
Dia Menjadi Gila Setelah Mengurungku di Gudang Pendingin
Bab 2
Aku menatap William mengantar Nelly ke kamar tamu dengan dingin. Pada saat Nelly hendak masuk ke kamar, petir tiba-tiba menyambar. Nelly langsung melemparkan diri ke pelukan William.
Sekujur tubuh William langsung menegang. Namun, Nelly tetap memeluknya dan berkata, “Wil, aku takut. Kamu boleh temani aku malam ini?”
William menepuk-nepuk punggungnya dan menjawab, “Oke.”
Pada saat ini, aku merasa diriku sangat bodoh. Aku juga takut petir. Ketika aku masih tinggal sendiri, pernah ada suatu malam yang hujannya deras dan petirnya sangat mengerikan. Kebetulan, listrik di rumah juga padam pada malam itu. Aku sangat ketakutan dan hampir menangis.
Oleh karena itu, aku pun menelepon William dengan harapan dia bisa menghiburku. Namun, apa yang dikatakannya?
“Takut petir? Kamu sudah umur berapa? Mandy, jangan pakai cara seperti ini untuk dapatkan perhatianku. Kamu sudah dewasa. Mandiri dikit dong!”
Setelah melontarkan ucapan itu, dia langsung memutuskan sambungan telepon. Malam itu, aku hanya bisa bersembunyi dalam selimut dan mengandalkan senter ponselku. Sampai pagi, aku baru tertidur.
Setelah dipikir sekarang, aku sangat rendah diri. William jelas-jelas tidak peduli. Aku dan dia seolah-olah terpisah oleh sebuah tembok.
Aku pun tersenyum getir. Meskipun sudah mati, aku masih merasa sangat takut pada petir. Aku pun memeluk diriku sendiri dengan gemetar. Awalnya, aku berniat untuk pergi. Namun, entah kenapa aku tidak bisa pergi.
Aku hanya bisa melihat William yang memeluk Nelly sambil menghiburnya. Sementara itu, Nelly yang meringkuk dalam pelukan William terlihat sangat bangga.
Aku pun menghela napas panjang. Bagi William, Nelly adalah orang yang tidak dapat dilupakannya, sedangkan aku bukanlah siapa-siapa.
Aku menggeleng dan melirik keluar dengan takut. Untungnya, situasi seperti ini tidak berlangsung lama. Satu jam kemudian, petirnya akhirnya berhenti dan William pun meninggalkan kamar tamu.
Nelly menatap punggung William sambil tersenyum bangga. Kemudian, dia bergumam, “Wil, kamu itu milikku. Nggak ada yang bisa merebutmu dariku!”
Setelah mendengar ucapannya, aku merasa agak terkejut. Ternyata, dia masih menginginkan William sampai sekarang. Jika begitu, kenapa waktu itu dia memilih untuk pergi? William juga sama. Jika dia masih tidak bisa melupakan Nelly, kenapa dia menikahiku?
Setelah kembali ke kamar, sikap William tiba-tiba berubah dari biasanya. Dia menatap fotoku dari ponselnya sambil berkata, “Mandy, aku harap kamu bisa belajar dari kesalahan kali ini. Kalau kamu tunduk dan ngaku salah, aku akan mengeluarkanmu dari sana!”
Aku menatap wajah William sambil tersenyum sinis. Tunduk? Mengaku salah? Apa salahku? Bukan aku yang mengunci Mandy dalam kantor. Namun, William sama sekali tidak mau mendengar penjelasanku. Hanya karena Nelly mengatakan dia tidak menyalahkanku, William langsung yakin aku yang mengunci Nelly.
Dia sudah mengurungku di gudang pendingin dan menyebabkan aku mati. Sekarang, dia masih ingin aku mengaku salah? Konyol sekali.
William itu orang yang pintar. Bagaimanapun juga, orang yang mampu menjadi presdir tidak mungkin bodoh. Akan tetapi, dalam setiap masalah yang berkaitan dengan Nelly, dia tiba-tiba menjadi seperti orang buta dan tuli.
Keesokan paginya, penjaga gudang pendingin merasa ada yang tidak beres. Dia pun melapor dengan ketakutan, “Pak William, bagaimana kalau kamu biarkan Nyonya keluar? Aku nggak dengar suara apa pun dari dalam gudang pendingin. Semangkuk air itu seharusnya nggak cukup diminum sampai 5 hari!”
William ragu sejenak, lalu menjawab dengan dingin, “Tanpa makan dan minum, orang juga bisa bertahan 10 hari. Siapa suruh dia begitu keras kepala! Aku mau tahu dia bisa bertahan sampai kapan!”
“Ta ... tapi, kami nggak dengar suara apa-apa dari dalam. Kami agak khawatir Nyonya ....”
“Nggak usah khawatir! Mandy sangat jago sandiwara!”
Anda Mungkin Juga Suka





