Sampul Novel Yes, I Do

Yes, I Do

9.4 / 10.0
Dalam novel modern Yes, I Do, Keenan dan Lilian harus menghadapi trauma masa lalu demi masa depan. Romance novel ini mengisahkan perjuangan mereka berdamai dengan luka lama untuk meraih kebahagiaan. Temukan kisah inspiratif mereka di webnovel yang menyentuh hati ini.
Ringkasan Yes, I Do
Keenan dan Lilian membuktikan bahwa kekayaan tak menjamin kebahagiaan. Keduanya terjebak dalam bayang-bayang trauma masa lalu yang mendalam. Keenan sulit memercayai wanita, sementara Lilian berjuang menyembuhkan luka hatinya. Sebelum melangkah ke jenjang serius, mereka sepakat untuk menuntaskan beban emosional masing-masing. Meski memaafkan itu sulit, Lilian bertekad mencoba demi cinta. Akankah proses penyembuhan ini membawa mereka pada kebahagiaan sejati?
Baca Selengkapnya

Yes, I Do Bab 1

Lilian POV

“Sayang, kamu masih belum sehat lho. Kita langsung pulang ke apartment saja ya?” ajak Finn.

Dari raut wajahnya, aku bisa melihat kalau Finn sangat khawatir dan aku bisa memahaminya. 

Pasalnya, aku baru saja sembuh dari sakit demam dan pusing selama dua hari kemarin akibat datang bulan. Berhubung hari ini aku sudah merasa jauh lebih baik, aku memaksakan diri untuk ke kampus walaupun masih terasa lemas.

Maklum saja, aku memang paling tidak suka berdiam diri di apartment. Aku lebih baik duduk di dalam kelas dan mendengarkan dosen mengajar, daripada harus belajar sendirian di dalam kamar.

Oh, iya, perkenalkan, namaku Lilian. Usiaku dua puluh dua tahun. Saat ini aku sedang kuliah desain di Singapura. Sedangkan keluarga besar aku tinggal di Jakarta. Untuk sementara, hanya itu dulu perkenalanku, karena aku harus merayu Finn agar dia mau mengantarku ke toko baju.

“Tolonglah mampir ke toko baju yang ada di jalan Orchard, sebentar saja. Aku ingin membeli sesuatu,” pintaku sedikit memelas.

“Kamu ingin membeli apa? Masih bisa ditunda, ‘kan?” tanya Finn masih berusaha membujukku, sambil tetap fokus menyetir.

“Sebentarrr saja. Janji ... hanya sebentar.” Aku mengangkat kedua tanganku sambil menunjukkan dua jari telunjuk dan jari tengah yang membentuk huruf V, sebagai tanda kalau aku benar-benar janji tidak akan berlama-lama di toko baju favoritku itu.

“Bagaimana kalau besok saja? Aku janji akan menemanimu seharian belanja,” tawar Finn, belum menyerah.

Dengan cepat aku menggeleng. “Tidak mau. Aku bukan ingin belanja kok. Aku hanya ingin membeli satu pakaian saja. Ya ya? Pleaseee ....”

Finn menoleh ke arahku sekilas lalu tangan kirinya membelai kepalaku dengan sayang sambil tetap fokus menyetir.

“Baiklah. Kalau begitu aku tidak perlu ikut turun, ‘kan?” Finn pasti sedang menguji perkataanku. Biasanya, kalau benar-benar hanya sebentar, aku memang lebih suka jalan sendiri, agar aku bisa bergerak dengan leluasa. Sedangkan Finn hanya perlu menunggu di mobil saja.

“Iya, tidak perlu,” jawabku bersemangat.

Finn tersenyum dan mengarahkan mobilnya ke toko baju yang aku maksudkan.

Setibanya di depan toko, Finn memarkirkan kendaraannya di tepi jalan, di dekat trotoar, dan membiarkan aku turun sendiri.

Sembari menungguku, Finn biasanya akan memeriksa pesan yang sudah menumpuk di ponselnya.

Finn itu kekasihku. Kami pacaran sejak dua tahun belakangan. Beda usia kami empat tahun, dia lebih tua dariku. Di usianya yang terbilang masih muda itu, dia sudah memiliki bisnis sendiri dan sebenarnya dia itu orang yang sangat sibuk.

Meskipun demikian, rasa cintanya padaku, membuat Finn selalu meluangkan waktu untuk mengantar dan menjemputku ke kampus, atau ke mana pun aku ingin pergi.

Seperti hari ini, di tengah-tengah kesibukannya, Finn masih menjemputku di kampus. Apalagi kondisiku yang baru sembuh begini, tentu membuat Finn tidak akan mengijinkanku pergi sendirian.

Ah, sungguh beruntung diriku ini, bisa memiliki seorang kekasih seperti Finn. Di dunia ini, aku merasa cukup memiliki seorang Finn. Ya, sama seperti Finn, aku pun sangat mencintainya.

*****

Di dalam toko ... Dengan sedikit terburu-buru, aku melangkah menuju ke bagian pakaian pria.

Aku terus fokus untuk melihat-lihat, dan dengan gerakan tangan yang sangat cepat aku menggeser gantungan baju agar bisa melihat model pakaian dengan lebih jelas.

Hingg beberapa saat kemudian, tanpa sengaja, tiba-tiba aku menabrak seseorang.

Buk!

Dengan cepat aku menjaga keseimbangan tubuhku lalu menoleh ke arah laki-laki yang kebetulan berdiri di belakangku itu sambil menundukkan kepala.

“Maaf ... maaf ... saya sedang terburu-buru dan tidak sengaja menabrak Anda.” ucapku dalam bahasa Inggris.

“Iya, tidak apa-apa,” jawab laki-laki itu ramah, juga dalam bahasa Inggris.

Aku pun mengangguk lalu kembali melihat-lihat hingga tanganku dan tangan laki-laki itu meraih satu kemeja yang sama.

Merasa tidak enak, aku mempersilakan laki-laki itu melihatnya terlebih dahulu. Namun, aku masih terus memerhatikan kemeja itu. Merasa suka dengan modelnya, aku mendekati seorang pelayan toko yang kebetulan sedang merapikan pakaian di dekat posisi aku berdiri.

“Aku menyukai kemeja yang dipegang oleh laki-laki itu. Apa kamu punya yang ukuran L?” tanyaku, tentu saja dengan menggunakan bahasa Inggris.

“Mohon tunggu sebentar, saya akan cek stock barang terlebih dahulu,” jawab petugas toko itu sambil memeriksa stock barang melalui alat yang dipegangnya.

Sedangkan aku menunggu di sampingnya dengan sabar.

“Hm, stock-nya hanya tinggal satu saja, yang dipegang oleh laki-laki itu,” tunjuk petugas toko itu.

“Ah, benarkah?” gumamku agak kecewa.

“Mohon maaf,” ucap petugas toko itu.

Aku hanya mengangguk dan membiarkan petugas toko itu melanjutkan pekerjaannya.

Laki-laki yang tadi tidak sengaja aku tabrak itu sepertinya mendengar pembicaraan antara aku dan petugas toko karena tiba-tiba saja dia menoleh dan memberikan kemeja tersebut padaku.

“Ini, silakan kalau kamu memang berniat ingin membelinya,” ujar laki-laki itu.

“Ah, tidak tidak ... kamu sudah memegangnya terlebih dahulu. Aku akan memilih kemeja yang lain,” jawabku sambil tersenyum canggung.

Aku masih merasa tidak enak karena baru saja aku sudah menabrak laki-laki itu dan aku tidak ingin merebut kemeja yang menurutku akan sangat cocok kalau dikenakan oleh Finn.

“Sudah, tidak apa-apa ... ini, ambillah!” Laki-laki itu berkata dengan nada bicara yang menurutku sedikit memaksa.

“Kamu benar-benar tidak mau?” tanyaku sedikit ragu.

“Tidak,” jawab laki-laki itu.

“Baik, kalau begitu aku yang akan membelinya. Terima kasih banyak,” ujarku tak ingin berlama-lama.

Entah hanya perasaanku saja atau memang benar, aku merasa laki-laki itu terus melihat ke arah kemeja pria yang aku bawa ke kasir. Apa dia sudah menyesal memberikan kemeja ini padaku?

Setelah membayar, aku buru-buru melangkah kembali ke mobil. Namun, sebelum itu, aku menyempatkan diri untuk menoleh ke arah laki-laki tadi dan menganggukkan kepala sekadar untuk pamit.

Tepat ketika aku sudah meninggalkan toko dan kurang beberapa langkah lagi akan tiba di mobil, tiba-tiba aku mendengar suara yang teramat keras hingga aku berhenti berjalan.

BRAK!

TIN! TINNNNNN!

Mataku terbelalak ketika melihat mobil milik Finn bergeser dengan kasar sampai mengenai pembatas trotoar, diikuti suara klakson mobil yang saling bersahutan.

Saat ini tubuhku mendadak lemas, jantungku berdetak sangat cepat, napasku terasa sesak, dan kakiku bahkan terasa sangat sulit untuk digerakkan. Pikiranku benar-benar kosong. Antara percaya dan tidak percaya melihat mobil sport warna hitam milik Finn ditabrak dari samping oleh sebuah mobil atau sesuatu yang ukurannya jauh lebih besar, hingga terpental sebegitunya.

Tanpa sadar, aku terduduk di trotoar dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata, tidak memedulikan suara orang di sekitar yang sibuk bertanya-tanya.

“Finn,” gumamku dengan bibir yang gemetar.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Yes, I Do

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel ASI untuk Pak Guru
8.5
Jenara Atmisly adalah siswi berprestasi yang mengidap galaktorea, sebuah kondisi hormon yang membuatnya memproduksi ASI meski belum pernah hamil. Suatu hari, rasa sakit akibat penumpukan cairan itu tak tertahankan hingga ia terpaksa meminta bantuan gurunya di sekolah. Kejadian tak terduga di ruang guru tersebut lantas mengubah segalanya. Berawal dari rahasia medis yang memalukan, hubungan mereka berkembang menjadi jalinan asmara yang rumit dan penuh risiko.
Sampul Novel CHRONOPHILE
8.2
Menikahi pria yang pernah ditolak di masa lalu membawa dilema besar dalam sebuah perjodohan. Apakah dia bertahan karena cinta yang tersisa, atau justru merencanakan balas dendam atas luka lama? Sebagai pasutri, mereka dipaksa menjalani komitmen di tengah bayang-bayang masa lalu yang kembali mengusik ketenangan. Di dunia Chronophile, di mana waktu sangat dihargai, rahasia dan konflik mulai menguji kesetiaan mereka dalam mempertahankan rumah tangga ini.
Sampul Novel DOSEN ITU SUAMIKU
9.5
Kehidupan Bunga berubah drastis saat ia mengetahui fakta mengejutkan di kampusnya. Ezza, pria yang dijodohkan orang tuanya dan kini telah resmi menjadi suaminya, tiba-tiba muncul sebagai dosen baru di sana. Kehadiran Ezza yang tak terduga di lingkungan akademisnya memicu tanda tanya besar bagi Bunga. Ia pun mulai meragukan alasan di balik keputusan suaminya tersebut. Apakah Ezza memiliki motif tersembunyi atau ini hanyalah sebuah kebetulan belaka?
Sampul Novel Godaan Liar Sang Ustazah
8.5
Kisah romansa dewasa khusus pembaca 21 tahun ke atas ini mengeksplorasi sisi tersembunyi kehidupan yang jarang terungkap. Di balik topeng kesucian, tersimpan luka, dilema, dan kerinduan yang kompleks. Melalui narasi yang realistis dan eksplisit, pembaca diajak merefleksikan jati diri di tengah kegelapan demi menemukan titik cahaya. Sebuah hiburan penuh makna tentang pencarian makna hidup dan cinta yang tidak selamanya berjalan lurus, memberikan perspektif baru bagi pembacanya.
Sampul Novel Jadi Wanita
9.1
Sota adalah pemuda dua puluh tahun yang sangat malas dan pengangguran. Meski cerdas dalam kelicikan, ia hanya menghabiskan waktu dengan gawainya. Hal ini memicu kekhawatiran mendalam bagi ibunya, Artisa. Sebagai wanita pekerja keras yang juga memiliki sisi licik, Artisa bertekad mengubah tabiat buruk putranya secara total. Ia menempuh metode ekstrem dengan mentransformasi fisik Sota. Berhasilkah rencana Artisa mengubah jati diri Sota melalui perubahan tubuh tersebut?
Sampul Novel Janda Bertemu Dengan Duda
8.1
Pasca kehilangan Rizal, Sonia pindah ke apartemen kecil bersama dua anaknya, Alif dan Hana, demi lari dari duka. Di sana, ia bertemu Yudha, seorang duda karismatik yang membesarkan putrinya, Mira, sendirian setelah tragedi serupa. Meski sama-sama terluka, pertemuan di lorong apartemen itu memicu percikan emosi. Kini, mereka harus memilih: tetap terbelenggu kenangan pahit masa lalu atau meruntuhkan dinding ketakutan demi menyambut cinta baru yang hadir di depan mata.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan