Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Yang Sengsara

Cinta Yang Sengsara

Naraya harus menanggung penderitaan berat saat dicampakkan suaminya, Alvano, dalam kondisi mengandung. Fitnah keji dari Vanya, wanita asing yang tak dikenalnya, menghancurkan rumah tangga mereka hingga ia terusir. Tanpa dukungan siapapun, Naraya berjuang sendirian untuk melahirkan dan membesarkan buah hatinya. Alvano tidak menyadari bahwa ia telah membuang darah dagingnya sendiri. Akankah kebenaran terungkap dan membuat Alvano menyesali segala tindakannya?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Ma!" Nayara berdiri sambil menggenggam tangan Clarissa. "Aku sungguh nggak ngerti, apa yang sebenarnya terjadi?"

"Diam!" Clarissa menepis kasar tangan Nayara. "Beraninya kamu memanggilku mama? Pasti wanita itu sengaja menipuku agar kamu bisa hidup enak di sini, sementara anak kandungku dia siksa selama ini. Tidak kusangka kamu adalah anak pelacur itu."

"Pa!" Nayara menghampiri Dimas. "Papa, bilang sama Nara ini nggak benar! Nara pasti anak Papa, iya kan?" Mata Nayara sudah berkaca-kaca.

"Nara, maafkan Papa. Semua bukti sudah jelas, kamu memang bukan anak kami." Dimas memalingkan wajahnya dari Nayara.

"Aku sudah memberitahu Alvano, kamu harus segera bercerai dengan Alvano. Kembalikan semua milik Vanya, termasuk Alvano." Clarissa kembali berbicara. "Sekarang berlutut dan minta maaf pada Vanya! Dasar anak wanita malam!"

"Aku nggak tahu dia siapa, Ma," lirih Nayara dibalas tawa sinis oleh Clarissa.

Clarissa benar-benar sudah membenci Nayara hanya karena bukti yang dibawa Vanya.

Nayara menatap tangga ketika mendengar suara langkah kaki dari sana, tangis Nayara langsung pecah melihat sosok tampan dengan setelan kantor yang rapi mendekat ke arahnya.

"Alvano." Nayara memeluk lengan Alvano sambil menangis.

"JANGAN SENTUH AKU!"

Bruk!

"Ugh!"

Nayara kembali didorong hingga terjatuh ke lantai, kali ini pelakunya adalah suaminya sendiri.

"Jangan berani pegang-pegang aku lagi! Asal kamu tahu, aku jijik disentuh oleh seorang pembohong." Alvano terang-terangan menatap tajam Nayara.

Nayara tidak tahu harus mengatakan apa, mata yang selalu menatapnya dengan lembut kini telah berubah seperti ingin membunuhnya.

Vanya berjalan mendekati Alvano. "Kak Al." Vanya memanggil Alvano dengan suara yang begitu lembut dan terkesan seperti dibuat-buat.

Alvano tersenyum. "Kamu cantik sekali hari ini, Vanya." Alvano menegang bahu Vanya dan mereka terlihat begitu romantis.

"Kalian ada hubungan apa?" Nayara sangat sakit hati melihat suaminya memperlakukan wanita lain dengan begitu baik di depan matanya.

"Jangan sok tersakiti, Nara. Yang ingin aku nikahi sebenarnya adalah Vanya, putri asli keluarga Widjaya. Kamu hanya seorang putri palsu yang mengelabui keluarga Widjaya selama bertahun-tahun, kamu juga menipu ibuku agar setuju dengan perjodohan kita."

Sakit, benar-benar sakit. Nayara merasa telah ditusuk pisau sebanyak ribuan kali dalam satu jam terakhir ini.

"Harusnya sejak awal yang aku nikahi itu Vanya, bukan kamu, Nara." Awalnya Alvano membungkuk sambil mengusap lembut rambut Nara. "Kamu sangat tak tahu malu, Nara. TIDAK TAHU MALU." Akhirnya Alvano menarik kasar rambut Nayara lalu mendorong kepala Nayara dengan kasar.

"Al! Aku nggak tahu apa-apa tentang ini." Nayara berusaha berdiri sambil menggapai Alvano.

Namun Nayara harus terduduk di lantai lagi karena Alvano lagi-lagi mendorongnya.

"Awws!" Tiba-tiba saja Vanya meringis sambil memegangi sikunya.

"Kenapa?" Alvano langsung memeriksa keadaan Vanya.

"Kak Al, tanganku sakit," adu Vanya.

"Apa luka lama itu sakitnya kambuh lagi?" tanya Alvano yang terlihat khawatir.

"Iya, Kak," jawab Vanya dengan wajah yang terlihat kesakitan.

"Ayo ikut aku!" Alvano dengan sadar merangkul pinggang wanita lain di depan istri sah-nya.

"Alvano! Jangan pergi, hiks." Nayara benar-benar menangis hebat sambil memegang kaki Alvano yang sudah hendak pergi.

"LEPAS, SIALAN!"

Bruk!

Alvano begitu tega menepis tangan Nayara di kakinya dengan begitu kasar sampai Nayara terjatuh.

"Al jangan pergi! Aku mohon, Al!" Meskipun Nayara terus memanggil dirinya, namun Alvano tetap tidak peduli.

Alvano tetap pergi sambil merangkul mesra Vanya dan membiarkan Nayara menangis di sana.

Nayara terdiam dengan pandangan kosong, air matanya mengalir tanpa henti. Nayara menunduk dan bersimpuh di lantai.

"Tandatangan surat cerai ini!"

Deg!

Jantung Nayara kembali berdetak kencang mendengar perintah Clarissa. Nayara menatap map di tangan Clarissa sambil menelan ludah dengan susah payah.

"Tandatangan sebelum besok pagi!" Clarissa melempar surat cerai itu ke wajah Nayara. "Dan kembalikan semua milik Vanya!" bentak Clarissa untuk kesekian kalinya.

Nayara pergi sejenak dari rumah keluarga Widjaya, Nayara butuh waktu untuk dirinya sendiri dan memikirkan ke depannya akan seperti apa.

"Sebelum besok kamu harus tandatangan surat cerai ini!"

"Kembalikan semua milik Vanya!"

"Jangan sentuh aku lagi! Aku jijik."

Semua yang diucapkan oleh Clarissa dan Alvano terus terngiang di benak Nayara.

Saat ini Nayara kembali ke rumah Alvano, tempat dirinya tinggal selama dua tahun ini.

Nayara mengelus perut ratanya sambil tersenyum getir. "Awalnya aku pikir kamu akan menjadi bayi yang paling beruntung di dunia, tapi sepertinya hanya mama yang akan kamu miliki."

Nayara menghela napas berat sambil membuka surat cerai di tangannya. Nayara membubuhkan tandatangan di sana, di samping tandatangan Alvano yang masih kosong.

Nayara berdiri sambil menyeret koper besar.

"Nyonya Muda! Anda jangan gegabah!" Keenan berlari lalu menghalangi jalan langkah Nayara. "Setelah Tuan Muda pulang Anda berdua masih bisa berdiskusi lagi." Keenan terlihat tak rela kalau istri tuannya itu harus pergi.

"Keenan, ini adalah yang terbaik." Nayara tetap tersenyum lembut.

Suara langkah kaki terdengar mendekat, itu adalah Alvano yang baru saja memasuki rumah.

"Akhirnya Anda pulang juga, Tuan Muda. Cepat bujuk Nyonya, jangan biarkan dia pergi," celoteh Keenan.

"Pergi dari rumah." Alvano melangkah menghampiri Nayara dengan satu tangan tersimpan di saku celana sehingga Keenan minggir secara spontan.

"Nara, apa kamu sengaja menarik perhatian saya?" desis Alvano.

Nayara meremas tangannya sendiri, dia tidak berani menatap mata tajam Alvano.

"Mohon jangan seperti ini, Tuan Muda. Semua masalah akan selesai kalau dibicarakan baik-baik, jangan marah-marah dulu, Tuan." Entah dari mana asalnya Keenan punya keberanian sebanyak itu bicara pada Alvano.

"Sejak kapan kau punya hak mengajari ku melakukan sesuatu, Keenan!" bentak Alvano sambil melirik Keenan dengan sudut matanya.

"Maaf, Tuan Muda." Keenan menunduk lalu pergi dari sana.

Alvano merampas map di tangan Nayara. Setelah membaca isi map tersebut, Alvano langsung melemparnya dengan kemarahan luar biasa membuat Nayara terlonjak kaget.

"Nara." Alvano maju beberapa langkah. "Apa-apaan surat cerai itu?"

"Karena kalian semua tidak menginginkan aku lagi, sebaiknya kita pisah, Al. Itu salah satu pilihan yang paling bagus," balas Nayara dengan mengumpulkan semua keberaniannya.

"Kamu membohongi aku begitu lama, sekarang semuanya sudah jelas. Jadi kamu ingin kabur dari masalah?" bentak Alvano.

"Al, harus berapa kali lagi aku katakan. Aku tidak tahu apa-apa tentang semua ini---"

"Arghh!"

Nayara tersentak saat Alvano mencekik lehernya dengan begitu kuat.

"Di saat semuanya sudah terbukti, kamu masih mau berbohong lagi? Kamu pikir aku ini orang bodoh yang semudah itu kamu tipu?" Tangan Alvano masih berada di leher Nayara.

"Al, tolong lepas! Sakit." Nayara yang kesusahan bernapas berusaha melepaskan tangan Alvano dari lehernya.

"Rasa sakit kamu sekarang tidak sebanding dengan rasa sakit aku yang telah kamu bohongi selama dua tahun ini," sarkas Alvano.

Bruk!

Alvano mendorong Nayara sampai terjatuh ke atas sofa, Alvano menindih tubuh Naraya dari atas sambil memegangi kedua tangan Nayara yang terus memberontak.

"Alvano, kamu mau apa?" Nayara panik saat tangan Alvano membuka kancing rok mininya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Affair With Santa
8.4
Di tengah dinginnya New York yang menusuk tulang, seorang gadis nekat menunggu di bawah pohon besar meski suhu berada di bawah nol derajat. Sepatu boots tipisnya tak mampu menahan es, membuatnya nyaris beku saat menanti seseorang yang tak kunjung datang. Ketika tubuhnya mulai oleng akibat hipotermia di sudut taman yang sepi, sebuah pelukan hangat tiba-tiba mendekapnya. Suara berat seorang pria misterius menjadi hal terakhir yang ia dengar sebelum kesadarannya menghilang.
Sampul Novel Bukan Istri Pajangan
8.2
Hidup Riana hancur setelah Danis, putra dosennya, merenggut kesuciannya. Meski Danis bersedia menikahinya demi tanggung jawab, Riana justru merasa diabaikan tanpa kasih sayang layaknya istri pajangan. Luka hatinya kian dalam saat memergoki Danis bersama mantan kekasihnya yang sedang hamil besar. Di tengah pengkhianatan ini, Riana terdesak memilih: bertahan demi buah hati mereka atau merelakan suaminya pergi demi wanita lain yang dicintainya.
Sampul Novel Cahaya yang Tertunda
9.5
Usai masa nifas, Winda Baskoro berniat mendaftarkan nama bayinya, Alex Harto, ke Dinas Kependudukan. Namun, dunia Winda runtuh saat petugas mengungkap bahwa nama tersebut sudah tercatat dalam kartu keluarga suaminya, Tama Harto. Kebingungannya terjawab seketika lewat pesan foto dari Sania Marsudi, asisten suaminya. Di sana, Tama tampak bahagia merangkul Sania dan menggendong seorang anak laki-laki berusia lima tahun yang juga bernama Alex Harto di depan sebuah TK.
Sampul Novel Godaan Cinta Sejati
8.6
Yulia terpaksa menikah ke keluarga Jayendra hanya untuk mendapati Billy, suaminya, dalam kondisi koma. Keajaiban terjadi saat Billy terbangun pasca pernikahan, namun ia justru bersikap dingin dan berniat menceraikan Yulia karena tak mengenalnya. Saat Yulia hamil dan berencana pergi diam-diam, Billy yang semula membencinya justru berubah posesif. Ia menolak perceraian dan mendekap Yulia erat, menegaskan bahwa wanita itu adalah miliknya selamanya.
Sampul Novel Pasangan Rahasia
8.1
Erin terjebak dalam dilema besar saat harus menutupi status pernikahannya demi mengamankan karier profesional. Sang suami ternyata adalah bos besar di perusahaan tempatnya bekerja, memaksa mereka menjalani hubungan rahasia yang penuh risiko di kantor. Akankah sandiwara ini tetap terjaga rapat hingga tujuan mereka tercapai, ataukah tekanan dunia korporat justru akan membongkar identitas asli mereka ke hadapan publik sebelum waktunya tiba?
Sampul Novel Penyesalan Setelah Diriku Tiada
9.3
Menghadapi sisa hidup yang tinggal tiga hari akibat lupus eritematosus sistemik stadium berat, seorang wanita memutuskan mendatangi kantor pelayanan akhir hayat demi mengurus kremasinya sendiri. Tragisnya, sang suami yang berprofesi sebagai pengacara justru menuduhnya berpura-pura sakit demi bersaing dengan wanita lain, sementara kakak kandungnya yang merupakan seorang dokter malah mencibir hasil medis tersebut. Tanpa dukungan keluarga yang kini terasa asing, ia memilih menyerahkan seluruh proses pemakamannya kepada petugas demi memastikan kepergiannya tidak menyusahkan siapa pun.