
DI ANTARA NODA DAN CINTA PRASASTI
Bab 3
Dan di sinilah kini Pipit berada, berdiri dengan gelisah setelah tadi menghambur dengan panik menuju ke kamar bapak dan ibunya. Tangannya berkeringat dengan jantung berdebar kencang karena dilanda ketakutan akan terjadi sesuatu dengan bapak dan ibunya. Pipit mondar mandir kesana kemari dengan kegelisahan yang tak bisa diredamnya dengan baik karena dihantui oleh rasa bersalah sekaligus rasa takut yang diakibatkan oleh kekonyolannya tadi malam.
“Ini semua gara-gara Feri. Kalau dia nggak nekat menginap kan aku nggak harus memberi obat tidur di teh bapak dan ibu,” Pipit mondar mandir dengan gelisah.
Berbagai macam pikiran buruk membanjiri otaknya, membuatnya membuat keputusan impulsif.
“Pak? Bu? Sudah siang. Kalian nggak bangun? Bukankah bapak harus berangkat kerja?” Pipit menggedor pintu kamar orang tuanya yang masih saja sepi.
Dan kini bahkan masih juga hening, belum ada jawaban sama sekali, membuat Pipit semakin dilanda kepanikan yang luar biasa. Tak mau menunggu, Pipit menggedor pintu yang terkunci dari dalam itu dengan lebih keras.
“Pak! Bu! Buka pintu sudah siang!” Pipit mengeraskan suaranya dengan nada panik sementara keringat dingin membasahi tubuhnya.
“Iya...” terdengar sahutan lirih dari dalam kamar, membuat Pipit merasa lega seketika.
Kemudian terdengar keributan kecil dari dalam kamar sebelum kemudian pintu terbuka dan muncul wajah ibunya yang disusul oleh bapaknya dengan wajah yang masih terlihat mengantuk namun juga panik.
Anda Mungkin Juga Suka





