Sampul Novel Benci dan Cinta Tak Bisa Dipisahkan

Benci dan Cinta Tak Bisa Dipisahkan

9.3 / 10.0
Dalam novel modern Benci dan Cinta Tak Bisa Dipisahkan, Liora Avanira terjebak pernikahan paksa dengan Komandan Rayan demi misi rahasia. Di tengah ancaman masa lalu, kisah romance novel ini mengungkap obsesi dan bahaya yang mengintai nyawa. Baca selengkapnya di web novel penuh aksi ini.
Ringkasan Benci dan Cinta Tak Bisa Dipisahkan
Liora Avanira, seorang anak angkat, terpaksa menggantikan kakaknya dalam perjodohan dengan Komandan Rayan Elvard yang dingin. Rayan memilih Liora bukan karena cinta, melainkan demi misi rahasia. Namun, pernikahan atas perintah atasan ini berubah menjadi obsesi berbahaya saat Rayan terpikat pada sikap dingin Liora. Di tengah kebencian dan ancaman musuh masa lalu yang mengincar nyawanya, Liora harus bergantung pada pria yang menjadi sumber penderitaannya tersebut.
Baca Selengkapnya

Benci dan Cinta Tak Bisa Dipisahkan Bab 1

Langit sore di distrik utara Elvard tampak seperti lukisan muram. Awan kelabu menggantung berat, seakan menahan hujan yang enggan turun. Di balik jendela besar rumah keluarga Avanira, Liora berdiri membelakangi ruangan, menatap ke arah jalan berbatu yang perlahan basah oleh embun. Jemarinya memegang secarik surat, kertas itu bergetar halus-antara marah, bingung, dan pasrah.

Surat itu dari kekasihnya, Ren, pria yang selama tiga tahun terakhir menjadi pelabuhan hatinya.

"Maafkan aku, Liora. Aku tak bisa melanjutkan hubungan ini. Aku akan bertunangan dengan putri keluarga Elreth bulan depan."

Kata-kata itu tertulis rapi, tapi menusuk seperti belati.

Ren, yang dulu bersumpah akan menikahinya meski tanpa restu siapa pun, kini meninggalkannya hanya karena perbedaan status. Liora bukan anak kandung keluarga Avanira, dan semua orang tahu itu. Dia hanyalah anak yang diangkat saat masih bayi oleh Lady Mirena Avanira, istri seorang bangsawan kecil yang tak punya keturunan.

Cinta yang dulu terasa murni kini berubah menjadi ejekan atas asal-usulnya.

Liora meremas surat itu, matanya memerah. "Jadi ini akhirnya, ya?" bisiknya lirih.

Ketika ia berbalik, kakaknya-Elena Avanira-berdiri di depan pintu. Perempuan itu cantik, berpenampilan lembut, tapi matanya menyimpan kegelisahan.

"Liora... aku dengar soal Ren," katanya pelan. "Aku tahu kau pasti kecewa, tapi-"

"Tidak apa-apa," potong Liora dengan suara datar. "Aku sudah terbiasa ditinggalkan."

Elena menunduk. "Jangan berkata begitu."

Liora tersenyum pahit. "Kau tahu sendiri, kan? Aku bukan darah Avanira. Dunia ini tidak akan pernah memihak orang sepertiku."

Elena hendak membantah, tapi suara keras dari ruang utama membuat mereka berdua menoleh. Suara ayah angkat mereka, Lord Calden Avanira, menggema.

"Elena! Liora! Cepat ke ruang tamu!"

Mereka saling berpandangan, lalu berjalan ke bawah. Di sana, di kursi besar di tengah ruangan, duduk seorang pria berpakaian seragam militer abu-abu tua dengan lambang Sayap Hitam di dadanya. Wajahnya tegas, garis rahangnya tajam, dan matanya... dingin seperti batu.

"Komandan Rayan Elvard," kata Lord Calden dengan nada campuran hormat dan gugup. "Kau tahu siapa beliau, kan?"

Tentu saja Liora tahu. Semua orang tahu siapa Rayan Elvard-komandan muda yang memenangkan perang di perbatasan timur, keturunan keluarga Elvard yang terkenal kejam dan berdarah bangsawan tinggi. Pria itu pernah menolak tiga lamaran pernikahan dari keluarga besar.

Dan sekarang dia duduk di ruang tamu mereka.

Rayan menatap Elena. "Kau Elena Avanira?"

Elena mengangguk sopan. "Ya, Komandan."

"Baik," jawabnya datar. "Aku datang untuk menjawab lamaran keluarga Avanira yang diajukan dua bulan lalu. Tapi aku tidak bisa menerimanya."

Lord Calden terlihat panik. "T-tentu saja kami mengerti, Komandan. Hanya saja... apakah ada alasan-"

"Tidak ada alasan lain kecuali aku sudah menemukan wanita lain yang lebih sesuai."

Elena menegang. "Wanita lain?"

Rayan menoleh, dan untuk pertama kalinya matanya jatuh pada Liora yang berdiri di sisi ruangan, sedikit berjarak.

Tatapan itu menusuk seperti pisau.

Liora menelan ludah, berusaha tetap tenang. "Apakah saya boleh tahu siapa wanita itu, Komandan?" tanyanya, meski nadanya gemetar.

Rayan berdiri. Tubuhnya tinggi, tegap, dan aura yang memancar darinya membuat udara seolah menegang. Ia berjalan perlahan mendekati Liora, berhenti hanya beberapa langkah di depannya.

"Namanya Liora Avanira," jawabnya tenang.

Ruangan itu mendadak senyap. Bahkan detak jam di dinding terasa terlalu keras. Elena menatap adiknya dengan terkejut, sementara Lord Calden kehilangan kata-kata.

"Aku?" Liora nyaris berbisik. "Komandan pasti keliru. Aku bukan siapa-siapa. Aku-"

"Kau yang kupilih," potong Rayan, matanya tetap menatapnya tajam. "Dan pilihanku tidak pernah berubah."

Malam itu, setelah kepergian Rayan, rumah Avanira dipenuhi perdebatan. Lady Mirena menangis, Elena menolak, dan Lord Calden sibuk menimbang konsekuensi. Tapi Liora hanya diam di kamarnya, menatap langit-langit dengan pikiran kacau.

Mengapa dia memilihku?

Apa karena aku anak angkat yang mudah dikorbankan?

Namun keesokan harinya, perintah resmi datang langsung dari Laksamana Tertinggi Kerajaan. Surat bersegel itu menyatakan bahwa Komandan Rayan Elvard akan menikahi Liora Avanira dalam waktu tiga minggu atas dasar "perintah kehormatan kerajaan."

Semuanya terasa seperti jebakan yang tak bisa dihindari.

Hari pertunangan tiba lebih cepat dari yang Liora harapkan. Istana Elvard penuh dengan tamu undangan, bangsawan, dan pejabat militer. Ia mengenakan gaun berwarna perak pucat-pilihan Lady Mirena-sementara di sisi lain ruangan, Rayan berdiri tegak dengan seragam hitam dan jubah panjang.

Tatapannya mengawasi setiap gerak Liora.

Saat upacara dimulai, Liora merasakan jemarinya bergetar. Rayan menggenggam tangannya, keras tapi hangat.

"Jangan takut," katanya pelan, nyaris seperti bisikan.

"Aku tidak takut," jawab Liora, meski jantungnya berdetak kencang.

"Bagus. Karena kau tidak akan punya kesempatan untuk lari setelah ini."

Kata-kata itu terdengar seperti ancaman, tapi di mata Rayan ada sesuatu-bukan cinta, bukan kelembutan-melainkan sesuatu yang lebih dalam, lebih berbahaya: obsesi.

Beberapa hari setelah pertunangan, Liora mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Ia mendengar bisik-bisik di antara para pelayan istana Elvard. Tentang misi rahasia yang hanya diketahui oleh kalangan militer tertentu. Tentang alasan mengapa Komandan Rayan, yang terkenal membenci pernikahan, tiba-tiba memilih seorang wanita biasa sepertinya.

Malam itu, saat ia berjalan di taman belakang istana, Rayan datang menghampirinya tanpa suara.

"Kau tidak tidur?"

"Aku tidak bisa," jawab Liora, tanpa menoleh. "Banyak hal yang kupikirkan."

"Seperti alasan kenapa aku memilihmu?" tanya Rayan.

Liora menatapnya. "Apakah aku boleh tahu alasannya?"

"Tidak sekarang."

"Jadi memang ada sesuatu yang kau sembunyikan."

Rayan menatapnya lama, lalu mendekat. "Setiap orang menyembunyikan sesuatu, Liora. Tapi aku tidak akan membiarkanmu menjadi korban dari rahasiaku."

Ia mengangkat tangan, menyentuh dagu Liora perlahan.

"Aku tahu kau membenciku," katanya lirih. "Tapi aku berjanji, suatu hari nanti, kau akan mengerti kenapa aku melakukan ini."

"Dan jika aku tidak pernah mengerti?"

Rayan tersenyum tipis. "Maka aku akan membuatmu mengerti... dengan caraku."

Malam itu, Liora bermimpi. Dalam mimpinya, ia melihat bayangan hitam di koridor istana, seseorang dengan jubah panjang dan wajah tertutup topeng logam. Orang itu menatapnya sambil berbisik, "Kau seharusnya tidak ada di sini, Liora Avanira. Seharusnya kau sudah mati tiga belas tahun lalu."

Ia terbangun dengan napas tersengal, keringat dingin membasahi tengkuk.

Apakah itu hanya mimpi? Atau... bagian dari masa lalunya yang hilang?

Seminggu menjelang pernikahan, Liora mendengar kabar bahwa seorang perwira kerajaan ditemukan tewas di pelabuhan utara. Di saku jasnya ditemukan dokumen bersegel Elvard-dokumen yang seharusnya hanya bisa diakses oleh Rayan dan Laksamana Tertinggi.

Rayan tidak menjelaskan apa pun ketika Liora menanyakannya. Ia hanya berkata,

"Jangan percaya siapa pun di istana ini, bahkan aku."

Kata-kata itu membuat bulu kuduk Liora berdiri.

"Kenapa kau berkata begitu?"

"Karena ada yang ingin kau mati sebelum pernikahan berlangsung."

Hari pernikahan datang dengan langit kelam. Hujan turun perlahan, seakan ikut merestui tragedi yang akan terjadi. Liora mengenakan gaun putih sederhana, tapi wajahnya pucat. Di altar batu di aula besar, Rayan berdiri menunggunya.

Upacara berlangsung cepat. Saat kalung lambang keluarga Elvard dikalungkan di lehernya, Liora menatap mata Rayan-dingin, tapi menyimpan sesuatu yang aneh.

"Aku tidak tahu kenapa aku di sini," bisiknya.

"Karena aku yang memintamu," jawab Rayan datar.

"Dan apa yang akan kau lakukan setelah ini?"

"Aku akan melindungimu," katanya singkat. "Meskipun kau membenciku."

Ketika ciuman ritual dilakukan, sorak para tamu menggema. Tapi bagi Liora, dunia terasa menutup. Ia kini terikat dengan pria yang bahkan tidak dikenalnya.

Dan di antara tepuk tangan itu, jauh di balik balkon istana, seseorang menatapnya dengan teropong panjang-seseorang yang tersenyum dingin sambil berbisik,

"Permainan baru saja dimulai, Liora Avanira."

Malam pertama mereka bukan malam penuh kasih seperti yang diharapkan banyak orang. Rayan hanya duduk di tepi ranjang, membuka sarung tangannya perlahan.

"Tidurlah," katanya singkat.

Liora berdiri di dekat jendela. "Kau menikahiku tanpa cinta. Untuk apa semua ini?"

Rayan menatapnya lama. "Untuk sebuah kebenaran."

"Kebenaran apa?"

"Kau akan tahu nanti."

Ia berdiri, berjalan mendekat. Tatapan matanya menusuk, tapi bukan dengan nafsu-melainkan dengan semacam kepemilikan yang tak bisa dijelaskan. Ia mengangkat tangan, menyentuh wajah Liora lembut, lalu berbisik,

"Mulai malam ini, dunia akan tahu bahwa Liora Avanira adalah milik Rayan Elvard. Dan siapa pun yang berani menyentuhmu... akan mati."

Liora menatapnya tak percaya. "Kau gila."

Rayan tersenyum samar. "Mungkin."

Beberapa hari setelah pernikahan, Liora mulai memerhatikan perubahan di sekitarnya. Ia selalu merasa diikuti. Surat-surat yang dikirim ke rumah keluarganya tak pernah sampai. Dan setiap kali ia mencoba keluar istana, Rayan selalu muncul entah dari mana untuk menghentikannya.

"Apakah aku tahananmu?" tanyanya suatu malam dengan nada dingin.

"Tidak," jawab Rayan tanpa menoleh. "Kau hanya berada di tempat yang aman."

"Dari siapa?!"

"Dari orang-orang yang ingin melihatmu mati."

Liora menatapnya tajam. "Dan kau yakin bukan salah satunya?"

Rayan menoleh, senyumnya tipis tapi matanya berkilat. "Jika aku ingin kau mati, Liora, aku tidak akan repot melindungimu."

Kata-kata itu menggantung lama di udara.

Di luar, petir menyambar. Dan Liora tahu-ini baru awal dari sesuatu yang jauh lebih gelap daripada sekadar pernikahan tanpa cinta.

Karena jauh di dalam istana, di balik pintu rahasia yang dijaga ketat, tersimpan satu berkas tua bertuliskan:

"Proyek Liora – Subjek 07, Operasi Sayap Hitam."

Dan di bawahnya, tanda tangan jelas tertera-

Rayan Elvard.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Benci dan Cinta Tak Bisa Dipisahkan

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Balas Dendam Putri Konglomerat
8.2
Aluna hancur saat memergoki suaminya, Dian, menemani Ratnasari di rumah sakit ketika ia sedang berjuang untuk program bayi tabung. Pengkhianatan memuncak saat Aluna dikurung dan dipaksa menggugurkan kandungannya akibat sabotase obat. Setelah kehilangan bayinya dan diusir dari rumah, identitas asli Aluna terungkap sebagai putri konglomerat media yang hilang. Kini, sang pewaris telah kembali untuk menuntut balas pada semua orang yang telah menghancurkan hidupnya.
Sampul Novel Investigar Contigo : Bos Besar Mafia Russia yang Terbunuh
9.6
Detektif Olivia Lyora Kim bertugas memecahkan berbagai kasus kriminal di kawasan industri Seoul. Dalam menjalankan misinya, ia didampingi oleh rekan kerjanya, Aiden Junior Lee. Namun, setelah setahun bekerja sebagai mitra profesional, Olivia menyadari perubahan sikap Aiden yang tiba-tiba menjadi sangat manis. Perilaku tidak biasa ini memicu tanda tanya besar di hati Olivia, apakah sang partner mulai menyimpan perasaan cinta padanya di tengah penyelidikan?
Sampul Novel Kalau Cinta, Pasti Sayang
8.3
Lima tahun pernikahan tanpa cinta membuat sang istri menderita karena diabaikan suaminya. Begitu sang istri meninggal, sang suami justru segera menemui cinta pertamanya. Ketika istrinya menghilang, dia hanya mencemooh dan menganggapnya sebagai taktik mencari perhatian. Demi membuktikan kebohongan tersebut, ia berniat memastikan kabar kematian istrinya secara langsung. Namun, dia sama sekali tidak menyadari bahwa wanita yang diabaikannya itu memang telah tiada sejak beberapa hari yang lalu.
Sampul Novel Keluarga Sewaan
8.0
Prima Jayashree, CEO muda Jayashree Company, menghadapi tekanan besar untuk segera menikah demi kelangsungan takhta perusahaan. Dalam keputusasaan, ia berlibur ke Tokyo dan menemukan jasa sewa keluarga. Prima memutuskan menyewa seorang istri serta anak untuk menemaninya. Namun, saat masa sewa berakhir, muncul ide nekat untuk membawa mereka ke Indonesia. Mampukah Prima mengubah sandiwara ini menjadi kenyataan tanpa terbongkar oleh sang ayah?
Sampul Novel Mengambil Alih Identitas Kakakku
9.1
Kematian tragis sang kakak kembar di usia delapan belas tahun meninggalkan luka mendalam sekaligus dendam membara. Setelah dinodai di hotel tersembunyi hingga tewas, reputasinya dihancurkan oleh Ginny, sahabat yang berkhianat dengan menyebarkan foto-foto kejadian tersebut. Tidak tinggal diam, sang adik mengambil alih identitasnya dan melakukan aksi pembalasan sadis dengan merusak wajah Ginny. Di tengah genangan darah, ia bersumpah bahwa siapa pun yang menyakiti kakaknya tidak akan pernah lolos dari hukuman.
Sampul Novel  Sesudah menikah
9.3
Kehidupan Rebecca tampak sempurna bersama suami tercinta, Elvis, dan putri mereka. Meski bergelimang harta, kecurigaan muncul saat ia melihat rekan kerja Elvis yang penuh luka. Kebenaran pahit terungkap setelah Elvis kehilangan pekerjaan dan terlilit utang besar: ia adalah anggota mafia narkoba. Kini, nyawa mereka terancam karena barang dagangan yang hilang. Rebecca terjebak dalam ketakutan hebat, memikirkan nasib putri kecilnya di tengah kejaran maut para kriminal.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan