
Cinta Muara Luka
Bab 2
Yang tersulit itu bukan melepaskan kepergian
tetapi menjalani kehidupan setelah ditinggal pergi.
_Bayu Laksamana_
Yasmin masih enggan beranjak dari kamar yang didominasi warna hijau. Mulai dari cat dinding, tirai jendela, karpet dan seprai semua bernuansa warna daun. Kamar gadis cantik itu terletak di lantai dua rumah megah yang terlihat sepi. Meskipun pada hari biasa rumah itu juga sepi tetapi saat ini kesepian yang mendalam benar-benar menyelubungi, setelah sebelumnya kehilangan kehangatan.
Putri tunggal Bayu dan Nisrina itu tidak keluar kamar semenjak hari pemakaman. Hampir tiga minggu, ia tidak pernah lagi mengelilingi setiap sudut rumah. Bayang-bayang sang ibu seolah selalu ada di sana, menimbulkan rindu yang semakin lama semakin membuncah. Tubuh lemah itu bergelung selimut, menghabiskan malam dengan air mata sambil mendekap potret wanita muda yang menggendong seorang balita. Mata bulat yang biasa berbinar cerah, kini redup dan sembab dengan lingkaran hitam di bawahnya. Ia hampir selalu melewatkan tidur malamnya hanya untuk menangis dan menikmati rekaman video disetiap momen bersama sang malaikat tanpa sayap, lalu akan tertidur menjelang pagi.
Seorang asisten rumah tangga mengantarkan makanan setiap waktu makan tiba, tetapi hanya sedikit yang disentuh. Selera makannya menghilang, seperti rasa kantuk yang jarang datang. Sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya diantar oleh seorang asisten rumah tangga. Menu sarapan favoritnya yang dibuat oleh Nisrina. Seketika rasa ingin menikmati makanan itu hadir. Sebuah sendok berbahan perak yang tergeletak di atas lap makan, ia ambil dan mulai menciduk sedikit nasi. Lalu di arahkan ke dalam mulut yang bibirnya tampak pucat. Ia melumat nasi itu dengan perlahan. Gadis yang berpenampilan berantakan itu menghujani makanan yang telah diletakkan kembali di atas nakas dengan pandangan kosong, berniat menyentuhnya kembali.
Seseorang berdiri di ambang pintu menatap gadis itu dengan tatapan sendu. Kakinya bergerak menghampiri tubuh yang kini terlihat kurus dan tak terawat. Pada pucuk kepala gadis itu ia hadiahi sebuah kecupan rindu, hingga akhirnya tatapan mereka saling beradu.
“Kenapa nggak dimakan nasi gorengnya?” tanya Bayu seraya duduk di sebelah Yasmin. Namun hanya dijawab dengan gelengan kepala.
“Makan, ya. Ayah suapi." Yasmin masih memberinya tatapan kosong.
“Sayang, kita semua di sini bersedih tapi jangan jadikan kesedihan itu untuk menyakiti diri sendiri. Ayah yakin Bunda nggak mau lihat putri cantiknya seperti zombi," hibur ayah.
Jika Yasmin yang biasanya akan merajuk disebut zombi kali ini hanya dijawab dengan air mata yang tiba-tiba mengalir deras. Isaknya membuat Bayu merasa bersalah. Segera ia membawa gadis bermata bulat ke dalam pelukannya, dihujani dengan ciuman sayang kepala gadis yang tampak kacau.
“Yasmin kangen Bunda," bisiknya dan ia menangis kembali pada dada bidang sang ayah.
Bayu memejamkan mata, mengerti apa yang dirasakan sang anak. Karena ia juga merasakan hal yang sama. Laki-laki yang bulan lalu genap berusia lima puluh satu tahun itu mencoba bersikap tegar. Ia akan berusaha agar putrinya memiliki kehidupan yang normal kembali meski tanpa kehadiran sang ibu. Meskipun hal itu tidaklah mudah untuk mencapainya apalagi kehilangan itu belum lama terjadi. Ia memberi waktu agar putrinya bisa menerima kepahitan yang terjadi tetapi juga tidak ingin gadis berambut panjang melebihi bahu itu menyakiti dirinya sendiri dengan mengurung dalam kamar.
“Ayah tahu, kita semua rindu Bunda. Namun kita semua harus kuat, harus bisa menerima semua ini, Sayang.”
“Yasmin makan dulu sekarang, nanti kita pergi mengunjungi Bunda. Gimana?” rayu Bayu. Ia menunggu jawaban sang anak yang masih terdiam. Akhirnya Yasmin pun mengangguk dan mulai memakan nasi goreng dengan disuapi sang ayah.
Semilir angin di area pemakaman memainkan kain yang menutupi kepala. Rambutnya mulai menari-nari karena kerudung itu telah luruh hingga ke bahu. Tanah merah di sana masih basah karena hujan semalam. Tangan Yasmin menyentuh nisan sang ibu setelah menabur bunga. Ia mulai berbicara menumpahkan rasa, seperti sang ibu ada di hadapan.
Bayu hanya menatap putrinya dengan penuh harap. Setelah ini semoga Yasmin bisa lebih ikhlas melepas kepergian wanita yang mereka cintai. Menjalani hari-hari dengan senyuman dan biarkan waktu yang bekerja mengobati sakitnya kehilangan. Karena yang tersulit itu bukan melepaskan kepergian tetapi menjalani kehidupan setelah ditinggalkan.
Laki-laki berjenggot tipis dengan kumis yang tumbuhnya mulai tak terawat itu, menghentikan mobil di depan sebuah kafe dengan logo lingkaran hijau dan seorang siren di tengahnya. Bayu mengajak Yasmin turun dari mobil, meski awalnya menolak tapi akhirnya mengikuti langkah sang ayah juga. Mereka duduk di sofa yang menghadap ke dinding kaca. Di depan dinding tersebut banyak terdapat bunga-bunga indah yang sedang bermekaran. Yasmin sangat senang memandang bunga yang sedang mekar. Baginya seperti melihat gairah kehidupan baru pada si bunga.
Segelas matcha latte dengan sepotong cheese cake terhidang di hadapan Yasmin. Bayu tersenyum hangat dan meminta Yasmin menikmati makanan kesukaannya. Dia sendiri telah menyesap kopi espresso yang harumnya membuat siapa saja yang mencium tergoda untuk mencoba. Sesekali ia melempar guyonan meski garing tetapi pada akhirnya lengkung bulan sabit pun terbit di wajah yang menyimpan rindu. Hanya sebentar tapi hal itu membuatnya bahagia. Bayu berjanji akan berusaha mengukir senyum di wajah cantik gadis yang mirip dengan istrinya itu dan memberikan semua cinta yang ia punya.
Selepas mengajak Yasmin menikmati kudapan kesukaannya, Bayu membawa gadis penyuka warna hijau itu ke sebuah salon kecantikan. Tempat biasa Yasmin dan Nisrina memanjakan diri. Ia meminta putrinya melakukan perawatan agar terlihat segar kembali. Pria berhidung mancung memutuskan membaca sebuah buku di sela waktu menunggu. Hampir tiga jam ia menunggu sang putri selesai, tak ada raut kebosanan yang menghiasi wajahnya. Justru kepuasaan yang menyapa hati ketika buah cintanya dengan Nisrina tampil dengan lebih baik.
Tidak sampai di sana saja Bayu menghibur sang anak. Ia mengajak Yasmin memasuki sebuah mall terbesar di Jakarta. Berkeliling menuruti apa yang ingin dibeli gadis yang kini terlihat lebih cantik. Namun Yasmin hanya menggeleng ketika ia menunjukkan barang-barang bermerk yang berbaris di etalase setiap toko.
Yasmin menghentikan langkah kaki di depan toko buku. Pandangannya tertuju pada deretan buku-buku best seller yang di pajang di dekat pintu masuk. Ia masuk dan mulai menyusuri deretan rak yang berisi buku-buku terlaris. Matanya berbinar dengan senyum menghiasi wajah ketika menemukan buku yang selama ini ia cari. Sejenak ia melupakan kesedihan yang mendera.
Bayu seolah dibuat lupa jika sang anak adalah pecinta buku sama seperti istrinya. Tas dan baju branded yang ia berikan tak ada artinya jika di sandingkan dengan sebuah buku. Saat usia Yasmin menginjak tiga tahu, gadis kecilnya itu sudah pandai membaca. Tak heran jika kini Yasmin betah duduk berlama-lama di depan buku-buku kedokterannya. Hal itu dapat membantu Yasmin dalam mengobati hati yang dirundung kesedihan.
“Yuk, Yah. Kita pulang,” ajak Yasmin pada sang ayah yang sedang membaca sebuah dokumen dari layar telepon pintarnya.
“Sudah beli bukunya?” tanya Bayu seraya melihat tiga buah tas belanja yang Yasmin bawa penuh buku.
“Sudah.” Yasmin memberi senyum manisnya pada laki-laki yang seharian ini bersusah payah menghiburnya.
Bayu membalas senyumanan itu dan bergerak mengacak rambut hitamnya lembut. Ia berniat membawakan belanjaan yang terlihat berat, tetapi dengan halus Yasmin menolak.
“Kita nonton yuk?” tanya Bayu ketika tiba di depan lift yang akan membawa mereka turun.
“Gak usah deh, Yah. Pengin baca buku-buku ini di rumah. Kita pulang aja ya?”
Bayu hanya mengangguk dan merangkul bahu putri kecil yang manja itu. Sejujurnya ia pun sangat lelah karena beberapa hari ini kurang tidur. Namun demi melihat senyum di wajah Yasmin terbit, ia menahan semuanya.
Anda Mungkin Juga Suka





