseberangan terlihat saling bertatapan sejenak. Mata mereka menyorotkan sebuah arti. Tak lama, terlihat seorang dari mereka memberi isyarat dengan menganggukkan kepala. Secara bersamaan, keduanya langsung berdiri. Seseorang bergerak menghadap ke arah kanan dan lainnya menghadap ke arah kiri. Tangan mereka mengeluarkan senjata api berwarna hitam yang segera ditodongkan pada semua orang di kedua sisi gerbong kereta api.

“Jangan bergerak,” teriak seorang di antara mereka. “Serahkan semua dompet, telepon genggam dan barang berharga kalian.”

Para penumpang dalam gerbong terkejut mendengar teriakan itu dan kemudian melihat ke arah mereka berdua dengan tatapan penasaran. Setelah menatap senjata api yang digenggam oleh kedua pria itu, desah nafas tertahan para penumpang segera terdengar dari seluruh penjuru dalam gerbong kereta. Raut wajah ketakutan dan tidak percaya menghiasi wajah-wajah para penumpang.

Kedua perampok terlihat menurunkan tas ransel mereka masing-masing, membukanya dan mengarahkan mulut tas yang terbuka ke satu per satu penumpang. Di hadapan senjata api, beberapa penumpang yang ketakutan terlihat buru-buru mengeluarkan dompet mereka dan melemparkannya ke dalam tas ransel perampok. Wajah pria yang memakai gelang emas segera berubah menjadi pucat.

“Telepon genggam, jam tangan, dompet dan juga cincin,” teriak seorang perampok sambil menggerak-gerakkan ujung senjata apinya pada seorang penumpang di depannya. Tanpa daya semua benda-benda itu segera berpindah tangan.

Seorang penumpang muda dengan rambut dicat berwarna merah dan bergaris kuning, terlihat marah dan menolak untuk memberikan apa pun juga pada perampok itu. “Aku tidak memiliki apa pun. Tembak saja aku kalau kamu berani,” tantang pemuda itu. “Aku bertaruh, senjata apimu itu palsu. Ayo semuanya ikut melawan. Jangan takut.”

Perampok itu tersenyum mengejek. Tanpa ragu, ia mengarahkan senjata apinya pada paha pemuda itu dan menembaknya. Senjata api tersebut terdengar berbunyi sayup saat pelurunya muntah melalui sebuah lubang peredam suara yang terpasang pada ujung senjata api. Raut wajah pemuda yang marah segera berubah terkejut dan berikutnya berubah menjadi wajah yang meringis kesakitan. Teriakan dan rintihan keluar dari mulutnya, terdengar penuh penderitaan. Ia menekuk tubuhnya dan kedua tangannya menggenggam pahanya yang kini sudah berlubang dan mengalirkan darah segar.

“Kamu yang memintanya kawan. Jangan salahkan aku,” kata perampok berwajah bengis itu dengan enteng dan tersenyum mengejek.

Sebelah tangan perampok itu bergerak kembali untuk memukul pemuda yang kesakitan itu tepat di kepalanya dengan menggunakan gagang senjata api. “Hayo siapa lagi yang mau bertindak sebagai jagoan?” kata perampok itu terlihat senang.

Seketika semua penumpang menjadi ketakutan dan buru-buru mengeluarkan dompet mereka bahkan sebelum tas perampok itu mendekati mereka. Saat yang lainnya sibuk mengeluarkan harta mereka, seorang pria yang memakai jaket kulit berwarna hitam, masih terlihat duduk dengan santai sambil mengeluarkan dua buah sarung tangan kulit berwarna hitam dan memakainya dengan tenang. Pria itu memakai sebuah topi polos berwarna biru yang menyembunyikan sebagian wajahnya.

“Serahkan dompetmu,” sahut seorang perampok yang sudah tiba di depan pria itu, sambil mengacungkan senjata apinya pada wajah yang tertutup topi.

Kepala pria itu bergerak sedikit dan matanya menatap tajam pada perampok tersebut. Di dalam bola matanya tidak terlihat sepercik pun ketakutan. Mendadak, kedua tangannya bergerak sangat cepat menangkap senjata api perampok di depannya. Dalam satu gerakan tangan yang cepat, arah senjata api tersebut sudah berbalik pada perampok tersebut. Dengan sedikit dorongan dari lengannya ke depan, moncong senjata api langsung melekat pada bahu perampok tersebut. Wajah perampok tersebut terlihat terkejut dan terpana sesaat karena kecepatan dari gerakan yang terjadi. Tangannya sendiri masih memegang senjata api, meski ikut digenggam oleh tangan pria itu juga.

“Syutt...Syutt....Syuttt...”

Senjata api itu mengeluarkan suara tembakan halus tiga kali dan punggung belakang perampok itu bergetar ke belakang beberapa kali terkena hentakan peluru. Hanya terdengar suara desahan tertahan dari mulut pria itu dan matanya yang menatap tidak percaya. Tubuhnya kemudian terjatuh di atas lantai kereta api masih dengan sebelah tangannya tergenggam oleh pria bertopi biru. Pria itu segera berdiri dari tempat duduknya dan menarik senjata api dari tangan perampok.

“Hei, perampok,” panggilnya pada perampok lain di sudut gerbong yang masih mengumpulkan bagiannya. Perampok yang dipanggil segera berbalik. Ia melihat seorang pria yang berdiri dengan senjata api mengarah padanya dan temannya yang terjatuh di lorong kereta api.

Detik berikutnya, ia segera mengangkat senjata api di tangannya dengan cepat. Namun, sebuah sengatan peluru panas segera menyengat jari tangannya dan membuatnya berteriak kesakitan. Senjata api ditangannya terlempar jatuh dari genggamannya dan mendarat di atas lantai kereta api. Tidak berhenti sampai di sana, sebuah tembakan mengenai senjata api itu dan membuatnya meluncur berputar ke sudut gerbong kereta api, memasuki bagian bawah kursi penumpang.

Perampok tersebut berteriak kesakitan. Ia menatap pada tangannya yang sudah berlumuran darah dan jari tengahnya sudah terkoyak hingga terlihat tulang putihnya. Jari telunjuknya kini tergantung pada sedikit daging yang tersisa. Sebuah rasa panas mendadak menyengat pahanya. Membuatnya terjatuh sambil berteriak kesakitan.

Semua penumpang di sana hanya dapat terdiam melihat hal yang berlangsung begitu cepat. Pria bertopi biru berjalan tiga langkah dan menghadap pada seorang penumpang, pria berumur lima puluhan. Ia mengacungkan senjata api pada dahi penumpang itu.

“Keluarkan senjata apimu dengan dua jari.”

“Aku... aku tidak mengerti...” kata pria tua itu terlihat ketakutan.

Pria bertopi biru menatapnya dan mengarahkan senjata api pada paha pria itu lalu menembaknya.

“Baiklah, baiklah!!!” teriak pria itu mengeluarkan sebuah senjata api yang terselip di belakang punggungnya sambil meringis kesakitan.

Ia segera menyambut senjata api tersebut dan membuangnya sejauh mungkin ke ujung gerbong kereta api.

“Pegang lututmu,” perintahnya.

Tanpa daya, pria setengah baya itu menurutinya.

Pria itu segera melayangkan tangannya yang memegang bagian bawah senjata api pada siku pria setengah baya dari arah berlawanan. Teriakan keras dari pria itu segera terdengar menyayat hati. Para penumpang wanita menutup mata ketakutan. Lengan pria tersebut dalam sekejap sudah menggantung, mengarah ke arah yang tidak semestinya. Tampak bagian sikunya telah patah atau terlepas dari sendi siku.

Jari-jari tangan pria bertopi biru segera menyentuh senjata api ditangannya dan dengan gerakan cepat, bagian-bagian senjata api tersebut berlepasan satu per satu dan jatuh berserakan ke atas lantai kereta api.

Selesai membuat senjata api itu menjadi rangkaian-rangkaian kecil, ia bergerak ke dekat pintu keluar kereta api. Melipat tangannya dan bersandar dengan tenang sambil melihat pemandangan di luar kereta api yang sedang bergerak. Para penumpang masih terdiam, hanya menyisakan suara erangan kesakitan dari ketiga perampok itu dan seorang pemuda berambut merah yang melawan tadi.

Mendadak, terdengar sebuah lagu My Heart Will Go On yang di bawakan Celine Dion dari dalam tas ransel perampok yang terjatuh di atas lantai kereta. Pemuda bertopi biru melihat sekeliling dan menatap pada seorang pria berbadan besar dengan wajah brewokan dan tubuh bertato yang terlihat mencoba menghindari tatapannya.

“Kupikir, itu bunyi telepon genggammu,” sahut pria itu ringan. “Sebaiknya kamu mengangkatnya.”

“Iya, iya...” jawab pria berbadan besar yang segera membungkuk dan berjalan ke arah tas ransel.

Ia buru-buru merogoh ke dalam tas tansel dan mengeluarkan sebuah telepon genggamnya yang sedang berbunyi. Pria itu kembali melayangkan pandangannya keluar dari kaca jendela pintu kereta api, terlihat tidak peduli. Para penumpang terlihat bergerak perlahan-lahan setengah ketakutan sambil mengoper tas ransel perampok itu di antara mereka dan mengeluarkan kembali dompet serta harta benda mereka.

Tepat saat kereta api berhenti dan pintu keluarnya terbuka, pria itu telah lenyap.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi PANTHER & DEA

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Kelahiran Kembali Pebisnis Wanita Terbaik di Kampus
7.9
Dahulu ia hidup menderita akibat dikhianati teman dan dihina kerabat hingga kehilangan keluarganya. Setelah tewas secara tragis di usia muda, ia mendadak terbangun di masa lalu, tepat dua belas tahun sebelum kehancurannya. Enggan mengulang nasib kelam, ia bangkit melawan takdir dengan kemampuan barunya. Meski tampak seperti siswi biasa yang penyendiri di sekolah, ia diam-diam membangun imperium bisnis raksasa demi membalas dendam dan meraih kejayaan.
Sampul Novel MENGGODA MANTAN ISTRI
9.1
Alan adalah sosok suami idaman, namun sikapnya yang terlalu ramah kepada semua orang menghancurkan hati Valeria hingga ia memilih bercerai dan pindah ke London. Saat kembali ke Indonesia demi menyelamatkan bisnis ayahnya yang terancam bangkrut, Valeria justru terjebak situasi pelik. Alan muncul menawarkan bantuan finansial, tetapi dengan syarat yang merendahkan: Valeria harus menjadi kekasih gelapnya. Akankah Valeria menerima tawaran sang mantan?
Sampul Novel Pengantin Yang Terjebak Dalam Dendam
9.4
Sephia terjerat dalam pernikahan paksa dengan pewaris kejam, Elandro Varela. Semua berawal saat Sephia harus bertanggung jawab merawat ibu Elandro pasca kecelakaan tragis. Namun, Elandro justru memanfaatkan ikatan ini untuk melampiaskan dendam pribadinya. Bagi Sephia, janji suci tersebut hanyalah hukuman dan penjara emas yang penuh kebencian. Di tengah tekanan perang dingin ini, mampukah Sephia bertahan, atau ia akan hancur oleh amarah Elandro yang tak berujung?
Sampul Novel RASA CINTA UNTUK OMKU
9.4
Nicky telah lama menyembunyikan kekaguman mendalam kepada majikan mudanya yang ia sapa dengan sebutan Om. Di tengah peliknya dinamika kehidupan sang pria, mampukah ia menemukan ruang untuk membalas perasaan tulus gadis itu? Meski sosok Nicky pernah muncul dalam karya sebelumnya, kisah romansa modern ini berdiri sendiri sepenuhnya. Ikuti perjalanan emosional mereka dalam menghadapi kerumitan takdir demi mencari kebahagiaan sejati yang dinantikan.
Sampul Novel Roh Jiwa Putri yang Teraniaya
8.3
Dua bulan pasca kematiannya, sebuah keluarga baru menyadari bahwa mereka meninggalkan putri mereka di hutan saat wisata. Alih-alih cemas, sang adik justru mengirim pesan ejekan agar dia mati saja demi menguasai warisan nenek, sementara ibunya menuntut kehadirannya di pesta keluarga dengan dingin. Mereka tidak tahu bahwa gadis itu tak pernah bisa pulang. Lewat pencarian intens, misteri tragis ini akhirnya tersingkap saat sisa tulang belulangnya ditemukan terkubur di pegunungan.
Sampul Novel Yes, I Do
9.4
Keenan dan Lilian membuktikan bahwa kekayaan tak menjamin kebahagiaan. Keduanya terjebak dalam bayang-bayang trauma masa lalu yang mendalam. Keenan sulit memercayai wanita, sementara Lilian berjuang menyembuhkan luka hatinya. Sebelum melangkah ke jenjang serius, mereka sepakat untuk menuntaskan beban emosional masing-masing. Meski memaafkan itu sulit, Lilian bertekad mencoba demi cinta. Akankah proses penyembuhan ini membawa mereka pada kebahagiaan sejati?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan