
Dia Menjadi Gila Setelah Mengurungku di Gudang Pendingin
Bab 3
Ucapan itu setara dengan menjatuhkan hukuman mati padaku. Jadi, penjaga pintu tidak berani lanjut berbicara.
Pada saat ini, Nelly berjalan mendekat dan berkata sambil tersenyum, “Wil, sudahlah. Kamu sudah kurung dia cukup lama. Lagian, aku juga nggak kenapa-napa.”
“Nggak bisa! Dia sudah membuatmu terkunci di dalam kantor begitu lama. Dia seharusnya dihukum!”
Nelly terlihat gembira, tetapi malah berkata, “Wil, apa ini nggak berlebihan? Gimanapun, dia itu istrimu. Dia .... Sebenarnya, aku juga yang salah. Aku selalu repotin kamu, makanya dia baru cemburu. Lepaskanlah dia!”
Ucapan Nelly terdengar seperti sedang membelaku, tetapi sebenarnya sedang menuduhku. Namun, William selalu terjebak oleh triknya ini.
“Nelly, hatimu terlalu lembut. Sudahlah, demi kamu, aku akan berikan dia sebuah kesempatan!”
Ekspresi Nelly langsung berubah. Dia tidak menyangka William akan berkata begitu.
“Ada apa?” Menyadari ekspresi Nelly yang aneh, William bertanya, “Kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa. Hanya saja, dia sudah dikurung cukup lama. Sebaiknya kita panggilkan saja dokter untuk periksa dia.”
Apa mungkin Nelly begitu baik hati? Aku sangat curiga. Namun, yang dikatakannya tidak salah. Dokter bisa memastikan aku sudah tewas. Dengan begitu, semua orang bisa menghindari kerepotan yang tidak diperlukan.
‘William, aku penasaran banget gimana reaksimu nanti setelah tahu aku sudah mati.’
William menarik napas dalam-dalam dan menggenggam tangan Nelly. “Andaikan dia sepengertian kamu.”
“Wil, dia itu tetap istrimu.”
Saat melihat ekspresi rumit William, aku pun tersenyum sinis. Aku tidak pernah berpikir untuk bersaing dengan Nelly. Istri? Sebutan itu terdengar sangat ironis.
Meskipun tidak ada kejadian kali ini, aku memang sudah berencana untuk bercerai dengan William. Kesabaranku sudah habis. Hanya saja, aku tidak memiliki kesempatan untuk melakukannya.
Aku tanpa sadar menutupi perutku. Hatiku terasa sangat sakit.
Pada saat ini, ekspresi William berubah menjadi muram. Dia berkata dengan tegas, “Kamu nggak usah bela dia. Mandy cuma jago sandiwara. Selain suka ngeluh sakit, dia juga nggak mau akui perbuatannya. Aku tahu jelas sifatnya. Jadi, kalian semua nggak perlu kasihan sama dia. Kalau dia nggak minta maaf, aku nggak akan biarkan dia keluar!”
Setelah mendengar ucapan itu, Nelly sepertinya merasa lega. Dia hanya berdiri di samping tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Sementara itu, aku merasa agak terkejut. ‘William, ternyata di hatimu, aku orang seperti itu.’
Hatiku terasa sangat sakit. Untungnya, aku sudah mati. Aku tidak lagi peduli pada apa pun.
William akhirnya teringat padaku dan membawa orang berjalan ke arah gudang pendingin.
Setelah dia tiba di depan pintu, pengawas pintu menyapanya dengan takut, “Pak William.”
“Mandy masih belum tunduk?”
“Belum, Pak. Kamu sudah bertanya dari luar pintu, tapi nggak dapat balasan apa pun dari dalam. Apa mungkin sudah terjadi sesuatu pada Nyonya? Aku khawatir ....”
William mendengus dengan dingin, “Apa yang perlu dikhawatirkan? Dia cuma lagi takut-takuti kalian! Buka pintunya! Aku mau dengar dia minta maaf secara langsung!”
Nelly diam-diam tersenyum, sedangkan para pengawal buru-buru membuka pintu. Setelah itu, mereka langsung tercengang.
Terdengar suara William dari belakang, “Suruh dia keluar!”
“Pa ... Pak William, gudang pendingin ini sepertinya sudah nyala!”
William berjalan mendekat sambil mengomel, “Apanya yang menyala? Kalian cuma mau cari alasan, ‘kan!”
Pada saat ini, dia berdiri di depan pintu dan merasakan hawa dingin dari dalam. Wajahnya sontak menjadi pucat. “Mandy, jangan kira aku akan maafkan kamu karena kamu nyalakan pendingin di dalam! Cepat keluar!”
Saat tidak mendengar jawaban apa pun, semua orang langsung saling memandang.
William merasa sangat marah dan memberi perintah dengan dingin, “Bawa dia keluar!”
Beberapa pengawal itu segera berjalan masuk. Setelah melihat seonggok mayat beku yang meringkuk di sudut ruangan, mereka pun tercengang.
“Nyo ... Nyonya sudah meninggal!”
Anda Mungkin Juga Suka





