Sampul Novel Cahaya yang Tertunda

Cahaya yang Tertunda

9.5 / 10.0
Dalam novel romantis misteri Cahaya yang Tertunda, Winda Baskoro terkejut saat mendaftarkan bayinya. Nama sang putra rupanya telah terdaftar di kartu keluarga suaminya, Tama Harto, bersama anak dari asistennya, Sania. Temukan kebenaran pahit ini dalam Novel Web yang penuh rahasia keluarga.
Ringkasan Cahaya yang Tertunda
Usai masa nifas, Winda Baskoro berniat mendaftarkan nama bayinya, Alex Harto, ke Dinas Kependudukan. Namun, dunia Winda runtuh saat petugas mengungkap bahwa nama tersebut sudah tercatat dalam kartu keluarga suaminya, Tama Harto. Kebingungannya terjawab seketika lewat pesan foto dari Sania Marsudi, asisten suaminya. Di sana, Tama tampak bahagia merangkul Sania dan menggendong seorang anak laki-laki berusia lima tahun yang juga bernama Alex Harto di depan sebuah TK.
Baca Selengkapnya

Cahaya yang Tertunda Bab 1

Baru saja masa nifasnya usai, Winda Baskoro menggendong bayinya ke Dinas Kependudukan untuk mengurus kartu keluarga.

"Pak, nama anakku Alex Harto."

Petugas itu mengetik beberapa kali pada keyboard, tetapi dahinya makin berkerut. "Di kartu keluarga Tama Harto, sudah tercatat seorang anak bernama Alex Harto."

Winda tertegun, mengira dirinya salah dengar. "Nggak mungkin, anak kami baru genap sebulan!"

Belum selesai bicara, ponsel di sakunya bergetar.

Saat dia membuka layar, terlihat foto dari asisten Tama, Sania Marsudi.

Dalam foto itu, Tama merangkul pinggang Sania dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya menggendong bocah laki-laki sekitar lima atau enam tahun. Ketiganya berdiri di depan gerbang TK, tersenyum begitu cerah hingga menyilaukan mata.

Di papan nama yang tergantung di dada bocah itu, tertera jelas namanya, Alex Harto.

Baru saja masa nifasnya usai, Winda Baskoro menggendong bayinya ke Dinas Kependudukan untuk mengurus kartu keluarga.

"Pak, nama anakku Alex Harto."

Petugas itu mengetik beberapa kali pada keyboard, tetapi dahinya makin berkerut. "Di kartu keluarga Tama Harto, sudah tercatat seorang anak bernama Alex Harto."

Winda tertegun, mengira dirinya salah dengar. "Nggak mungkin, anak kami baru genap sebulan!"

Belum selesai bicara, ponsel di sakunya bergetar.

Saat dia membuka layar, terlihat foto dari asisten Tama, Sania Marsudi.

Dalam foto itu, Tama merangkul pinggang Sania dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya menggendong bocah laki-laki sekitar lima atau enam tahun. Ketiganya berdiri di depan gerbang TK, tersenyum begitu cerah hingga menyilaukan mata.

Di papan nama yang tergantung di dada bocah itu, tertera jelas namanya, Alex Harto.

Tak lama kemudian, muncul sebuah pesan masuk.

[Nona Winda, bagaimana rasanya jadi selingkuhan? Selamanya kamu akan hidup dalam bayang-bayangku sebagai istri sahnya.]

Jantung Winda terasa seperti dicengkeram tang besi, ujung jarinya gemetar saat berkata pada petugas, "Tolong… periksa lagi status pernikahan Tama."

Lembaran kertas yang keluar dari printer tampak ringan, namun ketika mendarat di telapak tangannya, terasa bagai menahan beban seribu kilogram.

Di kolom pendaftaran pernikahan Tama, nama pasangan tertulis nama Sania dengan jelas dan tanggal menikahnya adalah tujuh tahun lalu.

"Nona, mau tetap mengurus akta anak ini?" tanya petugas, suaranya terdengar samar dan jauh.

Winda menatap wajah putrinya yang sedang terlelap dalam gendongan, senyum getir muncul di bibirnya.

"Masukkan saja ke kartu keluarga-ku, sekalian ganti nama anaknya."

…

Saat melangkah keluar dari Dinas Kependudukan, langkah Winda terasa limbung bagai menginjak kapas.

Ponselnya kembali bergetar, sebuah pesan dari Tama.

[Sayang, aku sedang rapat di kantor. Pulangnya agak sore untuk menemanimu dan bayi.]

Melihat kata 'Sayang', Winda hanya bisa merasa ironis.

Selama tahun-tahun pernikahan mereka, Tama selalu memanggil Winda seperti itu, dia akan melapor kalau keluar, pelukan kalau pulang. Semua perhatian lembut itu sekarang terasa penuh sindiran.

Saat membuka pintu mobil dan duduk, jari-jari Winda gemetar hingga kunci pun tak bisa dimasukkan.

Dia paham aturan di kalangan mereka, kebanyakan pasangan kaya punya pikiran sendiri, tetapi Tama dulu berbeda.

Pernah di sebuah pesta, seorang sosialita menghina Winda di depan banyak orang. Keesokan harinya, Tama membuat keluarga itu bangkrut dan mereka meninggalkan kota dengan wajah tertunduk malu.

Saat Winda berkata bahwa dirinya menyukai edisi terbatas dari toko tertentu, Tama bisa terbang melintasi samudra untuk membelikannya, hanya demi melihat Winda tersenyum.

Yang paling membekas dalam ingatannya adalah insiden salah laporan hasil cek kesehatan.

Seorang perawat salah memberikan laporan yang mengatakan bahwa Winda menderita gagal ginjal. Mata Tama langsung merah.

Dia memegang erat jas putih dokter itu sambil berteriak, "Ambil ginjalku buat dia! Dua-duanya juga boleh! Kalau dia nggak ada, aku juga nggak mau hidup!"

Setelah tahu semuanya salah, pria yang biasanya tegas dan tanpa ampun di dunia bisnis itu, malah berjongkok di lorong rumah sakit, menangis seperti anak kecil.

"Syukurlah, Winda… yang penting kamu baik-baik saja."

Orang-orang di sekitar Winda selalu mengingatkannya, bisnis Tama makin sukses, pasti tidak lepas dari godaan wanita-wanita di sekelilingnya.

Namun, Tama memperlakukannya begitu baik, begitu baik sampai Winda sama sekali tidak pernah menaruh rasa curiga.

Namun, mengapa justru Sania?

Padahal dulu Tama jelas paling meremehkan Sania.

Sania dulunya adalah pengasuh rumah tangga Keluarga Bagaskoro. Suatu kali dengan sengaja mengenakan gaun berpotongan rendah untuk mengantarkan kopi pada Tama.

Tama langsung membanting cangkir dan membentaknya dengan keras, "Jangan pakai trik-trik murahan ini di depanku! Besok kamu jangan datang lagi!"

Setelah itu, dia langsung merengkuh Winda ke dalam pelukannya, tatapannya penuh hasrat.

"Sayang, di hatiku cuma ada kamu seorang. Perempuan-perempuan murahan seperti itu, aku usir satu per satu!"

Sania menangis tersedu sampai berlutut dan mengetukkan kepala memohon ampun. Namun, Tama bahkan tak melirik sedikit pun.

"Aku hanya mencintai Winda. Mataku nggak bisa menoleransi setitik pun noda. Perempuan kotor sepertimu, jangan pernah muncul di depanku lagi."

Sania bangkit dengan wajah pucat, lalu hari itu juga dia mengemasi barang-barangnya dan berjalan pergi.

Beberapa waktu kemudian, ketika Tama mempekerjakannya sebagai asisten pribadi di perusahaannya, dia menjelaskan hal ini pada Winda.

"Winda, setelah dia dipecat, keluarganya ingin menikahkannya dengan duda tua. Dia tampak putus asa dan ingin bunuh diri terus-terusan. Aku takut kalau dia nanti akan menyebarkan gosip soal kita di luar, jadi lebih aman kalau dia tetap di dekatku."

Waktu itu Winda percaya.

Siapa sangka, dua orang itu justru berselingkuh tepat di depan matanya selama lebih dari enam tahun, bahkan sudah punya anak berusia enam tahun.

Winda menggertakkan gigi, menahan rasa perih di matanya, lalu menghubungi detektif swasta.

Setengah jam kemudian, sebuah video beserta titik lokasi terkirim padanya.

Winda langsung menyetir menuju lokasi yang ditunjukkan.

Tama ternyata sama sekali tidak berada di kantor, melainkan baru saja selesai menghadiri rapat orang tua di TK Alex.

Dia menggenggam tangan Sania, memeluk anak laki-laki bernama Alex di pelukannya, ketiganya berjalan berdampingan menyeberang jalan. Senyum hangat yang mengembang di wajah Tama terasa lebih tulus dibandingkan foto keluarga mana pun yang pernah mereka ambil bersama, membuat mata Winda terasa pedih.

Dia menginjak gas dan membuntuti mereka sampai ke kawasan vila di pinggiran kota.

Tampak olehnya Tama turun dari mobil lebih dulu, mengeluarkan sekotak besar mainan dari bagasi.

Anak lelaki bernama Alex itu bersorak gembira lalu berlari membawa mainannya. Sania bersandar lebih dekat ke pelukan Tama dan berkata sambil memarahi, "Kamu terlalu memanjakannya."

"Dia anakku. Kalau bukan aku yang manjain dia, siapa lagi?"

Tama menunduk, mencium bibirnya sekilas. "Lagi pula, hari ini dia dapat penghargaan terbanyak. Ini membuatku bangga."

Sania mendongak menatapnya, matanya merah. "Tama, terima kasih sudah menyekolahkan Alex di sekolah dasar elite terbaik."

"Sebenarnya… kelahirannya saat itu adalah sebuah kecelakaan. Aku awalnya nggak ingin mengganggumu. Bisa melihatmu dari jauh saja sudah cukup. Aku janji nggak akan mengusik hubunganmu dengan Nona Winda."

"Kamu mikir apa sih?" Tama mencubit pipinya, suaranya tidak keras, tetapi jelas.

"Dia nggak akan tahu. Lagi pula, kamulah istri sah yang tercatat di akta nikahku. Aku baik pada kalian berdua itu memang sudah seharusnya."

Sania tersenyum lega. Tiba-tiba Tama membungkuk dan berbisik di telinganya, "Sudah jadi suami-istri, bukannya kita harus menjalankan kewajiban sebagai pasangan?"

Wajah Sania seketika merona. Dia langsung digendong masuk ke vila.

Sementara Winda duduk di mobil, hatinya seperti tertikam pisau tumpul. Dia mengemudi pulang dalam keadaan linglung.

Malam itu, ketika Tama masuk, seperti biasa, begitu melangkah ke dalam rumah Tama langsung merentangkan kedua tangannya ingin memeluk Winda.

"Sayang, sudah lama menunggu, ya? Capek nggak seharian urus bayi?"

Winda tetap tenang, menggeser sedikit ke samping. "Soal kartu keluarga anak kita…"

"Masalah itu nanti biar aku yang urus. Jangan khawatir!"

Nada Tama tiba-tiba menjadi tegas, tetapi melihat wajah Winda pucat, Tama segera menurunkan suaranya dan membujuk.

"Sekarang mengurus kartu keluarga itu sangat merepotkan. Kamu baru saja selesai masa nifas, mending istirahat saja di rumah. Urusan ini serahkan padaku."

Winda menunduk dan mengangguk pelan, tanpa memberitahunya bahwa anak mereka sudah tercatat di kartu keluarga Keluarga Baskoro.

Winda bahkan tidak bilang bahwa dalam perjalanan pulang, dia sudah menelepon musuh bebuyutan yang paling dibenci Tama.

Di telepon, dia menggenggam ponsel erat, suaranya tenang, tetapi tegas.

"Aku masih lajang. Kalau kamu masih mau, tujuh hari lagi, aku akan menikah denganmu."

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Cahaya yang Tertunda

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Aku Tak Butuh Suami, Aku Butuh Keadilan
8.9
Lina terjebak dalam kemiskinan bersama Randi, kuli bangunan yang memberinya uang belanja minim. Di tengah kesulitan ekonomi dan sifat keras kepala suaminya, Lina mulai berpaling pada Damar, tetangga mapan yang memberikan perhatian serta materi lebih. Meski kini kebutuhan hidupnya tercukupi secara sembunyi-sembunyi, perasaan bersalah mulai menghantui Lina saat melihat pengorbanan Randi. Ia pun bimbang antara memilih keadilan hidup atau kesetiaan pada pernikahan.
Sampul Novel Amanah dari Sang Ayah
7.9
Rahel terjebak dalam pernikahan dengan pria lebih tua yang belum pernah ia temui sebelumnya. Modalnya hanyalah sebuah foto kecil seukuran kartu identitas. Tepat di malam sebelum akad nikah dilangsungkan, ayahnya tersenyum penuh syukur atas kesediaan Rahel menuruti perjodohan itu. Namun, setelah memberikan pelukan dan kecupan perpisahan di kening sang putri, ayah Rahel mengembuskan napas terakhirnya, meninggalkan amanah besar bagi masa depan Rahel.
Sampul Novel Call Girl [21+]
8.0
Yumira terperangkap dalam realita kelam sebagai wanita panggilan akibat nasib buruk. Di tengah keputusasaan mencari cinta sejati di antara pria yang hanya memanfaatkannya, hadir sosok Kai Dipraja. Kai menawarkan kasih sayang tulus yang selama ini Yumira impikan. Meski dunia menentang hubungan mereka, Yumira bertekad mempertahankan perasaannya. Mampukah mereka bersatu selamanya? Akankah Kai tetap menerima masa lalu dan identitas Yumira apa adanya?
Sampul Novel Don Juan
8.9
Don Juan adalah pria asal Italia yang memiliki segalanya, mulai dari paras tampan hingga kesuksesan finansial yang luar biasa. Baginya, wanita hanyalah objek sementara yang bisa dibuang setelah digunakan. Namun, hidup sang miliarder ini berubah total saat ia bertemu dengan seorang gadis misterius. Sosok ini berhasil menaklukkan hatinya yang dingin dan membuatnya berlutut dalam cinta. Siapakah perempuan yang mampu mengubah prinsip hidup Don Juan selamanya?
Sampul Novel SANG MATAHARI
9.1
Menjelajahi hutan rimba yang sarat akan keajaiban serta aura penuh misteri, Aria Stormheart melangkah maju dengan penuh keteguhan. Sosok petualang pemberani ini membawa pedang bercahaya yang selalu setia tergantung di pinggangnya. Di tengah perjalanannya, Aria merasakan perpaduan antara gejolak kegembiraan dan rasa cemas yang menyelimuti hati. Setiap langkahnya di dunia fantasi ini menjadi bukti keberanian sang penjelajah dalam menghadapi segala tantangan.
Sampul Novel Usai Dimadu
9.0
Seandainya waktu bisa diputar kembali, aku benar-benar ingin menghapus segala penyesalan yang kini menghantui. Ambisi terbesarku untuk menjadi sosok wanita yang layak mendapatkan surga justru membawa luka mendalam. Aku sempat meyakini bahwa jalan menuju kebahagiaan akhirat bisa ditempuh dengan merelakan kasih sayang suami dibagi untuk wanita lain. Namun, kenyataan pahit ini menyadarkanku bahwa membagi hati pasangan bukanlah perkara yang mudah dilewati.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan