Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dendam Menantu Miskin

Dendam Menantu Miskin

Akibat kemiskinannya, Rendra Gumilar dipaksa bercerai oleh Tuan Brata, mertuanya yang angkuh. Meski berat hati, buruh pabrik ini terpaksa berpisah dengan Viona serta bayi mereka yang masih kecil. Diusir dan dihina, Rendra tidak menyerah pada nasib. Ia bertekad bangkit menjadi pria sukses demi merebut kembali keluarga kecilnya. Mampukah Rendra membuktikan harga dirinya di hadapan mertua yang dulu meremehkannya, ataukah ia justru akan kehilangan mereka selamanya?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Halo, Bi. Sepertinya Pak Brata akan datang ke rumah untuk menjemput Viona. Tolong jangan ijinkan Pak Brata membawa Viona dan anakku. Sebentar lagi aku akan pulang."

"Maksudmu, Pak Brata akan membawa istrimu pulang, begitu?"

"Iya. Tolong, jika Pak Brata memaksa untuk membawa Viona dan anakku, tahan dulu, setidaknya sampai aku datang."

"Baiklah. Cepat pulang dan hati-hati di jalan."

Rendra menutup ponselnya. Ia benar-benar takut jika ancaman ibu mertuanya itu benar adanya. Rendra memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, berharap akan cepat sampai ke rumah kakeknya, rumah dimana ia tinggal bersama anak dan istrinya. Jantungnya berdegup kencang. Ia sangat takut kehilangan istri dan anaknya yang baru lahir beberapa bulan yang lalu. Beruntungnya Rendra mendapatkan ijin untuk pulang lebih cepat dari atasannya, sehingga ia bisa segera pulang ke rumah.

Tidak sampai satu jam Rendra akhirnya sampai ke rumah kakeknya. Ia melihat ada mobil hitam terparkir di halaman rumah sang kakek.

'Sepertinya itu mobil ayahnya Viona,' batin Rendra.

Rendra mengambil langkah seribu saat mendengar suara berat dan serak yang sudah dipastikan milik mertua laki-lakinya itu. Bibi Rendra memiilih untuk berdiam diri di dalam kamarnya. Ia tidak mau terlibat dalam urusan rumah tangga keponakannya.

"Kamu harus pulang bersama Papa, Viona! Kemasi barang-barangmu sekarang! Papa tidak rela putri Papa satu-satunya tinggal di rumah yang lebih pantas dikatakan gubug ini!"

Suara bariton milik Brata Mahardika--papa kandung dari Viona-- memenuhi seisi rumah yang tidak terlalu besar itu.

"Tunggu! Apa-apaan ini? Kenapa Papa memaksa Viona untuk ikut bersama Papa?"

Rendra membulatkan matanya tak percaya saat melihat istri tercintanya sedang mengemasi barang-barangnya. Sementara bayinya sedang tertidur pulas di atas kasur. Tidak merasa terganggu sama sekali dengan keributan yang sedang terjadi.

Viona tak bisa berbuat apa-apa lagi, ia segera mengemasi barang-barangnya yang tidak terlalu banyak itu ke dalam kopernya. Matanya menatap wajah laki-laki yang baru satu tahun menjadi imamnya. Kemudian kembali fokus mengemasi barang-barangnya.

Rendra berjalan mendekati istrinya yang sedari tadi mengabaikannya. Ia memegang tangan sang istri, mencoba menghentikan gerakan tangannya yang sedang memasukkan semua pakaiannya dan pakaian bayinya ke dalam koper. "Viona, sayang. Apa yang sedang kamu lakukan, kenapa kamu memasukkan semua pakaianmu dan juga anak kita ke dalam koper?"

Belum juga Viona menjawab pertanyaan Rendra, suara bariton milik Brata lagi-lagi terdengar memenuhi seisi rumah.

"Lepaskan tangan putriku, Rendra! Kamu tidak berhak menyentuhnya! Laki-laki gembel sepertimu tidak pantas untuk menyentuh kulit putriku!"

"Tapi dia istriku, Pa! Papa tidak pantas berbicara seperti itu kepadaku!" Rendra masih berusaha untuk mengontrol emosinya. Karena bagaimanapun pria paruh baya yang ada dihadapannya kini adalah mertuanya. Ia masih menghormatinya.

"Mulai saat ini Viona Putri Mahardika bukan lagi istrimu. Karena dalam waktu dekat, putriku akan menggugat cerai kamu, Rendra. Dan mulai detik ini berhenti memanggilku dengan sebutan 'Papa' karena aku tidak pernah menganggapmu sebagai menantuku!"

Sakit, perih yang dirasakan oleh Rendra saat mertuanya tidak pernah menganggapnya sebagai menantu. Namun selama ini ia tidak pernah memperdulikannya, karena baginya yang terpenting adalah cinta dari sang istri. Selama Viona mau bertahan dengannya, sudah cukup membuatnya bahagia. Apalagi saat kehadiran bayi mungil ditengah-tengah keluarga kecilnya. Menambah kebahagiaan bagi seorang Rendra.

Rendra menatap wajah sang istri yang sedari tadi hanya diam saja. "Viona! Katakan, jika apa yang dikatakan oleh papamu itu tidak benar!" Ia terus menatap wajah Viona, berharap istrinya itu menjawab pertanyaannya. Namun Viona lagi-lagi bungkam menutup mulutnya rapat-rapat.

"Kenapa kamu diam saja, Viona! Jawab pertanyaanku!" Rendra mengguncang pelan tubuh Viona. Tangannya memegangi kedua lengan istrinya. Rendra benar-benar sangat prustasi.

"Singkirkan tangan kotormu itu dari tubuh putriku!" Brata menarik paksa tangan Rendra yang masih memegang lengan istrinya. Viona tetap bergeming, hanya air matanya yang terus keluar membasahi pipinya.

Rendra mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. Pertanda jika ia sedang marah. Namun, Rendra masih bisa menguasai emosinya. Ia tidak mau gegabah dalam bertindak. Dirinya masih berharap jika Viona mengurungkan niatnya untuk pergi dari hidupnya dan mengikuti perintah dari papanya.

"Pak, kita bisa bicarakan masalah ini baik-baik. Tidak dengan cara seperti ini. Bagaimanapun juga aku dan Viona adalah suami istri, apalagi saat ini ada bayi diantar kita berdua. Anda tidak bisa bersikap seperti ini kepadaku juga Viona." Rendra berusaha mengajak mertuanya untuk berbicara baik-baik. Ia masih bisa menahan emosinya dan menghormati Brata sebagai mertuanya.

"Tidak, Rendra. Kamu tidak bisa menjadi suami yang baik untuk putri kesayanganku. Kamu laki-laki miskin. Tidak mungkin bisa membahagiakan putriku yang sejak kecil hidup bergelimang harta," tukas Brata dengan pongahnya.

"Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa membahagiakan Viona. Saat ini aku memang belum terlihat sukses. Tapi aku yakin, suatu saat nanti aku pasti bisa memberikan harta yang berlimpah untuk Viona dan anak kita." Rendra berbicara dengan sangat percaya diri, ia yakin, suatu saat nanti dirinya akan sukses.

Brata justru tertawa mendengar perkataan Rendra. "Hahahaha ... jangan mimpi kamu, Rendra! Jangankan untuk memberikan harta kepada anak dan cucuku, untuk biaya persalinan istrimu saja, aku yang membiayainya. Karena kamu tidak mampu! Suami macam apa kamu? Aku gak sudi anakku satu-satunya hidup dengan gembel sepertimu!"

Pria paruh baya itu terus menghina Rendra. Tidak puas sampai disitu, Brata akan menghancurkan hidup Rendra dengan membawa pulang Viona dan bayinya dengan ataupun tanpa persetujuan dari Rendra.

Rendra terus menahan gejolak didadanya. Emosinya yang sudah di ubun-ubun hampir meledak jika saja ia tidak mengingat bahwa Brata adalah ayah dari istrinya, mungkin saja saat ini juga Brata akan memukul mulutnya yang kotor itu.

"Aku mohon, tolong beri aku waktu sebentar lagi. Aku janji, aku pasti akan menjadi laki-laki sukses seperti anda, Tuan Brata. Aku yakin itu." Rendra terus beroptimis dan meyakinkan mertuanya yang angkuh itu.

Lagi-lagi Brata tertawa mendengarnya. "Mau berapa puluh tahun, Viona harus menunggu kamu untuk menjadi lelaki sukses, hah? Sampai matipun, kamu tidak akan pernah bisa jadi laki-laki sukses sepertiku!" cemoohnya.

"Setidaknya, Viona tetap baik-baik saja, dan selama ia bersamaku Viona terlihat bahagia," lirih Rendra. Matanya menatap penuh harap pada perempuan yang sedari tadi hanya diam merapatkan mulutnya. Seperti tak berniat untuk membela suaminya.

"Jika anakku terus bersamamu, mau kamu kasih makan apa, hah? Kasih makan batu?" Brata terus menghina Rendra. "Viona, ayo masuk ke dalam mobil!" titahnya kepada Viona.

Bak kerbau yang dicucuk hidungnya, Viona menuruti perintah papanya. Ia menggendong bayinya yang sedang terlelap tidur. Kemudian berjalan sembari menundukkan kepalanya melewati suaminya yang menatapnya dengan sendu.

"Rudi, bawakan koper Viona ke dalam mobil!" titah Brata kepada supirnya.

"Baik, Tuan!" Rudi segera melakukan perintah majikannya.

"Viona, tunggu!" Rendra berlari menyusul Viona yang hendak masuk ke dalam mobil papanya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cantika : DESTINY OF LOVE
9.5
Pertemuan tak terduga dengan Jaden menyeret hidup Cantika ke dalam pusaran takdir yang mencekam. Melalui ultimatum posesif bahwa tak ada orang lain yang boleh memilikinya, Jaden mengurung Cantika dalam belenggu obsesi yang menyesakkan. Kini, Cantika dihadapkan pada pilihan sulit: melarikan diri dari dominasi pria itu atau justru terjerat perasaan cinta saat identitas asli Jaden terungkap. Sebuah kisah romansa penuh aksi tentang rahasia dan ambisi.
Sampul Novel Cold-hearted girl
9.4
Seorang pembunuh bayaran wanita yang tangguh kini memegang misi baru sebagai pelindung seorang ilmuwan jenius. Keselamatan sang ilmuwan terancam setelah ia berhasil menciptakan sebuah penemuan yang sangat krusial. Namun, di tengah situasi berbahaya yang mengintai nyawa mereka, benih-benih asmara justru mulai tumbuh. Pertemuan intens ini memaksa sang gadis menghadapi konflik batin saat perasaan profesionalnya perlahan berubah menjadi cinta yang mendalam.
Sampul Novel DANCING WITH DESTINY
8.2
Jane Miles adalah dokter andal yang sangat mencintai kehidupan damainya. Namun, kecelakaan tragis di masa lalu membuatnya menderita Amnesia Retrograde, hingga seluruh ingatannya terkunci rapat. Keadaan berubah total saat Rafael Klein muncul dan memaksa masuk ke dunianya. Pria itu mengacaukan segalanya demi satu tujuan: menuntut Jane menerima takdir sebagai pewaris tunggal klan Klein yang berkuasa. Kisah romansa dewasa ini penuh dengan konflik dan rahasia masa lalu.
Sampul Novel Keabadian yang Tertunda Dendam
8.2
Dua saudari kembar, Wulan dan Mulan, akhirnya turun gunung setelah berlatih selama 300 tahun di bawah bimbingan Master Sun. Selain mengejar keabadian, mereka mengemban misi menemukan ayah mereka yang ternyata masih hidup. Namun, pertemuan itu mengungkap rahasia kelam masa lalu. Kini mereka terjebak dilema besar: membalaskan dendam sang ibu demi meraih status abadi, atau justru melepaskan ambisi tersebut demi hidup sebagai manusia biasa di dunia fana.
Sampul Novel King Of King
8.2
Di Negeri Awan, Elisabet yang merupakan selir keempat Kaisar Oro melahirkan putra bernama Starling di bawah naungan bintang raksasa. Namun, hasutan dukun keji membuat Kaisar percaya bahwa bayi itu hasil perselingkuhan Elisabet dengan Jenderal Robert. Demi keselamatan abadi istana, sang Kaisar dituntut untuk menjadikan darah dagingnya sendiri sebagai tumbal persembahan. Akankah ambisi kekuasaan mengalahkan naluri ayah saat nyawa Starling terancam di tangan Oro?
Sampul Novel Mafia dalam penjara
8.5
Seorang narapidana harus menjalani masa hukuman di balik jeruji besi demi menebus dosa masa lalunya. Namun, ia segera menyadari adanya kejanggalan besar yang menyelimuti seluruh area lembaga pemasyarakatan tersebut. Atmosfer yang tidak biasa dan berbagai kejadian misterius mulai memicu rasa curiga yang mendalam. Apa sebenarnya rahasia gelap yang tersembunyi di dalam penjara ini? Ikuti perjalanan penuh aksi dan teka-teki ini hingga akhir cerita.