Sampul Novel Cinta di Musim Semi

Cinta di Musim Semi

9.6 / 10.0
Dalam novel romance modern Cinta di Musim Semi, Amara harus mengungkap rahasia masa lalu yang mengancam hidupnya. Di antara Rendra dan Daffa, ia mencari kebenaran di balik misteri surat lama. Baca webnovel ini untuk mengikuti kisah penebusan dan pilihan sulit Amara.
Ringkasan Cinta di Musim Semi
Kehidupan kota Amara terusik saat sebuah surat lama memaksanya kembali ke kampung halaman demi mengungkap rahasia kelam. Di sana, ia terjebak di antara Rendra, sosok dari masa lalunya, dan Daffa, fotografer misterius yang tiba-tiba hadir. Di tengah tumpukan memori dan misteri, Amara harus berjuang menghadapi luka lama serta pengkhianatan. Apakah kebenaran yang terungkap akan membawa kesembuhan bagi hatinya atau justru menghancurkan segalanya?
Baca Selengkapnya

Cinta di Musim Semi Bab 1

Amara menutup laptopnya-sekali lagi-lalu menatap layar gelap yang masih menyimpan potongan-potongan naskah kliennya. Ruangan apartemennya di lantai delapan gedung di dekat SCBD itu terasa dingin meski AC dimatikan; malam Jakarta mengigilkan jenis sepi yang tak bisa dibeli dengan kopi atau playlist. Di meja kerja, setumpuk buku bertengger seperti saksi yang sabar: roman bekas, kumpulan cerpen, sebuah buku tentang fotografi yang belum ia baca sampai selesai.

Teleponnya berdering tepat ketika ia hendak berdiri. Layar menampilkan "Nina - Rumah". Amara menekan tombol hijau dengan jari yang sedikit kaku. Suara adiknya terdengar lebih cepat dari biasanya.

"Kak, pulang, ya?" kata Nina tanpa basa-basi. "Bapak minta ketemu. Nanti jam sembilan."

Amara menelan. "Sekarang? Kenapa? Ada apa?"

"Aku nggak tahu, kak. Katanya penting. Jangan marah. Cuma- ya, pulang, ya?" Nina menutupnya seperti doa yang disampaikan oleh orang yang takut diiyakan.

Ayahnya sudah lama tidak menulis pesan yang menuntut. Sejak ia beranjak dewasa, Haryo-yang dulu begitu tegas ketika mengurus toko kecilnya-jarang memaksa. Amara menutup telepon lebih cepat dari yang ia sadari. Di dinding apartemen, kalender menandai tanggal dengan stiker merah-deadline besar untuk naskah yang harus ia selesaikan pekan depan. Pulang ke rumah di Yogyakarta berarti menabrak skedul: kehilangan pembayaran, kehilangan citra, kehilangan momentum.

"Kerjaan?" gumamnya pada ruangan kosong. Ia memikirkan klien yang menuntut perubahan alur dan judul yang harus lebih 'trending'. Menjadi editor membuatnya terbiasa menimbang mana yang penting dan mana yang kompromi yang harus ditelan. Tapi Haryo, di sisi lain, selalu punya cara membuat hal sederhana terasa seperti hari kehancuran.

Ia menatap foto keluarga kecil yang terpajang di rak: wajahnya yang lebih muda, Nina yang masih memakai bando, dan seorang laki-laki berkumis-ayahnya ketika masih muda, tersenyum lepas. Bayangan laki-laki lain-laki-laki yang meniggalkan mereka saat ia masih SMA-selalu muncul di pinggiran foto: entah sebagai cerita, entah sebagai luka yang belum tertutup.

Setengah jam kemudian Amara sudah mengemasi pakaian seadanya. Ia menolak untuk menghabiskan malam di rumah yang memintanya kembali seperti boneka yang dulu selalu menunggu perintah. Tetapi sesuatu pada nada suara Nina membuatnya tak tega. Di atas taksi, kota berpendar lewat jendela; lampu neon seperti titik-titik kecil yang membentuk pola rindu yang tak diundang. Ia menunggu bunyi telepon berikutnya-penjelasan, klarifikasi, mungkin sebuah alasan bahwa semuanya baik-baik saja.

Malam Yogyakarta menyambutnya dengan udara yang lebih ringan dan bau hujan yang lama tak ia cium. Rumah Widjaja masih sama: pintu kayu yang sedikit berbunyi, teras kecil yang selama bertahun-tahun dipenuhi pot bunga milik ibunya yang almarhumah. Di ruang tamu, lampu redup menyorot satu kursi-tempat yang selalu ditempati ayah sejak pensiun; malam itu kursi itu kosong, dan Haryo berdiri di dekat jendela, menatap ke arah jalan.

"Ma," sapanya ketika ia masuk. Haryo berbalik perlahan dan wajahnya-yang sekarang keriput-seolah merunduk di bawah beban kata yang tak bisa ia ucapkan. Namun matanya tetap memiliki sesuatu dari masa lalu: kekuatan yang tak habis oleh usia.

"Ada apa, Pak?" tanya Amara lebih tegas dari niatnya.

Haryo mengisap napas panjang dan menutup mata sesaat. "Kau masih mau mendengarkanku, Amara?"

"Ya," jawab Amara, dan ketika kata itu keluar, ia menyadari bagaimana kata itu menempel di tenggorokannya-berat dengan harapan dan takut.

Haryo berjalan mendekat, tangannya menggenggam selembar amplop. Amplop itu kusam, tepi-tepinya berkriting, seperti benda yang sudah lama disimpan. Ketika ia mengulurkannya, jari-jari Amara bergetar.

"Ini datang beberapa minggu lalu," kata Haryo. "Surat dari seseorang yang pernah ... Menjadi bagian dari hidup kita."

Amara menatap surat di tangannya. Di pojok kanan atas, ada cap pos tua yang hampir pudar. Tidak ada nama pengirim yang jelas, hanya ada inisial yang samar: R. Ia membuka amplop dengan kedua ibu jari yang gemetar dan jantung yang berdegup kencang dengan perasaan yang dia sendiri tidak tau.

Isinya sederhana: sebuah foto lama, sebuah potongan surat yang terdengar seperti permintaan maaf, dan sebuah alamat sebuah rumah di pinggir kota-tempat yang selama ini diselimuti oleh bisik-bisik tak enak. Di balik foto itu ada sesuatu yang membuatnya menahan nafas: nama yang tak pernah ia dengar disebut lagi sejak masa remaja.

"Nina pernah bilang-" Haryo terhenti. "Dia menemuinya di kota. Dia bilang pria itu ingin bertemu lagi. Dia bilang menyesal. Dia bilang-"

Amara mengangkat foto tersebut ke wajahnya. Foto hitam-putih itu menunjukkan seorang pria yang tersenyum lirih, sedang berdiri di samping sebuah mobil tua. Wajahnya tidak asing-namun terasa seperti bagian dari mimpi yang tak pernah selesai. Mata pria itu menatap langsung ke kamera, dan dalam tatapan itu Amara merasakan satu kali lagi perasaan yang sudah ia kubur: pertanyaan tanpa jawaban.

"Siapa dia, Pak?" suaranya nyaris tak terdengar.

Haryo menelan. "Namanya-dia menulis namanya di surat ini sebagai Rendra."

Rendra. Nama itu menggema di kepala Amara seperti sumber lagu lama yang tiba-tiba kembali. Ia tidak pernah baik-baik saja melihat nama pria itu; ia tidak pernah baik-baik saja menerima kemungkinan bahwa masa lalu bisa masuk lagi dan mengubah keseimbangan yang sudah ia bangun sejauh ini.

"Dia ingin ketemu, katanya. Untuk bicara. Untuk meminta maaf. Untuk... menata sesuatu yang dulu ia tinggalkan."

Amara mendelik. Permintaan maaf dari orang yang meninggalkan keluarganya bukanlah hal yang sederhana. Permintaan maaf bisa menjadi obat, atau justru membuka luka yang lebih lebar. Ia teringat ketika ia masih SMA-malam ketika kunci tertinggal, ketika tawa berubah senyap, ketika ayahnya memeluknya dan berjanji bahwa mereka akan baik-baik saja. Sejak itu, kata "baik-baik saja" menjadi legenda kecil di keluarganya: janji yang rapuh namun menenangkan.

"Kenapa sekarang?" tanya Amara. "Kenapa tiba-tiba muncul lagi?"

Haryo menunduk. "Dia bilang-ada sesuatu yang harus diurus. Hutang atau urusan lama yang tak selesai. Aku tidak tahu pasti. Dia minta maaf. Untuk semua yang terjadi waktu itu."

Amara merasakan sebuah dorongan di dadanya: amarah yang terpendam, marah yang mengekalkan luka lama. Namun ada juga hal lain: rasa ingin tahu. Bagaimana bisa seorang asing yang pernah merubah hidup mereka lalu berani kembali meminta bertemu? Siapa yang mengirim surat ini? Dan yang paling menjanggal apa yang ingin ia urus yang disebutkan ayahnya sebagai 'sesuatu'?

Di luar, hujan mulai turun tipis, menaburkan bunyi di genting seperti jarum jam yang berjalan tidak sabar. Amara memejamkan mata sejenak, lalu membuka surat itu sekali lagi. Pada sudut kertas ada coretan tangan-kurang rapi, namun tegas: "Temui aku di Jalan Kaliurang, rumah nomor 12. Jika kau mau tahu kebenaran."

Kebenaran. Kata itu seperti kunci. Amara menyadari bahwa malam ini adalah awal. Bukan awal yang ia pilih, tapi awal yang datang mengetuk pintu hidupnya. Ia memegang foto itu erat-erat, seperti seseorang yang memegang hal penting dan rapuh pada saat yang bersamaan.

"Nanti malam aku akan ke sana," kata Amara, lebih pelan dari kata yang ia katakan pada diri sendiri. "Aku harus tahu semuanya."

Haryo menatap putrinya. Di wajahnya, ada sesuatu yang seperti lega, tetapi juga takut. "Jika kau pergi-ingat, anakku, tidak semua kebenaran menyembuhkan luka. Terkadang beberapa membuat kita lebih ringan, juga membuat kita lebih berat."

Amara menelan lagi salivanya. Di dia menatap keluar, hujan mulai deras dan hatinya mulai bergejolak. Ia tahu satu hal: pulang kali ini bukan sekadar soal keluarga; ini akan membawa pula pilihan-antara memaafkan dan melupakan, antara meneruskan hidup yang sudah ia susun di Jakarta atau membongkar masa lalu yang mungkin masih menempel pada jiwanya.

Ia menarik napas panjang. Malam belum selesai, dan sebuah nama-Rendra-mengambang di udara, menuntut perhatiannya.

---

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Cinta di Musim Semi

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Cinta yang Dipaksakan Berakhir Tragis
9.6
Sejak kecil, Wira dan Raisa tidak pernah akur. Saat dijodohkan, Wira menolak keras sementara Raisa justru menerima tantangan itu. Di hari pernikahan, Wira melepas puluhan ayam untuk mempermalukan pengantinnya, tetapi Raisa dengan tenang menganggap ayam tersebut sebagai suaminya. Sikap dingin Raisa membuat Wira mencibir dan memperingatkan bahwa dia akan menyesal. Tiga tahun berlalu, setelah memergoki Wira berselingkuh untuk ke-99 kalinya, Raisa akhirnya memahami arti penyesalan itu.
Sampul Novel Jangan Salahkan Aku Pergi
9.5
Kehidupan Merrisa Amalia berubah drastis tepat di hari pernikahannya. Setelah melewati malam pertama yang sakral dan menyerahkan segalanya, sebuah rahasia kelam terungkap. Adi, pria yang baru saja resmi menjadi suaminya, ternyata telah membangun keluarga lain di luar sana. Kenyataan pahit bahwa Adi sudah memiliki istri dan anak menghancurkan hati Mer seketika. Akankah Mer bertahan dalam kebohongan ini, atau memilih pergi demi harga dirinya?
Sampul Novel Kakak Ipar
9.2
Hanifah yang mandul memaksa adiknya, Nur Naila Habibah, untuk menikahi suaminya, Raihan, demi mendapatkan keturunan. Naila merasa tidak pantas bagi dosen agama itu karena ia dikenal sebagai mahasiswi nakal yang belum berhijab. Namun, sebuah rahasia besar tersembunyi bahwa Naila sebenarnya bukan adik kandung Hanifah, melainkan putri dari Azizah. Akankah Naila menerima permintaan sang kakak untuk menjadi istri kedua iparnya sendiri?
Sampul Novel Malam Panas Dengan Mantan Suami
8.6
Satu malam penuh gairah bersama Calvin mengubah segalanya bagi diriku. Awalnya, aku merancang jebakan sempurna agar ia jatuh ke pelukan Nona Agnes untuk mengakhiri hubungan kami selamanya. Namun, rencana itu justru menjadi senjata makan tuan yang menjeratku kembali. Meski sadar ini adalah kesalahan fatal, aku sulit melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalu dan kenangan manis kami. Kini aku terjebak dalam dilema besar atas konsekuensi perbuatanku sendiri.
Sampul Novel Melodi Abadi
7.9
Dalam sebuah fase kehidupan yang begitu menyesakkan, sang protagonis merasa seolah setiap tarikan napas adalah beban yang sangat berat. Hari-harinya dipenuhi rasa tercekik dan keputusasaan yang mendalam tanpa henti. Namun, segalanya mulai berubah saat sosokmu hadir membawa harapan baru. Pertemuan tak terduga itu menjadi titik balik krusial yang akhirnya memutar roda gigi takdir, mengubah alur hidup yang suram menjadi melodi abadi yang penuh makna.
Sampul Novel Terjerat Pesona Dosen Tampan
9.4
Agnesia Putri Hutama adalah aktris ternama yang terpaksa mengambil jeda dari dunia hiburan demi meraih gelar sarjana. Di tengah perjuangan akademisnya, ia justru bersinggungan dengan Kevin, dosen muda menawan yang menyimpan kebencian mendalam terhadap profesi selebritas. Situasi menjadi semakin rumit saat sebuah keadaan memaksa keduanya untuk tinggal bersama di bawah satu atap. Akankah benci berubah jadi cinta saat dua dunia mereka yang kontras saling beradu?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan