
Devil Beside Me (21+)
Bab 2
Setelah selesai memoles sedikit wajahnya dengan bedak dan sedikit liptin di bibirnya, Rena mulai mengatur nafas. Menariknya kuat dan melepaskannya secara perlahan.
Ia melakukan hal tersebut sebanyak tiga kali sampai ia merasa cukup nyaman dengan suasana hatinya saat ini. Setelah yakin untuk turun ke bawah menemui Papinya, ia pun akhirnya keluar dari kamar dan ya, semua masih sama, masih dengan Do'a terbaiknya.
Karena ia tak yakin bisa melewati amukan papinya sekarang. Dan hanya Tuhan yang bisa membantunya.
Selama berjalan menuju pintu kamarnya, ia tetap selalu merapalkan doa, berharap keajaiban datang saat ia turun ke bawah nanti.
Namun sepertinya itu hanya akan menjadi angan-angan Rena saja. Karena Baru saja langkahnya sampai di tangga tengah, ia sudah mendapat lirikan tajam dari papinya. Membuat Rena kesusahan meneguk salivanya sendiri.
Ia serasa menciut dan tak berani untuk kembali melangkah. Namun apa boleh buat, ia tetap harus melangkah dan menemui papinya yang sudah menunggu.
Di sebelah papinya, Rena melihat sang mami sudah duduk manis sembari menyesap minuman. Sepertinya hidupnya akan tamat hari ini. Karena sang mami yang biasa menolongnya kini pun bersikap acuh tak acuh padanya.
Rena turun secara perlahan dan berjalan mendekati papinya yang tengah memasang wajah kesal. Bulu kuduk Rena merinding seketika. Ia terbayang akan amukan murka papinya. Apalagi melihat wajah pria paling tampan baginya itu sekarang tampak tak enak, jadilah ia harus siap-siap dengan resiko yang ada.
Rena menghembuskan nafasnya pelan sebelum ia mulai menyapa.
"Pagi pi.." ucap Rena takut-takut.
"Siang!" jawab pria itu dingin tanpa melihat wajah Rena.
Glek! Ini mengerikan, batin Rena.
Lagian lo bego banget Ren. Udah tahu ini siang ,lo malah sapa nya pagi. Kan cari ribut namanya.
"Si....siang pi.." ulangnya. Pria itu hanya membalas dengan gumaman singkat.
Rena menatap maminya. Wanita itu masih cuek padanya. Terbukti kini Maminya itu tengah mengotak atik chanel di televisi.
"Pa..papi.. Sebenarnya Rena..."
"Ini kunci mobil kamu kan?" Ucap Papinya bertanya sambil memperlihatkan kunci mobil yang ada di tangannya pada Rena. Ucapan Rena seketika terhenti.
Rena melirik benda yang begitu ia kenal. Kunci dengan gantungan boneka Hello Kitty yang cukup besar sebagai mainannya. "Iya Pi.." Jawab Rena pelan. "Me..memangnya ada apa pi sama kunci itu?" Rena merasakan firasat buruk. Ia tak yakin firasatnya ini hanya firasat saja atau akan jadi kenyataan.
"Ini kemaren dikasih Pak Hendra sama Papi. Mobil ini ia jemput kemaren ke diskotik tempat kamu nyaris mati."
GLEK!
Rena tak berani menatap wajah papinya. Ia terus saja menunduk menatap ujung jari kakinya yang sungguh tak ada untungnya ia perhatikan. Namun cukup terlihat bagus untuk saat ini. Karena jika harus menatap wajah murka sang ayah, ia tak yakin akan bertahan cukup lama untuk berdiri di tempatnya saat ini.
"Kunci ini akan papi tahan dan..." ucapan papinya terputus saat Rena mengangkat kepala dan hendak protes, "Dan mulai hari ini, kamu kemana-mana harus dikawal oleh Ervin."
Renata awalnya berekspresi bingung. Ia mencoba mengingat nama Ervin yang ia pikir ia mengenalnya. Dan benar saja, Rena langsung melotot kaget saat ia mengingatnya. Bahkan jika ia tak cepat sadar, bola matanya mungkin akan nyaris terlepas. Lebay memang, namun itulah kenyataannya karena ia yang sungguh terkejut mendengar pernyataan papinya.
Ini apa-apaan? Pernyataan macam apa ini.
Ervin? Cowok super duper menyebalkan itu? Oh nooooo! Bisa gila dia jika kemana-mana harus sama si cowok tengil, Ervin. Dan lagi, apa papinya tak bisa cari yang tampan? Eiuuuu, Ervin sungguh tak tampan sama sekali.. Batinnya merutuk kesal.
Ia bahkan masih ingat bagaimana Ervin kecil dulu. Gendut dan dekil. Tak ada tampan-tampannya sama sekali. Bagaimana mungkin papinya bisa meminta Ervin untuk menjaganya. Bisa hancur harga dirinya jika teman-temannya tahu.
Rena tak terima. Ia ingin mengajukan protes. Siapa tahu saja ia bisa mengajukan banding.
"Pi.. ini nggak adil dong."
"Nggak adil untuk siapa? Kamu mau saingan sama siapa? Yang papi hukum itu kamu."
Rena hendak protes kembali namun langsung di potong papinya, "Tak ada alasan. Tiap kamu ingin pergi, kamu lapor sama papi dan papi akan minta Ervin datang."
Apa-apaan ini. Rutuknya membatin.
"Pi, Tapi Rena nggak suka sama Ervin. Papi tahu kan Rena gimana di kampus. Bisa malu Rena kalau dikawal sama Ervin. Lagian kenapa Ervin sih? Masih banyak yang lebih tampan."
"Memangnya Ervin kenapa? Kamu belum bertemu Ervin lagi?"
Mana mungkin aku mau ketemu sama si gendut itu. Bisa malu dan jatuh harga dirinya.
Pria itu menghela nafas panjang, "Papi nggak minta kamu suka sama dia. Ervin sendiri belum tentu naksir sama kamu. Anak gadis kok suka ke diskotik.." ejek papinya membuat Renata mendadak jadi gadis ngenes paling menderita.
Renata mencelos seketika. Ia menatap papinya nanar. Ia juga tak akan suka sama Ervin. Cowok kusam seperti itu siapa yang akan tertarik.
Sunggung, ia masih ingat bagaimana Ervin dulu. Kulit gelap dan nggak rata warnanya, gemuk, rambut keriting. Oh noooo. Nggak kebayang kalau ia harus kemana-kemana ditemani Ervin. Bisa jatuh harga dirinya sebagai perempuan cantik.
Ia juga tak mau nanti di mata teman-temannya, ia akan ditertawakan. Sungguh itu akan sangat memalukan.
Rena kembali menatap papinya dengan tatapan kesal.
"Papi jahat.." Teriak Rena.
"Kalau papi jahat, papi akan biarkan kamu begini terus dan bikin kamu terpuruk." Ucap Papinya dengan nada sedikit meninggi, "Kemaren kamu mabuk. Beruntung Ervin bisa nemuin kamu di tempat laknat itu. Kamu nggak sadarkan diri. Kamu pikir apa yang akan laki-laki bejat lakukan sama kamu kalau Ervin nggak cepat datang!!" lanjutnya.
Rena melongo mendengar pernyataan papinya. "Ervin? Ervin yang bawa Rena pulang? Iiiihhh, tubuh Rena sudah disentuh sama si gendut itu.!" Rengeknya.
Renata menatap papinya kesal. Apalagi saat tahu fakta bahwa Ervinlah yang membawa dirinya pulang.
Kenapa harus Ervin? Sebanyak itu sopir di rumah dan kantor papi, kenapa harus Ervin. Lagian, kapan baliknya sih tu cowok ke Jakarta.
Dan kenapa papinya bisa mempercayai pria gendut itu begitu saja. Sungguh, Ia dibuat kesal bukan main.
*****
"Pi, Rena--"
"Pokoknya, mulai hari ini, kamu kemana-mana harus diantar jemput dan ditemani sama Ervin. Nggak ada sanggahan lagi.." Renata kembali menarik ucapannya saat kalimat terakhir yang papinya ucapkan berhasil menghancurkan keinginannya untuk berbicara.
Renata melirik maminya, mencoba mencari peruntungan dari sang mami. Siapa tahu mami tercantiknya itu mau membujuk sang papi. Namun Rena kembali mencelos saat sang mami justru membuang muka darinya.
Wanita cantik itu lebih suka melirik cemilan di atas meja ketimbang sang anak yang tengah meminta pertolongan.
Kesal diacuhkan, Renata langsung berjalan keluar rumah, "Mau kemana kamu?" teriak Irman sang papi.
"Mau ke mini market depan. Telpon Ervin juga?" balas Rena kesal.
Irman mengusap dadanya untuk menenangkan diri. Kelakuan Renata sungguh membuatnya naik darah. Beruntung ia memiliki istri yang bisa menenangkannya, jadilah ia bisa kembali nyaman.
"Sudah pi. Nanti papi sakit." Ucap Mirna lembut.
"Dia anak perempuan kita satu-satunya Mi, tapi kenapa kelakuannya lebih heboh dari abangnya Gilang." Ucap Irman dengan raut wajah sedih.
"Sudah Pi. Kita kan sudah minta bantuan Ervin. Siapa tahu Ervin bisa mengajarkan anak kita dan menjaga Rena dengan baik."
Irman mengangguk, "Semoga saja. Makasi ya sayang. Beruntung papi punya istri seperti mami." Mirna tersenyum manis mendengar rayuan suaminya.
Irman kembali duduk di sofa dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa tersebut. Ia berharap dengan meminta Ervin untuk mengawasi Renata, anaknya itu bisa berubah dan patuh dengan peraturan yang ada. Berubah menjadi gadis baik-baik tanpa ada embel-embel bar atau klub malam lagi dihari-hari sang anak gadis.
*◊*◊*
Rena membuka pintu supermarket yang ada di dekat rumahnya dengan kasar. Ia meraih satu troli dorong dan langsung berjalan menuju rak cemilan. Dengan kesal, ia menarik banyak cemilan dan memasukkan ke dalam keranjang dorongnya, dimakan atau tidak, itu akan jadi urusan belakangan.
Yang penting hatinya tenang sejenak dengan melihat banyaknya cemilan di dalam keranjang belanjaan yang ia dorong kemana-mana selama berada di dalam.
Setelah puas, Rena lalu berjalan menuju rak berisi coklat-coklat kesukaannya dan mengambil coklat disana tanpa mengira. Berbagai merek dan harga ia turunkan semua dan melemparkannya ke dalam troli. Setelah puas di rak khusus coklat, Ia juga berjalan menuju rak box eskrim dan mengambil sesukanya.
Setelah puas, Renata lalu berjalan menuju kasir untuk membayar. Ia tak peduli, tumpukan cemilan di keranjang dorongnya membuat orang-orang melirik takjub padanya. Yang jelas sekarang ia sedang kesal dan ingin melampiaskan dengan makanan.
Saat itu antrian cukup panjang dan Rena harus melewati tujuh pembeli dulu sebelum tiba gilirannya untuk membayar.
Beruntung kemana-mana ia selalu membawa kartu debit yang papinya sediakan untuknya. Dan sekarang sambil menunggu gilirannya membayar, Rena selalu merapalkan doa berharap kartunya tak di blokir papinya. Jika diblokir, Rena sudah tak tahu lagi harus melakukan apa.
Saat tiba gilirannya, Rena menunggu kasih menghitung makanannya yang menggunung tinggi.
"Totalnnya satu juta tiga ratus dua puluh dua ya kak.." ucap sang kasir pada Rena saat ia selesai menghitung.
Rena mengangguk, lalu menyerahkan dengan ragu kartu tersebut. Dan ia bisa bernafas lega setelahnya karena kartu debit yang ia bawa masih bisa dipakai alias tak di blokir sang papi.
Setelah selesai membayar, Renata langsung keluar. Sesampainya diluar, ia harus meletakkan kembali troli yang tadi ia pakai, dan menenteng semua belanjaanya yang banyaknya tak kira-kira. Renata bahkan membawa nyaris tujuh kantong besar belanjaan membuat dirinya kesusahan bahkan tak pelak ia juga tersandung plastik belanjaannya sendiri.
Rasa jengkel Renata bertambah semakin besar. Sudah di rumah ia dimarahi papinya, di sini plastik-plastik belanjaan bahkan juga tak mau bersahabat dengannya.
Saking kesalnya, Renata melemparkan ke lantai semua belanjaanya dengan kesal. Beruntung sang kasir tadi mengklip bagian tengah plastik, jadi belanjaan Rena tak berhamburan keluar. Ia menatap nanar semua kantong tersebut, nyaris Renata menangis sebelum sebuah suara menarik kembali semua air matanya.
"Butuh bantuan?"
Niat Renata yang ingin menangis langsung terhenti saat ia melihat sosok yang sama sekali tak ia kenal berada tak jauh dari tempatnya berdiri.
Sejenak, ia cukup dibuat terpengaruh dengan sosok tersebut. Pria itu sangat tampan. Namun dibalik kagumnya, Rena langsung menyadarkan diri.
"Siapa lo? Jangan sok kenal sama gue." ucap Rena marah. Ia sudah kesal ditambah lagi ini. Makin menjadi emosinya.
"Lo nggak kenal gue?"
Rena kembali menyipitkan matanya melihat cowok tersebut.
Dih! Kegantengan banget sih ni orang.
Pria itu mendelikkan matanya jengah. Ia berjalan mendekati Rena lalu menjulurkan tangannya, "Kalau lo nggak kenal Gue, okelah kita kenalan lagi. Nama gue Ervin, dan seingat gue kita pernah kenal waktu kecil dulu."
Deg!
Renata mendadak merasakan kepalanya pusing. Ia menatap tak percaya pria di hadapannya ini.
Nggak mungkin. Nggak mungkin ini Ervin. Ervin itu gendut, item dan nggak banget.
"Kenapa? Lo bingung kenapa gue nggak seperti dulu?"
Tanpa sadar Rena mengangguk membuat Ervin tertawa.
Tak!
Ervin menjetik kening Rena, "nggak selamanya orang terlihat sama seperti saat dia masih kecil, Rena."
MAMIIII! PAPIIII! CUBIT RENAAAA.
~
Anda Mungkin Juga Suka





