Sampul Novel Balapan Terakhir Sebelum Dijodohkan

Balapan Terakhir Sebelum Dijodohkan

8.6 / 10.0
Dalam Balapan Terakhir Sebelum Dijodohkan, Raina sang pembalap liar legendaris harus mempertahankan kebebasannya dari perjodohan paksa. Nikmati romance novel penuh aksi ini di platform web novel kami, di mana ambisi jalanan berbenturan dengan tekanan keluarga dan aturan yang mengekang.
Ringkasan Balapan Terakhir Sebelum Dijodohkan
Raina, pembalap liar legendaris Jakarta berjaket kulit hitam, baru saja membuktikan ketangguhannya dengan mengalahkan Melia di lintasan balap. Namun, kejayaan di jalanan seketika sirna saat ayahnya memberi ultimatum keras melalui telepon. Ia dipaksa pulang untuk menjalani perjodohan dengan putra sahabat keluarganya. Di tengah kemelut batin dan air mata, Raina menolak menjadi boneka kendali orang tuanya demi mempertahankan kebebasan hidup yang ia cintai.
Baca Selengkapnya

Balapan Terakhir Sebelum Dijodohkan Bab 1

Malam itu, langit Jakarta dipenuhi cahaya neon dan suara bising kendaraan yang tak kunjung sepi. Di sebuah jalanan sepi pinggiran kota, deru mesin motor saling bersahutan. Lampu-lampu kendaraan berjejer, membentuk garis panjang yang membelah kegelapan malam. Bau bensin bercampur asap knalpot memenuhi udara. Di antara kerumunan anak muda yang berkumpul, seorang perempuan dengan tampilan tomboy menyalakan rokoknya sambil bersandar pada motor sport hitam yang sudah dimodifikasi.

Dialah Raina, gadis yang terkenal bar-bar di kalangan pembalap liar. Rambut pendek sebahunya berantakan, jaket kulit hitam menempel di tubuh rampingnya, dan jeans belel yang robek di lutut membuatnya tampak semakin garang. Banyak cowok menatapnya kagum, ada juga yang meremehkan hanya karena dia perempuan. Tapi semua orang tahu, kalau sudah urusan balapan, Raina bukan tandingan yang mudah dikalahkan.

"Rain, lu beneran mau lawan dia malam ini?" suara sahabatnya, Naya, yang juga tomboy tapi tak segila Raina, terdengar khawatir.

Raina membuang abu rokoknya, matanya menatap ke depan. "Gue udah janji sama tuh cewek, Nay. Lagian gue paling nggak suka diremehin."

"Cewek licik itu emang bikin panas sih. Katanya dia sengaja ngajak lu balapan biar jatuhin nama lu," Naya berkomentar sambil melipat tangannya di dada.

Raina tertawa kecil, suaranya sinis. "Lucu ya? Kayak gue peduli sama omongan orang. Gue balapan bukan buat mereka. Gue balapan buat diri gue sendiri. Buat buktiin gue bisa."

Kerumunan makin riuh ketika sosok Melia muncul. Cewek itu dikenal licik, suka main curang dalam balapan. Penampilannya glamor, kontras dengan Raina. Rambut panjang terurai, jaket merah ketat membungkus tubuhnya. Senyum sinisnya membuat banyak orang ingin segera menyaksikan pertarungan mereka.

"Raina!" teriak Melia sambil menoleh penuh tantangan. "Siap kalah malam ini?"

Raina menjawab santai, "Daripada banyak bacot, mending kita gas. Gue males dengerin ocehan lo."

Orang-orang bersorak. Taruhan mulai dilakukan. Beberapa anak muda sudah menyiapkan kamera ponsel, siap merekam adu cepat dua perempuan yang sudah jadi legenda jalanan itu.

Mereka berdiri sejajar, masing-masing di atas motor sport. Mesin meraung, knalpot memuntahkan suara bising yang memekakkan telinga. Lampu-lampu sorot menyoroti jalanan lurus yang dijadikan arena balapan.

Seorang pria dengan bendera hitam berdiri di depan, mengangkat tangannya. Suara hitungan menggema.

"Satu!"

Raina menurunkan helmnya, menarik napas panjang.

"Dua!"

Tangannya menggenggam erat setang motor, jari-jarinya bersiap menekan gas.

"Tiga!"

Dalam sekejap, motor keduanya melesat bagai peluru. Angin malam menampar wajah mereka. Sorakan penonton semakin memanas. Raina mencondongkan tubuhnya ke depan, pandangan fokus lurus tanpa tergoyahkan.

Melia mencoba menyalip dari sisi kiri, tapi Raina sudah mengantisipasi. Ia memelintir gas lebih dalam, kecepatan motornya melampaui batas normal. Detik demi detik, jarak antara mereka semakin lebar.

Akhirnya garis finish mendekat. Raina menyalip dengan mudah, meninggalkan Melia di belakang. Sorakan membahana.

"RAINA MENANG!" teriak salah satu penonton sambil mengibarkan tangan.

Raina menghentikan motornya dengan rem mendadak yang membuat ban berdecit panjang. Ia melepas helm, rambutnya berantakan, wajahnya berkeringat tapi matanya berkilat penuh kepuasan.

Melia menghampirinya dengan wajah masam. "Lo menang kali ini, Rain. Tapi liat aja. Gue bakal bikin lo jatuh suatu hari nanti."

Raina hanya menatap dingin. "Silakan coba. Gue nggak pernah takut sama ancaman murahan kayak gitu."

Kerumunan belum bubar ketika tiba-tiba handphone Raina bergetar di dalam saku jaketnya. Ia mengernyit, menarik ponsel itu. Layar menyala, tertera nama Papa.

Deg.

Raina menelan ludah. Ia tahu kalau papahnya menelpon di jam segini, pasti bukan kabar baik. Dengan enggan, ia mengangkat.

"Halo, Pa..."

Suara berat dari seberang langsung menyambar penuh amarah. "RAINA! Kamu di mana?! Jangan bilang Papa harus cari kamu di jalanan lagi! Pulang sekarang juga!"

Raina menutup mata, berusaha tetap tenang. "Aku... aku bentar lagi pulang, Pa. Lagi sama temen-temen."

"Jangan bohong! Papa tahu kamu balapan lagi! Sudah berapa kali Papa bilang, kamu itu perempuan! Balapan liar itu bahaya! Kamu mau mati di jalan?!"

Nada suara papahnya menusuk, membuat dada Raina panas. Ia menggertakkan giginya. "Aku bisa jaga diri, Pa. Aku nggak selemah yang Papa pikir."

"Pokoknya sekarang juga pulang! Jangan bikin Papa tambah marah!"

Klik. Telepon terputus sepihak.

Raina menatap ponselnya dengan wajah kesal. "Sial..."

Naya menghampiri, wajahnya penuh cemas. "Papa lu lagi ya?"

"Iya, Nay. Kayaknya dia udah tahu gue balapan lagi. Gue pulang dulu, sebelum makin ribut," jawab Raina, lalu mengenakan helmnya lagi.

Rumah besar itu berdiri megah dengan pagar tinggi dan taman luas. Raina masuk dengan motor, deru knalpotnya memecah kesunyian malam. Begitu mesin dimatikan, suara berat terdengar dari ruang tamu.

"RAINA!"

Papahnya, seorang pria paruh baya dengan tubuh tegap dan wajah keras, berdiri dengan wajah merah padam. Jas yang dikenakannya masih rapi, seolah baru pulang dari pertemuan bisnis.

"Aku pulang, Pa," kata Raina pelan.

"Pulang? Kamu kira Papa nggak tahu kamu habis dari mana?!" bentaknya.

Raina menahan diri. "Aku cuma... balapan sebentar. Aku menang, Pa. Aku selalu hati-hati."

"Hati-hati?!" Papahnya menatap tajam. "Raina, kamu itu perempuan! Kamu pikir hidup kamu mainan? Kalau kamu jatuh? Kalau kamu mati? Apa itu yang kamu mau?!"

Raina menegakkan tubuh, matanya melawan. "Aku cuma pengen bebas, Pa. Aku pengen hidup sesuai caraku sendiri! Papa sama Mama sibuk kerja terus, nggak pernah ada buat aku! Kenapa sekarang Papa tiba-tiba ngatur-ngatur?!"

"Raina!" suara papahnya meninggi. "Kamu nggak ngerti apa yang Papa lakukan semua demi kamu?! Dan lagi, Papa sudah putuskan sesuatu. Papa mau jodohkan kamu dengan anak sahabat Papa."

Raina terbelalak. "APA?!"

"Namanya Ardan. Dia anak sahabat Papa, baik, bertanggung jawab, punya masa depan. Papa yakin dia bisa jadi suami yang tepat buat kamu."

"Enggak!" Raina membanting helmnya ke sofa. "Aku nggak mau! Aku nggak akan pernah mau dijodohkan dengan siapapun! Aku nggak mau nikah, Pa! Nggak sekarang, nggak nanti, nggak pernah!"

"Jangan keras kepala, Raina! Kamu sudah cukup bikin Papa pusing dengan kelakuan kamu. Papa hanya ingin kamu ada yang jagain!"

"Aku bisa jaga diri aku sendiri!" Raina berteriak, matanya berkaca-kaca. "Aku nggak butuh orang lain buat jagain aku!"

Tanpa menunggu jawaban, Raina berlari ke kamarnya. Pintu dibanting keras, meninggalkan papahnya berdiri di ruang tamu dengan napas memburu, wajahnya penuh amarah bercampur kecewa.

Di dalam kamar, Raina menutupi wajahnya dengan bantal. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

"Aku nggak akan pernah nurut, Pa..." bisiknya lirih. "Aku pengen hidup bebas, bukan dikurung dalam pernikahan yang nggak aku mau."

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Balapan Terakhir Sebelum Dijodohkan

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Godaan Berdosa: Tuan Playboy Miliuner Memohon Kembali Padaku
9.3
Iris diadopsi keluarga Stewart sejak kecil dan berakhir menjadi kekasih rahasia Vincent, pamannya sendiri. Di balik citra playboy sang CEO, Iris merasakan sisi dingin pria itu secara langsung. Harapan Iris hancur saat lamaran tulusnya ditolak mentah-mentah oleh Vincent yang lebih memilih pertunangan bisnis. Demi mengakhiri penderitaan, Iris nekat menerima lamaran seorang pengacara. Namun, saat hari pernikahan tiba, Vincent justru datang bersimpuh memohon agar Iris tidak pergi darinya.
Sampul Novel Dua Istri CEO: Istri Simpanan Suamiku
8.0
Adam memutuskan menikahi Maya hanya demi mengamankan harta warisan, meski hatinya masih terpikat sepenuhnya pada sang kekasih, Sabrina. Memanfaatkan kenaifan Maya, Adam lihai menyembunyikan perselingkuhannya dalam waktu yang cukup lama. Namun, segala rahasia gelap dan kebusukan motifnya perlahan mulai terendus. Saat kebenaran akhirnya terungkap, Adam dihadapkan pada dilema besar. Siapa yang akan ia pertahankan? Kekayaan warisan atau cinta sejatinya?
Sampul Novel Gairah Nakal Sang Billionaire
8.5
Raisa Aquila Nazara, wanita cantik berusia 25 tahun, terjerat dalam skema jahat Helena, ibu dari kekasihnya sendiri. Jebakan itu membawanya berakhir di satu kamar dengan Raka Mirza Bramantyo, CEO tampan berumur 27 tahun yang dikenal sebagai seorang player. Setelah malam tak terduga itu terjadi, Raisa harus menghadapi kenyataan pahit atas apa yang mereka lakukan. Akankah insiden memalukan ini menjadi akhir segalanya atau justru awal hubungan baru bagi mereka?
Sampul Novel Partner Satu Malam Jadi Istri Kontrak
8.0
Dahulu bintang ice skating, masa depan Alessa hancur saat sang ayah menjualnya pada pria misterius demi melunasi utang judi. Usai malam itu, Alessa hamil lalu diusir keluarga hingga mengalami keguguran akibat jebakan wanita licik. Bertahun-tahun kemudian, ia kembali untuk membalas dendam pada Jovian Arsenio Heide, pria dari masa lalunya. Namun, Jovian justru menawarinya pernikahan kontrak. Di tengah kasih sayang Jovian, Alessa harus menghadapi kekejaman ibu mertua dan obsesi wanita lain.
Sampul Novel Trapped In Past Love
8.4
Caca dan Dafa telah menjalin persahabatan erat sejak mereka masih kecil. Namun, perasaan Caca mulai berkembang menjadi cinta kepada Dafa, sahabatnya yang dikenal sebagai seorang playboy. Seiring bertambahnya usia, ikatan mereka kian rumit karena Dafa sering berganti pasangan dan mengabaikan Caca hingga ia merasa terluka. Akankah hubungan mereka berujung pada komitmen cinta sejati, ataukah mereka ditakdirkan hanya menjadi sahabat untuk selamanya?
Sampul Novel Wanita Simpanan Tuan Presdir
9.1
Demi biaya rumah sakit ibu dan membalas dendam pada saudara tirinya, Camelia Wiguna terpaksa menjadi wanita simpanan Kenan Putra Abimana. Kenan adalah CEO kaya sekaligus tunangan adik tiri Lia yang menderita gangguan gairah misterius. Hanya setelah satu malam bersama Lia, penyakit Kenan mendadak sirna. Kenan pun bersedia membayar mahal agar Lia membantunya sembuh sebelum pernikahan resminya tiba. Akankah cinta tumbuh di tengah pengkhianatan ini?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan